Januari 2019. Di hadapan para peserta workshop vokal yang dia ikuti di Bali, secara terbuka Reza bercerita alasannya memilih lagu “L’Ultima Notte” dari Josh Groban. Lagu sendu tentang malam terakhir bersama orang tercinta. Reza, yang biasanya sangat menjaga privasinya, saat itu dengan gamblang mencurahkan perasaan. Reza bilang, dirinya tak punya banyak waktu lagi, karena itulah ia merasa terhubung dengan lagu “L’Ultima Notte”. Saya berdiri tepat di depan Reza ketika ia bernyanyi dengan indahnya, sorot mata tertancap pada saya. Kami semua yang mendengarkan berurai air mata.
Juli 2020. Reza menulis lagu “Selalu di Sini”. Lagu itu awalnya tidak ingin ia publikasi. Ia menciptakannya hanya untuk saya dan anak-anak. Namun, setelah menggarap aransemennya secara serius bersama @ifa_fachir, lagu tersebut menjelma indah. Dibantu oleh @barsenabest, permainan klarinet @andreasarianto, Reza merasa sayang jika lagu tersebut tidak dibagi. Pelan-pelan ia mengirimkannya ke para sahabat dekat sebagai tanda mata. Hingga akhirnya, pada ultahnya 21 Januari 2022, ia memutuskan merilis “Selalu di Sini” ke publik.
Februari 2022. Reza kena Covid hingga sempat dirawat di ICU. Setelah sembuh, kesehatannya perlahan pulih hingga mencapai kondisi yang bahkan lebih baik ketimbang sebelum sakit. Ia amat bersyukur. Namun, ia pun bilang, “Saya bisa lolos dari Covid itu keajaiban. Sekarang saya hidup dengan waktu pinjaman. Bonus time.”
21 Juli 2022. Saya tergerak menulis sebuah lagu. Judulnya “Berduka”. Dua hari sebelum stroke, Reza sempat merekam demo kasarnya. Ia terenyuh dan suka sekali lagu itu. Katanya, “Lagu ini harus kamu yang nyanyikan sendiri. Lagu kamu sama lagu saya kayak sahut-sahutan.”
Pertanda itu bertaburan, terang dan lantang. Meski demikian, momen kematian tetap merupakan misteri. Duka dan kehilangan tetap menusuk serta meninggalkan perih, seberapa jauh pun kami diberi kesempatan mencicilnya.
“Sudah cukup pertanda, ungkap satu rahasia. Sekarang aku pulang.”
Kamu sudah tiba di tujuanmu, Sayang. Tinggal kami yang memeluk sedih ini hingga pada akhirnya mengerti. Kamu selalu di sini
#Unggahan Dewi Lestari di akun Instagram pribadinya @deelestari
Selasa, 6 September, pada usia 46 tahun, Reza Gunawan telah berpulang dengan tenang di rumah, dikelilingi keluarga, sebagaimana keinginannya.
Fisiknya tak lagi di sini, tetapi kenangan tentangnya, cinta yang ia pancarkan, ilmu yang ia ajarkan, prinsip yang ia junjung, dan segala sentuhan penyembuhan yang telah ia bagikan, akan selalu bersama dengan kita.
"I am home. I am free. In the here, and in the now."
Abumu telah dilarung. Perjalananmu rampung.
Salah satu pengingat berharga yang saya dapat dari kepulangan Reza adalah menyampaikan syukur.
***
Suka sekali gaya bahasa dan pemilihan katanya. Pun, bahkan di saat berduka. Menyukuri kehilangan, tanpa meratapi berlama-lama. Dan semua kagum melihat betapa kuat dan tangguhnya seorang Dewi Lestari, penyanyi sekaligus penulis. Beberapa menyebutnya "bersinar dalam keberkabungan."
