Rabu, 21 September 2022

Dee





Januari 2019. Di hadapan para peserta workshop vokal yang dia ikuti di Bali, secara terbuka Reza bercerita alasannya memilih lagu “L’Ultima Notte” dari Josh Groban. Lagu sendu tentang malam terakhir bersama orang tercinta. Reza, yang biasanya sangat menjaga privasinya, saat itu dengan gamblang mencurahkan perasaan. Reza bilang, dirinya tak punya banyak waktu lagi, karena itulah ia merasa terhubung dengan lagu “L’Ultima Notte”. Saya berdiri tepat di depan Reza ketika ia bernyanyi dengan indahnya, sorot mata tertancap pada saya. Kami semua yang mendengarkan berurai air mata.

Juli 2020. Reza menulis lagu “Selalu di Sini”. Lagu itu awalnya tidak ingin ia publikasi. Ia menciptakannya hanya untuk saya dan anak-anak. Namun, setelah menggarap aransemennya secara serius bersama @ifa_fachir, lagu tersebut menjelma indah. Dibantu oleh @barsenabest, permainan klarinet @andreasarianto, Reza merasa sayang jika lagu tersebut tidak dibagi. Pelan-pelan ia mengirimkannya ke para sahabat dekat sebagai tanda mata. Hingga akhirnya, pada ultahnya 21 Januari 2022, ia memutuskan merilis “Selalu di Sini” ke publik.

Februari 2022. Reza kena Covid hingga sempat dirawat di ICU. Setelah sembuh, kesehatannya perlahan pulih hingga mencapai kondisi yang bahkan lebih baik ketimbang sebelum sakit. Ia amat bersyukur. Namun, ia pun bilang, “Saya bisa lolos dari Covid itu keajaiban. Sekarang saya hidup dengan waktu pinjaman. Bonus time.”

21 Juli 2022. Saya tergerak menulis sebuah lagu. Judulnya “Berduka”. Dua hari sebelum stroke, Reza sempat merekam demo kasarnya. Ia terenyuh dan suka sekali lagu itu. Katanya, “Lagu ini harus kamu yang nyanyikan sendiri. Lagu kamu sama lagu saya kayak sahut-sahutan.”

Pertanda itu bertaburan, terang dan lantang. Meski demikian, momen kematian tetap merupakan misteri. Duka dan kehilangan tetap menusuk serta meninggalkan perih, seberapa jauh pun kami diberi kesempatan mencicilnya.

“Sudah cukup pertanda, ungkap satu rahasia. Sekarang aku pulang.”

Kamu sudah tiba di tujuanmu, Sayang. Tinggal kami yang memeluk sedih ini hingga pada akhirnya mengerti. Kamu selalu di sini

#Unggahan Dewi Lestari di akun Instagram pribadinya @deelestari

Selasa, 6 September, pada usia 46 tahun, Reza Gunawan telah berpulang dengan tenang di rumah, dikelilingi keluarga, sebagaimana keinginannya.

Fisiknya tak lagi di sini, tetapi kenangan tentangnya, cinta yang ia pancarkan, ilmu yang ia ajarkan, prinsip yang ia junjung, dan segala sentuhan penyembuhan yang telah ia bagikan, akan selalu bersama dengan kita.

"I am home. I am free. In the here, and in the now."

Abumu telah dilarung. Perjalananmu rampung.

Salah satu pengingat berharga yang saya dapat dari kepulangan Reza adalah menyampaikan syukur.


***

Suka sekali gaya bahasa dan pemilihan katanya. Pun, bahkan di saat berduka. Menyukuri kehilangan, tanpa meratapi berlama-lama. Dan semua kagum melihat betapa kuat dan tangguhnya seorang Dewi Lestari, penyanyi sekaligus penulis. Beberapa menyebutnya "bersinar dalam keberkabungan."

Sabtu, 09 Juli 2022

Eid al Adha Mubarrak

 






"Silahkan masuk nak Tuty. Aya seperti biasa. Di balkon."

"Baik tante. Saya langsung naik saja ya."

Perempuan 77 tahun itu mengangguk dan tersenyum. Sambil memperhatikan langkah sahabat anaknya yang mungil itu satu persatu menaiki anak tangga. 

"Hai Ty. Makasih masih mau berkunjung. Kau sehat kah? "

"Alhamdulillah. Kau lihatlah sendiri. Bila aku menaiki anak tangga saja sambil melompat. Apa artinya? Aku sehat kan? "

"Ah kau. Dari dulu kau selalu tampak setrong dan set set wet. Hahaha... "

Mereka selalu tergelak saat berjumpa. 

Tuty sekilas memandang wajah sahabat nya. Usia telah banyak memakan wajah cantiknya. Ujung mata luarnya makin menurun dan mengerut. Aya selalu menyebutnya mata tua.

Dalam hati Tuty menggumam "Ah, Ay. Kau sungguh wanita luar biasa. Kau selalu pandai menyembunyikan semua luka hatimu. Sungguh, kau tak sebanding bila harus disejajarkan dengan para perempuan yang menyebut Yoga 'mas Pray, koko Yoga, om Gila, dan Ayah Baru Mm Qmel'. Kasihmu sungguh besar. Tak pantas untuk kau perjuangkan bagi lelaki yang menyebut dirinya sendiri 'brengsek, benalu, pantas dimaki bahkan dihajar sampai berdarah'. Kau terlalu mulia untuk direndahkan oleh orang yang kau cintai. "


"Apaan sih. Ngeliatnya gitu banget. Kangen ya. "

Tuty buru-buru membuang muka saat ketahuan sedang membatinnya. 

"Engga kok. Aku senang melihatmu makin bugar. Pandangan matamu juga lebih berbinar. "

"Pasti dong. Siapa yang engga seneng. Dikunjungi sahabat. Cuma kamu yang paling sering menemuiku, menemani aku, mendukung di saat apapun kondisiku. Terima kasih ya Ty. "

"Ah. Never mind. That's what's friend are for kan. "

Tuty kembali mengamati meja bulat kecil di ujung balkon itu. Dengan kursi rotan setengah lingkaran di kanan kirinya. Tempat favorit Aya untuk menikmati sendirinya. Baik saat mencari inspirasi untuk menulis. Pun saat dia 'menunggu Yoga' dalam pemulihan amnesia nya. Kunci mobil, kacamata hitam, dan handphone pemberian Yoga, masih selalu teronggok di sana. 


"Hey. Apalagi yang kau perhatikan. Tenang Ty. Aku sudah sembuh. Aku sudah mengingat semuanya. "

"Oh ya? Lalu kenapa benda-benda itu masih di situ? "

"Oh ini. Tak apa. Aku suka saja menempatkannya di sana. Sebagai kenangan yang menemani dan memulihkan semua ingatanku. "

"Emm.. Lalu. Kau masih menunggunya datang? "


Aya menarik nafas dalam. Hening sejenak suasana balkon. Angin bulan Juli yang mulai bertiup agak kencang menyingkap korden warna coklat susu di kamar Aya. Sedikit membuat suara gemerisik lembar kalender yang tertempel di dinding. 

"Aku sudah tahu semua Ty. "

"Lalu, kau masih akan menunggunya datang? "

"Hehe. Dia tidak akan datang. Tidak akan pernah. "

"Kau masih berharap? "

"Iya. "

"Hah? Katamu kau.."

"Iya. Harapanku hanya satu. "

"Apa itu?"

"Dulu aku ingin mengembalikan semua ingatanku."

"Sekarang? "

"Aku ingin lupa. "

Tuty menghela nafas panjang. Tersenyum dan berkaca-kaca. Diliputi rasa haru dan syukur yang mendalam. Hatinya berseru "Berbahagialah Ay. "




Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar

Laailaa haillallahu allahu akbar

Allahu akbar walillahilhamd



Senin, 09 Mei 2022

Eid 2022


 

Lebaran... 

Saat semua umat merayakan hari kemenangan

Sanak kerabat yang jauh pun berdatangan

Saling berpeluk salaman dan bermaaf-maafan

Semua jenis kue kering, basah, keripik dihidangkan

Tak lupa ketupat dan segala masakan bersantan

Para sesepuh bersenda sambil menunjuk tongkat penopang langkah dan rambut yang makin beruban

Yang muda saling tertawa melihat anak-anak pada beranjak remaja dan dewasa seakan waktu begitu cepat berjalan




Dengan doa dan harapan yang sama

Menjadi insan yang kembali fitrah



Cause cookies bring back all the memories


Sabtu, 09 April 2022

A vibe



Menyukuri bulan baik. Merenda segala niat baik. Untuk terus berkarya. 

Live your life lively. Cause you responsible for your own life. As nobody want to live for you.


 

Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...