Selasa, 26 Mei 2020

Hari-hari pernah seberwarna itu
Hati pernah seberbunga-bunga itu

Bersyukur
Pernah menjadi bagian di antaranya

Sabtu, 23 Mei 2020


"Nak, ada kalanya manusia harus mengambil keputusan terberat dalam hidupnya. Dan seringkali semesta tidak mendukung. Mungkin karena sesuatu atau seseorang tak pernah mengerti, bahwa dialah alasan di balik itu semua. Selebihnya, bisa jadi kehendak Tuhan yang berkata lain.

Nak, jangan pernah iri melihat kawan-kawanmu. Yang di luar sana selalu tersenyum dan tertawa, bergandengan tangan, dan bercanda bersama ayah ibunya. Bahagialah di manapun, dengan siapapun. Dengan ibu saja, atau dengan ayah saja. Pun bila tak harus dengan keduanya. Ciptakan bahagiamu sendiri.

Mungkin ada yang belum lelah bila harus 'berusaha menciptakan suasana lebaran yang utuh, setidaknya untuk dua keluarga kami'. Mungkin masih menyisakan banyak energi untuk mengingkari hati nurani. Atau mungkin memang itulah jalan yang sedang diupayakan.

Nak, suatu saat kamu akan mencari apa arti cinta. Dan jauh di saat yang lain lagi, kamu akan benar-benar tak mengerti apa sebenarnya itu cinta.

Nak, bertumbuhlah saja. Berproseslah. Ada saatnya nanti kamu akan mengerti."




Eid 1441H
PesanFitri

Rabu, 13 Mei 2020



Apa kabar Ramadanmu? Masih sama? Atau seperti yang dibilang orang kebanyakan 'Ramadan kali ini benar-benar berbeda'?

Kamu usia pelajar yang harus menuntut ilmu di kota atau pulau lain. Yang karena aturan Pemerintah tidak bisa pulang kampung halaman. Rindu masakan ibu dan suasana puasa di kampung?

Kamu tenaga medis yang waktunya habis di Rumah Sakit karena harus merawat dan memperjuangkan nyawa sesama?

Kamu orang tua yang baru saja ditinggalkan anak-anak yang tinggal di kota lain bersama keluarga barunya?

Kamu karyawan yang baru saja dirumahkan?

Kamu tak mampu bekerja karena; lagi-lagi aturan Pemerintah untuk di rumah saja?

Kamu pengelola tempat makan, warung kopi yang harus menutup gerai karena selalu jadi pusat kerumunan?

Kamu ada di posisi yang mana?

Ya, untuk mereka semua tentu Ramadan kali ini berbeda, sangat berat mungkin. Bisa jadi yang paling berat dari sebelum-sebelumnya.

Tapi bagi sebagian orang, yang sudah terbiasa berbuka, tarawih, membaca al-qur'an, dan makan sahur sendiri, tentulah ini Ramadan yang masih tetap sama. Meski tak pernah ada ucapan selamat berbuka, asal bisa bertemu kurma dan senja Ramadan, semesta seolah menggenggam tangan "Mari sini, melangkah bersamaku. Kau harus menikmati indahnya perjalanan ibadah ini." Bahkan lebaran tanpa Shalat Ied dan acara sungkeman bersama keluarga pun sudah sangat biasa.
 
Pemandangan yang sering kita lihat belakangan; Berbagi menu buka, mengucapkan selamat berbuka, selamat makan sahur, dan sekedar bertanya kabar, hanya bisa lewat layar. Melihat mereka semua tersenyum, baik-baik saja dan sehat, haru dan bahagia lalu tercipta. Meski teknologi tak akan bisa menggantikan sentuhan kasih. Setidaknya, yang jauh bisa berasa dekat.

Dengan pakaian bersih berpeci, atau mukena dan sajadah melambai-lambai di layar "yuk tarawih dulu". Bahkan dengan merangkul yang disebelahnya -yang katanya sudah tak dicintai sekalipun- bisa dengan mudah memperlihatkan di depan banyak orang, demi disebut 'keluarga yang utuh'.

Mungkin dengan gawai, rindu, bahagia, dan segala bentuk percakapan secara virtual dan daring bisa diciptakan. Tak akan ada yang tahu itu sebuah kebenaran atau kepura-puraan belaka. 

Lalu bagaimana dengan cinta? Bisakah ditunjukkan dan dirasakan secara online?

Cinta dan ibadahmu biarkan menjadi rahasiamu dan Tuhanmu saja.

Selasa, 12 Mei 2020




Manusia mati meninggalkan cerita. Dan yang abadi hanya karya.

Dulu hanya tahu namanya saja. Dan lagu yang saya kenal saat itu cuma Sewu Kutho dan Stasiun Balapan. Tanpa berusaha menghafal liriknya. Pun tak mengidolakannya. Pada zamannya, hanya kalangan tertentu yang menyukai lagu-lagu itu. Saat orang-orang seusiaku lebih familiar dengan boyband manca, seperti Westlife dan Backstreet Boys.

Saat kematiannya diberitakan di banyak media, barulah tahu dia telah mencipta banyak lagu dalam banyak album. Yang judul-judulnya secara random saya rangkai dalam sebuah kidung Jawa. Ya, saya baru mengerti lagu-lagu Jawa yang banyak dipopulerkan oleh pendatang-pendatang baru dangdut adalah ciptaannya.

Bahkan saat dia menggelar konser di kota ini. Saya masih ingat betul, beberapa bulan lalu, seorang petinggi pemerintahan berkata "Ayo duduk sini. Kita rencanakan yang matang persiapan konser ini. Usahakan nanti semua bisa menonton, duduk manis dan ikut joget. Biar ilang semua stres kalian. "

Saat itu juga saya baru menyadari, dia digandrungi banyak orang dari berbagai kalangan. Dan kematiannya, meninggalkan duka dan kehilangan yang mendalam bagi negeri ini. Khususnya bagi para Sobat Ambyar,  sebutan penggemarnya, yang mengelu-elukan nya sebagai Lord Didi, The Godfather of Broken Heart. 

Dan saat itupun, terbersit pikiran 'karena tak ada pernikahan saat pandemi ini, tanggal cantik pun akhirnya dipilih untuk mengenang sebuah kematian'.


Didi Kempot
05052020
Rest in Love

Senin, 11 Mei 2020


"Without pain, how could we know joy?"
"It would be a privilege to have my heart broken by you."


"I'm tired of living without really leaving. I’m tired of wanting things. We can’t have a lot of things."
"We need that touch from the one we love, almost as much as we need the air to breathe. But I never understood the importance of a touch. Until I couldn't have it."
"I hope my life wasn't for nothing."
"If I'm going to die, I want to actually live first. And then I'll die."


When it hurts both, why does one might still feel hurted.
One thing about pain. It demands to be felt.

Mencintai yang sakit. Mencintai rasa sakit. Mencinta saat sakit. Memaknai rasa cinta dan rasa sakit secara bersamaan. Bila sudah sama-sama sakit, kenapa masih merasa tersakiti?

Bukankah dalam "aku mencintamu" ada "aku telah memilih untuk menyakitimu dan diriku sendiri" di dalamnya.




The Fault in Our Stars
Five Feet Apart

Minggu, 10 Mei 2020



Ada yang enggan mekar
Mungkin kekurangan air
Atau waktunya dijemur di bawah matahari sebentar saja

Mungkin vas nya terlalu sempit
Atau terlalu banyak batang, berdesakan

Mungkin dia rindu alam bebas
Kuncup-kuncup telah layu
Ingin berdiri berdekatan dengan bunga-bunga lain
Atau,

Bila ada yang lebih tahu tentang bunga, bertanyalah
Atau carilah artikel, bacaan, sumber terpercaya, pelajarilah
Atau,

Bila kau merasa tahu
Lakukan sesuatu yang perlu

Tak ada guna bertanya-tanya, menerka-nerka
Lebih-lebih menyimpulkan
Apa yang hanya terlihat oleh mata

Karena di balik itu
Ada banyak hal yang tak teraba oleh hatimu
Jauh tak terengkuh oleh pikiranmu


"Belajar tanpa berpikir tak ada gunanya
Tapi berpikir  tanpa belajar sangat berbahaya"
- Ir. Soekarno

Kamis, 07 Mei 2020


"Kenapa aku tak boleh bertemu senja?"
"Karena kau tak bisa."

Anak-anak sedang berlarian di pematang. Batang padi belum menguning benar. Tapi capung dan belalang sudah sangat berhasrat mengerumuni. Tawa anak-anak memecah sunyi. Gembira mereka mengalahkan seluruh rindu yang terpendam untuk segera bersekolah lagi. Mungkin mereka tak mengerti, atau iya mengerti dengan batas pemikiran kanak-kanaknya, bahwa Bumi sedang berduka. Berebut saling mendahului, saling kejar. Seolah agenda hari ini adalah outclass, pelajaran menjelajah alam. Tugas menangkap capung dan belalang. Siapa cepat, dia juara.

Sinar matahari mulai terasa hangat.
"Aku harus pulang."
"Ya. Beristirahatlah. Kutemui kau esok lagi."

Burung-burung sawah mulai berdatangan. Hampir bersamaan dengan para buruh tani. Membagi kavling, membersihkan gulma dan tanaman pengganggu sesuai bagiannya masing-masing. Dan tentu saja, sambil mengusir kawanan burung. Agar hasil panen nanti sempurna.

Anak-anak masih hingar berlarian. Kini menuju gubug tengah pematang. Mungkin sedikit lelah. Sebagian menaiki gubug, duduk meluruskan kaki, mengatur nafas. Sisanya membungkuk di ujung selang besar, menadah air dr sumur bor yang telah dinyalakan buruh tani untuk mengairi sawah. Dengan menengadahkan dua telapak tangannya, mengisi penuh-penuh air, lalu ditumpahkan ke wajah membasahi mukanya. Lalu kepalanya, dan diminumnya. Begitu mereka melakukannya bergantian.
Sungguh, bahagia anak-anak ternyata sesederhana itu.

"Ini pertengahan bulan kan?"
"Iya. Kenapa?"
"Apa aku bisa melihat purnama?"
"Kau tidak diijinkan."

Langit masih sedikit temaram. Sang surya terlihat menggeliat di peraduan. Masih enggan beranjak. Sepertinya ingin meneruskan mimpi yang belum usai. Tapi para pedagang sudah mulai berlalu lalang memenuhi pasar rakyat. Penjual tempe, sayur-sayuran, dan ikan segar, yang bahkan sejak dini hari telah berdatangan menurunkan dagangan nya dari gerobak, becak, ataupun truk pengangkutnya. 

Para gadis dan pemuda yang sedang bersedih, patah hati, seharusnya menyaksikan pemandangan yang demikian. Karena bagaimanapun kalian terluka, hidup harus terus berjalan. Bersabar untuk di rumah saja. Biarkan para orang tua tetap menunaikan tugasnya. Untuk bekerja, mencari nafkah, menjemput rizki yang telah disediakanNya. Karena hidup bukan hanya tentang cinta. Tapi menjalaninya dengan lapang hati.

Saat pasar mulai sepi pembeli,
"Aku masih ingin di sini."
"Tapi kita harus pulang."

Penjual ayam mulai mengibas-ngibaskan beberapa buah lidi yang diikatnya menyerupai sapu kecil, untuk mengusir lalat. Berharap dagangannya yang tinggal sedikit segera terjual habis. Maka rasa syukur akan memenuhi hati mereka. Untuk bisa menghitung laba. Sebagian untuk membeli bahan makanan. Dan sisanya untuk berdagang lagi esok hari. Pulang dengan kegembiraan, membawakan bahan untuk dimasak saat berbuka di rumah sore nanti.

"Kenapa kita hanya bisa bersama pada satu waktu saja?"
"Karena kita ditakdirkan begitu."

Jalanan lengang. Gedung-gedung sekolah kosong. Beberapa memang dialihfungsikan sementara untuk ruang isolasi dan karantina. Tapi epidemi memang merubah segalanya. Jauh berbeda bila anak sekolah sedang libur. Setelah ujian semester, atau minggu tenang saat menunggu hasil kenaikan kelas dan kelulusan. Sejak matahari terbit sampai terbenam,  terlihat ramai mereka di jalan. Di pusat keramaian, arena bermain, gelanggang olahraga, tempat wisata, bioskop, kafe, bahkan pasar ikan dan pasar burung. Kali ini semua sepi. Entah dengan pengertian, paksaan orang tua, kesadaran pribadi, ataupun rasa putus asa. Harus mengabaikan segala rasa bosan untuk tetap di rumah saja. Menekan seluruh hasrat dan keinginan untuk keluar, dengan alasan apapun. Lalu berteman lebih dekat dengan gawai. Televisi, komputer, ponsel, telah menggantikan aktivitas membaca, berhitung, menulis, berenang, bersepeda. Ya, mereka kini harus belajar dan bermain dalam dunia virtual.

"Kau sangat ingin melihat purnama?"
"Satu dari sekian yang kuimpikan."
"Beberapa hari ke depan, saatnya dia muncul agak larut. Semoga di keesokan harinya aku bisa mengantarmu menemuinya."
"Semoga."

Langit mulai kemerahan di ufuk timur. Daun-daun bergoyang bergesekan karena hembus angin. Di langit sebelah barat bulan masih bundar. Meski tak seterang malam sebelumnya.

"Hey, bukankah itu purnama?"
"Kau suka?"
"Lebih dari segala yang kurindukan."
"Pandanglah berlama-lama. Karena waktumu tinggal beberapa saja"

Ya. Bumi mungkin sedang berduka. Dan manusia-manusia sedang berpuasa. Tak hanya menahan lapar, dahaga, dan amarah. Juga bersabar untuk hidup berdamai dengan keadaan. 

Dan di balik ini semua, alam seperti terlahir kembali. Matahari muncul disambut udara bersih tanpa polusi. Awan putih berarak pelan seperti berpawai, menjelajah bebas tanpa kemacetan lalu lintas langit. Puncak-puncak gunung yang berpasir kini terlihat lebih jelas, dengan kabut cincin yang mengelilingi lembahnya. 

Sungguh, Tuhan menegur sekaligus menunjukkan mujizat dalam waktu yang bersamaan.

"Hallo."
"Hey."
"Apa kau belum lupa?"
"Hanya ingatanku yang akan mengabadikanmu."

Berlarian bergandeng tangan mengejar fajar. Tersenyum mengintip cahaya yang menerobos sela-sela ranting dan pepohonan. Berlomba dengan bulir sisa hujan semalam menggapai pucuk bunga soka. Lalu saling unjuk kemilau di tubuhnya yang terbias cahaya surya.

"Terima kasih masih di sini. Jangan pergi"
"Aku tak akan pernah kemana-mana. Masih mau menemaniku?"
"Tak perlu meminta."
"Terimakasih, Pagi."
"Aku menyayangimu, Embun."




Supermoon 2020



Rabu, 06 Mei 2020

Jaman semana
Agawe wong ketaman asmara
Saben dina sing diarep-arep mung layang kangen
Kaserat ing ukara tresna

Ati kang nandang wuyung
Arep sambat karo sapa
Isane mung ngudarasa

Njur saiki?

Tak tandur pari
Jebul thukule suket teki
Wis kadung cidra
Piye lehku njogeti patah hati?








Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...