Kamis, 26 Juli 2018

"Hallo, Teh."

"Hey, Neng. Sini sini masuk. Lagi istirahat ya kamu?"

"Iya. Sibuk kah, Teh?"

"Nooo... Santaai kayak di pantai. Hahaha..." Terbahak si teteh. Lugas tawanya, selugas sikap dan segala tuturnya. Tak pernah reseh. Tak sering nyinyir. Benci ngurusin orang. Lebih suka ngobrolin musik dan makanan. Terbuka sama siapa saja.

"Eh aku bawa koleksi DVD ku loh. Padahal channel TV nya udah banyak ya. Kadang kok masih ngerasa sepi aja. Suka mati gaya kalau seharian gak ada tamu."

"Yang ini kah?" album Santana aku sodorin, untuk diputar di player.

"Lihat nih. Tagihan ponselku bulan kemarin."

"Haah... !" melongo menyaksikan lembaran kertas di depanku. Rekening koran tagihan telpon bulanan si teteh. Beberapa baris berurutan ke bawah daftar bicara, lengkap dengan kolom tanggal, hari, jam dan nominalnya. Berikutnya daftar pesan pendek. Dan seterusnya berseling antara waktu bicara dan pesan pendek. Fantastis jumlah yang harus dibayar. Tak bersuara, hanya menggumam 'ini mah gajiku tiga bulan'.

"Aku tuh suka ngambek orangnya ya. Kadang gak jelas juga alasannya. Habis si Agung juga suka cemburuan gak jelas gitu. Habis telponan masih marahan. Sms-an juga masih masalah. Repot kan?"

"Hehe. Yang keras siapa coba? Teteh apa mas Agung?"

"Dua-duanya kayaknya sih."

"Kelamaan pacarannya kali."

"Gitu ya?"

"Kali aja. Hahaha..." terkekeh berdua kita.

And it's a hot one
Like seven inches from the midday sun
And if you said this life's ain't good enough
I would give my life to lift you up
Cause you're so smooth

Suara serak Rob Thomas mendayu, sedikit rancak, tapi tetap sendu bagiku.

"Kadang kalau udah ketemu gitu kita ketawa ya. Sama-sama mikir ngapain kita selalu pake acara berantem, marahan, tangis-tangisan gitu. Berikutnya kita juga becanda-becandaan lagi. Gak perlu kan sebenarnya ya."

"Heem. Fluktuasi kan, Teh. Gak nilai mata uang aja yang naik turun. Perasaan juga bisa begitu."

"Eh tahu engga. Yang terakhir dia bilang "Kita gak bisa kayak gini terus. Aku harus menikahi kamu."

* * *

Ruangan sempit di ujung kantor megah yang berkarpet hijau, dinding-dindingnyapun berbalut karpet hijau -lebih mirip studio musik menurutku- itu kini sering lengang. Tak ada lagi agen pengganti. Pilihan tempatku menghabiskan jam istirahat, setelah makan siang dan shalat. Tempat ngobrol dan berbagi banyak cerita dengan si teteh.

* * *

Lima tahun kemudian

"Hey kamu yang apa kabar. Aku mah selalu baik. Di sini diperlakukan seperti putri raja. Sejak sebelum menikah sampai lahir bayi pertamaku, setiap hari diupacarain. Dipingit, dilulurin, dimaskerin, gak boleh keluar rumah sampai upacara perkawinan. Hamil diupacarain. Lahiran diupacarain. Lepas pusar bayi diupacarain. Pokoknya tiada hari tanpa upacara. Tapi pesanku sih, cukup aku aja. Kamu dan yang lain, sebisa mungkin jangan deh, menikah beda suku, beda agama, dan beda adat. Mertuaku berkasta tinggi, dia tokoh agama dan ketua adat di sini. Suamiku gak pernah bisa gak nurut. Membantah sama dengan dikeluarkan dari kasta dan dibuang dari keluarga. Pilihannya cuma mengikuti aturan, atau pertumpahan darah."

Hmm...

Begitu mengagumkan cinta
Harus ditebus dengan duka lara








July27, 01.50

Kamis, 19 Juli 2018

Mungkin aku akan lupa bagaimana rasanya -bila tak diingatkan kembali- sirloin, tenderloin steak, french fries, mie kuah, rujak cingur duapuluh ribu dan yang enam ribuan.

Pun tak ingat benar bedanya banana split yang disajikan dalam piring mika warna hijau berbentuk daun, lengkap dengan garis gurat-gurat menyerupai aslinya, dengan yang di cawan bening berkaki panjang.

Juga mini black forest berpita coklat yang kubelah pada tanggal satu maret, memaksakan taggal duapuluh sembilan pebruari yang hanya kutemui empat tahun sekali. Jus mentimun, plecing kangkung, dan sambal pencit yang bikin gobyos di warung tepi sawah.

Tapi aku tak pernah lupa saat kapan melihatnya, mengambil gambarnya beberapa jenak sebelum menikmati suapan demi suapan. Lalu merasakan sensasinya meleleh memenuhi lidahku. Semeleleh pandanganmu menyaksikan aku merahabinya pelan-pelan. Hingga tak bersisa, ataupun menyisakan potongan-potongan terakhir untuk kau habiskan, atau kupaksa menyuapimu demi menghabiskan.

Itu semua tentang apa? Hal makan?

Bukan merurutku. Itu tentang waktu, tentang kesempatan, dan tentang cinta. Cara cinta menghargai waktu.

Terimakasih waktu.
Terimakasih cinta.









July19, 20.52


Rabu, 18 Juli 2018

Sedikit berdecit waktu kubuka. Melangkah tiga jengkal dari daun pintu. Kusandarkan tubuh bagian depanku pada pagar pembatas balkon yang sedikit lebih tinggi di atas perutku. Mendongak menyaksikan langit yang sedikit panas menurutku, meski matahari belum tepat di atas kepala waktu itu. Hamparan sawah yang mulai menguning sedikit mengalihkan kernyit dahiku karena menahan silau.

"Boleh ketemu?"

"Untuk apa? "

"Meminta maaf."

"Maafkanlah dirimu sendiri untuk pikiran-pikiranmu itu."

"Kalau tidak boleh, ijinkan aku melihatmu sebentar saja. Mungkin untuk terakhir kalinya. Setelah itu aku gak akan ganggu kamu lagi."

"Sudahlah. Mungkin kamu butuh waktu untuk berdamai dengan dirimu sendiri dulu."

"Ijinkan aku bertemu, sekali saja. Aku ingin mencium kakimu."


Sedikit menunduk. Suara air sungai yang mengitari pondok ini, menyerupai batas area persawahan di seberangnya. Terlihat dua orang di gubuk kecil di salah satu petak sawah sedang menarik-narik tali. Menggerak-gerakkan pita atau kertas berbentuk segitiga menyerupai bendera, yang dipasang di sela-sela sepanjang tali mengitari sekotak sawah miliknya. Rupanya untuk mengusir burung-burung yang ramai hinggap. Berharap berhenti mengenyangkan selera makan siangnya, agar saat panen tak berkurang hasil padinya.

Kutarik sebuah kursi rotan. Dengan sandaran agak tinggi tidak melebihi kepalaku. Dengan spons tipis berbalut oscar coklat tua bebentuk setengah lingkaran, mungkin bermaksud tidak menyakiti pantatku saat mendudukinya. Kusandarkan pada balkon tempatku berdiri tadi. Kali ini mataku disibukkan oleh segerombolan burung walet yang tiba-tiba muncul entah dari mana asalnya. Mungkin juga karena langit tiba-tiba saja mendung. Beterbangan di atas sungai, sawah dan sekitar balkon.


"Untung yang bicara ini kamu. Coba orang di jalanan, pasti sudah aku gampar."

Semendidih itu otakku malam sebelumnya. Seperti tak kuasa lagi menahan sakitnya hati, karena kepercayaan yang dirusak.

"Kau sudah mengenalku. Kenapa berusaha menciptakan aku yang lain di pikiranmu."


Kutarik kembali kursi rotan ke tempatnya semula. Menempel pada dinding pondok sekitar satu meter saja dari pembatas balkon. Dua buah kursi yang dipisahkan meja kecil bulat, dengan penutup kaca tebal di atasnya. Kucecap teh di cangkir putih polos agak tinggi, yang sudah mulai dingin, karen kuseduh dari pemanas air di dalam kamar pondok sejak aku tiba tadi.

"Aku pikir kamu akan lelah dengan semua ini. Tapi ternyata masih terjadi lagi. Dan lagi."

Kali ini aku mulai tertarik pada ponsel, yang sedari tadi aku abaikan. Aku buka file. Mini movie berisi gambarku, gambarnya, gambarku dan ibunya, serta beberapa percakapan kami dan sedikit catatanku. Menikmati semua gambar bermunculan bergantian, sambil beberapa kali bernafas panjang. Dan sesekali berhenti menahan sesak.

Bidadari tak bersayap datang padaku
Dikirim Tuhan dalam wujud wajah kamu
Dikirim Tuhan dalam wujud diri kamu
Sampai habis nyawaku
Sampai habis usia
Mukah dirimu jadi teman hidupku



Kuputar berulang-ulang sambil menyeka pipi dan hidung berkali-kali.


"Gak papa. Aku sehat kok. Dua botol bening cairan warna kuning sedikit membuatku lebih bugar. Setidaknya kembali merasakan infus setelah tujuh tahun lalu."

Kulepas mukena. Kulipat bersama sajadahnya. Lantai tampak bersih lagi. Tapi semua tertinggal di sana. Di bentangan langit Tuhan, tempat Dia menampung do'a-do'a, yang Dia ijabah, Dia tangguhkan, pun yang Dia gantung saja, untuk digantikanNya dengan hal baik menurutNya. Aku bangun. Tersenyum.

"Be healthy
Be happy "









July18, 14.46



Senin, 16 Juli 2018

Libur telah usai.

Aktivitas back to school merutin kembali. Jalanan ramai. Mobil, motor, sepeda, becak, saling berebut mendahului.

Hmm... Kota kecil ini makin semrawut.

"Tutup hidung nak. "
Penebangan pohon sepanjang jalan menyisakan debu gergaji, , ranting dan dedaun berserakan hampir memakan separuh jalan. Panik selalu menyergap. Tapi selalu, membawa bekal bismillah sebanyak-banyaknya, dan sekarung upaya untuk tetap tenang dalam kehati-hatian.

Kuciumi ujung rambutnya sambil menjerit dalam hati 'maaf nak... Ibu tak mampu memberimu rasa aman dan nyaman yang lebih dari ini'


Melewati motor di sebelah kiriku, yang berjalan sedikit lambat.lambat. Berpenumpang dua orang dewasa dan dua anak-anak. Terlihat punggung si ibu,ibu,berpakainan seragam pegawai pemerintah yang wajib dikenakan setiap tanggal tujuhbelas. Sedikit pudar dan kedodoran. Sepatu hitam yang tak pernah sempat disemir, kaus kaki putih yang hampir menyerupai abu-abu atau coklat muda. Motor lama yang tak keluar lagi produk barunya. Knalpot aus dan mengeluarkan asap berlebih. Seperti terseok tak sanggup meaju cepat karena kelebihan muatan.

Menahan nafas. Bergumam lirih 'pantaskah merasa kurang? Ampuni aku Tuhan'

Kupelankan laju motorku. Kabur pandanganku.









July17, 08.09


Dear you,

Tahukah kau, Nak
Dia pernah berkata "Aku sayang sampeyan"
Saat itu pengakuannya yang pertama dia bilang 'memberanikan diri' oleh sebuah rasa yang disimpannya entah sejak berapa lama. Aku bahkan tak mengerti, atau harus mengerti, atau berpura-pura tak mengerti, atau mungkin lebih tepatnya tidak berusaha mengerti. Bahkan menepis anggapanku sendiri.  Setiap sapanya di hari-hari kami 'sudah dahar bu', 'have a nice day', atau 'jangan lupa sarapan, jangan kayak aku nunggu jam 11'.
Kamipun tak pernah melewatkan saling berbalas lirik lagu, meski hanya di kolom status kami, bukan teks percakapan layaknya.
Ya... Aku tak pernah seberani dia mengartikan itu sebuah ungkapan cinta.

Aku pernah merasakan ketakutan yang sangat saat menjelang kau tiba. Aku cemas berkepanjangan. Seakan dia akan segera pergi menjemputmu, menemuimu, menikmati hari-hari bersamamu. Waktunya akan dia habiskan hanya dengan kamu. Dan dengan berjalannya waktu, cintanya padamu akan menguat. Mengalahkan cintanya -dulu hanya aku yang dia cinta- padaku.

Aku pernah bilang 'dia yang sudah kau idam-idamkan sejak lama'. Diapun selalu berusaha menenangkanku. 'Kamupun sudah aku harapkan sejak lama' sambil menyentuh ujung hidungku dengan ujung jari telunjuk kanannya.

Setiap saat dia tak memberi kabar, aku selalu membayangkan kalian sedang berdua. Dia menatapmu, mengagumi matamu, yang pasti mewarisi mata tuanya. Memelukmu sambil mengelusmu, menelurusuri tiap lekuk tangan dan kaki mungilmu, sampai kau terlelap, dan diapun pulas di sampingmu karena kelelahan bekerja. Saat kau bermain, dia akan mengambil gitar dan menyanyikan lagu cinta untukmu.

Aku pernah memungkiri kau ada, agar semua pertanyaan dan ketakutanku tak pernah terbukti terjadi.

Tapi, Nak
Aku tak akan pernah punya hati, untuk menyakitinya, lebih-lebih kamu.

Saat dia berkata "Aku juga sering mengabaikannya... "
Aku merasa seperti hilang, terbang tak bernyawa. Sedang selama itu dia selalu mengucap 'mboten repot', 'tak ada beban', atau 'ga ada yang lebih berat daripada jauh dari kamu'.

Dia berubah. Meski sekuat apa selalu menyanggah 'perasaanku... Kebiasaanku... Gak akan pernah berubah'. Tapi aku selalu tahu pembedanya. Tapi aku bisa apa?

Dia menganggapku menyalahkanmu. Tidak menerima keberadaanmu. Aku pernah mengatakan 'akan lebih tenang bila dia bersamamu' waktu itu. Mungkin dia lupa.

Melihat wajahmu aku berlinang berhari-hari.

Aku tak pandai berdo'a, Nak
Tapi sungguh, aku melakukannya tanpa henti. Berharap suatu saat nanti aku bisa menemuimu. Aku ingin memelukmu. Membisikkan lirih di telingamu

"Aku tak pernah merebut dia dari siapapun. Pun dari kamu. Dia datang tanpa aku undang. Dan itu jauh sebelum kamu ada. Dia cinta aku sebelum kamu mengenal dia sebagai ayahmu. "

Tersenyumlah, Nak
Aku akan memohon dan bersimpuh di depanmu
"Bolehkah kita berbagi ayah? "

Thank you for your kind attention. And I'm looking forward to a personal touch.

With love,
Sincerely yours







July16, 16.20
SuratKecilUntukAisyah


Minggu, 15 Juli 2018


"Hmm... Lamanya. Kayak nunggu anggota dewan pas rapat paripurna."
"Hahaha... Mau photoshoot palingan. Prewedding. Itu kan keliatan bride's crown nya."
"Pake acara gontok-gontokkan kah. Si satpam sangar amat mukanya."
"Karena terlihat semua. Manten, kamera, tripod. Pasti kena charge khusus."


Hampir empatpuluh menit di loket pintu masuk wisata ini. Backpack, laptop, USB, kamera, sudah tetenteng di punggung, lengan dan tangan masing-masing. Berjalan beriringan melewati jalan setapak, sesekali berdebu dan menanjak.

"Jauh banget sih. Mau yang di sebelah mana emang?"
"Capek tah?"
"Dikit."
"Sebentar lagi kok mbak."


Batu-batu bepermukaan halus -tampak beda dengan sekitarnya- menarik perhatianku. Beberapa kali tersapu ombak. Lalu makin menyembunyikan diri di antara pasir basah.basah. Aku fokuskan lensa dua-tiga kali ke arahnya dan membidiknya.

Aaaaaaaaaaaaaaa...


Teriakan panjang entah dari mana asalnya. Kita berlima -yang mencari objek di tempat berbeda- saling pandang sejenak. Lalu menoleh ke kanan kiri berusaha mencari sumber suara.

polisiembali menikmati antrean. Kali ini di pintu keluar. Melewati kerumunan, garis polisi, dan para pemburu berita berlarian berebut hot line news .

Dengan kasihMu ya Rabbi
Berkahi hidup ini
Dengan cintaMu ya Rabbi
Damaikan mati ini

Hanya suara Nissa Sabyan yang meramaikan perjalanan pulang kami. Tak sebaris katapun keluar dari mulut kami. Entah membahas kejadian tadi, ataupun merencanakan destinasi berikutnya. Kami hening dalam pikiran masing-masing

Ah... Pantai. Kau telah menjadi saksi cinta mereka. Saatnya mereka ditenggelamkan rasa.







July16, 12.22
RuangRapatParipurnaDPRD

Jumat, 13 Juli 2018

Mimpi; Saat Cinta Mencoba Terjaga



"Ay... Ngapain?"

Senyum, noleh...
Seperti kesulitan kamu mengaitkan tali helm merahmu ke bawah dagumu.

"Susah, sudah di tunggu ini. Tolong ambilin punyaku yang lama aja. Ini pake en wes".
Katamu, turun dari motor sambil nyodorin helm merah yang masih baru ke aku.

"Nggih, tunggu bentar."
Ga lama aku keluar bawa helmmu dan kamu sudah ga ada.

"Loh? Ga helman wong iku... Ya apa seh".
"Oalah, kesusu paling. Bismillah slamet, ga ono opo-opo. Aamiin"
Seperti ngomel sendiri sambil nutup pager rumahmu.

Lalu... Seperti berjalan di gang itu.
Tapi terlihat lebih panjang dari gang sebenarnya.

"Loh kok gak nyampe-nyampe ke jalan raya? Kok jauh? Bener kan ini gangnya? Bener kok....."


* * *


"Laper? Tuh kenapa telornya disisain. Kasian kan ga ada temennya. Yang lain udah pada masuk perut semua".

"Sengaja nyisain buat kamu Ay, seperti biasa kan? Kalo ga abis kamu yang ngabisin".

Seperti ga peduli banyak orang, paspampres sekalipun, reflek peluk kamu yang sambil duduk, pegang nasi kotak jatah dari panitia peresmian jalan Tol.

"Stay with me, stay hugging me, stay healthy. IloveU", bisik ku.

Riuh peresmian jalan tol oleh pak Presiden pun seperti diam, hening saat momen itu, seperti smuanya berhenti.

Duduk, bersimpuh di  depanmu, menerima suapan-suapan kecil potongan telor sisamu.









July14, 10.22

Rabu, 11 Juli 2018

Kau tidak tahu apa itu tampak kuat. Bagaimana rasanya tidak kuat, tapi bertahan untuk tetap kuat. Karena menjadi kuat adalah satu-satunya pilihan yang ada. Begitu orang berkata. Seperti pingsan lalu siuman. Mati suri bernafas kembali. Sekarat berkali-kali, tetapi terus bangun untuk melanjutkan hidup.

Duduk saja aku sekenanya. Tak kuhiraukan pasir dan rumput mengotori celana pendekku. Bahkan sesekali membuat pahaku gatal. Botol air mineral kututup lagi, setelah tinggal separuh isinya. Kuletakkan di sebelah sendal jepit yang kupakai alas duduk.


Kedewasaan tidak identik dengan usia. Itu juga kata orang-orang. Bahkan setelah fase learning life in a hard way sebentar reda dan kembali ke sana, benar adanya yang dikata 'hidup berputar'. Roller coaster egois sekali membawa penumpangnya. Sesukanya naik turun, miring, sambil bebas menebar ekspresi yang dibawa suasana hati. Tertawa, ketakutan, histeris, pucat, menahan nafas. Setelah berhenti pun menyisakan mimik. Sesak nafas, melongo, tertawa puas, atau diam saja. Selanjutnya melangkah lagi. Menuruti hasrat hati kemana mau mambawa diri. Duduk saja menikmati kopi, berjalan menghampiri gerai es krim, berlari mengejar kereta kelinci, atau memilih bersantai di area rumput melanjutkan halaman novel yang belum usai. Pun ada yang beranjak pulang untuk segera tidur, karena jadwal kerja harus jaga dari malam sampai pagi.  Hidup tak behenti.

Ya anginnya kencang. Sengaja kulepas karet rambutku. Kubiarkan tergerai bebas di bahu dan sesekali mengibas tengkuk. Aku ingin merasakan gesekan helai-helainya mengusik telinga. Tak biasanya kacamata yang aku tancapkan di kepala menyerupai bando. Kali ini kugeletakkan saja di sebelah pecahan batu bata di tanah sisi kiri tempatku duduk.

Ramai suara daun-daun jatuh, tapi tak mengosongkan pikiranku. Keset kamar mandi yang miring dan sesekali benangnya menjerat ujung jariku, ceret yang dipenuhi semut, roti basi yang kubeli tiga hari lalu tak termakan, dompet sobek yang bikin isinya berhamburan di jalan. Belum lagi tali jemuran yang putus, TV rusak, tangan harus diplester karena terkena pisau saat mengupas kentang. Ah... Seperti aku saja yang penuh masalah. Merasa paling menderita di dunia.

"Life... Oh life... Oh life... Oh life... Oh life"
By Desree

Kuhirup kuat-kuat kau angin. Kali ini aku hanya akan bercumbu denganmu. Aku tak merasa lelah. Hanya butuh beberapa menit untuk begini. Karena aku tak mungkin lari. Semua ini milikku, dihadiahkan padaku. Untuk kujalani dan kusyukuri.

Kutahan nafasku sedikit lama. Terpejam dan mencoba tersenyum. Dan kubiarkan air mata yang mendadak meleleh di pipi kanan kiriku. Basah dan dinginnya membuatku tertawa. Batinku "ini Tuhan yang Mau. Kenapa aku harus menahannya. "

"Masih di sini? "
Aku mengangguk masih enggan membuka mata.
"Ayo pergi. "
Akupun masih diam, tersenyum dan terpejam.

Merasakan tubuhku makin ringan. Ingatanku saja yang tetap sibuk memaksaku untuk segera menyusulmu. Menggandeng tanganmu dan menyeretmu duduk di depanku. Membawakan semangkuk kecil sup kacang merah dan secangkir coklat panas.

"Sudah hampir gelap. Ayo pulang. "

Hanya tersenyum.
Aku sudah sejauh ini untuk menjadi sedekat ini. Sudah sepanjang ini untuk menjadi sekuat ini. Kalau ada yang memintaku pergi, adakah tempat yang lebih layak, bila bukan di sini seharusnya aku ingin tinggal.













July12, 03.53

Sabtu, 07 Juli 2018

Memaknai derai

Sejak lalu lalang berubah senyap
Luruh di sela kumandang seruan Agung
Tetesnya serupa membingkai tepian senja

Basah di antara ruku' dan sujud
Bergemuruh di sela pujian dan panjat ampunan

Pun lunglai di ujung sendi-sendi
Menahan nyeri untuk tegak berdiri

Bahkan tak reda di sela denting ujung garpu dan piring
Menahan gemetar suap demi suap

Bila tak banyak sisa waktu
Hanya satu inginku
Tak pernah terlambat mengucap kata

Aku cinta











July7, 18.57

Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...