"Hallo, Teh."
"Hey, Neng. Sini sini masuk. Lagi istirahat ya kamu?"
"Iya. Sibuk kah, Teh?"
"Nooo... Santaai kayak di pantai. Hahaha..." Terbahak si teteh. Lugas tawanya, selugas sikap dan segala tuturnya. Tak pernah reseh. Tak sering nyinyir. Benci ngurusin orang. Lebih suka ngobrolin musik dan makanan. Terbuka sama siapa saja.
"Eh aku bawa koleksi DVD ku loh. Padahal channel TV nya udah banyak ya. Kadang kok masih ngerasa sepi aja. Suka mati gaya kalau seharian gak ada tamu."
"Yang ini kah?" album Santana aku sodorin, untuk diputar di player.
"Lihat nih. Tagihan ponselku bulan kemarin."
"Haah... !" melongo menyaksikan lembaran kertas di depanku. Rekening koran tagihan telpon bulanan si teteh. Beberapa baris berurutan ke bawah daftar bicara, lengkap dengan kolom tanggal, hari, jam dan nominalnya. Berikutnya daftar pesan pendek. Dan seterusnya berseling antara waktu bicara dan pesan pendek. Fantastis jumlah yang harus dibayar. Tak bersuara, hanya menggumam 'ini mah gajiku tiga bulan'.
"Aku tuh suka ngambek orangnya ya. Kadang gak jelas juga alasannya. Habis si Agung juga suka cemburuan gak jelas gitu. Habis telponan masih marahan. Sms-an juga masih masalah. Repot kan?"
"Hehe. Yang keras siapa coba? Teteh apa mas Agung?"
"Dua-duanya kayaknya sih."
"Kelamaan pacarannya kali."
"Gitu ya?"
"Kali aja. Hahaha..." terkekeh berdua kita.
And it's a hot one
Like seven inches from the midday sun
And if you said this life's ain't good enough
I would give my life to lift you up
Cause you're so smooth
Suara serak Rob Thomas mendayu, sedikit rancak, tapi tetap sendu bagiku.
"Kadang kalau udah ketemu gitu kita ketawa ya. Sama-sama mikir ngapain kita selalu pake acara berantem, marahan, tangis-tangisan gitu. Berikutnya kita juga becanda-becandaan lagi. Gak perlu kan sebenarnya ya."
"Heem. Fluktuasi kan, Teh. Gak nilai mata uang aja yang naik turun. Perasaan juga bisa begitu."
"Eh tahu engga. Yang terakhir dia bilang "Kita gak bisa kayak gini terus. Aku harus menikahi kamu."
* * *
Ruangan sempit di ujung kantor megah yang berkarpet hijau, dinding-dindingnyapun berbalut karpet hijau -lebih mirip studio musik menurutku- itu kini sering lengang. Tak ada lagi agen pengganti. Pilihan tempatku menghabiskan jam istirahat, setelah makan siang dan shalat. Tempat ngobrol dan berbagi banyak cerita dengan si teteh.
* * *
Lima tahun kemudian
"Hey kamu yang apa kabar. Aku mah selalu baik. Di sini diperlakukan seperti putri raja. Sejak sebelum menikah sampai lahir bayi pertamaku, setiap hari diupacarain. Dipingit, dilulurin, dimaskerin, gak boleh keluar rumah sampai upacara perkawinan. Hamil diupacarain. Lahiran diupacarain. Lepas pusar bayi diupacarain. Pokoknya tiada hari tanpa upacara. Tapi pesanku sih, cukup aku aja. Kamu dan yang lain, sebisa mungkin jangan deh, menikah beda suku, beda agama, dan beda adat. Mertuaku berkasta tinggi, dia tokoh agama dan ketua adat di sini. Suamiku gak pernah bisa gak nurut. Membantah sama dengan dikeluarkan dari kasta dan dibuang dari keluarga. Pilihannya cuma mengikuti aturan, atau pertumpahan darah."
Hmm...
Begitu mengagumkan cinta
Harus ditebus dengan duka lara
July27, 01.50
Tidak ada komentar:
Posting Komentar