Selasa, 30 April 2019


Berkata dalam diam

Hayati bulir demi bulir
Meleleh di sisi bingkai jendela
Seraya menatap
Menyelipkan pilu pada derasnya hujan
Mencari-cari
Bayangmu serupa udara yang tak mampu kunafaskan

Mendo'a dalam diam

Menyebut namamu, kalian
Dalam eja yang terbata
Panjat pinta tak bersuara
Pun tak terangkai dalam kata
Hanya riuh oleh linang
Dan luruh derai yang tak pernah usai

Mencatat dalam diam

Menyimpan semua cerita
Untuk terbaca 
Terceritakan lagi
Atau tertinggal begitu saja
Untukku sendiri

Bertanya dalam diam

Untuk apa pesan jangan sakit
Bila menyimpan kesakitan tak lagi berlaku
Dan lebih memilih semua tahu

Ingin mati cepat?
Lalu dimana rasa tak ingin pergi
Pun janji untuk hidup lebih lama dan membangun mimpi
Harus teringkari?

Terisak dalam diam

Bersenandung dalam diam

Ya...
Ketidaktahuan itu telah selamanya diam







*There goes my mind racing
And you are the reason
That I'm still breathing
I'm hopeless now*










EndOfAprilNote
ThanksToApril



Sabtu, 20 April 2019

Selamat datang purnama,
Terimakasih untuk tiga Sya'ban bersamaku

Semoga masih belum lelah
Mengantarku menjemput Ramadhan
Yang hanya tinggal beberapa kerjapan mata saja
Semoga tak pernah bosan
Menemani saat berbuka dan makan sahur
Atau sekedar berbagi satu bisikan nyawa
Saat mengeja hijaiyah dalam tadarus dan tarawih

Ingin mengucap selamat?
Semoga berkenan bersabar sejenak
Hingga senja keduapuluh sembilan Ramadhan singgah
Saat helaan nafas terakhir

Maka termuliakanlah aku
Sebagai satu-satunya wanita yang mencinta dan dicinta
Ikut rasakan syukurku yang maha sempurna
Saat dipanggil pulang
Bersamaan dengan sayup takbir hari nan fitri dikumandangkan

Lalu bertepuk tanganlah
Lebih gemuruh dari sahut petasan di segala penjuru semesta
Karena hari kemenanganmu tiba

Kamis, 18 April 2019

Selamat malam bulan hampir purnama...
Boleh kau ceritakan tentang Kamu dan Dia?

Kamu...
Kata ganti orang kedua tunggal,
Hari ini kau tunjukkan gambar potongan cake warna hijau bertabur keju
Katamu "Hijau-hijau yang ini lebih cheesy. Diantar kemana?"
Ada yang bersedih...
Dan besok pagi kau lalu akan sibuk berburu si hijau karena rasa bersalah

Kamu...
Yang selalu meluangkan banyak waktu untuk menilai
Setiap kata, cerita, dan tulisan demi tulisan

Dia...
Kata ganti orang ketiga tunggal,
Menanyai dirinya "Kenapa aku? Aku siapa?" dan membantah kata hati dan rasa sendiri
Yang lalu kau kuatkan
Dengan bait do'a yang tak ada habisnya

Dia...
Yang kini menjauh, menepi dan mencaci diri
Dalam ketidaktahuan amat mendalam
Tak ingin lagi mencari kesempatan untuk berkata
Sekedar menjelaskan, menyalahkan, membenarkan, pun membela diri
Hanya berbisik lirih
"Silahkan periksa sendiri penilaianmu. Beri tanda centang bila kau anggap benar. Dan silanglah jika menurutmu salah. Atau langsung saja beri skor 100 di lembar nilaimu. Agar kau bisa bertepuk tangan lebih riuh dari kemarin."

Dia...
Yang setiap membuka mata hanya mampu berdesis "Hidup untuk apa?"
Dan saat melangkah bergumam "Apa itu bahagia? Bagaimana bentuk, rasa, 'cara' dan 'menciptakan' nya?"


Selamat malam bulan hampir purnama...
Terimakasih untuk keduapuluh empat terangmu
Singgah di beranda hati yang hening














Rabu, 10 April 2019

Terimakasih untuk hari ini
Kemarin
Dan tahun-tahun yang terlewati

Terimakasih mempertemukan kami dengan caraMu
Membersamakan kami dengan caraMu

Bila segala masa, rasa, dan hal tentangmu adalah everything
Lalu hanya menjadi nothing
Maka cukupkanlah waktuku

Mungkin hanya sehari dua
Mereka akan meratap kehilanganku
Selebihnya akan menjadi lebih baik, lebih tenang tanpaku

Dan Kau akan menjaga mereka jauh lebih dari yang aku mampu
Karena hanya Kau sebaik-baik Penjaga












Wishing 4 d last Duha

Senin, 08 April 2019


When everything turns to nothing...


I have nowhere to turn now
Not East not West
North or South
And all that's ahead of me
And everything I know
I know nothing so
So bring me home











Surabaya
April09

Minggu, 07 April 2019


Perempuan itu menamaimu pagi...
Yang selalu dinanti sapa, tanya, bait do'a dan bait cintanya, di setiap membuka mata. Mengiringi buncah syukurnya untuk harap baru. Mengawali hari, melangkah tegar untuk hidup lebih lama.

Dia menyebutmu waktu...
Menemani tiap detiknya. Menunggu saat benderang berganti terik. Sekedar membaca pesan pengingat dan melirik menu yang memunculkan selera makannya. Bergegas mengambil wudhu dan mengenakan pakaian ibadah saat seruan agung berkumandang. Lalu menanti senja berganti gelap. Sekedar membagi cerita tentang orang-orang yang ditemui dan tempat-tempat yang didatangi seharian tadi. Mengalir mengadu, berkeluh semua sisi rapuhnya. Lalu menyambut malam, menyiapkan senyum terbaik saat dihantar frasa 'selamat istirahat' beranjak ke peraduan. Bertemu mimpi, lalu terjaga sejenak untuk mengingat semuanya. Terjaga lagi saat sepertiga malam, sesaat mengeja namamu, memohonkan panjat pinta untuk segala kebaikan. Menguntai bulir air mata untuk segala semoga yang diaminkan. Lalu membuka mata keesokan paginya dengan harap yang tumbuh menguat.

Dia memaknaimu serupa hujan...
Mengabaikan dirinya yang bagai tanah dan bebatuan. Tak ada keberatan sama sekali kau timpuki berkali-kali. Tetap merindukan kau untuk selalu singgah, menyirami tunas-tunas kasih yang kau semaikan. Agar senantiasa menguntum, menguncup, mekar, dan berakar.

Dia memanggilmu angin...
Bersuka cita saat kau mengembus perlahan. Memejam dan tersenyum kala semilirmu menyibak anak rambut di keningnya. Pun saat kau enggan singgah, dia akan terdiam sabar. Membisu, mendo'a. Berharap kau menerpa pucuk-pucuk daun. Sekedar bertitip rindu pada batang ilalang.

Kau adalah lagu baginya...
Tangis, canda, haru, tawa, pilu dan segala rasa yang kau bagi, mengalun merdu menemani harinya. Dia dendangkan dengan segenap suka sekaligus laranya.

Kaulah puisi itu...
Dituliskannya semua cerita tentangmu. Dengan bait, diksi, dan rima yang kau catatkan untuknya. Dibukukan segala masa sejak kau ada. Untuk kau bacakan lagi saat dia tua kelak.

Ya, baginya kau adalah segala...
Tak mampu dia menggenggam, bila sela jarinya tak kau isi dengan jemarimu. Tak sanggup dia menatap, bila mata tuamu tak nampak lagi di pandangannya. Tak akan lelah dia menanti, karena hanya kau yang diinginkan untuk berlari menghampiri. Dan mati dalam pelukanmu adalah bahagianya yang abadi, karena hanya kau yang menjadi alasannya untuk hidup.










Dusk Note
April07



Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...