Jumat, 20 Desember 2024

Hujan Adalah Kamu


 Hujan kadang merupa kamu

Mendadak temaram saat yang lain riang dengan benderang

Menarik ekor mata

Menikmati rintik dalam diam


Hujan kadang merupa kamu

Merayakan kenangan

Saat yang lain panik oleh genangan

Menikmati ratapan patah hati

Karena dengan kesedihan kau sentuh semesta dengan kelembutan


Ya

Hujan sering merupa kamu

Kumpulan dari segala rasa yang menyatu

Antara sedih gembira, tangis tawa, marah kecewa, haru dan rindu


Lalu aku?


Aku merupa bumi

Yang tak pernah benci

Mesti kau timpuk derasmu beribu kali

Tetap tenang

Mengharap kau menyapa

Membasahi seluruh sudut ruang 

Menebar aroma abadi

Kamis, 17 Oktober 2024


"Begini cukup?"

"Waaah. Ini sih lebih dari cukup say. Berlebihan dong namanya."

"Sudah ah, jangan cerewet. Cepet makan. Keburu dingin."

Aya memandangi mangkuk yang berisi penuh bakmi kuah kesukaannya. Memang sahabat terbaik. Aya tersenyum sambil memegang sendok dan garpu.

"Gimana Ay?"

"Hmm. Sayurnya kriuks. Mie nya lembut. Potongan ayam dan udangnya paass. Tapi..."

"Tapi apa? Pasti kamu akan bilang kurang pedes. Ya kan?"

"Aah, tau aja siih." Aya terkekeh

"Hush. Cukup segitu. Jangan terlalu pedes. Kamu kan baru sembuh dari typus. Ingat kata dokter."

"Iya iyaa. Aku stop makan pedes kok."

Seselera itu Aya pada semangkuk bakmi kuah. Secepat itu pula dia melahapnya sampai habis. Bahkan kuah yang tinggal sedikit itu pun, dia minum sampai tak tersisa.

Semoga apa yang kau makan hari ini, akan membuatmu kenyang, sehat dan berkah. Aya tersenyum perlahan. Kalimat itu selalu terngiang kapan dan di manapun dia sedang makan. baginya itu sebuah ungkapan yang penuh dengan kepedulian dan doa. Dan dalam hati Aya akan selalu mengaminkan.

"Ya ampuun. HP merah ini. Perasaan ketemuan kemarin udah ganti HP. Tapi kok sekarang kau pakai lagi."

"Iya memang sudah ganti. Tapi bukan berarti aku sudah tidak memakainya lagi kan."

"Hmm, emang susah banget ya ngelupain dia."

Hehe. Aya tersenyum kecil. Ada kegetiran dan sedih yang terpendam dalam senyumnya.

"Say, aku tak pernah sedikitpun berupaya melupakannya. Aku menyimpan segala ingatanku tentangnya. Dan mengenang semua cerita yang pernah kita punya."

"Tapi kamu terluka Ay. Terlalu banyak rasa pedih dan kecewa yang dibuatnya padamu. Dia mengatai dirinya brengsek. Dan dia sudah membuktikan sendiri sebrengsek itulah dia adanya."

"Iya. Aku tau Ty. Dia selalu berpikir dan menilaiku buruk. Meski aku lelah harus selalu arguing. Tapi aku tak pernah pergi, atau memintanya meninggalkan. Meski pada akhirnya dia juga yang memilih pergi. Aku juga tak pernah meminta nya kembali. Aku hanya fokus menyelesaikan masalah-masalah hidupku sendiri."

"Tapi dia sudah pergi Ay. Dia mengabaikanmu. Dia memilih orang lain kan. Kenapa kamu masih menunggu nya."

"Hey, bagaimana kau bisa menyimpulkan begitu."

"Buktinya. kau masih merindukan semua tentangnya kan. HP pemberiannya masih kau pakai. Tanpa kamu sadari, setiap kali kita ada waktu bersama seperti ini, aku sering melihatmu melamun, merenung, tersenyum sendiri. Meski banyak waktu kita habiskan untuk ngobrol dan tertawa. Tapi di sela-sela nya kamu selalu terlihat sedih dan murung."

"Oh ya? emang aku setidakpandai itu menyembunyikan rasaku Ty?"

"Hahaha. Tidak semua orang pintar berbohong Ay."

Aya tertawa. Bersyukur sahabatnya selalu ada di sampingnya. Perhatian dan kasih sayangnya sudah seperti saudara sendiri. Sambil merapikan letak taplak meja yang sedikit miring, Aya mengambil tissue.

"Ada untungnya kah aku bohong padamu Ty. Aku sungguh tak menunggu dan meminta dia kembali, Beneran. Sekali lagi. Sekali lagi ya. Aku jelaskan padamu, aku hanya menghargai semua rasa dan cerita tentang kita. Yang pernah kita ciptakan dan nikmati berdua dulu. Tak lebih dari itu."

"Kalau suatu saat dia akan datang lagi. Apa kau akan menerimanya?"
"Tergantung."

"Tergantung apa?"
"Tergantung seberapa effort dia menunjukkan itikad baiknya. Dan tergantung seberapa berkenan Tuhan memberi jalan untuk takdir kami."

"Semoga yang terbaik untukmu say."

"Aamiin. Kau pun begitu ya. Semoga kita senantiasa dilimpahi kesehatan, kesabaran, kekuatan dalam melanjutkan hidup ya. Semoga Tuhan selalu melindungi dan membimbing anak-anak kita agar tumbuh menjadi dewasa yang sehat, berpendidikan dan berakhlak mulia. Semoga mereka nanti akan menjadi penjaga kita di dunia dan di surga."

"Aamiin. Semoga mereka mengerti ya Ay. Betapa perjuangan kita membesarkannya sebagai ibu tunggal."

"Pasti Ty. Anak-anak akan selalu belajar cara menghargai dan  berterima kasih."

Di luar mulai temaram. Aya bangkit dari sofa. Mulai menyalakan lampu-lampu teras dan ruang tengah. Menutup satu persatu gorden jendela. Sedikit menghirup udara sejuk senja. Sebelum akhirnya menutup pintu ruang tamu saat terdengar adzan Maghrib berkumandang.
 

Rabu, 01 Mei 2024

Menarilah dan Terus Tertawa

 



“Ma, coba cek kan di toko online. Bantengan.”

“Kayak apa itu nak?”

“Coba wes lihat dulu.”

“Ini tah?” Aya menyodorkan HP yang di layarnya memperlihatkan daftar barang di toko online warna orens, Ada beberapa gambar kepala banteng lengkap dengan nama toko dan harga nya.

“Nah iya itu ma.”

“Untuk apa?”

“Ya buat maen lah.”

“Emang kamu bisa?”

“Kan bisa lihat di youtube, Ini lihaten (lihatlah) ya.”

Lalu Narend memilih channel youtube Satria Mbois, Satriya Arema, Putra Mandala Wisanggeni, dan beberapa konten yang bisa dipilih saat dia meng-klik kata kunci “bantengan”.

Terlihat di sana sekelompok pegiat seni dan budaya daerah, kebanyakan dari Malang dan sekitarnya,  yang menciptakan bentuk binatang banteng. Badan nya terbuat dari rangka kayu atau bambu. Lalu di dalam nya ada dua orang yang mengangkat dan menggerakkan. Satu orang yang di depan bertugas selaku kepala, sambil membawa kepala banteng,yang juga terbuat dari bahan kayu. Dilengkapi dengan hidung, mata, telinga, tanduk, serta bulu rambut  yang menyerupai aslinya. Sedang  satu orang lagi bertugas di belakang sebagai pembawa badan dan menggerakkan badan banteng.

Ada beberapa ekor banteng yang berdiri berjajar. Lalu satu orang sepertinya bertugas sebagai pemimpin, sambil membawa cambuk besar dan panjang. Lucunya di pertunjukan ini ada panggung besar yang dilengkapi dengan sound system dan lighting layaknya panggung konser. Akan tetapi hanya diisi oleh peralatan sound system besar yang suaranya sangat menggelegar. Sedangkan para pemain seni nya, ya para penggerak banteng itu, bermain di lapangan di depan panggung.

Saat musik dibunyikan keras-keras, maka sang pemimpin akan melecutkan cambuk, dan bergoyanglah para banteng menggerakkan tangan kaki, ke depan, ke belakang, samping kanan dan kiri, berdiri, merunduk bahkan maju mundur sambil jongkok. Bantenga jadi-jadian ini seperti para penari yang telah dilatih berkali-kali oleh seorang koreografer handal. Kenapa begitu? Karena menurutku mereka sungguh luar biasa. Menari dan bergoyang tanpa melihat. Bayangkan saja, para pembawa kerangka banteng ini adalah dua orang yang masing-masing bertugas di dalam ruangan yang ditutup selembar kain hitam lebar. Menutup seluruh rangka badan banteng dari bagian leher hingga ekor. Dan tentu saja menjuntai hingga bagian kaki. Jadi mereka bergerak dan bergoyang hanya dengan menirukan suara music dan menyesuaikan dengan tempo dan irama lagu yang sedang diputar. Yang membuat mereka makin luar biasa, segitu banyak banteng bergoyang dengan seragam dan seirama.

 

 “Gendhuk dhenok. Santri lulusan pondok

Isih perawan, durung tau kedemok

Tak rewangi. Sarungan gawe songkok

Assalamualaikum. Lha kok no bapake mlerok…”


Menurutku lirik lagunya sedikit menggelikan. Tabu untuk diucapkan. Tapi faktanya, seluruh penonton baik pria, wanita, dewasa, dan anak-anak, semua fasih melafalkan nya. Sambil ikut bergoyang menirukan gerakan para banteng jadi-jadian.



***

 

“Ma, boleh belikan barongan. Pliiss.” rajuk Narend

“Apa itu barongan?”

“Ini.” Sambil memutar channel youtube Garuda Wisnu Satria Muda. Sekelompok pemuda dari Jawa Tengan yang menggiatkan seni barongan. Selain menerima tawaran manggung di daerah-daerah, juga mengelola aset dan perlengkapan kegiatan barongan dalam sebuah gallery yang lumayan besar dan lengkap. Beberapa set gamelan, topeng barongan dari berbagai daerah, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali, dengan bentuk dan ciri khas masing-masing. Pakaian tari dan baju khas pebarong juga lengkap, mulai dari pengikat kepala (udeng, blangkon), jarit, pengikat perut (angkin, udet, korset), gelang lengan, kalung dan gelang kaki (gongseng) semua terawat bersih dan terrtata rapi.

“Ma, aku mau gongseng. Biar bisa gedruk pindho.”

Aya terkekeh. Aduh apa lagi itu nak batin nya dalam hati. Dia tersenyum melihat anak semata wayang nya yang menyukai kesenian daerah. Belajar sendiri tanpa harus berlatih pada pakar atau instruktur. Alat olahraga pun dikoleksi lengkap. Segala macam bola, mulai bola sepak, volley, dan basket. Raket dan shuttlecock untuk badminton pun punya. Alat dan bola pingpong pun ada. Beberapa alat musik berupa ukulele, keyboard, bahkan darbuka (alat musik religi Islami untuk kesenian hadrah dan albanjari) pun Narend punya. Semua dimainkan nya secara bergantian, tergantung mood ingin main yang mana. Sungguh, tanpa instruktur, tanpa pelatih. Dia bermain secara autodidak. Di rumah pun bermain sendiri dengan semangat dan bahagia.

Aya kadang juga merasa  sedih, melihat anak laki-laki nya tidak ada teman bermain. Tidak punya kakak ataupun adik. Pun anak tetangga yang sebaya. Sedang dirinya sendiri juga hanya bisa menjadi penonton. Karena tidak bisa menjadi teman bermain yang asik bagi anak nya. Tapi lebih dari itu, Aya sangat bersyukur. Melihat setiap saat nak nya selalu sehat, semangat dan bergembira.

 

 

 

 


Selasa, 30 April 2024

Warna Warni Harimu

 



Sambil memijit-mijit tuts abjad dan angka di keyboard PC nya, sesekali Aya mengambil kerupuk seblak pedas di sebelah kirinya, lalu menyuapkan ke mulutnya. Dia memang suka sekali ngemil saat bekerja. Lebih-lebih saat mengerjakan laporan. Karena dia selalu berpikir bahwa tubuh tidak boleh tegang, terforsir hingga stress. Posisi duduk di kursi kerja yang lebih dominan daripada bergerak, akan membuat tulang, urat dan peredaran darah sering kaku. Jadi dia berupaya menoleh ke kanan ke kiri untuk menjaga kelenturan otot leher. Sesekali berdiri dan berjalan untuk menjada kelenturan otot kaki dan pinggang. Dan berkali-kali mengunyah, untuk senam muka, agar otot-otot di wajah tidak tegang. Karena bila otot dan syaraf sampai tegang, akan berpengaruh pula pada emosi dan mood dalam bekerja.

“Bu, ada paket.”

Wati, petugas  reception kantornya menyodorinya sebuah bungkusan berwarna hitam, segenggaman tangan dengan panjang kira-kira 15cm. Seperti penampakan paket-paket yang dikirim melalui jasa pengiriman barang, ada label nama alamat dan no HP penerima yang ditempel di kemasan pembungkus paling luar.

“Terimakasih mbak.”

Aya menerima paket itu dengan tersenyum. Dia memegang dan memencet-mencet bungkus nya sambil sesekali tersenyum gemas. Memencet agak keras dan merasa puas bisa menghancurkan tiga hingga tujuh biji bubble wrap pembungkus pengaman barang.

 

***

 

“Ada tiket kereta sekitar awal bulan Juni , Ay. Gimana? Yang itu aja kah?”

“Aku sih pengen nya akhir Mei say. Sudah sold out semua kah?”

“Hmm.. Sebentar ya.” Tuty kembali mantengin layar HP nya. Membuka aplikasi KAI Access nya. Untuk memeriksa ketersediaan tiket kereta.

“Ada Ay. Tanggal 31 Mei. Tapi itu kan hari Jum’at. Masih hari kerja kan.”

“Oh iya. Berarti Sabtu nya tanggal satu Juni ya. Iya deh itu aja.”

“Berangkat tanggal satu pulangnya tanggal dua kah? Apa bermalam sehari? Pulang tanggal tiga?”

“Kayaknya gitu lebih sip, Dhamay juga maunya nginep. Biar gak oyok-oyok an (Jawa: terburu-buru).”

“Kalau mau ga keburu ya memang harus berangkat Jum'at say. Minggu nya pulang kita. Senin kan sudah harus kerja lagi. Anak-anak juga harus sekolah.”

“Iya sih. Terserah kamu dah say. Atur gimana enaknya.”

Salah satu sahabat Aya yang di Kota Blitar beberapa hari lalu sedang dapat musibah. Ayahnya tiba-tiba drop kondisi kesehatannya. Dan tak lama kemudian berpulang. Aya dan Tuty serta Dhamay masih belum sempat berkunjung. Hanya saling mengirim ucapan bela sungkawa dan dukacita melalui chat saja.

Tiga perempuan ini memang bersahabat sejak mereka sama-sama duduk di bangku kuliah. Meski tinggal terpisah di beberapa daerah, menjaga komunikasi buat mereka seperti sebuah kewajiban. Saling bertegur sapa, berbagi cerita tetap terjalin hingga usia hampir separuh baya. Berita suka dan berita duka silih berganti mereka bagikan satu sama lain. Saling mendukung, memberi saran masukan, dan saling mendo’akan adalah juga esensi bagi mereka untuk menjaga keutuhan pertemanan.

 

***

 

“Bagus ngga ma?” Sambil memegang gagang frame dan bergaya di depan cermin, Narend bertanya.

“Bagus dong. Keren banget. Anak siapa sih ini?” Aya memeluk anak laki-laki sembilan tahun yang berdiri di depan cermin dan belum berhenti ganti-ganti gaya dengan kacamata barunya.

“Cocok kah?” Tanya Aya

“Pas. Sesuai gambar. Kan aku sendiri yang milih di toko online nya.”

“Sudah unboxing kan tadi?”

“Engga. Lupa. Hahaha.”

“Untungnya sesuai ya. Coba kalo ngga sesuai, tanpa foto atau video unboxing pasti susah retur nya sayang.”

Aya tersenyum lega. Bersyukur melihat buah hatinya gembira. Meski sekedar barang seharga belasan ribu rupiah saja. Ah, anak-anak memang selalu jujur dengan kesederhanaannya. Dan sederhana dengan segala kejujurannya. Hal-hal kecil pun membuat mereka bahagia luar biasa.

 

***

 

“Ay..’

“Woy..”

“Ke Blitar nya nginep kan? Cari penginepan yang di tengah kota gitu loh. Entar Icha kita ajakin nginep juga. Aku ga tega kalo bermalam di rumah dia. Kan sempit gitu. Ga ada ruang yang lega buat diinepin.”

“Iya boleh. Si Tuty masih belum reservasi gerbong. Dia masih ada schedule renov atap rumahnya.”

“Haah? Renov atap rumah? Kapan itu?”

“Entah. Katanya sih pertengahan Mei.”

“Waah butuh waktu berapa hari ya gitu itu. Aku sih ga begitu paham urusan tukang menukang.”

“Paham mu mah urusan bolang membolang.”

“Hahaha. Tau ajah.”

Aya sesekali tertawa membaca kalimat Dhamay, Sambil membayangkan saat bercakap-cakap langsung. Pasti ekspresi lucunya selalu bikin terbahak.

“Kemarin cerita aku, katanya sih sekitar dua  mingguan. Tapi masih liat kondisi cuaca juga. Kalo masih hujan-hujanan ga mungkin bongkar atap katanya.”

“Oh gitu. Semoga lancar deh ya. Setelah itu kita bisa segera berangkat ke Blitar. Ga enak loh sama Icha. Belum bisa ngucapin bela sungkawa secara langsung.”

 

***

 

“Say, anakku gejala DB.”

“Ya Allah..”

Aya berkaca-kaca melihat kiriman gambar anak Tuty terbaring di Rumah Sakit dengan tangan kiri diinfus. Wajahnya terlihat lemah. Meski berusaha tersenyum dan pose jempol diangkat karena harus difoto ibunya.

“Sudah tiga harian panas tinggi.”

“Yang sabar dan kuat ya say. Semoga Raissa segera pulih. Nurut sama ibu dan dokter ya nak.”

“Iya tante. Makasih.”

Membahasakan pesan untuk anaknya. Aya menulis di kolom chat dengan Tuty. Membayangkan betapa sahabatnya yang seorang ibu tunggal akan sangat kerepotan. Bekerja, mengurus rumah, sekaligus mengurus anak yang sedang dirawat di Rumah Sakit. Betapa ribetnya. Semoga Allah selalu melindungi dan memudahkan segala urusan Tuty. Begitu Aya bergumam dalam hati. Berharap semua beban sahabatnya segera berlalu. Segala sedih dan susah segera berganti ceria dan bahagia.

 

***

 

“Bu permisi. Ada tamu dari gedung sebelah.”

“Iya. Suruh masuk aja mbak.”

“Assalamualaikum..” Terlihat membuka pintu ruangan dua orang perempuan muda yang cantik. Yang satu perawakannya tinggi langsing. Berkulit putih, hidung mancung. Dengan stiletto berwarna hitam sekitar 9cm menambah anggun penampilannya. Satunya lagi agak sedikit pendek. Mungkin tinggi badan nya sekitar 158cm. Kulit sawo matang dan wajah mirip keturunan Timur Tengah, badannya agak sedikit berisi.

“Halah halaah. Kirain siapa. Tamu jauh rupanya. Ayo silakan duduk dek”

Lalu kita bertiga saling berjabat tangan. Bersalaman bermaaf-maaf an mengucap Selamat Idul Fitri, lalu berpelukan bergantian.

‘Darimana adek-adek ku ini?”

“Dari kantor aja mbak. Emang mau kesini. Mau berlebaran ke mbak.”

“Duh duh. Suguhan nya kalo di kantor ya cuman begini.”

Aku membuka beberapa kaleng berisi snack di meja ruang tunggu kantorku. Hanya ada kaleng berisi roti kering bagelen, kerupuk tengiri, dan satu kaleng lagi berisi permen.

“Sudah mbak. Cukup.”

“Keluar aja yuk. Cari rujak atau lontong kikil.”

“Hayuuk.”

 

***

 

Setiap hari selalu ada cerita yang bisa dicatat, disimpan, diceritakan kembali. Ataupun yang hanya bisa diingat dan dikenang. Yang jelas, segala cerita akan selalu mewarnai hari-hari kita. Ada cerita sedih, bahagia, kecewa, haru dan lainnya. Sungguh Tuhan Maha Adil. Menganugerahkan segala cerita untuk siapa saja.

 

 

 

 

Selasa, 16 April 2024

Halal Bil Halal



Siiaaaap Geraakk!

Lantang suara komandan apel memberi aba-aba untuk seluruh peserta. Yang berdiri berjajar di barisan depan sudah terlihat agak rapi. Tetapi yang di belakang masih banyak yang bergerombol. Bahkan terlihat masih banyak di kejauhan yang berlari-larian dari gedung kantor nya menuju halaman apel.

Aku mengambil sikap sempurna. Sambil membetulkan letak dan posisi masker, aku melirik ke arah jam tangan. Sudah menunjukkan pukul 07.49. Lalu sedikit mendongak ke atas. Masih sepagi ini. Tapi matahari begitu terasa terik dan panas. Keringat mulai terasa sedikit demi sedikit menetes dan mengalir di punggung belakang.

Pembina Apel Tiba di Tempat Apel!

Tak kalah nyaring dan lantang suara pembawa acara. Memberi tanda bahwa semua peserta harus lebih baik sikap sempurna nya. Spontan saja, aku berusaha membenarkan posisi badan, tangan, kaki, serta pandangan lurus ke depan ku. Berusaha tersenyum dan mengambil nafas panjang, agar tubuhku terasa lebih rileks dan tidak tegang. Karena apel bersama seperti ini pastinya akan jauh lebih lama daripada apel rutin yang digelar setiap Senin pagi.

Pengarahan oleh Pembina Apel!

Istirahaat di Tempaaaatt Geraakk!

Alhamdulillah. Ucapku dalam hati. Merasa sedikit lega bisa melonggarkan kaki dan menggerak-gerakkan badan. Mungkin peserta yang lain juga menggumam yang sama sepertiku.

“Saya, baik selaku pribadi dan keluarga maupun kedinasan mengucapkan Selamat Idul Fitri Syawal 1445 H kepada panjenengan semua. Minal Aidin wal Faidzin. Mohon segala kesalahan dan kekhilafan saya dimaafkan. Demikian juga sebaliknya panjenengan semua sudah saya maafkan. Mari kita kembali melangkah melaksanakan tugas-tugas kita dengan diri yang telah kembali fitri, dengan niatan dan kinerja yang lebih baik. Sebagai bentuk pengabdian kita kepada Pemerintah. Serta sebagai wujud ibadah kita kepada Allah SWT.”

Beberapa arahan terkait kedisiplinan, etos kerja, serta ketertiban administrasi perkantoran dan penyerapan anggaran juga disinggung oleh Pembina Apel.

“Yang terakhir, kepada bapak ibu yang masih mau melanjutkan berlebaran atau bersilaturahmi dengan rekan kerja dan sanak keluarga kami persilahkan. Senyampang tidak mengganggu kegiatan dan tugas-tugas di kantor.”

Aku menghela nafas panjang lagi dan tersenyum. Berharap beliau segera mengakhiri amanat nya dan mengucap salam penutup. Karena keringat yang makin deras di area wajahku yang tertutup masker. Huh.. rasanya sudah gerah sekali. Ingin segera membuka masker lalu mengelap wajahku dengan tisu.

Tanpa Penghormatan. Bubaarr Jalaan!

Akhirnya. pemimpin apel memberi aba-aba terakhirnya.

Sumpah. Gembira rasanya. Menapaki halaman berpaving yang semakin siang semakin menyilaukan mata. Ingin segera berlari memasuki ruang kerja yang sejuk. Duduk manis sambil menata nafas. Lalu mengelap wajah dan sekitar leher yang sudah penuh basah oleh keringat.

“Nanti jam 9 semua kumpul di ruang rapat ya.” Begitu Pimpinan memberikan instruksi.

Aku langsung menuju ke ruang rapat. Memanggil beberapa karyawan pria untuk membantu membersihkan ruangan dan menata meja kursi. Kunyalakan pendingin udara, merapikan posisi kursi pimpinan, dan memeriksa satu persatu pengeras suara. Mengecek baterai dan produksi suaranya.

“Dalam kesempatan yang sangat baik ini, saya mengucapkan terima kasih untuk seluruh karyawan yang bisa masuk kerja hampir seluruhnya setelah libur panjang dan cuti bersama lebaran. Meskipun ada beberapa yang masih ijin karena ada kepentingan keluarga maupun terkena musibah dan tidak dapat melaksanakan tugas seperti biasa. Saya juga berterimakasih kepada teman-teman yang telah melaksanakan tugas piket bergilir selama libur dan cuti bersama Idul Fitri tahun ini. Tidak lupa saya selaku pribadi dan keluarga maupun kedinasan mohon maaf lahir batin. Sudah biasa seorang Kepala Unit Kerja sering marah dan menggertak karyawan. Jangan diartikan bahwa saya tidak suka atau benci. Itu hanya semata-mata sebagai cara saya untuk mengingatkan dan memotivasi anda semua. Agar tugas-tugas kita dapat diselesaikan dengan benar, cepat dan tepat sasaran.”

Oh, jadi hari ini temanya adalah kembali ke pengabdian dan maaf-maaf an. Begitu kah?

 

Kamis, 04 April 2024

Write and Live


"Jeng, apa kabar? Ayo menulis bareng."

"Alhamdulillah baik sehat mba. Masih nulis kok. tapi ya nulis suka-suka aja. Ga terpattern. Ga terskenario kek di buku-buku mu gitu."

"Ah aku juga nulis suka-suka kok. kalo gitu pilih aja salah satu. Ayok kita bukukan bareng. Hahahaa.."

Maria Estiejarini. Lebih dikenal dengan nama Maria Syauta. Baginya menulis adalah menuangkan sedikit isi kepala ke dalam tulisan. Biar ga terlalu banyak yang tumpah di pikiran. Buatnya menulis juga menyembuhkan hati. Karena dengan menulis bisa mengalihkan sedikit perhatian hati yang cenderung fokus pada rasa sedih, kecewa, dan terluka.

Dia adalah salah satu sosok senior yang kukagumi sejak kita pernah bekerja pada satu instansi yang sama beberapa tahun lalu. Aku seringkali melihat dia kurang sehat secara fisik. Mudah terserang flu dan demam yang berkepanjangan. Beberapa kali dia memutuskan untuk istirahat di Rumah sakit. Karena menurutnya akan lebih maksimal pemulihannya saat total rest dengan cara opname.

Perempuan yang lebih suka dipanggil Miss Maria ini memiliki perawakan yang mungil, tinggi badannya mungkin tak sampai 150cm, dengan rambut ikal dan kulit sawo matang berkacamata. Dia berdarah campuran Jawa dan Ambon. Dengan usia yang sudah setengah baya, dia lebih konsen pada karier dan keluarga. Percintaan adalah hal kesekian yang tak pernah terbersit dalam kriteria target hidupnya. Karena itulah sampai hari ini dia masih santai menjomblo.

"Jeng, kalo hari Sabtu sedang longgar ayo belajar bersama.'

"Belajar dimana mba?

"Virtual kok. Belajar menulis tema ceria. Entar aku kirim link zoom nya ya."

"Okay mba."

Bagaimana menurut kalian menulis ceria itu? Cerita tentang kebahagiaan masa kanak-kanak, atau saat-saat mendebarkan menunggu kelulusan. Atau saat menanti pengumuman kejuaraan? Bukan. Bukan itu. Menulis ceria adalah ekspresi dan emosi kita saat sedang menulis. Lalu, apa hubungan emosimu dengan isi dan hasil tulisanmu? Apakah akan serelate itu?

Mood saat mengawali sebuah tulisan adalah awal yang baik untuk alur cerita yang baik. Meski dengan segala hal yang tak terduga, bisa saja kita tiba-tiba berhenti di tengah-tengah perjalanan, atau bahkan di baru seperempat langkah menulis. 

Dan sudah barang tentu, mood yang kita bangun dalam menulis itu hanya akan memotivasi semangat menulis kita saja. Sedangkan isi dan alur cerita yang ditulis tak akan pernah bisa ditebak. Penulis yang mengawali cerita genre pop, bisa saja beralur twist atau flashback, lalu berakhir dengan sad ending. Atau bisa sebaliknya.

Itulah kenapa aku sedikit tergelitik dengan tema zoom belajar bersama menulis ceria. Karena seperti kebanyakan orang berpikir bahwa patah hati adalah bekal yang paling baik untuk melahirkan puisi dan cerita yang paling memikat pembaca. Meski di luar sana banyak juga penggemar cerita horor, petualangan, dan misteri pembunuhan.

"Ayo nulis."

"Siap mba."




Write and Live

Menulislah untuk tetap hidup



Rabu, 28 Februari 2024

Leap Day 2024


Ketika membuka laman Google hari ini kita disambut oleh seekor katak dengan angka 29 di tubuhnya. Dia melompat ke daun di atas air yang diapit oleh batu bertuliskan angka 28 dan 1.

Ya, tahun ini, kalender kita memiliki satu hari tambahan di akhir bulan Februari, yaitu tanggal 29. Hari ini disebut sebagai leap day atau hari kabisat, yang hanya terjadi setiap empat tahun sekali. Mengapa kita perlu menambahkan satu hari ekstra di tahun kabisat? Apa saja tradisi dan perayaan yang berkaitan dengan leap day? Berikut penjelasannya.

Leap day adalah cara untuk menyesuaikan kalender kita dengan perputaran bumi mengelilingi matahari. Sebenarnya, bumi membutuhkan waktu lebih dari 365 hari untuk menyelesaikan satu putaran penuh, yaitu sekitar 365 hari, 5 jam, 48 menit, dan 46 detik.

Namun, kalender kita hanya menghitung 365 hari dalam satu tahun, sehingga ada selisih waktu yang terakumulasi setiap tahunnya. Jika kita tidak menambahkan satu hari ekstra setiap empat tahun, maka kalender dan musim akan semakin tidak sinkron, dan akan berpengaruh pada siklus pertanian, penanggalan, dan kegiatan lain yang bergantung pada musim.

Konsep tahun kabisat sudah dikenal sejak zaman Romawi kuno, ketika Kaisar Julius Caesar mengubah kalender yang sebelumnya berdasarkan bulan menjadi kalender yang berdasarkan matahari. Ia menetapkan bahwa setiap tahun yang bisa dibagi empat adalah tahun kabisat, dan menambahkan satu hari di akhir bulan Februari, yang merupakan bulan terakhir dalam kalender Romawi

Namun, sistem ini masih belum sempurna, karena ada perbedaan sekitar 11 menit antara tahun kabisat dan tahun matahari. Akibatnya, kalender menjadi terlalu cepat sekitar 10 hari dalam kurun waktu 1.500 tahun.

Untuk mengatasi masalah ini, Paus Gregorius XIII mengadopsi kalender Gregorian pada tahun 1582, yang merupakan kalender yang kita gunakan sekarang. Kalender ini menambahkan aturan tambahan untuk menentukan tahun kabisat, yaitu tahun yang bisa dibagi 100 bukan tahun kabisat, kecuali jika bisa dibagi 400.

Misalnya, tahun 2000 adalah tahun kabisat, tetapi tahun 2100 dan 2200 bukan tahun kabisat. Dengan demikian, kalender Gregorian lebih akurat dan sesuai dengan siklus Matahari.

Aksi sang katak pada google doodle hari ini adalah melambangkan lompatan atau leap. Dan katak dipilih sebagai simbol hewan yang sering dikaitkan dengan tahun kabisat, terutama di Irlandia, di mana ada tradisi untuk memberikan patung katak kepada wanita yang melamar pria pada leap day.



Dikutip dari detikinet

 


Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...