Sambil memijit-mijit tuts abjad dan angka di keyboard PC
nya, sesekali Aya mengambil kerupuk seblak pedas di sebelah kirinya, lalu
menyuapkan ke mulutnya. Dia memang suka sekali ngemil saat bekerja. Lebih-lebih
saat mengerjakan laporan. Karena dia selalu berpikir bahwa tubuh tidak boleh
tegang, terforsir hingga stress. Posisi duduk di kursi kerja yang lebih dominan
daripada bergerak, akan membuat tulang, urat dan peredaran darah sering kaku.
Jadi dia berupaya menoleh ke kanan ke kiri untuk menjaga kelenturan otot leher.
Sesekali berdiri dan berjalan untuk menjada kelenturan otot kaki dan pinggang.
Dan berkali-kali mengunyah, untuk senam muka, agar otot-otot di wajah tidak tegang.
Karena bila otot dan syaraf sampai tegang, akan berpengaruh pula pada emosi dan
mood dalam bekerja.
“Bu, ada paket.”
Wati, petugas
reception kantornya menyodorinya sebuah bungkusan berwarna hitam,
segenggaman tangan dengan panjang kira-kira 15cm. Seperti penampakan
paket-paket yang dikirim melalui jasa pengiriman barang, ada label nama alamat
dan no HP penerima yang ditempel di kemasan pembungkus paling luar.
“Terimakasih mbak.”
Aya menerima paket itu dengan tersenyum. Dia memegang dan
memencet-mencet bungkus nya sambil sesekali tersenyum gemas. Memencet agak
keras dan merasa puas bisa menghancurkan tiga hingga tujuh biji bubble wrap
pembungkus pengaman barang.
***
“Ada tiket kereta sekitar awal bulan Juni , Ay. Gimana? Yang
itu aja kah?”
“Aku sih pengen nya akhir Mei say. Sudah sold out semua
kah?”
“Hmm.. Sebentar ya.” Tuty kembali mantengin layar HP nya.
Membuka aplikasi KAI Access nya. Untuk memeriksa ketersediaan tiket kereta.
“Ada Ay. Tanggal 31 Mei. Tapi itu kan hari Jum’at. Masih hari
kerja kan.”
“Oh iya. Berarti Sabtu nya tanggal satu Juni ya. Iya deh itu
aja.”
“Berangkat tanggal satu pulangnya tanggal dua kah? Apa bermalam
sehari? Pulang tanggal tiga?”
“Kayaknya gitu lebih sip, Dhamay juga maunya nginep. Biar gak
oyok-oyok an (Jawa: terburu-buru).”
“Kalau mau ga keburu ya memang harus berangkat Jum'at say.
Minggu nya pulang kita. Senin kan sudah harus kerja lagi. Anak-anak juga harus
sekolah.”
“Iya sih. Terserah kamu dah say. Atur gimana enaknya.”
Salah satu sahabat Aya yang di Kota Blitar beberapa hari
lalu sedang dapat musibah. Ayahnya tiba-tiba drop kondisi kesehatannya. Dan tak
lama kemudian berpulang. Aya dan Tuty serta Dhamay masih belum sempat
berkunjung. Hanya saling mengirim ucapan bela sungkawa dan dukacita melalui
chat saja.
Tiga perempuan ini memang bersahabat sejak mereka sama-sama
duduk di bangku kuliah. Meski tinggal terpisah di beberapa daerah, menjaga
komunikasi buat mereka seperti sebuah kewajiban. Saling bertegur sapa, berbagi cerita
tetap terjalin hingga usia hampir separuh baya. Berita suka dan berita duka
silih berganti mereka bagikan satu sama lain. Saling mendukung, memberi saran
masukan, dan saling mendo’akan adalah juga esensi bagi mereka untuk menjaga
keutuhan pertemanan.
***
“Bagus ngga ma?” Sambil memegang gagang frame dan bergaya di depan cermin, Narend bertanya.
“Bagus dong. Keren banget. Anak siapa sih ini?” Aya memeluk
anak laki-laki sembilan tahun yang berdiri di depan cermin dan belum berhenti
ganti-ganti gaya dengan kacamata barunya.
“Cocok kah?” Tanya Aya
“Pas. Sesuai gambar. Kan aku sendiri yang milih di toko online
nya.”
“Sudah unboxing
kan tadi?”
“Engga. Lupa. Hahaha.”
“Untungnya sesuai ya. Coba kalo ngga sesuai, tanpa foto atau
video unboxing pasti susah retur nya sayang.”
Aya tersenyum lega. Bersyukur melihat buah hatinya gembira.
Meski sekedar barang seharga belasan ribu rupiah saja. Ah, anak-anak memang
selalu jujur dengan kesederhanaannya. Dan sederhana dengan segala kejujurannya.
Hal-hal kecil pun membuat mereka bahagia luar biasa.
***
“Ay..’
“Woy..”
“Ke Blitar nya nginep kan? Cari penginepan yang di tengah
kota gitu loh. Entar Icha kita ajakin nginep juga. Aku ga tega kalo bermalam di
rumah dia. Kan sempit gitu. Ga ada ruang yang lega buat diinepin.”
“Iya boleh. Si Tuty masih belum reservasi gerbong. Dia masih
ada schedule renov atap rumahnya.”
“Haah? Renov atap rumah? Kapan itu?”
“Entah. Katanya sih pertengahan Mei.”
“Waah butuh waktu berapa hari ya gitu itu. Aku sih ga begitu
paham urusan tukang menukang.”
“Paham mu mah urusan bolang membolang.”
“Hahaha. Tau ajah.”
Aya sesekali tertawa membaca kalimat Dhamay, Sambil
membayangkan saat bercakap-cakap langsung. Pasti ekspresi lucunya selalu bikin
terbahak.
“Kemarin cerita aku, katanya sih sekitar dua mingguan. Tapi masih liat kondisi cuaca juga.
Kalo masih hujan-hujanan ga mungkin bongkar atap katanya.”
“Oh gitu. Semoga lancar deh ya. Setelah itu kita bisa segera
berangkat ke Blitar. Ga enak loh sama Icha. Belum bisa ngucapin bela sungkawa
secara langsung.”
***
“Say, anakku gejala DB.”
“Ya Allah..”
Aya berkaca-kaca melihat kiriman gambar anak Tuty terbaring di Rumah Sakit
dengan tangan kiri diinfus. Wajahnya terlihat lemah. Meski berusaha tersenyum
dan pose jempol diangkat karena harus difoto ibunya.
“Sudah tiga harian panas tinggi.”
“Yang sabar dan kuat ya say. Semoga Raissa segera pulih.
Nurut sama ibu dan dokter ya nak.”
“Iya tante. Makasih.”
Membahasakan pesan untuk anaknya. Aya menulis di kolom chat
dengan Tuty. Membayangkan betapa sahabatnya yang seorang ibu tunggal akan
sangat kerepotan. Bekerja, mengurus rumah, sekaligus mengurus anak yang sedang
dirawat di Rumah Sakit. Betapa ribetnya. Semoga Allah selalu melindungi dan
memudahkan segala urusan Tuty. Begitu Aya bergumam dalam hati. Berharap semua
beban sahabatnya segera berlalu. Segala sedih dan susah segera berganti ceria
dan bahagia.
***
“Bu permisi. Ada tamu dari gedung sebelah.”
“Iya. Suruh masuk aja mbak.”
“Assalamualaikum..” Terlihat membuka pintu ruangan dua orang
perempuan muda yang cantik. Yang satu perawakannya tinggi langsing. Berkulit
putih, hidung mancung. Dengan stiletto
berwarna hitam sekitar 9cm menambah anggun penampilannya. Satunya lagi agak
sedikit pendek. Mungkin tinggi badan nya sekitar 158cm. Kulit sawo matang dan
wajah mirip keturunan Timur Tengah, badannya agak sedikit berisi.
“Halah halaah. Kirain siapa. Tamu jauh rupanya. Ayo silakan duduk dek”
Lalu kita bertiga saling berjabat tangan. Bersalaman
bermaaf-maaf an mengucap Selamat Idul Fitri, lalu berpelukan bergantian.
‘Darimana adek-adek ku ini?”
“Dari kantor aja mbak. Emang mau kesini. Mau berlebaran ke
mbak.”
“Duh duh. Suguhan nya kalo di kantor ya cuman begini.”
Aku membuka beberapa kaleng berisi snack di meja ruang tunggu kantorku. Hanya ada kaleng berisi roti
kering bagelen, kerupuk tengiri, dan satu kaleng lagi berisi permen.
“Sudah mbak. Cukup.”
“Keluar aja yuk. Cari rujak atau lontong kikil.”
“Hayuuk.”
***
Setiap hari selalu ada cerita yang bisa dicatat, disimpan,
diceritakan kembali. Ataupun yang hanya bisa diingat dan dikenang. Yang jelas,
segala cerita akan selalu mewarnai hari-hari kita. Ada cerita sedih, bahagia,
kecewa, haru dan lainnya. Sungguh Tuhan Maha Adil. Menganugerahkan segala
cerita untuk siapa saja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar