Describing me in the expressions of things, places n people around. In life, I might leave. In love, I might suffer. In line, I might disconnect. With this, I conquer all
Selasa, 12 November 2019
Minggu, 22 September 2019
"Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu, Karena aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi. Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.”
Rentetan kalimat menyayat hati tersebut adalah penggalan puisi dari almarhum BJ. Habibie untuk mendiang istrinya, Ainun.
Cinta, sebegitu kuatnya, hingga bisa mengantar kita ke dalam kehidupan baru atau bahkan merenggut kebahagiaan. Tak terhingga jumlah lagu, buku, puisi, dan karir yang mencoba untuk merepresentasi rasa cinta. Namun dari kaca mata ilmu pengetahuan, apa yang dimaksud dengan rasa cinta, terutama cinta sejati?
Ahli saraf Gabija Toleikyte dan antropolog biologi Helen Fisher menjelaskan hal tersebut.
Dikutip dari Wired, kedua ilmuwan ini setuju bahwa cinta sejati tidak bisa dikontrol. Istilahnya, tak ada tombol on atau off untuk 'menyalakan' rasa cinta.
“Benak kita menyimpan informasi 10 kali lebih banyak dibanding otak secara rasional. Jadi ketika kita jatuh cinta kepada seseorang, kita merasakan itu adalah suatu hal yang luar biasa. Padahal di saat bersamaan, otak kita bekerja sangat kuat untuk menghasilkan perasaan tersebut,” tutur Gabija.
Gabija mendeskripsikan hal ini sebagai cinta romantis, sebagai sebuah kebutuhan dasar yang muncul jutaan tahun lalu agar manusia fokus kepada satu orang pasangan dan bereproduksi.
Sebelumnya, Helen melakukan penelitian terhadap 17 pasangan baru (10 wanita dan 7 pria) yang menjalin hubungan sekitar tujuh bulan lamanya. Semua responden melakukan scan otak, terutama pada bagian ventral tegmental.
Bagian ini merupakan produsen dopamine yang kemudian menstimulasi area lainnya pada otak.
“Ventral tegmental merupakan ‘pabrik’ yang menghasilkan keinginan, pencarian, energi, fokus, dan motivasi,” tutur Helen.
Kemudian, hasil dari penelitian tersebut, Helen menyimpulkan orang-orang yang merasakan cinta sejati seperti ‘mabuk’ secara alami.
Cinta sejati atau bukan?
Helen menyebutkan, cinta muncul apabila segala hal tentang orang tersebut menjadi spesial di mata kita.
“Cara dia berpakaian, cara dia berekspresi, buku yang dia sukai, semua hal tentang orang ini menjadi spesial,” tuturnya.
Anda sebenarnya punya daftar panjang tentang hal-hal apa saja yang tidak disukai mengenai orang tersebut. Namun, Anda lebih memilih untuk menyimpannya saja dan fokus terhadap hal-hal positif di depan mata.
“Kemudian muncul energi yang sangat intens dan mood swings yang diakibatkan oleh cinta. Rasa senang ketika semua hal berjalan dengan lancer, sampai kekecewaan mendalam ketika pesan singkat tidak dibalas,” tambah dia.
Secara biologis, jatuh cinta membuat mulut menjadi lebih kering. Ada perasaan butterfly in my stomach, lutut yang lemas, ketakutan akan berpisah, dan keinginan untuk melakukan aktivitas seksual.
“Anda ingin orang tersebut untuk menelfon dan menulis pesan. Ada motivasi yang sangat kuat untuk mendapatkan orang ini. Seringkali dengan cara-cara yang luar biasa dan di luar akal sehat,” tutur Helen.
Lalu bagaimana cara kita mengetahui apakah sebuah cinta sejati atau tidak?
Gabija menuturkan bahwa sejati atau tidaknya cinta tergantung persepsi masing-masing orang. Hal yang mendasarinya adalah koneksi mendalam antara dua orang, yang merujuk pada komitmen dan kebiasaan-kebiasaan tertentu.
“Cinta yang memiliki keseimbangan besar yang bisa bertahan,” tuturnya.
Namun Gabija menuturkan, pada level emosional tertentu, cinta tetaplah merupakan sebuah brain chemistry yang berganti setiap waktu.
“Terkadang kita tidak merasakan emosi seperti cinta. Terkadang kita merasakan flat moments, yaitu di saat kita tidak merasakan apa-apa,” tuturnya.
.............
.............
Senin, 24 Juni 2019
Tak seperti lalu
Kali ini benar-benar beku
Kelu membisu
Sesakpun seperti berkuasa dalam paru
Apa ini?
Tak seperti kemarin
Tak seperti sama saat mata itu ada, menyapa
Seolah memberi nyawa untuk bisa hidup lebih lama
Bahkan aku berusaha mengingatnya
Mengisi semua ruang otak untuk satu namanya
Matanya...
Tiap hembusan nafasnya...
Ah...
Semakin kelu
Seperti tak ada ruang paruku untuk hela nafas baru
Sudahlah...
Aku tahu
Ini rindu...
Kamu
Repost June 24, 2017
(Kala Kata Masih Penuh Makna)
Minggu, 23 Juni 2019
Kamis, 13 Juni 2019
Rabu, 12 Juni 2019
Selasa, 11 Juni 2019
Jumat, 07 Juni 2019
Senin, 06 Mei 2019
Hello Ramadhan...
Thank you for willing to see me once off again
May u give a better chance
A better way
To learn to be a better me
To stay better
And love better
*No other name falling off my lips
Don't wanna give my heart away
To another stranger
...
I don't wanna give somebody else
The better part of me
I would rather wait for you*
Thank you for willing to see me once off again
May u give a better chance
A better way
To learn to be a better me
To stay better
And love better
*No other name falling off my lips
Don't wanna give my heart away
To another stranger
...
I don't wanna give somebody else
The better part of me
I would rather wait for you*
Jumat, 03 Mei 2019
Selasa, 30 April 2019
Berkata dalam diam
Hayati bulir demi bulir
Meleleh di sisi bingkai jendela
Seraya menatap
Menyelipkan pilu pada derasnya hujan
Mencari-cari
Bayangmu serupa udara yang tak mampu kunafaskan
Mendo'a dalam diam
Menyebut namamu, kalian
Dalam eja yang terbata
Panjat pinta tak bersuara
Pun tak terangkai dalam kata
Hanya riuh oleh linang
Dan luruh derai yang tak pernah usai
Mencatat dalam diam
Menyimpan semua cerita
Untuk terbaca
Terceritakan lagi
Atau tertinggal begitu saja
Untukku sendiri
Bertanya dalam diam
Untuk apa pesan jangan sakit
Bila menyimpan kesakitan tak lagi berlaku
Dan lebih memilih semua tahu
Ingin mati cepat?
Lalu dimana rasa tak ingin pergi
Pun janji untuk hidup lebih lama dan membangun mimpi
Harus teringkari?
Terisak dalam diam
Bersenandung dalam diam
Ya...
Ketidaktahuan itu telah selamanya diam
*There goes my mind racing
And you are the reason
That I'm still breathing
I'm hopeless now*
EndOfAprilNote
ThanksToApril
Sabtu, 20 April 2019
Selamat datang purnama,
Terimakasih untuk tiga Sya'ban bersamaku
Semoga masih belum lelah
Mengantarku menjemput Ramadhan
Yang hanya tinggal beberapa kerjapan mata saja
Semoga tak pernah bosan
Menemani saat berbuka dan makan sahur
Atau sekedar berbagi satu bisikan nyawa
Saat mengeja hijaiyah dalam tadarus dan tarawih
Ingin mengucap selamat?
Semoga berkenan bersabar sejenak
Hingga senja keduapuluh sembilan Ramadhan singgah
Saat helaan nafas terakhir
Maka termuliakanlah aku
Sebagai satu-satunya wanita yang mencinta dan dicinta
Ikut rasakan syukurku yang maha sempurna
Saat dipanggil pulang
Bersamaan dengan sayup takbir hari nan fitri dikumandangkan
Lalu bertepuk tanganlah
Lebih gemuruh dari sahut petasan di segala penjuru semesta
Karena hari kemenanganmu tiba
Terimakasih untuk tiga Sya'ban bersamaku
Semoga masih belum lelah
Mengantarku menjemput Ramadhan
Yang hanya tinggal beberapa kerjapan mata saja
Semoga tak pernah bosan
Menemani saat berbuka dan makan sahur
Atau sekedar berbagi satu bisikan nyawa
Saat mengeja hijaiyah dalam tadarus dan tarawih
Ingin mengucap selamat?
Semoga berkenan bersabar sejenak
Hingga senja keduapuluh sembilan Ramadhan singgah
Saat helaan nafas terakhir
Maka termuliakanlah aku
Sebagai satu-satunya wanita yang mencinta dan dicinta
Ikut rasakan syukurku yang maha sempurna
Saat dipanggil pulang
Bersamaan dengan sayup takbir hari nan fitri dikumandangkan
Lalu bertepuk tanganlah
Lebih gemuruh dari sahut petasan di segala penjuru semesta
Karena hari kemenanganmu tiba
Kamis, 18 April 2019
Selamat malam bulan hampir purnama...
Boleh kau ceritakan tentang Kamu dan Dia?
Kamu...
Kata ganti orang kedua tunggal,
Hari ini kau tunjukkan gambar potongan cake warna hijau bertabur keju
Katamu "Hijau-hijau yang ini lebih cheesy. Diantar kemana?"
Ada yang bersedih...
Dan besok pagi kau lalu akan sibuk berburu si hijau karena rasa bersalah
Kamu...
Yang selalu meluangkan banyak waktu untuk menilai
Setiap kata, cerita, dan tulisan demi tulisan
Dia...
Kata ganti orang ketiga tunggal,
Menanyai dirinya "Kenapa aku? Aku siapa?" dan membantah kata hati dan rasa sendiri
Yang lalu kau kuatkan
Dengan bait do'a yang tak ada habisnya
Dia...
Yang kini menjauh, menepi dan mencaci diri
Dalam ketidaktahuan amat mendalam
Tak ingin lagi mencari kesempatan untuk berkata
Sekedar menjelaskan, menyalahkan, membenarkan, pun membela diri
Hanya berbisik lirih
"Silahkan periksa sendiri penilaianmu. Beri tanda centang bila kau anggap benar. Dan silanglah jika menurutmu salah. Atau langsung saja beri skor 100 di lembar nilaimu. Agar kau bisa bertepuk tangan lebih riuh dari kemarin."
Dia...
Yang setiap membuka mata hanya mampu berdesis "Hidup untuk apa?"
Dan saat melangkah bergumam "Apa itu bahagia? Bagaimana bentuk, rasa, 'cara' dan 'menciptakan' nya?"
Selamat malam bulan hampir purnama...
Terimakasih untuk keduapuluh empat terangmu
Singgah di beranda hati yang hening
Boleh kau ceritakan tentang Kamu dan Dia?
Kamu...
Kata ganti orang kedua tunggal,
Hari ini kau tunjukkan gambar potongan cake warna hijau bertabur keju
Katamu "Hijau-hijau yang ini lebih cheesy. Diantar kemana?"
Ada yang bersedih...
Dan besok pagi kau lalu akan sibuk berburu si hijau karena rasa bersalah
Kamu...
Yang selalu meluangkan banyak waktu untuk menilai
Setiap kata, cerita, dan tulisan demi tulisan
Dia...
Kata ganti orang ketiga tunggal,
Menanyai dirinya "Kenapa aku? Aku siapa?" dan membantah kata hati dan rasa sendiri
Yang lalu kau kuatkan
Dengan bait do'a yang tak ada habisnya
Dia...
Yang kini menjauh, menepi dan mencaci diri
Dalam ketidaktahuan amat mendalam
Tak ingin lagi mencari kesempatan untuk berkata
Sekedar menjelaskan, menyalahkan, membenarkan, pun membela diri
Hanya berbisik lirih
"Silahkan periksa sendiri penilaianmu. Beri tanda centang bila kau anggap benar. Dan silanglah jika menurutmu salah. Atau langsung saja beri skor 100 di lembar nilaimu. Agar kau bisa bertepuk tangan lebih riuh dari kemarin."
Dia...
Yang setiap membuka mata hanya mampu berdesis "Hidup untuk apa?"
Dan saat melangkah bergumam "Apa itu bahagia? Bagaimana bentuk, rasa, 'cara' dan 'menciptakan' nya?"
Selamat malam bulan hampir purnama...
Terimakasih untuk keduapuluh empat terangmu
Singgah di beranda hati yang hening
Rabu, 10 April 2019
Terimakasih untuk hari ini
Kemarin
Dan tahun-tahun yang terlewati
Terimakasih mempertemukan kami dengan caraMu
Membersamakan kami dengan caraMu
Bila segala masa, rasa, dan hal tentangmu adalah everything
Lalu hanya menjadi nothing
Maka cukupkanlah waktuku
Mungkin hanya sehari dua
Mereka akan meratap kehilanganku
Selebihnya akan menjadi lebih baik, lebih tenang tanpaku
Dan Kau akan menjaga mereka jauh lebih dari yang aku mampu
Karena hanya Kau sebaik-baik Penjaga
Wishing 4 d last Duha
Kemarin
Dan tahun-tahun yang terlewati
Terimakasih mempertemukan kami dengan caraMu
Membersamakan kami dengan caraMu
Bila segala masa, rasa, dan hal tentangmu adalah everything
Lalu hanya menjadi nothing
Maka cukupkanlah waktuku
Mungkin hanya sehari dua
Mereka akan meratap kehilanganku
Selebihnya akan menjadi lebih baik, lebih tenang tanpaku
Dan Kau akan menjaga mereka jauh lebih dari yang aku mampu
Karena hanya Kau sebaik-baik Penjaga
Wishing 4 d last Duha
Senin, 08 April 2019
Minggu, 07 April 2019
Perempuan itu menamaimu pagi...
Yang selalu dinanti sapa, tanya, bait do'a dan bait cintanya, di setiap membuka mata. Mengiringi buncah syukurnya untuk harap baru. Mengawali hari, melangkah tegar untuk hidup lebih lama.
Dia menyebutmu waktu...
Menemani tiap detiknya. Menunggu saat benderang berganti terik. Sekedar membaca pesan pengingat dan melirik menu yang memunculkan selera makannya. Bergegas mengambil wudhu dan mengenakan pakaian ibadah saat seruan agung berkumandang. Lalu menanti senja berganti gelap. Sekedar membagi cerita tentang orang-orang yang ditemui dan tempat-tempat yang didatangi seharian tadi. Mengalir mengadu, berkeluh semua sisi rapuhnya. Lalu menyambut malam, menyiapkan senyum terbaik saat dihantar frasa 'selamat istirahat' beranjak ke peraduan. Bertemu mimpi, lalu terjaga sejenak untuk mengingat semuanya. Terjaga lagi saat sepertiga malam, sesaat mengeja namamu, memohonkan panjat pinta untuk segala kebaikan. Menguntai bulir air mata untuk segala semoga yang diaminkan. Lalu membuka mata keesokan paginya dengan harap yang tumbuh menguat.
Dia memaknaimu serupa hujan...
Mengabaikan dirinya yang bagai tanah dan bebatuan. Tak ada keberatan sama sekali kau timpuki berkali-kali. Tetap merindukan kau untuk selalu singgah, menyirami tunas-tunas kasih yang kau semaikan. Agar senantiasa menguntum, menguncup, mekar, dan berakar.
Dia memanggilmu angin...
Bersuka cita saat kau mengembus perlahan. Memejam dan tersenyum kala semilirmu menyibak anak rambut di keningnya. Pun saat kau enggan singgah, dia akan terdiam sabar. Membisu, mendo'a. Berharap kau menerpa pucuk-pucuk daun. Sekedar bertitip rindu pada batang ilalang.
Kau adalah lagu baginya...
Tangis, canda, haru, tawa, pilu dan segala rasa yang kau bagi, mengalun merdu menemani harinya. Dia dendangkan dengan segenap suka sekaligus laranya.
Kaulah puisi itu...
Dituliskannya semua cerita tentangmu. Dengan bait, diksi, dan rima yang kau catatkan untuknya. Dibukukan segala masa sejak kau ada. Untuk kau bacakan lagi saat dia tua kelak.
Ya, baginya kau adalah segala...
Tak mampu dia menggenggam, bila sela jarinya tak kau isi dengan jemarimu. Tak sanggup dia menatap, bila mata tuamu tak nampak lagi di pandangannya. Tak akan lelah dia menanti, karena hanya kau yang diinginkan untuk berlari menghampiri. Dan mati dalam pelukanmu adalah bahagianya yang abadi, karena hanya kau yang menjadi alasannya untuk hidup.
Dusk Note
April07
Minggu, 24 Maret 2019
Rabu, 23 Januari 2019
Senin, 21 Januari 2019
Terimakasih Tuhan
Masih Kau beri kesempatan membuka mata. Melihat semuanya. Semuanya.
Hiruk pikuk di hadapanku, yang tak lebih hiruk dari hati dan pikiranku setiap waktu.
Di sebelah kiriku seorang ibu, yang usianya mungkin jauh lebih muda, dengan badan yang sedikit besar. Berpakaian yang terlalu melekat pada tubuhnya, hingga lipatan paha dan lengannya terlihat jelas. Wajahnya datar. Seorang anak perempuan berdiri di depannya. Agak susah kalu harus duduk, seperti hampir kegencet perut ibunya. Mungkin mereka sedang mencari warung makan apa yang cocok untuk sarapan hari ini. Menunya, harganya. Apa cukup uang di dompetnya untuk sekedar jajan yang diminta putrinya.
Lalu mendahului di sebelah kananku. Seorang bapak dengan juga anak perempuan di depannya. Melaju cepat. Hingga tas sekolah yang tergantung di setang kiri seperti hampir terbang. Apa yang dikejarnya? Mungkin takut gerbang sekolah anaknya segera digembok satpam.
Memasuki gang sebuah perumahan, mulai agak sedikit lengang. Seorang bapak tua mengayuh sepedanya dengan sangat pelan. Celananya terlipat sebelah. Mungkin dia terburu-buru tadi, sebelum meninggalkan rumah tak sempat merapikan. Dan wajah itu, aku melihat jelas rautnya, karena kami berpapasan. Rambutnya yang sedikit gondrong tak rapi, dan seluruh warnanya telah memutih. Pandangannya kosong. Aku pikir mungkin dia sedang olahraga pagi. Atau sekedar keluar mencari angin segar, karena di dapur istrinya sedang mengomel beras dan gula habis.
Ah, kenapa aku sibuk membaca raut muka dan pikiran orang-orang yang kutemui. Sedang aku? Sedang melotot, atau mengernyit, menyatuka alis, atau apa? Yang jelas bibirku sedang jauh dari bentukan senyum. Ya, aku sendiri tak mampu melihat, merasa mimik muka dan lalu lalang pikiranku sendiri.
Terimakasih Pagi
Masih menemaniku mengingat semuanya. Semuanya.
Saat membaca pesan bergambar sebuah produk iklan makanan ringan bergambar senyum lebar dengan gigi-gigi yang berbaris rapi. Lalu mendenngar pernyataan 'ngerti engga sih wong iki?'
Saat itu malam selalu cepat berlalu. Berganti pagi dengan cerita-cerita dan bunga-bunga baru. Wangi. Berwarna-warni.
Sesekali muncul cerita sedih, haru yang pilu, kelunya rindu, dan rasa takut kehilangan.
Semua kembali pada tempatnya, saat hasrat untuk hidup lebih lama, lebih bermanfaat, manjadi semangat untuk lebih baik melangkah.
Topik diskusi antara komunikasi, cara membaca dan membalas pesan, yang sering memunculkan salah pendapat pun sering mewarnai hari. Dan tak jarang tak pernah terselesaikan, bahkan meruncing berlama-lama.
Cerita tentang satu kali hujan bulan Pebruari, satu kali hujan bulan Juli, dan dua Ramadhan, tertulis, terbacakan, terlewati tanpa jeda.
Berharap semuanya tak hanya sekedar cerita.
Inginnya malam mengistirahatkan mata, hati, dan pikiran sejenak. Lalu terbangunkan lagi oleh pagi dengan semangat yang sama. Semua masih dan akan baik-baik saja.
Terimakasih Waktu
Terimakasih untuk semuanya. Semuanya.
Cermin di hadapanku berkata 'berhentilah menilai diri sendiri. Hanya orang lain yang berhak atas penilaian pada diri kita'
Ya. Seringkali merasa benar tentang sesuatu, ternyata tidak begitu bagi orang lain. Berniat baik, dengan tujuan baik, pun cara kita masih diterima salah oleh orang lain.
Banyak hal yang tak mampu dimengerti. Semakin ingin mengerti, semakin tak mengerti.
'Maka aku biarkan semua rasaku bersiklus. Terendapkan saat malam mengajak beristirahat sejenak. Terbangunkan oleh sergap-sergap mimpi yang mengaduk-aduk segala emosi. Lalu terjaga jelas saat pagi tiba kembali.
Di ruangan ini, kuhabiskan seluruh air mata saat malam hening, untuk tumpah di ujung sajadah dan sebagian pakaian ibadah. Untuk sekedar menyisakan senyum saat pagi nanti. Dan akan aku biarkan tubuh yang tak bernyawa ini, tetap melakukan tugasnya. Untuk diri, hari, orang-orang di sekitar, semata-mata menunaikan kewajiban dan tanggung jawabku kan hak-hak mereka. Selebihnya, Tuhan yang akan menopang langkahku dalam ketidakmengertian yang panjang'
DuhaNote
Masih Kau beri kesempatan membuka mata. Melihat semuanya. Semuanya.
Hiruk pikuk di hadapanku, yang tak lebih hiruk dari hati dan pikiranku setiap waktu.
Di sebelah kiriku seorang ibu, yang usianya mungkin jauh lebih muda, dengan badan yang sedikit besar. Berpakaian yang terlalu melekat pada tubuhnya, hingga lipatan paha dan lengannya terlihat jelas. Wajahnya datar. Seorang anak perempuan berdiri di depannya. Agak susah kalu harus duduk, seperti hampir kegencet perut ibunya. Mungkin mereka sedang mencari warung makan apa yang cocok untuk sarapan hari ini. Menunya, harganya. Apa cukup uang di dompetnya untuk sekedar jajan yang diminta putrinya.
Lalu mendahului di sebelah kananku. Seorang bapak dengan juga anak perempuan di depannya. Melaju cepat. Hingga tas sekolah yang tergantung di setang kiri seperti hampir terbang. Apa yang dikejarnya? Mungkin takut gerbang sekolah anaknya segera digembok satpam.
Memasuki gang sebuah perumahan, mulai agak sedikit lengang. Seorang bapak tua mengayuh sepedanya dengan sangat pelan. Celananya terlipat sebelah. Mungkin dia terburu-buru tadi, sebelum meninggalkan rumah tak sempat merapikan. Dan wajah itu, aku melihat jelas rautnya, karena kami berpapasan. Rambutnya yang sedikit gondrong tak rapi, dan seluruh warnanya telah memutih. Pandangannya kosong. Aku pikir mungkin dia sedang olahraga pagi. Atau sekedar keluar mencari angin segar, karena di dapur istrinya sedang mengomel beras dan gula habis.
Ah, kenapa aku sibuk membaca raut muka dan pikiran orang-orang yang kutemui. Sedang aku? Sedang melotot, atau mengernyit, menyatuka alis, atau apa? Yang jelas bibirku sedang jauh dari bentukan senyum. Ya, aku sendiri tak mampu melihat, merasa mimik muka dan lalu lalang pikiranku sendiri.
Terimakasih Pagi
Masih menemaniku mengingat semuanya. Semuanya.
Saat membaca pesan bergambar sebuah produk iklan makanan ringan bergambar senyum lebar dengan gigi-gigi yang berbaris rapi. Lalu mendenngar pernyataan 'ngerti engga sih wong iki?'
Saat itu malam selalu cepat berlalu. Berganti pagi dengan cerita-cerita dan bunga-bunga baru. Wangi. Berwarna-warni.
Sesekali muncul cerita sedih, haru yang pilu, kelunya rindu, dan rasa takut kehilangan.
Semua kembali pada tempatnya, saat hasrat untuk hidup lebih lama, lebih bermanfaat, manjadi semangat untuk lebih baik melangkah.
Topik diskusi antara komunikasi, cara membaca dan membalas pesan, yang sering memunculkan salah pendapat pun sering mewarnai hari. Dan tak jarang tak pernah terselesaikan, bahkan meruncing berlama-lama.
Cerita tentang satu kali hujan bulan Pebruari, satu kali hujan bulan Juli, dan dua Ramadhan, tertulis, terbacakan, terlewati tanpa jeda.
Berharap semuanya tak hanya sekedar cerita.
Inginnya malam mengistirahatkan mata, hati, dan pikiran sejenak. Lalu terbangunkan lagi oleh pagi dengan semangat yang sama. Semua masih dan akan baik-baik saja.
Terimakasih Waktu
Terimakasih untuk semuanya. Semuanya.
Cermin di hadapanku berkata 'berhentilah menilai diri sendiri. Hanya orang lain yang berhak atas penilaian pada diri kita'
Ya. Seringkali merasa benar tentang sesuatu, ternyata tidak begitu bagi orang lain. Berniat baik, dengan tujuan baik, pun cara kita masih diterima salah oleh orang lain.
Banyak hal yang tak mampu dimengerti. Semakin ingin mengerti, semakin tak mengerti.
'Maka aku biarkan semua rasaku bersiklus. Terendapkan saat malam mengajak beristirahat sejenak. Terbangunkan oleh sergap-sergap mimpi yang mengaduk-aduk segala emosi. Lalu terjaga jelas saat pagi tiba kembali.
Di ruangan ini, kuhabiskan seluruh air mata saat malam hening, untuk tumpah di ujung sajadah dan sebagian pakaian ibadah. Untuk sekedar menyisakan senyum saat pagi nanti. Dan akan aku biarkan tubuh yang tak bernyawa ini, tetap melakukan tugasnya. Untuk diri, hari, orang-orang di sekitar, semata-mata menunaikan kewajiban dan tanggung jawabku kan hak-hak mereka. Selebihnya, Tuhan yang akan menopang langkahku dalam ketidakmengertian yang panjang'
DuhaNote
Minggu, 20 Januari 2019
Saat gelap merangkak hening terkoyak
Deras hujan menimpuk-nimpuk
Hamburan rindu berserak
Apa kau menyebutnya?
Sarapan yang kesorean atau makan siang yang kemalaman
Ah, biar saja batinnya
Raganya di sini
Wajahnya tepat menghadap semangkuk mie kuah panas pedas
Pikirannya bermil-mil jauh di entah mana
Mencari menyibak-nyibak rimbun perdu gelisah
Sumber kata 'makanlah. Jangan terlambat. Lalu minum air putih yang cukup'
Tak henyak dia tertunduk
Mendingin, menggumpal isi mangkuknya
Dia hanya acuh menghitung bulir
Yang pelan terburai di pipi, ujung bibir
Dan sesekali menetes lancang
Menempel di ujung potongan seledri menyerupai embun
Desahnya tertahan
Menarik nafas panjang dan mengembuskannya perlahan
Meraih sendok garpu, memaksa senyum
'Bismillah. Kenyang, sehat, berkah'
Jumat, 18 Januari 2019
Selasa, 15 Januari 2019
Kamis, 03 Januari 2019
Rabu, 02 Januari 2019
"Ay, geserlah kursimu lebih mendekat ke dinding. Lengan bajumu mulai basah."
"Tak apa Ty, apa yang harus aku kuatirkan dari sekedar gerimis."
Aya tersenyum memandang cahaya bulan yang tadinya mulai menyembul di sela dedaunan. Dan akhirnya tinggal temaram, terkalahkan mendung yang mulai menyebar.
"Yoga selalu suka malam yang begini. Dia pasti akan mempuisikan segenap rindunya pada hening, hujan dan cahaya bulan."
Tuty mendengar suara sahabatnya diliputi sukacita, berbaur pedih yang selalu dipendamnya. Sengaja dia tak memalingkan sedetik pun wajahnya ke arah Aya. Menyibukkan diri mencari colokan mengisi baterai ponselnya yang tinggal 20%.
"Aku syukuri pertemuanku dengan hujan bulan Januari. Entah apa akan ada waktu untuk menyaksikan rinai hujan bulan Pebruari. Pun harapku untuk bersua hujan bulan Juli, atau sekedar sekelebat cahaya purnama di awal minggunya."
"Kau menulisnya?"
Aya menggeleng
"Dia?"
Aya mengangguk perlahan.
"Aku selalu suka catatannya. Tentang apapun. Lebih-lebih saat dia memadunya dengan latar gambarnya sendiri. Saat sedang berdiri menyandar hanya diterangi lampu jalan. Baitnya tentang lembutnya kasih, rindu yang kelu, dan pilunya haru selalu mendera hari-hariku dengan rasa yang sama. Aku merasa sangat dikagumi Ty. Dicintai."
Tuty berkali mengarahkan pandangannya pada layar ponsel. Tak kuasa menahan perasaannya saat itu. Terbawa suasana cara Aya, mencurah segala rasanya. Yang tak pernah terjelaskan pada siapapun.
"Kau selalu menjaga ponselmu tetap hidup Ty? sekalipun saat mengisi baterai?"
"Heem. Kuatir ada perintah si Bos sewaktu-waktu."
"Sama. Akupun selalu takut kehabisan baterai ponsel. Kuatir kehilangan kabarnya. Dan selalu menunggu, mencari-cari pesannya. Frasa singkat yang selalu membuatku terjaga dari mimpi, terbangun dari tidur yang kesorean, bangkit dari penat yang sangat, dan tetap hidup lagi meski aku dimatikan."
"Heem. Aku tahu frasa itu. Yang pernah kau hitung dalam seminggu ratusan kali kalian saling berbalas."
Aya tetap tersenyum. Meski sejak tadi linangnya tak berhenti. Menyerupai bulir gerimis malam ini. Pelan, dengan irama yang lambat, terus berjatuhan berhamburan. Menghampiri ujung mata, hidung, pipi dan bibirnya.
"Ay, semua telah berbeda. Berubah. Mustahil kau menginginkan semuanya kembali seperti dulu."
"Biarlah Ty. Setidaknya aku masih diberi waktu untuk mengingat semuanya. Mengenang."
"Tak apa Ty, apa yang harus aku kuatirkan dari sekedar gerimis."
Aya tersenyum memandang cahaya bulan yang tadinya mulai menyembul di sela dedaunan. Dan akhirnya tinggal temaram, terkalahkan mendung yang mulai menyebar.
"Yoga selalu suka malam yang begini. Dia pasti akan mempuisikan segenap rindunya pada hening, hujan dan cahaya bulan."
Tuty mendengar suara sahabatnya diliputi sukacita, berbaur pedih yang selalu dipendamnya. Sengaja dia tak memalingkan sedetik pun wajahnya ke arah Aya. Menyibukkan diri mencari colokan mengisi baterai ponselnya yang tinggal 20%.
"Aku syukuri pertemuanku dengan hujan bulan Januari. Entah apa akan ada waktu untuk menyaksikan rinai hujan bulan Pebruari. Pun harapku untuk bersua hujan bulan Juli, atau sekedar sekelebat cahaya purnama di awal minggunya."
"Kau menulisnya?"
Aya menggeleng
"Dia?"
Aya mengangguk perlahan.
"Aku selalu suka catatannya. Tentang apapun. Lebih-lebih saat dia memadunya dengan latar gambarnya sendiri. Saat sedang berdiri menyandar hanya diterangi lampu jalan. Baitnya tentang lembutnya kasih, rindu yang kelu, dan pilunya haru selalu mendera hari-hariku dengan rasa yang sama. Aku merasa sangat dikagumi Ty. Dicintai."
Tuty berkali mengarahkan pandangannya pada layar ponsel. Tak kuasa menahan perasaannya saat itu. Terbawa suasana cara Aya, mencurah segala rasanya. Yang tak pernah terjelaskan pada siapapun.
"Kau selalu menjaga ponselmu tetap hidup Ty? sekalipun saat mengisi baterai?"
"Heem. Kuatir ada perintah si Bos sewaktu-waktu."
"Sama. Akupun selalu takut kehabisan baterai ponsel. Kuatir kehilangan kabarnya. Dan selalu menunggu, mencari-cari pesannya. Frasa singkat yang selalu membuatku terjaga dari mimpi, terbangun dari tidur yang kesorean, bangkit dari penat yang sangat, dan tetap hidup lagi meski aku dimatikan."
"Heem. Aku tahu frasa itu. Yang pernah kau hitung dalam seminggu ratusan kali kalian saling berbalas."
Aya tetap tersenyum. Meski sejak tadi linangnya tak berhenti. Menyerupai bulir gerimis malam ini. Pelan, dengan irama yang lambat, terus berjatuhan berhamburan. Menghampiri ujung mata, hidung, pipi dan bibirnya.
"Ay, semua telah berbeda. Berubah. Mustahil kau menginginkan semuanya kembali seperti dulu."
"Biarlah Ty. Setidaknya aku masih diberi waktu untuk mengingat semuanya. Mengenang."
Langganan:
Postingan (Atom)
Rindu Sawah
" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...
-
"Aku hanya ga habis fikir mba. Aku sebenarnya salah apa. Apa aku pernah ga sengaja membuat dia tersinggung. Ato apa. Ah entahlah....


