Describing me in the expressions of things, places n people around. In life, I might leave. In love, I might suffer. In line, I might disconnect. With this, I conquer all
Kamis, 29 Maret 2018
Bagiku...
Mencintaimu itu mudah.
Datang, lihat, tarik napas dalam, kadang sedikit terpejam, lalu bergumam "aku cinta kamu".
Itu aku, dulu semudah itu Tuhan titipkan perasaan itu.
Saat ini...?
Aku tahu aku mampu mencintaimu sepanjang apa nafas dan detak jantungku.
Dan aku tak pernah gagal untuk mengingatmu....
Aku minta kamu sisihkan sedikit ruang saja di hatimu....
Tak akan pernah minta seluruhnya.
Ijin, aku minta tempat di sudut sempit pun tak apa.
Dan aku akan tinggal di situ saja.
Cukup,...
Karena aku sadar,
Hatiku pun terlalu kecil dan hanya cukup untuk menuliskan namamu saja.
Terimakasih untuk ruang yang sangat luas saat ini.
Terimakasih
March29, 23.32
Rabu, 28 Maret 2018
"Aku tadi muter nyari kamu ay...
Ternyata kamu di sini,
Ngapain aja....."
Seperti itu berulang etah dua atau tiga kali berulang pertanyaan seperti itu.
Dan kamu...?
Tetap diam, duduk, dengan secangkir kopi di mejamu.
Tatapmu?
Hanya handphone lamamu yang seperti mencuri perhatianmu.
Senyum, kadang juga sedikit tertawa, entah apa yang kamu baca lalu sibuk jarimu membalasnya.
Ah sudahlah,
Kuletakkan saja secangkir teh yang belum lama kuseduh buatmu sayang...
Kuletakkan saja di depanmu
Sengaja,
Berharap kamu tahu, aku ada di depanmu sejak beberapa waktu lalu...
Senyum itu,...
Senang bisa melihat senyummu meskipun mungkin bukan buat aku...
Berkata lalu hanya dalam hati dengan entah harus tersenyum atau menangis..
"Aku balik dulu sayang, aku takkan memintamu menyentuh teh buatanku tadi.
Sungguh, aku senang melihat "senyummu" tadi.."
Beranjak, lalu pergi dengan do'a yang takkan pernah berhenti memintakan kesehatanmu, keselamatanmu, dan semua keluargamu.
Karna aku cinta kamu.
Lalu, Byar.....
"Mas...mas... Sholat"
Agus, tukang bersih-bersih tempat kerja slalu menepati janjinya untuk bangunkan ku ketika tidur hampir melewatkan subuhku.
"Lalu tadi apa?
Alhamdulillah hanya mimpi,...."
Duduk, lihat "si putih" hadiahmu, baca message mu.
"Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah,
Masih Engkau beri ku kesempatan bangun, membuka mata mengingat namamu, dan aku mencintaimu".
Cerita mimpiku tadi sayang.
Terimakasih, Tuhan dengan cara Nya untuk ku "menemuimu".
March29, 00.01
Selasa, 27 Maret 2018
Kuakhiri hari ini dengan sejumput niat mengasup nutrisi yang baik untuk raga dan jiwa. Terlebih untuk penglihatanku. Meski tak pernah benar ingin hari berakhir. Karena di saat membuka mata, sampai terlelap, saat terjaga, hingga membuka mata kembali, kau tetap ada. Selalu hidup. Dan menjadi pagi, awal segala waktu di hari-hariku.
Bila boleh kutahan Tuhan, untuk tak menjemputku dulu. Masih ingin lebih lama melihat mata itu. Yang di dalamnya tersimpan samudera kasih, luasnya tak mampu kukail sendiri. Ada lautan sabar, yang tak pernah mampu kucubit sepercik saja untuk kusematkan menggantikan egoku. Melimpah buih cinta, dihamburkannya untuk siapa saja, melebihi cintanya pada dirinya sendiri.
Bila boleh kuminta Tuhan, untuk tetap membuatku terjaga. Bahkan di saat harus menutupnya. Masih ingin kubaca semua catatannya, bait cinta dan do'anya di setiap pagi, siang, dan malamku.
Aku selalu menunggu. Pun di saat aku merenta. Melihat bibir itu, membacakan lagi catatannya untukku.
Masih ingin kunikmati. Gerakan lembut jemarinya, mengumpulkan nasi, lauk dan kerupuk, lalu menyuapkan ke mulutnya. Selalu kulihat rasa syukur tumpah di sana. Tak pernah ada keluh, resah, seperti tanya kenapa hidup harus tak lebih dari ini. Biar kupandang lagi ketulusan yang sesederhana itu.
Ya, aku mau hidup lebih lama. Menyaksikan segala yang diberinya untukku.
Tinggallah. Biar aku lihat lagi mata itu, bibir itu, dan semua yang ada padanya
Jangan pergi. Jangan pernah pergi. Mataku selalu merindu. Biarkan aku hidup hanya untuk melihatnya saja.
Kamis, 15 Maret 2018
^Ku ayun sendiri langkah-langkah sepi
Menikmati angin menabur daun-daun
Mencari gambaranmu di waktu lalu
Sisi ruang batinku hampa rindukan pagi^
Bukan bait nelangsa yang menemaninya kali ini. Justru kekuatan hati luar biasa yang dititipkan Tuhan padamu. Kamu, kepanjangan tangan Tuhan untuk menjaganya, melindungi, dan mencintanya di dunia dan di surga.
Banyak do'a teriring di sepanjangnya. Menepis jauh-jauh 'jalanku bukan jalanmu'.
Selalu berharap esok, lusa dan seterusnya melalui jalan ini denganmu
Tak henti menguntai pinta
'Berkah sehatmu, panjang umurmu, ilmu dan rizkimu
Berkah tiap langkah kakimu menuju kebaikan
Berkah tiap tetes peluh dan air matamu, untuk mencintaiNya, mencintai keluargamu, dan mencintainya'
Dia berhenti sejenak. Menikmati semangkuk bakso tepi sawah. Menuang teh hangat, kali ini di gelas kecil saja.
Di sela suara tak nyaring kerupuk putih itu dia berkali bersyukur
Terimakasih Tuhan
Terimakasih cinta ❤
Jumuwah Mubarak
March16, 12.40
Rabu, 14 Maret 2018
Helaan nafas panjangnya mencuri hingar. Bahkan mengalahkan konser musik jangkrik di luar sana. Melelehkan sisa-sisa yang masih bisa meleleh di sela kerutan bagian muka pakaian sembahyangnya. Di duduk setelah sujudnya dia berbisik, bibirnya bergetar memekik tertahan
"Alhamdulillah... Aku masih baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja. "
*
"Dia tak berdosa. Tak layak untuk dipersalahkan. Aku tak akan memintamu menyayangi dia. Pun melarangmu membenci dia. "
Habis kata. Butuh waktu untuk dia berdamai dengan rasa sendiri.
*
"Harus ke dokter. Bayinya tak bergerak. Detak jantungnya hilang dan muncul. Tak ada rabaan mengeras yang biasanya terasa di perut bawah. "
Bergegas. Belum puas ratapan beberapa menit berlalu. Membenahi karet rambutnya yang sedikit turun dan miring ke kiripun harus dengan perjuangan. Tak beraturan gerakan tangannya memasang pengaman kepala. Berlalu saja mengacuhkan gerimis yang kadang menghalangi pandangannya. Melihat deret nama di daftar antrian panjang. Merebut pena yang masih terpegang pengantre pria yang menurutnya banyak bertanya itu.
Mencoba memanggil beberapa nama di layar ponselnya. Dan tak satupun yang terhubung.
Melihat jam, merasakan ada yang kurang. Perutnya terabaikan. Lupa saat makan siang yang harus kesorean. Parkir di sebelah tukang bakso di pojok toko alat tulis. Baru sadar, dompetnya berisi tinggal selembar. Itupun terselamatkan, karena sarapan pagi di kantin ditolak, sambil memiringkan jempol, si mbak bilang "Sampun dibayar bapaknya. "
Melangkah lagi beberapa meter, menuju mesin anjungan tunai di mini market.
Melaju kembali membelah jalan basah. Sesuatu menarik perhatiannya lagi. Segera mencari di kanan kiri sepanjang jalan, mengisi tangki, sebelum motor tuanya mogok ogah mengantarnya kemana-mana.
Mendesah.
*
Dipeluk dan dielusnya kaki mungil yang makin panjang dan berisi itu. Memijitnya pelan sambil bergumam
"Terima kasih Tuhan. Kau buat dia pulang. Kau ijinkan selamat dari hujan petir yang menakutkan tadi. "
Dan 'bug! ' Kaki itu menimpuk perutnya berkali-kali. Teriakan kecil lalu tangisan nyaring "Engga mau. Engga mau. Mama elek. "
Memaksanya beranjak, duduk dan menangis pilu
"Kenapa nak? Ada yang sakit? Maafin mama ya. "
Pergelangan tangannya perih tercabik kuku-kuku mungil yang cubitannya mengalahkan orang dewasa.
Lalu dengan tangan kiri memegang botol susu, tangan kanan menggesek-gesek bentolan membatu bekas gigitan nyamuk. Tenang. Terlelap kembali.
*
Ada yang ingin dia sampaikan. Kamu selalu jadi orang pertama yang ingin dia kabarkan. Tak memintamu datang. Terlalu muluk baginya menginginkan minum teh bersama di beranda. Berpegang tangan sambil bercerita tentang pagi dan hujan. Dia tak meminta tubuh utuhmu bersentuh merangkulnya. Pun seluruh inderamu. Hanya sedikit pandangan mata dan telingamu. Dia butuh bercerita.
March14, 20.24
"Alhamdulillah... Aku masih baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja. "
*
"Dia tak berdosa. Tak layak untuk dipersalahkan. Aku tak akan memintamu menyayangi dia. Pun melarangmu membenci dia. "
Habis kata. Butuh waktu untuk dia berdamai dengan rasa sendiri.
*
"Harus ke dokter. Bayinya tak bergerak. Detak jantungnya hilang dan muncul. Tak ada rabaan mengeras yang biasanya terasa di perut bawah. "
Bergegas. Belum puas ratapan beberapa menit berlalu. Membenahi karet rambutnya yang sedikit turun dan miring ke kiripun harus dengan perjuangan. Tak beraturan gerakan tangannya memasang pengaman kepala. Berlalu saja mengacuhkan gerimis yang kadang menghalangi pandangannya. Melihat deret nama di daftar antrian panjang. Merebut pena yang masih terpegang pengantre pria yang menurutnya banyak bertanya itu.
Mencoba memanggil beberapa nama di layar ponselnya. Dan tak satupun yang terhubung.
Melihat jam, merasakan ada yang kurang. Perutnya terabaikan. Lupa saat makan siang yang harus kesorean. Parkir di sebelah tukang bakso di pojok toko alat tulis. Baru sadar, dompetnya berisi tinggal selembar. Itupun terselamatkan, karena sarapan pagi di kantin ditolak, sambil memiringkan jempol, si mbak bilang "Sampun dibayar bapaknya. "
Melangkah lagi beberapa meter, menuju mesin anjungan tunai di mini market.
Melaju kembali membelah jalan basah. Sesuatu menarik perhatiannya lagi. Segera mencari di kanan kiri sepanjang jalan, mengisi tangki, sebelum motor tuanya mogok ogah mengantarnya kemana-mana.
Mendesah.
*
Dipeluk dan dielusnya kaki mungil yang makin panjang dan berisi itu. Memijitnya pelan sambil bergumam
"Terima kasih Tuhan. Kau buat dia pulang. Kau ijinkan selamat dari hujan petir yang menakutkan tadi. "
Dan 'bug! ' Kaki itu menimpuk perutnya berkali-kali. Teriakan kecil lalu tangisan nyaring "Engga mau. Engga mau. Mama elek. "
Memaksanya beranjak, duduk dan menangis pilu
"Kenapa nak? Ada yang sakit? Maafin mama ya. "
Pergelangan tangannya perih tercabik kuku-kuku mungil yang cubitannya mengalahkan orang dewasa.
Lalu dengan tangan kiri memegang botol susu, tangan kanan menggesek-gesek bentolan membatu bekas gigitan nyamuk. Tenang. Terlelap kembali.
*
Ada yang ingin dia sampaikan. Kamu selalu jadi orang pertama yang ingin dia kabarkan. Tak memintamu datang. Terlalu muluk baginya menginginkan minum teh bersama di beranda. Berpegang tangan sambil bercerita tentang pagi dan hujan. Dia tak meminta tubuh utuhmu bersentuh merangkulnya. Pun seluruh inderamu. Hanya sedikit pandangan mata dan telingamu. Dia butuh bercerita.
March14, 20.24
Selasa, 13 Maret 2018
Sederhana...
Begitu mungkin kita mengawali cerita
Merangkai kata, menguntai tawa
Sekedar berpamer gambar makanan
Bersahutan mengeja caption
Seolah menyambung taste
Sesering memenggal lirik lagu dan melanjutkan lirik berikutnya
Menyimpulkan...
Begitulah ungkapan rasa kita terlambang dengan cara demikian
Lengkap...
Menikmati berjalannya masa
Menganyam berbagai rasa
Manis, asin, asam, pahit, pedas
Sedih, haru, kecewa, cemburu, diam,
Marah yang tertahan, tangis yang tak berhenti,
Pilu, takut, bahagia,
Kuatir yang berlebihan, rindu yang mengendap
Sesekali ingin mundur saja
Berkali menguatkan diri dengan do'a
Seperti mau mati, lalu serupa terlahir kembali
Takut kehilangan yang sangat
Selebihnya terselip syukur
Dan keprasrahan diri yang ditambal sulam berkali-kali
Memohon untuk tak pernah berubah
Biarkan begitu kita bercerita
Lupa...
Tak ada yang abadi di dunia ini
Tak akan bosan...
Tak pernah lelah
Menandai waktu
Pernah di sana
Masih banyak semoga
Menulis cerita
Membukukan kisah
Mengumpulkan segala amin
Meneriakkan alhamdulillah
Terimakasih...
Ini cinta
Begitu mungkin kita mengawali cerita
Merangkai kata, menguntai tawa
Sekedar berpamer gambar makanan
Bersahutan mengeja caption
Seolah menyambung taste
Sesering memenggal lirik lagu dan melanjutkan lirik berikutnya
Menyimpulkan...
Begitulah ungkapan rasa kita terlambang dengan cara demikian
Lengkap...
Menikmati berjalannya masa
Menganyam berbagai rasa
Manis, asin, asam, pahit, pedas
Sedih, haru, kecewa, cemburu, diam,
Marah yang tertahan, tangis yang tak berhenti,
Pilu, takut, bahagia,
Kuatir yang berlebihan, rindu yang mengendap
Sesekali ingin mundur saja
Berkali menguatkan diri dengan do'a
Seperti mau mati, lalu serupa terlahir kembali
Takut kehilangan yang sangat
Selebihnya terselip syukur
Dan keprasrahan diri yang ditambal sulam berkali-kali
Memohon untuk tak pernah berubah
Biarkan begitu kita bercerita
Lupa...
Tak ada yang abadi di dunia ini
Tak akan bosan...
Tak pernah lelah
Menandai waktu
Pernah di sana
Masih banyak semoga
Menulis cerita
Membukukan kisah
Mengumpulkan segala amin
Meneriakkan alhamdulillah
Terimakasih...
Ini cinta
Minggu, 11 Maret 2018
Terimakasih Tuhan...
Sekali lagi
Berkali-kali lagi
Masih Kau ijinkan bertemu pagi
Merasakan udaraMu
Kuhisap hembuskan panjang dan perlahan
Sadar...
Lalu berlinang
Setelahnya... Bersyukur
Aku masi bernyawa
Hanya padaMu kuceritakan tentangnya
Menyebut di sela heningku
Di beribu bulir isakku
Hanya namanya
Hanya namanya
Ya... Hanya namanya
Tanpa jeda
Tak bosan aku memintaMu
Jaga dia, peluk dia, kasihi dia
Karena rengkuhku tak pernah sampai padanya
Mungkin semua makin berbeda
Mungkin bait cinta itu sering terlupa
Ah... Biarlah saja
Mungkin cinta tak perlu lagi aksara
Ijinkan aku mengeja saja
Hanya namamu
Dalam do'a
March12, 04.14
Sekali lagi
Berkali-kali lagi
Masih Kau ijinkan bertemu pagi
Merasakan udaraMu
Kuhisap hembuskan panjang dan perlahan
Sadar...
Lalu berlinang
Setelahnya... Bersyukur
Aku masi bernyawa
Hanya padaMu kuceritakan tentangnya
Menyebut di sela heningku
Di beribu bulir isakku
Hanya namanya
Hanya namanya
Ya... Hanya namanya
Tanpa jeda
Tak bosan aku memintaMu
Jaga dia, peluk dia, kasihi dia
Karena rengkuhku tak pernah sampai padanya
Mungkin semua makin berbeda
Mungkin bait cinta itu sering terlupa
Ah... Biarlah saja
Mungkin cinta tak perlu lagi aksara
Ijinkan aku mengeja saja
Hanya namamu
Dalam do'a
March12, 04.14
Jumat, 09 Maret 2018
#NulisKilat @StorialCo
Menikahlah Nak...
"Laki-laki? Alhamdulillah. Sabtu, selesai kuliah jam kedua aku pulang.
Jangan lupa kak. Titip nama ya. "
"Iya. Bahasa Jepang kan? Artinya kebaikan? "
Rumah nenek. Tahu kan suasananya? Pelajaran Mengarang Bahasa Indonesia, tugas libur panjang saat di Sekolah Dasar, selalu memilih judul itu. Tak peduli semua kawan juga mentajuk sama. Nuansa kampung halaman, aroma pagi di tepian sungai, suara gesekan daun bambu saat tertiup angin, helaan nafa lega di hamparan hijau tanaman padi yang tingginya di atas mata kaki, dan rutinitas menebar biji jagung untuk ayam piaraan di halaman belakang. Tak ketinggalan harumnya gorengan tempe sesaat ditiriskan dari atas tunggu untuk lauk sarapan, makan siang maupun malam yang tak pernah bosan.
"Beratmu berapa kak? "
"Hmmm... Kalau tidak salah 26 kilo tante. "
"Halah... Gaya kamu ya. Bicaranya sudah mirip orang dewasa aja. "
Terpingkal teman kantor menyaksikan kelucuannya.
Kantor delapan lantai itu menjadi tempat favoritnya, saat sang tante mengajaknya bermain di sela jam kerja. Naik turun tangga dan lift selalu seru baginya. Apalagi setelahnya, dia bisa menikmati perjalanan keliling kota dengan angkutan kota warna biru. Berenang, lalu makan ayam goreng di restoran cepat saji.
"Suka ya ikut tante? Tidak kangen ibu? "
"Suka. Di sini banyak tante-tante cantik. "
"Tadi nonton film apa? Ceritain dong. "
"Pada suatu yang cerah, ada seorang anak kecil perempuan bermain dengan boneka salju, yang dibangunnya sendiri di depan rumah. Dia menyebutnya yukidazen. Dia suka bicara dengannya. Seperti temannya... "
Rumah kos dua lantai, dengan delapan kamar tidur dan dua kamar mandi serta ruang jemuran tertutup di lantai atas. Tiga kamar tidur, satu kamar mandi di lantai satu, dapur, ruang tivi, area terbuka di samping untuk mencuci piring, dan satu dapur. Serta garasi yang hampir sering kosong, diisi beberapa kursi tanpa meja, lebih berfungsi sebagai ruang menerima tamu. Anak kos yang beragam, mulai siswa SMU, mahasiswa, dan sisanya pekerja.
Kehadiran anak berusia tiga tahun, yang gendut, lucu, tak malu bergaul dengan siapa saja, selalu mengundang tawa. Keramaian yang tak seperti hari-hari biasa, selalu jadi cerita. Bila lama tak datang, semua bertanya. Bikin rindu, mereka bilang.
"Ada info lowongan pekerjaan? "
"Untuk siapa? "
"Aku. "
"Kenapa? Males kuliah? "
"Bukan. Gak nyampe. "
"Apanya yang gak nyampe? "
"Otaknya. "
Sang ibu terpukul. Lebih-lebih lagi sang nenek. Meski dengan sangat hati-hati sang tante menyampaikan berita itu. Airmata tumpah di ruang tamu rumah tua itu.
"Eyang uti, eyang kung. Sebentar lagi akan jadi buyut nggih. Akan segera menimang cicit. Paman, bibi, kita akan jadi eyang loh. Seorang cucu akan segera lahir di keluarga kita. "
Ah... Kadang cinta memang unik. Merubah seseorang tiba-tiba. Mengagetkan, mengecewakan, mengharukan, membahagiakan.
Menikahlah kalian karena cinta, dan karena Allah.
Langganan:
Postingan (Atom)
Rindu Sawah
" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...
-
"Aku hanya ga habis fikir mba. Aku sebenarnya salah apa. Apa aku pernah ga sengaja membuat dia tersinggung. Ato apa. Ah entahlah....




