Selasa, 27 Maret 2018


Kuakhiri hari ini dengan sejumput niat mengasup nutrisi yang baik untuk raga dan jiwa. Terlebih untuk penglihatanku. Meski tak pernah benar ingin hari berakhir. Karena di saat membuka mata, sampai terlelap, saat terjaga, hingga membuka mata kembali, kau tetap ada. Selalu hidup. Dan menjadi pagi, awal segala waktu di hari-hariku.

Bila boleh kutahan Tuhan, untuk tak menjemputku dulu. Masih ingin lebih lama melihat mata itu. Yang di dalamnya tersimpan samudera kasih, luasnya tak mampu kukail sendiri. Ada lautan sabar, yang tak pernah mampu kucubit sepercik saja untuk kusematkan menggantikan egoku. Melimpah buih cinta, dihamburkannya untuk siapa saja, melebihi cintanya pada dirinya sendiri.

Bila boleh kuminta Tuhan, untuk tetap membuatku terjaga. Bahkan di saat harus menutupnya. Masih ingin kubaca semua catatannya, bait cinta dan do'anya di setiap pagi, siang, dan malamku.

Aku selalu menunggu. Pun di saat aku merenta. Melihat bibir itu, membacakan lagi catatannya untukku.

Masih ingin kunikmati. Gerakan lembut jemarinya, mengumpulkan nasi, lauk dan kerupuk, lalu menyuapkan ke mulutnya. Selalu kulihat rasa syukur tumpah di sana. Tak pernah ada keluh, resah, seperti tanya kenapa hidup harus tak lebih dari ini. Biar kupandang lagi ketulusan yang sesederhana itu.

Ya, aku mau hidup lebih lama. Menyaksikan segala yang diberinya untukku.

Tinggallah. Biar aku lihat lagi mata itu, bibir itu, dan semua yang ada padanya

Jangan pergi. Jangan pernah pergi. Mataku selalu merindu. Biarkan aku hidup hanya untuk melihatnya saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...