"Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang."
Aya bergegas mengambil spray pembersih luka, obat luar kemasan salep dari dokter, dan mencabut selembar tisu di meja ruang tamu. lalu berjalan ke teras depan.
dipegangnya tangan kanan sang ayah, disemprotkan pelan-pelan cairan pembersih luka dua tiga kali di punggung tangan itu. Terlihat bekas luka yang sudah mulai mengering dan menebal di atas permukaan kulit. Dan di tengahmya masih ada sedikit luka yang terbuka dan basah. Dikeringkannya bagian luka itu oleh Aya dengan tisu. Dilap seluruh bagian luka itu perlahan sambil sedikit ditekan-tekannya. Di bagian yang kering terasa menebal dan kaku. Di bagian yang basah ditekan nya lebih kuat agar kotoran berpa darah dan nanah bisa keluar semua. Dibasuhnya lagi dengan spray kedua kalinya. Lalu dilap lagi dengan tisuuntuk membersihkan sisa-sisa kotoran yang masih melekat pada sekitar luka. Setelah itu Aya mengajak ayahnya untuk duduk di bangku panjang teras depan rumah. Di pegang nya kembali tangan kanan ayahnya untuk dioles salep.
"Wes pah. Sesuk kering kabeh. Aamiin."
Dilihatnya ayahnya kembali berdiri. Menimang-nimang pergelangan tangan kanannya. De gan gerakan seperti membolak-balikkan telapak tangan. Dalam bahasa Jawa diangin-anginno. Dikibas-kibaskan berharap angin segera mengeringkannya
***
"Nangdi kung?"
"Pesen sego pecel. Kate ngirim nang sawah."
"Tandur tah?"
"Endak. Wayahe mbrujul."
"Tak terno tah?"
"Endak wes. Iko ono sepeda vario."
Bagitu melihat sang ayah menaiki motor Aya bertanya "Ndi helm e. Kok gak helm an."
Ayahnya pun menjalankan motor pelan-pelan sambil mengucap salam pamit. Aya dan ibunya bersama menjawab salam dan berpesan 'Ati-ati."
Aya ke belakang melihat tumpukan piring kotor di dapur dan akan segera mencucinya. Ibunya duduk di meja makan bersiap sarapan. Anaknya baru keluar dari kamar hendak mengambil handuk untuk mandi.
"Bang. Yangkung kemana?"
"Ke sawah."
Anak tetangga belakang rumah berdiri di pint depan. Aya pun berjalan menghampiri
"Opo le?"
"Yangkung kemana bi?"
"Ke sawah. Kenopo le?
"Tibo jare."
"Hah? Astaghfirullahaladziim.."
Aya kaget setengah mati mendengar kabar itu. Tak laa datang seorang laki-laki agak tua menghentikan motor nya di halaman rumah. Tanpa turun dari motor dia berkata ke anak Aya "Le. Mbah e tibo. Saiki di Puskesmas. iki sandal e." Sambil menunjukkan sepasang sanday ayah Aya di karpet alas motornya
"Oh nggih pak. Niki kulo bade teng Puskesmas."
Aya lalu mengajak anaknya segera mandi, memanaskan mesin mobil. Lalu pamit pada ibunya
"Papa kecelakaan. Saiki di Puskesmas. Mami di rumah ae. Ngko tak kabari."
Selama melajukan mobil Aya tidak juga berhenti gemetar. Air matanya ditahan nya dari tadi. membayangkan betapa kesakitannnya sang ayah saat ini. Sepanjang perjalanan ada saja yang menelpon. Mengabari ayah di Rumah Sakit lah. Ada juga yang mengabari di Puskesmas. Ada juga yang minta bawakan sarung dan baju karena celana dan baju yang dipakai ayah bersimbah darah. Semakin gusar Aya menjalankan mobilnya menuju Rumah Sakit. lalu putar balik ke Puskesmas. Tidak terlalu jauh jarak rumah ke Rumah Sakit mauoun Puskesmas. Tapi rasa kuatir, gemetar sangat kuat, membuat Aya ingin segera sampai dan melihat kondisi ayahnya.
"Papaa.."
Aya sedikit berlari menuju bangsal IGD tempat ayahnya duduk setengan terbaring. Ditabraknya ayahnya, dipeluk sambil menumpahkan tangis yang sejak tadi ditahannya. Dilepasnya pelukan pada ayhnya. Dilihatnya ayahnya dari kepala hingga kaki. Darah mengucur di pelipis mata kanan nya. mengucur pula di kepala sisi kiri nya. bahkan jenggot tua nya yang panjang dan berwarna putih penuh bengan bercak darah.
Di sisi kanan bed ada seorang perawat sedang enunduk menjahit punggung tangan ayah. Aya menengoknya dan langsung memejamkan mata melihat betapa ngerinya. Punggung tangan itu terluka robek parah, dalam, lebar, terlihat daging dan kulitnya semua hancur, dan terus mengeluarkan darah.
Padahal biasanya Aya paling tidak bisa melihat luka dan darah. Pasti akan langsung buang muka. Tapi ini luka ayahnya, Aya hanya bisa menangis merasakan betapa kesakitan ayahnya ini.
***
"Maaf mbak. Papa saya tidak mau rawat inap dan operasi Patah tulang."
"Baik bu. Jadi ibu harus menandatangani surat pernyataan penolakan rawat inap dan operasi ya. Biaya Rumah Sakit harus diselesaikan dulu. Karenma tidak dicover oleh BPJS."
Aya mengajak ayahnya pulang. Dia langsung memiinjam laptop adik ipar nyauntuk membuka aplikasi kepegawaian. Dia entry data usulan pengajuan cuti selama tiga hari. Kerjaan di kantor bisa dibantu rekan kerja yang lain. Tapi merawat orang tua apa harus menunggu orang lain?
***
"Yo opo sawah iko ya. Wes mari dipupuk iko durung ndelok sawah blas."
"Ayo tak terno pah."
Sambil menunjuk pinggir jalan pas di depan Aya memarkirkan obilnya, sang ayah berkata "Ndik kono iku aku ditabrak iko."