Senin, 07 Desember 2020

Hello, December


"Tak akan sedikitpun berkurang rasa cintaku padamu. Kau telah tahu prosesnya, kehadirannya bukan karena buah cinta. 

Semua semata-mata untuk memberikan haknya. 

Entah kapan aku akan meninggalkannya. Entah nanti dia akan punya bapak baru. Tapi aku tak akan pernah meninggalkan kewajibanku. Sampai dia menemukan imamnya. 

Aku tak memintamu untuk menyayanginya. Pun tak melarangmu untuk membencinya. Sekali lagi, aku melakukan semua semata-mata hanya untuk memberikan haknya. 

Kenapa dia seperti selalu dipersalahkan. Dia juga manusia. 

Harus bagaimana lagi aku meyakinkanmu? Oke, aku akan tinggalkan mereka. Mohon waktu."


Kamis, 22 Oktober 2020

RHCP


 Ada yang tak pernah mengucap cinta

Tapi mampu menumbuhkan satu rasa

Yang memenuhi selera setiap saat

Bila dia telah memilih bahagianya

Maka kamu, 

Cukupkan dengan satu rasa ini saja





Red Hot Chilli PakJack


Minggu, 18 Oktober 2020


 "Hey... Kau singgah. Apa yang ingin kau kabarkan?"

"Musim hujan telah tiba."

"Lalu? Kenapa masih merundung. Berbahagialah."

"Pasti."

"Harus! Bukankah dia yang pernah berkata 'aku tak perlu menciptakan bahagia untuk siapapun' kini telah memilih. Lihat caranya memeluk, dan canda gurau yang setiap saat ditunjukkannya pada semesta."

"Iya... "

"Sadarlah. Semua ketakutanmu telah menjelma nyata bukan. Dan mimpi-mimpi itu telah menjadi jawab dari segala tanyamu."

"Iya... "

"Just like season, people change."

"I wish I should've known..."

"Simpan segala rasa dan cerita di kepala. Ingat, Capung. Tak ada yang abadi. Pun ingatan."

"Iya... "

"Tetaplah hidup. Terbanglah."

"Terima kasih, Aglounema."





*Mungkin kau lupa Ku pernah jadi yang tersayang Ku pernah jadi yang paling kau cinta*

Jumat, 09 Oktober 2020

Senin, 24 Agustus 2020

Sepagi Embun

 

"Apa yang kau pandang?"

"Mereka. Yang di taman."

"Kenapa?"

"Setertawa itu. Sebercanda itu. Saling peluk, pasangan, dan balitanya.  Bergandeng tangan. Bila benar ada cinta di antara mereka, kenapa mengucap cinta pada yang lain di luar sana?"

"Sejauh itu berpikir? Se under estimate itu?"

"Lihat! Yang di bangku panjang sebelah sana. Ceritanya dia sudah berkali meminta pisah. Tapi wedding ring nya masih menempel cantik di jari manisnya."

"Apa yang memenuhi benakmu?"

"Entah. Mungkin ketidakpahaman akan frasa 'cinta tak harus memiliki'. Bukankah cinta harus berjuang untuk bersama?"

"Apa yang kau inginkan?"

"Banyak hal. Bagaimana aku bisa bercengkerama dan meminum teh dari cangkir yang diseduhnya, sedang senja tak kunjung tiba. Bagaimana pula aku bisa mengagumi indahnya purnama, bila Tuhan tak menijinkanku menemuinya."

"Ah.. Kau masih saja bebal dengan keberadaanmu."

"Karena aku selalu percaya akan kekuatan do'a dan kekuatan mimpi."

"Apa dia mengerti?"

"Seharusnya."

"Apa dia memahami?"

"Entah. Bagaimana denganmu?"

"Aku? Aku hanya ingin hidup lebih lama. Tetap di sini dan meyakini aku cinta. Terus mendo'a dan memintanya."

"Meyakini bahwa dia juga cinta?"

"Aku tak peduli. Yang aku tahu aku cinta dia. Titik. Bila dia masih mengijinkan aku cinta, aku akan sangat bersyukur."

"Apa kau butuh tahu dia juga cinta?"

"Tak perlu. Aku tak memintanya untuk membalas rasa yang sama. Aku bisa mencinta sendiri."

"Egois."

"Begitukah?"

"Ya."

"Kenapa kita tak berbicara tentang angin, hujan, sungai, sawah?"

"Mereka ada. Tak perlu dibicarakan. Indah, angkuh, dan anggunnya cukup dipandang dan dirasai saja."

"Sambil berkaca-kaca?"

"Sesekali."

"Mengapa sampai sesedih itu?"

"Karena aku ingin melihatnya tidak hanya di satu waktu saja. Tidak hanya pada saat dia bisa ada. Tapi di segala waktu. Di setiap putaran bumi mengelilingi matahari."

"Kau masih saja bebal."

"Aku tahu. Di situlah letak pengharapan yang sesungguhnya."

"Kenapa tak kau jelaskan?"

"Lagi?"

"Ah.. "

"Aku akan terus menunggu. Sampai saatnya dia berhenti menilai."

"Menilaimu?"

"Saat kau dikatai lupa dan tidak setia, apa yang kau rasa?"

"Sakit."

"Saat tak ada niat untuk merendahkan, bahkan terbersit pikiran pun tidak sama sekali?"

"Bingung. Sedih."

"Bagaimana dia yang kau kasihi merasa kau rendahkan dengan menyebutnya benalu?"

"Apa yang ada di pikirannya?"

"Mana aku tahu. Sedang aku sendiri sudah lelah menjelaskan. Biarlah dia mengingat lagi bagaimana inginnya meminta maaf dengan mencium kaki, untuk tak lagi merendahkan. "

"Sampai kapan kau akan diam?"

"Sampai dia penuhi janjinya 'akan segera mentas dari kubangan pikiran sempitnya sendiri."

"Bila kau masih punya waktu, apa yang ingin kau sampaikan padanya?"

"Hanya mengingatkannya satu kalimat yang pernah diucapnya. Lalu kubiarkan dia bertanya pada dirinya sendiri 'untuk apa'?"

"Kalimat apa itu?"

"Aku akan bertanggung jawab."


Pagi melenguh. Matahari terasa makin terik. Embun pun mulai tersengal. Seakan nyawanya akan segera menghilang terseret pagi. Detik-detik yang selalu dinantinya. Mengenang 'Aku menitip nyawa padamu. Seperti kau bisa mengambilnya sewaktu-waktu kapanpun kau mau'. Dan dia akan selalu tersenyum di saat-saat terakhir yang demikian. 

"Kenapa masih menoleh ke sana?"

"Barangkali dia masih mau mengirimkan sesuatu untukku. Yang biasa dia gantung di pegangan pagar depan sana."

"Sudahlah. Mari pulang."

"Terima kasih, Pagi. Temui aku esok lagi."

"Tetaplah hidup, Embun."

Embun tersenyum. Menutup mata. Dan membiarkan tubuhnya menetes jatuh dan lenyap meresap tanah. Sadar dirinya bukanlah bintang. Tapi tubuh beningnya selalu membias terpantul cahaya matahari. Bila pun tak ada yang menyadari keberadaannya, dia akan tetap terus bersinar dengan sendirinya. Setidaknya untuk pagi saja. 


Image: Penggalan Sajak Embun dan Perasaan




Minggu, 16 Agustus 2020

"Apa Kau Takut Mati, Pra?"

 

Masih ada yang dicemasi? Dikuatirkan? Ditakuti? 

Mungkin sudah saatnya membangun tiang pancang yang lebih kokoh, pada diri, jiwa, dan hati. Untung berpegang, bertopang lebih kuat, saat rasa cemas, sedih, terpuruk, takut, makin melanda.

Memang tidak mudah untuk duduk, tersenyum, dan meyakini bahwa kita masih sangat dicintai sepenuh hati. 

Tapi siapa akan mampu menolong kita dari semua rasa yang demikian? 

Mari belajar. Mengurangi segala potensi yang menyebabkan ketakutan akut. Takut menyakiti dan tersakiti, kuatir tidak diinginkan, ditinggalkan dan meninggalkan. 

Toh sebaik apapun kita, yang tidak menyukai akan tetap punya alasan untuk membenci. Sebaik apapun menjaga, yang tak ingin dijaga tetap punya alasan untuk merasa diabaikan. Sekuat apapun meminta seseorang untuk tinggal, tetap saja ada alasan untuk pergi. 

Begitu juga sebaliknya. Sebaik apapun kita membuat cerita yang indah untuk dikenang, yang membenci kita tak akan pernah merasa kehilangan. Boleh jadi saat kita tiada, mereka malah menertawai dan menyukuri. 

Semua rasa yang ada dalam diri kita, adalah tanggung jawab kita sendiri untuk mengolahnya. 

Belajar terus dan tak pernah putus. Mengeja di depan mata, bahwa segala yang ada adalah karunia. Yang cinta akan datang tanpa diminta, akan mengabaikan hati yang lain demi menjaga hatimu saja, akan tinggal dan terus jatuh cinta padamu berkali-kali. 

Demikian pun saat kau harus pulang. Yang kau tinggalkan akan tetap dijaga, dilindungi, dikasihi, jauh lebih baik dari kau mampu menjaga, melindungi, dan mengasihi selama hidupmu. 

Jadi, tak ada yang perlu dicemasi, dikuatiri, dan ditakutkan lagi bukan? Toh kita hidup tanpa punya hak memiliki, dan mati juga sendiri. 

Tuhan menciptakan segala sesuatu bukan secara kebetulan. Tapi selalu dengan alasan. 




#CeritaBaik #IndependenceNote #MenulisMerdeka

Image by @drawanorange


Rabu, 12 Agustus 2020

Bed Time Sickness

 "Dipijit ya?"

"Iya."

"Ayo tengkurap dulu. Ini tempatnya batuk."

"Sakit. Sakit, Ma. Jangan ditarik-tarik."

"Bukan ditarik. Ini diurut namanya. Biar batuknya longgar."

"Aduh, sakit. Sakit. Sudah, Ma. Sudah. Tanganku aja dipijit."

"Ok."

"Kasar."

"Apanya?"

"Tangan mama."

"Iya. Maaf, Nak. Ibumu ini bukan seorang princess. Tangan dan kakinya kasar semua. Karena bekerja terlalu keras. Maka dari itu, ibu selalu memintamu membantu pekerjaan-pekerjaan ringan di rumah. Agar kau mulai belajar. Kelak saat kau menjadi lelaki dewasa, kau akan tahu bahwa perempuan itu harus dibela dan dilindungi."

"Mik obat."

"Iya. Pinter. Bobo yang enak, tenang. Besok sembuh, sehat ya. Good night. I love you."

Senin, 10 Agustus 2020

"Bukan Salahmu, Ta"

 

Bahwa cinta pernah hadir, mengendap, dan menguat. Diucapkan, disampaikan, ditunjukkan ratusan, ribuan kali dengan cara yang sederhana hingga yang paling rumit, dan hampir mustahil. 

 Berkali meminta, memohon untuk tetap tinggal. Bertahan untuk terus bergandeng tangan, berjuang, mencari jalan yang lebih baik untuk sebuah mimpi bersama. Namun berkali itu juga segala rasa dibawa pergi, menghilang, dan datang lagi. 

Terlalu banyak permintaan maaf, lalu keinginan memperbaiki keadaan. Tapi seterlalu banyak itu juga keinginan untuk diam, pergi, dan menghilang lagi. 

Rasa lelah dan putus asa tak henti-hentinya menyapa dan merayu. Seolah semua yang pernah dilihat, didengar, dibaca, diucap, dan diceritakan sudah menjadi bagian dari kenangan. 

Terlalu banyak pertanyaan yang tak menemui jawaban. Mengapa, bagaimana bisa, apa lagi salahku, harus seperti apa lagi meyakinkan. Dan seterlalu banyak itu hal yang belum tersampaikan. Yang akhirnya diputuskan untuk dibiarkan saja. 

Terlalu sulit menjelaskan yang sudah berkali dijelaskan. Dan seterlalu sulit itu memahami bahwa manusia tak pernah berhenti menilai, berprasangka, dan menyimpulkan hal yang hanya ada di isi kepalanya sendiri. 

Berkali ditampakkan Tuhan melalui mimpi. Selalu seperti nyata. Tapi sungguh, tak pernah mampu menerjemahkan semuanya. 

Mungkin Tuhan sedang mengingatkan, bahwa cinta; anugerah rasa yang dikaruniai-Nya, bukan hanya untuk diucap, disimpan, dirasai sendiri saja. Tapi untuk diperjuangkan. 

Berjuang butuh dua hati dengan keyakinan sama. Bila tidak, semua hanya omong kosong belaka. 

Manusia selalu punya keinginan untuk membolak-balik hati sebelum memutuskan sesuatu. Meski tak pernah tahu akhirnya akan seperti apa. Karena hanya Tuhan yang Maha Pembolak-balik hati sejati. Setidaknya jalan yang dipilih adalah bagian dari upaya memperbaiki diri. 

Tidak ada kebaikan yang sia-sia. Sebelum mencapai fase super lelah dan ingin berhenti. 

Kembali pada diri, pada hati. Memaafkan diri dan tak menyalahkan keadaan. Belajar pada masa lalu, dan pada kesalahan. Belajar membenahi diri dan mengurangi potensi melukai diri sendiri dan orang lain. Lalu berserah diri sedalam-dalamnya pada frasa "ini yang terbaik". 

Tak lupa, 

Selalu menyukuri datangnya pagi. Yang membawa serta hari baru, pengharapan baru. Dan meyakinkan diri, bahwa sebelum Tuhan memanggil pulang,  semua cerita belum selesai. 




Tulisan ini tidak mengutip teori dari pakar manapun. Dan tidak berdasar survey apapun. Ditulis untuk sebuah #CeritaBaik #MariMenulisCeritaBaik

Image by @Tsana


Jumat, 07 Agustus 2020

Belajar pada Kecewa


Pernah ngerasa kecewa? Berapa kali? Sekarang, masih ada rasa dikecewain? 

Bagian dari rasa sih ya. Rasa kan ga pernah salah. Rasa itu manusiawi. 

Kenapa kecewa? Kenapa ngerasa dikecewain? 

Ada kalanya kata-kata sudah tak bermakna. Pendapat tak didengar. Prestasi tak dihargai. Kerja keras hanya sebuah kelakar belaka. Ketulusan yang tak pernah tampak. Kesungguh-sungguhan hanya dianggap angin lalu. 

Sering merasa orang lain melukaimu, tapi mereka yang berusaha tampak terlukai olehmu? 

Lalu kau bisa apa? 

Mungkin manusia punya mata untuk melihat keindahan, tapi bukan kebaikan. 

Punya telinga untuk mendengar suara-suara, tapi bukan kebenaran.

Punya hati untuk merasai sedih, bahagia, kecewa, tapi tidak ketulusan.

Semudah itu manusia menilai apa yang tampak. Memunculkan karakter baru yang jauh berbeda dari yang sebenarnya, sesuai isi pikirannya sendiri. Dan sebaliknya, sesulit dan setakmautahu itu manusia akan arti sebuah kebaikan, kebenaran, dan ketulusan.

Hanya sebagian kecil yang mampu memaknai dedikasi dan kerja keras seseorang. Selebihnya menganggap itu sebagai hal yang biasa saja, bahkan mengernyit, dan memandang sebelah mata. 

Ah.. Seperti filsuf saja ya. Bahasan kali ini tentang hal-hal yang justru dihindari. Atau mungkin malah dipertentangkan tanpa pernah ada titik temu yang mendamaikan. 

Pertanyaan sebenarnya adalah;

Bagaimana kita merasa pantas untuk kecewa, kekurangan, kesulitan, bahkan kehilangan. Sedangkan Tuhan selalu memampukan, menguatkan, memberi, memudahkan, dan melimpahkan?

Jalani saja hidup seperti kau biasa menjalani hari-harimu sebelum sekarang. Hadapi saja masalah seperti kau telah melewati beberapa sebelumnya. Tetaplah bertumbuh, teruslah berproses.

Jangan tinggalkan mereka yang menilaimu buruk. Jangan benci mereka yang tak menyukaimu. Melangkahlah ke tempat terbaik yang telah Tuhan sediakan. Tak perlu meminta mereka menyukaimu. Tak perlu merubah diri untuk dapat diterima dan dicinta. Kamu bukanlah pekerjaanmu. Kamu bukanlah seseorang yang ada dalam pikiran dan prasangka orang lain. Bisalah di manapun berada. Tetaplah beneran baik, meski yang lain terus pura-pura baik. Teruslah berdo'a, berharap segala kebaikan, kebenaran, ketulusan, akan selalu mengelilingi. 







PS

Tulisan ini tidak mengutip satupun teori dari para ahli. Dan tidak berdasar pada survey apapun. Ditulis bebas untuk sebuah #CeritaBaik #MariMenulisCeritaBaik

Day 9 Self Quarantine



Selasa, 26 Mei 2020

Hari-hari pernah seberwarna itu
Hati pernah seberbunga-bunga itu

Bersyukur
Pernah menjadi bagian di antaranya

Sabtu, 23 Mei 2020


"Nak, ada kalanya manusia harus mengambil keputusan terberat dalam hidupnya. Dan seringkali semesta tidak mendukung. Mungkin karena sesuatu atau seseorang tak pernah mengerti, bahwa dialah alasan di balik itu semua. Selebihnya, bisa jadi kehendak Tuhan yang berkata lain.

Nak, jangan pernah iri melihat kawan-kawanmu. Yang di luar sana selalu tersenyum dan tertawa, bergandengan tangan, dan bercanda bersama ayah ibunya. Bahagialah di manapun, dengan siapapun. Dengan ibu saja, atau dengan ayah saja. Pun bila tak harus dengan keduanya. Ciptakan bahagiamu sendiri.

Mungkin ada yang belum lelah bila harus 'berusaha menciptakan suasana lebaran yang utuh, setidaknya untuk dua keluarga kami'. Mungkin masih menyisakan banyak energi untuk mengingkari hati nurani. Atau mungkin memang itulah jalan yang sedang diupayakan.

Nak, suatu saat kamu akan mencari apa arti cinta. Dan jauh di saat yang lain lagi, kamu akan benar-benar tak mengerti apa sebenarnya itu cinta.

Nak, bertumbuhlah saja. Berproseslah. Ada saatnya nanti kamu akan mengerti."




Eid 1441H
PesanFitri

Rabu, 13 Mei 2020



Apa kabar Ramadanmu? Masih sama? Atau seperti yang dibilang orang kebanyakan 'Ramadan kali ini benar-benar berbeda'?

Kamu usia pelajar yang harus menuntut ilmu di kota atau pulau lain. Yang karena aturan Pemerintah tidak bisa pulang kampung halaman. Rindu masakan ibu dan suasana puasa di kampung?

Kamu tenaga medis yang waktunya habis di Rumah Sakit karena harus merawat dan memperjuangkan nyawa sesama?

Kamu orang tua yang baru saja ditinggalkan anak-anak yang tinggal di kota lain bersama keluarga barunya?

Kamu karyawan yang baru saja dirumahkan?

Kamu tak mampu bekerja karena; lagi-lagi aturan Pemerintah untuk di rumah saja?

Kamu pengelola tempat makan, warung kopi yang harus menutup gerai karena selalu jadi pusat kerumunan?

Kamu ada di posisi yang mana?

Ya, untuk mereka semua tentu Ramadan kali ini berbeda, sangat berat mungkin. Bisa jadi yang paling berat dari sebelum-sebelumnya.

Tapi bagi sebagian orang, yang sudah terbiasa berbuka, tarawih, membaca al-qur'an, dan makan sahur sendiri, tentulah ini Ramadan yang masih tetap sama. Meski tak pernah ada ucapan selamat berbuka, asal bisa bertemu kurma dan senja Ramadan, semesta seolah menggenggam tangan "Mari sini, melangkah bersamaku. Kau harus menikmati indahnya perjalanan ibadah ini." Bahkan lebaran tanpa Shalat Ied dan acara sungkeman bersama keluarga pun sudah sangat biasa.
 
Pemandangan yang sering kita lihat belakangan; Berbagi menu buka, mengucapkan selamat berbuka, selamat makan sahur, dan sekedar bertanya kabar, hanya bisa lewat layar. Melihat mereka semua tersenyum, baik-baik saja dan sehat, haru dan bahagia lalu tercipta. Meski teknologi tak akan bisa menggantikan sentuhan kasih. Setidaknya, yang jauh bisa berasa dekat.

Dengan pakaian bersih berpeci, atau mukena dan sajadah melambai-lambai di layar "yuk tarawih dulu". Bahkan dengan merangkul yang disebelahnya -yang katanya sudah tak dicintai sekalipun- bisa dengan mudah memperlihatkan di depan banyak orang, demi disebut 'keluarga yang utuh'.

Mungkin dengan gawai, rindu, bahagia, dan segala bentuk percakapan secara virtual dan daring bisa diciptakan. Tak akan ada yang tahu itu sebuah kebenaran atau kepura-puraan belaka. 

Lalu bagaimana dengan cinta? Bisakah ditunjukkan dan dirasakan secara online?

Cinta dan ibadahmu biarkan menjadi rahasiamu dan Tuhanmu saja.

Selasa, 12 Mei 2020




Manusia mati meninggalkan cerita. Dan yang abadi hanya karya.

Dulu hanya tahu namanya saja. Dan lagu yang saya kenal saat itu cuma Sewu Kutho dan Stasiun Balapan. Tanpa berusaha menghafal liriknya. Pun tak mengidolakannya. Pada zamannya, hanya kalangan tertentu yang menyukai lagu-lagu itu. Saat orang-orang seusiaku lebih familiar dengan boyband manca, seperti Westlife dan Backstreet Boys.

Saat kematiannya diberitakan di banyak media, barulah tahu dia telah mencipta banyak lagu dalam banyak album. Yang judul-judulnya secara random saya rangkai dalam sebuah kidung Jawa. Ya, saya baru mengerti lagu-lagu Jawa yang banyak dipopulerkan oleh pendatang-pendatang baru dangdut adalah ciptaannya.

Bahkan saat dia menggelar konser di kota ini. Saya masih ingat betul, beberapa bulan lalu, seorang petinggi pemerintahan berkata "Ayo duduk sini. Kita rencanakan yang matang persiapan konser ini. Usahakan nanti semua bisa menonton, duduk manis dan ikut joget. Biar ilang semua stres kalian. "

Saat itu juga saya baru menyadari, dia digandrungi banyak orang dari berbagai kalangan. Dan kematiannya, meninggalkan duka dan kehilangan yang mendalam bagi negeri ini. Khususnya bagi para Sobat Ambyar,  sebutan penggemarnya, yang mengelu-elukan nya sebagai Lord Didi, The Godfather of Broken Heart. 

Dan saat itupun, terbersit pikiran 'karena tak ada pernikahan saat pandemi ini, tanggal cantik pun akhirnya dipilih untuk mengenang sebuah kematian'.


Didi Kempot
05052020
Rest in Love

Senin, 11 Mei 2020


"Without pain, how could we know joy?"
"It would be a privilege to have my heart broken by you."


"I'm tired of living without really leaving. I’m tired of wanting things. We can’t have a lot of things."
"We need that touch from the one we love, almost as much as we need the air to breathe. But I never understood the importance of a touch. Until I couldn't have it."
"I hope my life wasn't for nothing."
"If I'm going to die, I want to actually live first. And then I'll die."


When it hurts both, why does one might still feel hurted.
One thing about pain. It demands to be felt.

Mencintai yang sakit. Mencintai rasa sakit. Mencinta saat sakit. Memaknai rasa cinta dan rasa sakit secara bersamaan. Bila sudah sama-sama sakit, kenapa masih merasa tersakiti?

Bukankah dalam "aku mencintamu" ada "aku telah memilih untuk menyakitimu dan diriku sendiri" di dalamnya.




The Fault in Our Stars
Five Feet Apart

Minggu, 10 Mei 2020



Ada yang enggan mekar
Mungkin kekurangan air
Atau waktunya dijemur di bawah matahari sebentar saja

Mungkin vas nya terlalu sempit
Atau terlalu banyak batang, berdesakan

Mungkin dia rindu alam bebas
Kuncup-kuncup telah layu
Ingin berdiri berdekatan dengan bunga-bunga lain
Atau,

Bila ada yang lebih tahu tentang bunga, bertanyalah
Atau carilah artikel, bacaan, sumber terpercaya, pelajarilah
Atau,

Bila kau merasa tahu
Lakukan sesuatu yang perlu

Tak ada guna bertanya-tanya, menerka-nerka
Lebih-lebih menyimpulkan
Apa yang hanya terlihat oleh mata

Karena di balik itu
Ada banyak hal yang tak teraba oleh hatimu
Jauh tak terengkuh oleh pikiranmu


"Belajar tanpa berpikir tak ada gunanya
Tapi berpikir  tanpa belajar sangat berbahaya"
- Ir. Soekarno

Kamis, 07 Mei 2020


"Kenapa aku tak boleh bertemu senja?"
"Karena kau tak bisa."

Anak-anak sedang berlarian di pematang. Batang padi belum menguning benar. Tapi capung dan belalang sudah sangat berhasrat mengerumuni. Tawa anak-anak memecah sunyi. Gembira mereka mengalahkan seluruh rindu yang terpendam untuk segera bersekolah lagi. Mungkin mereka tak mengerti, atau iya mengerti dengan batas pemikiran kanak-kanaknya, bahwa Bumi sedang berduka. Berebut saling mendahului, saling kejar. Seolah agenda hari ini adalah outclass, pelajaran menjelajah alam. Tugas menangkap capung dan belalang. Siapa cepat, dia juara.

Sinar matahari mulai terasa hangat.
"Aku harus pulang."
"Ya. Beristirahatlah. Kutemui kau esok lagi."

Burung-burung sawah mulai berdatangan. Hampir bersamaan dengan para buruh tani. Membagi kavling, membersihkan gulma dan tanaman pengganggu sesuai bagiannya masing-masing. Dan tentu saja, sambil mengusir kawanan burung. Agar hasil panen nanti sempurna.

Anak-anak masih hingar berlarian. Kini menuju gubug tengah pematang. Mungkin sedikit lelah. Sebagian menaiki gubug, duduk meluruskan kaki, mengatur nafas. Sisanya membungkuk di ujung selang besar, menadah air dr sumur bor yang telah dinyalakan buruh tani untuk mengairi sawah. Dengan menengadahkan dua telapak tangannya, mengisi penuh-penuh air, lalu ditumpahkan ke wajah membasahi mukanya. Lalu kepalanya, dan diminumnya. Begitu mereka melakukannya bergantian.
Sungguh, bahagia anak-anak ternyata sesederhana itu.

"Ini pertengahan bulan kan?"
"Iya. Kenapa?"
"Apa aku bisa melihat purnama?"
"Kau tidak diijinkan."

Langit masih sedikit temaram. Sang surya terlihat menggeliat di peraduan. Masih enggan beranjak. Sepertinya ingin meneruskan mimpi yang belum usai. Tapi para pedagang sudah mulai berlalu lalang memenuhi pasar rakyat. Penjual tempe, sayur-sayuran, dan ikan segar, yang bahkan sejak dini hari telah berdatangan menurunkan dagangan nya dari gerobak, becak, ataupun truk pengangkutnya. 

Para gadis dan pemuda yang sedang bersedih, patah hati, seharusnya menyaksikan pemandangan yang demikian. Karena bagaimanapun kalian terluka, hidup harus terus berjalan. Bersabar untuk di rumah saja. Biarkan para orang tua tetap menunaikan tugasnya. Untuk bekerja, mencari nafkah, menjemput rizki yang telah disediakanNya. Karena hidup bukan hanya tentang cinta. Tapi menjalaninya dengan lapang hati.

Saat pasar mulai sepi pembeli,
"Aku masih ingin di sini."
"Tapi kita harus pulang."

Penjual ayam mulai mengibas-ngibaskan beberapa buah lidi yang diikatnya menyerupai sapu kecil, untuk mengusir lalat. Berharap dagangannya yang tinggal sedikit segera terjual habis. Maka rasa syukur akan memenuhi hati mereka. Untuk bisa menghitung laba. Sebagian untuk membeli bahan makanan. Dan sisanya untuk berdagang lagi esok hari. Pulang dengan kegembiraan, membawakan bahan untuk dimasak saat berbuka di rumah sore nanti.

"Kenapa kita hanya bisa bersama pada satu waktu saja?"
"Karena kita ditakdirkan begitu."

Jalanan lengang. Gedung-gedung sekolah kosong. Beberapa memang dialihfungsikan sementara untuk ruang isolasi dan karantina. Tapi epidemi memang merubah segalanya. Jauh berbeda bila anak sekolah sedang libur. Setelah ujian semester, atau minggu tenang saat menunggu hasil kenaikan kelas dan kelulusan. Sejak matahari terbit sampai terbenam,  terlihat ramai mereka di jalan. Di pusat keramaian, arena bermain, gelanggang olahraga, tempat wisata, bioskop, kafe, bahkan pasar ikan dan pasar burung. Kali ini semua sepi. Entah dengan pengertian, paksaan orang tua, kesadaran pribadi, ataupun rasa putus asa. Harus mengabaikan segala rasa bosan untuk tetap di rumah saja. Menekan seluruh hasrat dan keinginan untuk keluar, dengan alasan apapun. Lalu berteman lebih dekat dengan gawai. Televisi, komputer, ponsel, telah menggantikan aktivitas membaca, berhitung, menulis, berenang, bersepeda. Ya, mereka kini harus belajar dan bermain dalam dunia virtual.

"Kau sangat ingin melihat purnama?"
"Satu dari sekian yang kuimpikan."
"Beberapa hari ke depan, saatnya dia muncul agak larut. Semoga di keesokan harinya aku bisa mengantarmu menemuinya."
"Semoga."

Langit mulai kemerahan di ufuk timur. Daun-daun bergoyang bergesekan karena hembus angin. Di langit sebelah barat bulan masih bundar. Meski tak seterang malam sebelumnya.

"Hey, bukankah itu purnama?"
"Kau suka?"
"Lebih dari segala yang kurindukan."
"Pandanglah berlama-lama. Karena waktumu tinggal beberapa saja"

Ya. Bumi mungkin sedang berduka. Dan manusia-manusia sedang berpuasa. Tak hanya menahan lapar, dahaga, dan amarah. Juga bersabar untuk hidup berdamai dengan keadaan. 

Dan di balik ini semua, alam seperti terlahir kembali. Matahari muncul disambut udara bersih tanpa polusi. Awan putih berarak pelan seperti berpawai, menjelajah bebas tanpa kemacetan lalu lintas langit. Puncak-puncak gunung yang berpasir kini terlihat lebih jelas, dengan kabut cincin yang mengelilingi lembahnya. 

Sungguh, Tuhan menegur sekaligus menunjukkan mujizat dalam waktu yang bersamaan.

"Hallo."
"Hey."
"Apa kau belum lupa?"
"Hanya ingatanku yang akan mengabadikanmu."

Berlarian bergandeng tangan mengejar fajar. Tersenyum mengintip cahaya yang menerobos sela-sela ranting dan pepohonan. Berlomba dengan bulir sisa hujan semalam menggapai pucuk bunga soka. Lalu saling unjuk kemilau di tubuhnya yang terbias cahaya surya.

"Terima kasih masih di sini. Jangan pergi"
"Aku tak akan pernah kemana-mana. Masih mau menemaniku?"
"Tak perlu meminta."
"Terimakasih, Pagi."
"Aku menyayangimu, Embun."




Supermoon 2020



Rabu, 06 Mei 2020

Jaman semana
Agawe wong ketaman asmara
Saben dina sing diarep-arep mung layang kangen
Kaserat ing ukara tresna

Ati kang nandang wuyung
Arep sambat karo sapa
Isane mung ngudarasa

Njur saiki?

Tak tandur pari
Jebul thukule suket teki
Wis kadung cidra
Piye lehku njogeti patah hati?








Rabu, 29 April 2020

Tak perlu bercerita
Tak semua mau mengerti
Jangan iri
Hidup kita tak lebih berat dari mereka kan
Tak usah cemburu juga
Boleh jadi pura-pura bahagia mereka yang terlalu

Diamlah
Kata-kata sudah lelah
Tanda tanya hanya memenuhi lembar jawab yang kosong belaka
Spasi pun makin menjarak seluruh bait

Tak perlu lagi berkreasi dengan linimasa
Toh tiap alinea hanya berkoma luka

Bila masih mampu berharap sebuah titik
Untuk akhir cerita yang lebih baik
Rangkumlah dalam hati saja
Simpulkan pada paragraf do'a
Biar rasa yang berdialog dengan sendirinya

Kita sudah terlalu patah
Untuk berima
Puisi sedang berpuasa





HariPuisiIndonesia


Minggu, 22 Maret 2020


Jauh sebelum sekarang, saya mengenal diri sebagai tipe 'orang rumahan'. Kamar adalah ruang paling favorit bagi saya. Berasa bebas beraktivitas, tak berbatas gerak dan suara. Membaca, menyanyi, berpuisi, menari, bercermin, menangis, tertawa, berbicara sendiri, apa saja saya lakukan tanpa ada rasa takut ditegur atau diteriaki gila. Buku, lagu, film, bantal, kacang kulit, biskuit, teh hangat, soft drinks, maka segala waktu menjadi homy bagi saya.

Jauh sebelum saat ini, saya selalu tahu jarak adalah jeda saat lelah. Bukan untuk berhenti, sekedar beristirahat untuk melanjutkan segala yang belum selesai. Butuh sejenak -atau selama apa mau dan bisa- menarik diri dari kerumunan. Karena hening yang bermakna, sejatinya lebih riuh dari kenyamanan itu sendiri.

Dan kita? Sudah sejauh itu untuk menjadi sedekat ini. Dan jarak? Lagi-lagi menjadi cara bekerjanya hati. Kadang merupa bilah pedang menusuk diri, menumpah darah, hampir mati menginginkan sesuatu terlalu. Dan bilah sisinya, adalah ladang sabar yang tak berbatas, untuk belajar menunggu sampai apa waktu menebas menguji sebuah rasa dan harap.

Bila kini semesta meminta #StayAtHome dan #SocialDistancing, maka saya menghela nafas berat dan panjang. Berharap hidup masih menyisakan kesempatan. Untuk menyeduh teh saat senja, merenda benang kasih yang kusut belum terpintal, mengucap cinta dengan lebih baik dan benar, menjaga rasa yang sering teraduk oleh emosi dan ego, menulis cerita dan membacakan lagi saat tua, dan melanjutkan mimpi untuk menua bersama. Berharap semesta masih mengaminkan segala yang disemogakan.





PrayForUs

Kamis, 19 Maret 2020

Aku meneriakimu pada bulan sabit yang kepagian
Menatap awan putih menggumpal berarak mengantar fajar
Memandang pematang, menapaki tangga demi tangga
Sawah padi yang belum menguning
Tak peduli kaki berlumur lumpur

Aku memanggilmu di antara riak sungai mengalir
Menyibak anak rambut yang terburai dari jepit tudung hitamku
Menahan isak agar tak lepas
Meski tangis terjeda oleh nafas

Aku merintih di rerimbun gubuk tua
Bertanya apakah pagi masih hendak membawa harap

Aku bersenandung di antara ilalang
Mengejar belalang hinggap dan capung yang terbang
Sekedar ingin membisik
Tak ingin kah kau sapa lagi aku dengan cumbu sesejuk pagi
Masih bolehkah kutawarkan secangkir teh sehangat senja

Lalu aku tertunduk
Di sesela bulir embun di pucuk perdu
Kusingkap jubah berkabungku
Untuk bisa menyentuh dan bercengkerama
Tak kau simpankah semili saja rindu
Yang dulu kau bilang tak kan pernah habis
Meski kau tumpah hamburkan selama apa

Aku melenguh
Pagi beranjak
Dan cinta, merupa mimpi yang kesiangan

Minggu, 08 Maret 2020

Sabtu, 07 Maret 2020


Five years together...
Through joy and pain
As you got my back and I got yours
Never a day goes by you don't wonder me with your laugh, cries, cheers and illness
Thank you for walking this journey with me
And for many more steps along the way
Hand in hand
Heart in heart

Grow happily, son 


Rabu, 04 Maret 2020

Ini kenapa sudah GMT
Masih aja selisih sehari

Setting date n time both
Manually n automatically
Lagi?


Selasa, 03 Maret 2020

Rumput basah
Trotoar pun tergenang
Derasnya terlalu
Andai bisa kugores di buram kaca jendela
Yang tereja pastilah namamu

Sayangnya,
Kali ini aku tak ingin berhenti
Mengikuti kata hati kemana kaki melangkah

Berharap hujan tak ingin reda
Biar deras tangisku bebas
Tersamar oleh dentum rinainya
Tak berima, hanya menyayat

Kuminta dingin menjajah tubuhku
Mencairkan segala angkuh
Menginginkanmu terlalu

Sayangnya,
Hujan enggan reda
Ego makin membeku
Membatu

Jalanku menggenang
Derasnya terlalu
Bulir-bulirnya membesar
Merupa matamu

Bagaimana hujan bisa menghapus jejak
Yang ada makin menuntun menujumu
Bagaimana mampu dia mengusir rindu
Yang ada makin ruah
Menumpah






March 4
Cloudy drizzly Wed









Jumat, 28 Februari 2020


Titip Cerita pada Hujan Bulan Pebruari


Gerimis mulai membasahi sebagian tepi balkon. Para pemilik atau pekerja sawah yang tadinya masih bercengkerama di gubuk itu, sudah tak terlihat lagi. Kawanan burung walet, sriti, srigunting, atau apalah menyebutnya, yang biasa terbang berputaran di atas sawah saat sedang mendung, lenyap sudah entah pulang di mana sarangnya. Yang selalu nyaring hanyalah suara riak sungai di bawah sana. Bahkan saat hujan deraspun, masih kalah oleh derunya.

Yang masih tetap berdiri di sana -dari balik tirai aku menatap- menyandarkan kepala pada tiang pembatas balkon, perempuan itu. Berbaju warna dasar oranye, kembang-kembang merah dan sulur putih, dengan bawahan celana warna abu tua. Seperti ingin menyembunyikan muka, badan, dan kakinya-pun seluruh isi hati dan pikirannya sebisa- di sudut balkon itu. Tak jelas apa yang sedang ditatap dan bagaimana mimik rautnya. Sedang sedih atau bahagiakah.  Boleh jadi angannya penuh dengan 'terimakasih Tuhan, masih Kau ijinkan di sini lagi.. ' atau 'kenapa harus di sini lagi.. ' atau entahlah.

Aku sudah terlalu lelah dengan semua keluhannya. Tentang komunikasi, inginnya,  butuhnya, dan segala keberatannya. Tentang menunggu, mengharap, dan rasa kehilangannya akan hadirku,  kabarku,  dan keberadaanku. Semua yang aku beri dan lakukan seperti tak pernah ada arti untuknya. Aku tak pernah bosan meminta maaf untuk ketakberdayaanku menjadi seperti yang diinginkannya. Meski sering juga aku merasa enggan. Bagaimana sih rasanya telah melakukan semuanya, tapi selalu berbuah complain. Yang akhirnya membuatku selalu merasa salah dan kurang.

***

Assalamualaikum..
Mowning..
Semoga hari ini membawa berkah sehat untukmu, dimudahkan segala urusanmu, diijabah semua panjat dan inginmu

Ringan sekali aku menulis pesan pagi untuknya. Selalu ingin menyapanya. Sekali, berkali-kali, setiap pagi.

Sempatkan makan,
Sempatkan shalat,
Selalu hati-hati..

Seringan mengingatkannya di setengah siang, sore, dan malamnya.

Hujan..
Raincoat  nya dibawa kan?

Sesekali karena sesuatu hal aku melalaikan pesan-pesan semacam, maka selisih paham tak dapat dihindari, dan pasti akan berlama-lama tak saling bertegur. Keluhan demi keluhan yang kata dia 'Aku tak pernah meminta. Tapi kamu membiasakan sesuatu yang membuatku terbiasa.. " makin hari makin mewarnai cerita kami.

Sampai suatu saat dia merasa aku telah banyak berubah.
"Ngapain aja dulu kamu bisa bikin aku berbunga-bunga setiap saat.. " Ujarnya.
Dan dia selalu menceramahiku dengan kalimat "distance doesn't ruin relationship. Communication does.."

Atau "indikasi peduli itu ada pada range satu sampai tiga jam. Menunggu kabar di sela itu masih berbilang wajar. Hilang tanpa kabar lebih dari tiga jam, seorang penunggu akan berada pada batas ambang ketidakwarasan"

Atau "good friends will find good times to talk to you, while the loving one will spend  even in their busy time to talk to you. Know the difference"

Jujur saja, aku sering tidak sepakat dengan kalimatnya yang mengataiku "Saat aku butuh kamu kemana? Hancur hidupku kalau semua harus menunggu kamu bisa. Sedang kamu ga pernah sedikit saja memaksa untuk ada dan bisa". Lebih-lebih istilah "ilang-ilangan" yang selalu dia gunakan untuk melabeliku.

Yang lebih sakit saat dia mengataiku 'mengabaikan dan melupakan' karena rasa takutnya cintaku padanya akan berkurang. Sedang aku sudah pernah menjelaskan "Bagaimana aku bisa melupa, sedang saat terlelap dan terbuka mataku, yang ada hanya kamu. Satu-satunya yang aku maknai sebagai cinta"

Sering aku memilih diam sekedar untuk menghindar dari adu argumen yang tak perlu. Dan sering pula aku lalu pergi, karena merasa tak mampu meyakinkan.  Tapi dia selalu datang. Menawarkan uluran tangan untuk melangkah bersama "Let's make it. Hold my hands. Walk together for a better us"


***

"Aku mengenalmu sebagian, dari tulisan dan ceritamu. Atau, aku mengenalmu seluruh, dari tulisan, dan cerita-ceritamu. "

Kalimat itu dielaknya. Dia selalu menyebutku menilai, menyimpulkan tentangnya. Dia memberitahuku, dia menulis tak untuk diartikan tentang dan untuk siapa tulisannya.

Dia mengataiku "Kamu mengenalku saat ini. Saat itu? Kamu bahkan tak punya ide aku adalah siapa dan seperti apa"

Bahkan dia pernah berkata "Coba kalau yang bicara sembarangan itu orang di luar sana, sudah pasti aku gampar.. " yang membuatku bersumpah, memohon maaf sambil mencium kakinya, untuk tak akan lagi mengungkit cerita tentang seseorang yang pernah aku lihat di simpanan gambar dan percakapannya, yang aku simpulkan 'Oh.. He's the man'

Dan aku pernah mengucap "Aku akan belajar untuk segera beranjak dan keluar dari kubangan pikiran sempitku sendiri.."

***

Dia duduk perlahan di salah satu kursi balkon,  digesernya untuk menghadap meja, membuka bungkus makanan. Aku perhatiakan setiap gerakan tangannya memungut nasi, sayur, lauk, lalu memasukkan ke mulutnya. Dia banyak tertunduk. Ya, tak seperti biasanya, kita makan sambil bercerita tentang banyak hal. Hanya beberapa suap, dia lalu berdiri dan mencuci tangannya. Sempat terlihat di cermin matanya berkaca-kaca. 

Lalu dia memilih duduk perlahan di tepi matras berseprei offwhite itu. Aku menarik kursi rotan sintetis warna coklat ke depannya, dan duduk menghadapnya.

Mungkin sore itu dia ingin menunjukkanku, ini waktu bicara kami-atau dia lebih tepatnya- yang terakhir. Yang aku ingat saat itu dia berkata pelan-pelan. Kalimat demi kalimat.. 

"Aku hanya sendiri. Sudah terlalu banyak yang harus aku pikirkan. Aku lelah. Aku butuh dikuatkan. Kalau kamu masih mau melemahkan aku dengan pikiran dan prasangkamu, maaf aku sudah ga bisa terima lagi. "

Agak lama aku terdiam. Lalu aku tanya "Kamu ingin pamit? "

"Ada kalimatku mengatakan itu? " balasnya. 

Aku menggeleng.

Dia meneruskan "Aku ga mungkin menghabiskan sisa usiaku untuk mengklarifikasi kesalahan-kesalahan yang ga pernah aku lalukan, tapi selalu kamu munculkan dari pikiran dan prasangkamu sendiri. "

Dan ujung dari semua rasa terpuruknya, diungkapnya "Tanggung kalau cuma delete contact dan pergi sejauh umrah. Sudah habis kata, pikiran, hati dan hidupku. Tembak saja aku. Tak perlu membunuh aku pelan-pelan"

Dan.. Ya.. Aku diam. Aku tak sanggup menyanggah, membantah apapun yang dikatanya. Aku mengendap seluruh rasa, pikir dan anganku sendiri. Aku menahan seluruh sesak, sebisa mungkin tak terlihat menitikkan air mata di depannya. Lelaki pantang menangis di depan perempuan yang dicintanya. 

Sungguh.. Di hati kecilku berbisik..Aku ingin mencintanya dengan sederhana. Sesederhana aku melihat, mengenalnya, mengagumi, lalu jatuh cinta padanya, seperti saat itu. 

Tapi sungguh.. Dengan berjalannya waktu, semua rasa, ingin, butuh, seperti menjadi kompilasi alur yang tak mudah aku kendalikan lagi. Sesering aku memberitahunya 'aku mencintamu tanpa syarat. Tanpa syarat' sesering itu pula aku mencederai kalimatku sendiri. Karena sampai di sini, aku masih saja menilainya. Tak mampu mengolah egoku sendiri, untuk melemahkannya lagi, menengok ke masa lalunya yang aku tak tahu sebenarnya, tapi selalu merasa tahu.

***

"Boleh ngga jatuh cinta sama yang kerudung merah? " Tanyaku saat dia mengirim gambar duduk bersebelahan dengan teman wanitanya di sebuah acara. 

"Tolong bisikkan di telinganya" Lanjutku,
"Demi Allah, aku selalu memintanya di baitullah. "

Dia membalas "I can't say a word.. "

Batinku 'tak perlu bicara. Aku tahu aku cinta. Bahkan sejak awal aku hanya ingin menyimpan tanpa memberitahumu tentang rasaku. Aku ingin mencinta sendiri. Aku bahkan tak pernah berpikir akan kau balas seperti apa rasaku bila kau mengetahuinya. Dan benar saja, seperti mimpi, aku masih seperti tak percaya.  Kau membalas anugerah rasa ini dengan cinta yang luar biasa'.

Ya, seringkali aku meyakinkan diriku kamu cinta. Tapi kalimat dan sikapku sering kau terjemahkan aku selalu ragu padamu. Sering kau mengeluh tak mampu menunjukkan rasamu. Katamu aku hanya sibuk meyakinkanmu bahwa aku cinta. Tapi aku tak sedikitpun memberi ruang hatiku sendiri untuk meyakini kamu cinta.

"Terimakasih masih buatku menangis setiap selesai shalat. " Kataku waktu itu
Pun aku pernah bercerita padanya bagaimana aku memohon ampun pada Tuhan "Aku mencintanya tanpa mampu membahagiakan. "

Masih terus kuingat tulisan bergambar itu 'A woman won't change a man because she loves him. A man changes himself because he loves her'

Dan masih kuingat dia berucap "Aku sudah menjauh dari segala kerumunan. Keluar dari semua grup sekolah dan kampus. Aku tak lagi butuh hiburan, untuk sekedar ber-hahahihi di tengah malam sepiku. Setidaknya untuk memberitahumu, tak ada lagi yang aku tunggu dan cari dalam hidup. Cuman kamu. "

Sebegitu jelas dia menegaskan segala rasanya padaku. Tapi entah, selalu ada saja yang membuatku merasa lemah. Tak mampu menjadi seperti yang dia mau. Selalu berpikir ada dia atau mereka yang lebih mampu membuatnya tersenyum dan bahagia.

"Jangan berubah. Tetaplah menjadi kamu. Kamu yang dulu. Yang selalu ceria, hangat pada siapa saja, dan penuh cerita." pintaku,

"Kamu ga perlu meminta. Aku yang harus merubah diriku sendiri. Biar kamu yakin, aku tak pernah butuh dia atau mereka,  yang katamu akan mampu membuatku tersenyum lebih bahagia." sergahnya.

"Mereka mencari, rindu kamu. Bukalah media sosialmu. Kembalilah pada mereka. Unfollow saja akunku. Mereka menunggumu untuk berbagi senda tawa" pintaku lagi

Dia tak lagi bicara. Karena sebelumnya dia telah menjelaskanku "aku sudah berhenti menulis, semua media sosial aku deactivate,  aku juga sudah menghapus semua tulisanku sebelum kamu ada. Aku sisakan cerita yang aku tulis sejak kamu datang, sampai hari ini. Hanya cerita tentang kamu. Aku berharap kamu segera lelah dan berhenti menilai diriku"

***

"Aku melihat kau di pintu Rumah Sakit. Aku masih berdiri di sini sekarang. Aku ingin tahu, ingin lihat.."

"Ingin tahu apa? Lihat apa? " Tanyanya.

"Boleh aku jenguk? "

"Untuk apa? Menyalahkanku lalu pergi lagi? "

Ya.. Aku. Aku yang sejak awal selalu takut kehilangan. Selalu berpikir dia akan meninggalkan. Tapi aku. Aku sendiri yang selalu tiba-tiba ingin hilang dan pergi.

Aku yang selalu menanya 'kamu lelah? Cape? " saat dia mulai mengeluh lagi tentang komunikasi. Dan lagi, ya. Selalu aku yang lalu pergi. 

Dan saat dia berkata "Ga perlu datang lagi kalau cuma untuk menambah sakitku. "
Saat itu juga aku memberitahunya "Demi Allah aku ga akan menyakitimu lagi. "
Lalu pergi.

Kenapa tak terpikir olehku bahwa saat itulah justru aku menyakitinya paling sangat. Ah biarlah. Toh aku sendiri sudah sangat tersakiti dengan semua ini.

***

Aku memegang selang dan flash infus, sedang mama membimbing gerakan memasukkan lengan papa satu persatu. Hampir selesai kami membantu papa ganti pakaian, terdengar pintu diketuk.

"Assalamualaikum.. "

Mama bergegas membuka pintu. Perempuan itu masuk dan mencium tangan mama, lalu pipi kiri dan kanan mama. Berjalan menghampiri papa, lalu mencium tangan papa yang masih tertanam jarum infus, sambil bertanya "Sakit apa om? "

Aku terhenyak. Bertanya-tanya sedang apa dia di sini. Dari mana dia tahu papaku sedang dirawat di sini. Kenapa dia berani masuk ruangan ini. Sedang aku saja tak punya keberanian untuk menjenguknya saat tahu dia sedang terbaring di bangsal yang sama.

"Masih hujan. Aku antar ya.. "

Kubuka pintu kiri depan. Dia masuk. Duduk menyandar. Tak begitu jelas menatap wajahnya dari samping, bahkan masker itu tak sekalipun dilepasnya sejak masuk ruang rawat papa tadi. 

Akupun banyak terdiam di balik kemudi. Sesekali menanyainya "Dingin? " Lalu memutar tombol pendingin ke suhu yang mungkin akan membuatnya lebih hangat.

"Pusing? " Tanyaku. Dia hanya menggeleng.

Aku melirik tangan kanannya yang dia katupkan ke tangan kirinya. Sambil mendekap tas itu -bergambar perempuan berkerudung dengan caption 'And Allah knows what you conceal and what you reveal'-

Ya tangan kanan itu. Tangan yang biasa menggenggam tangan kiriku. Tapi aku tak kuasa melakukannya lagi. Bahkan tak terpikir olehku untuk menjulurkan, menawarkan, mungkin dia butuh genggaman untuk menguatkan, mengusir sakitnya, dan memulihkannya.

Aku sering merasa bodoh, tak mampu memaknai pandangan mata dan isak tangis perempuan. Tapi sesering itu pula aku selalu mengingkari, lelaki bisa lebih sedih dari apapun.

Terakhir terdengar lirih ucapnya "Ngapain kamu tadi di situ.. "

Tapi begitu aku bertanya kenapa, dia hanya diam. Tak berusaha mengulang kata.

Andai aku masih mampu meraih tangannya. Ingin kubisikkan pelan seperti waktu itu "Jangan pulang dulu.. "

Tatapannya lurus ke depan. Tubuhnya terlihat sangat lemah. Mungkin banyak yang ingin diucapnya. Tapi seperti yang sudah-sudah. Kenapa aku selalu lebih dulu menyimpulkan dengan pikiranku sendiri, sebelum banyak hal tak sempat tersampaikan olehnya.

Mungkin bila saat itu ada petugas pemutar lagu, dia akan memilih lirik;

Kau datang dan pergi oh begitu saja
Semua kuterima apa adanya
Kupegang erat dan kuhalangi waktu
Tak urung jua
Kulihatnya pergi

Gerimis belum mau reda. Dan dalam kesunyian itu, boleh jadi dia lebih memilih lirik;

Bersamamu
Kulewati lebih dari seribu malam
Bersamamu
Yang kumau namun kenyataannya tak sejalan
Tuhan bila masih ku diberi kesempatan
Ijinkan aku untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biar cinta hidup sekali ini saja





My Season 3, Chapter 2, Page 29
February 29, 2020
Pray

Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...