Rabu, 13 Mei 2020



Apa kabar Ramadanmu? Masih sama? Atau seperti yang dibilang orang kebanyakan 'Ramadan kali ini benar-benar berbeda'?

Kamu usia pelajar yang harus menuntut ilmu di kota atau pulau lain. Yang karena aturan Pemerintah tidak bisa pulang kampung halaman. Rindu masakan ibu dan suasana puasa di kampung?

Kamu tenaga medis yang waktunya habis di Rumah Sakit karena harus merawat dan memperjuangkan nyawa sesama?

Kamu orang tua yang baru saja ditinggalkan anak-anak yang tinggal di kota lain bersama keluarga barunya?

Kamu karyawan yang baru saja dirumahkan?

Kamu tak mampu bekerja karena; lagi-lagi aturan Pemerintah untuk di rumah saja?

Kamu pengelola tempat makan, warung kopi yang harus menutup gerai karena selalu jadi pusat kerumunan?

Kamu ada di posisi yang mana?

Ya, untuk mereka semua tentu Ramadan kali ini berbeda, sangat berat mungkin. Bisa jadi yang paling berat dari sebelum-sebelumnya.

Tapi bagi sebagian orang, yang sudah terbiasa berbuka, tarawih, membaca al-qur'an, dan makan sahur sendiri, tentulah ini Ramadan yang masih tetap sama. Meski tak pernah ada ucapan selamat berbuka, asal bisa bertemu kurma dan senja Ramadan, semesta seolah menggenggam tangan "Mari sini, melangkah bersamaku. Kau harus menikmati indahnya perjalanan ibadah ini." Bahkan lebaran tanpa Shalat Ied dan acara sungkeman bersama keluarga pun sudah sangat biasa.
 
Pemandangan yang sering kita lihat belakangan; Berbagi menu buka, mengucapkan selamat berbuka, selamat makan sahur, dan sekedar bertanya kabar, hanya bisa lewat layar. Melihat mereka semua tersenyum, baik-baik saja dan sehat, haru dan bahagia lalu tercipta. Meski teknologi tak akan bisa menggantikan sentuhan kasih. Setidaknya, yang jauh bisa berasa dekat.

Dengan pakaian bersih berpeci, atau mukena dan sajadah melambai-lambai di layar "yuk tarawih dulu". Bahkan dengan merangkul yang disebelahnya -yang katanya sudah tak dicintai sekalipun- bisa dengan mudah memperlihatkan di depan banyak orang, demi disebut 'keluarga yang utuh'.

Mungkin dengan gawai, rindu, bahagia, dan segala bentuk percakapan secara virtual dan daring bisa diciptakan. Tak akan ada yang tahu itu sebuah kebenaran atau kepura-puraan belaka. 

Lalu bagaimana dengan cinta? Bisakah ditunjukkan dan dirasakan secara online?

Cinta dan ibadahmu biarkan menjadi rahasiamu dan Tuhanmu saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...