Jumat, 28 Desember 2018

"Nak Tuty, mau naik ke atas? Tolong sekalian bawakan ini untuk Aya."
"Baik tante."
Berhati-hati sekali dengan piring kecil putih berisi 3 buah kroket kentang dan 2 biji cabe rawit hijau di tangan kiri, tangan kanannya berpegangan pada pinggiran anak tangga.

"Hey, sudah lama?"
"Baru aja. Makanlah Ay. Ibumu bilang kemarin siang melihat kau terakhir makan."
Aya terkekeh "Ah, mama selalu lebay. Begitulah orang Jawa. Kalau belum nyentuh nasi dibilangnya belum makan."
"Hayuk sini kutemani. Ini kue kegemaranmu kan."
Mengambil sebuah kroket kentang, Tuty memperhatikan wajah Aya. Pandangannya yang jauh dan tampak kosong.
"Enak loh. Sumpah." Sambil menyodorkan piring ke arah muka Aya.

Aya hanya tersenyum,
"Aku belum lapar." ujarnya pelan.
"Ingat kesehatanmu Ay. Lambungmu."
Aya menoleh ke arah Tuty. Memandang wajah sahabatnya. Yang selalu sabar mendampinginya dalam kondisi apapun. Meski dia sendiri seringkali diterpa beban hidup yang tak pernah ringan.
"Kau makanlah yang banyak. Biar ga kurus terus."
"Hahaha. Aku mah selalu makan banyak. Emang bawaan lahir. Gak pernah bisa gemuk."
"Hehehe. Dasar cungkring."
"Biarin. Yang penting hidup."
Lalu mereka berdua terbahak.


"Ma, aku sudah belajar dan makan malam. Kata eyang uti aku boleh temani mama di balkon."
"Ini sudah malam nak. Pergilah tidur. Ada tante Tuty bersama mama."
"Sana mau bobo sama tante?" Tuty menawarkan
"Terima kasih tante. Temani mama saja. Aku bobonya sama eyang uti. Mama buruan makan terus istirahat ya."
Aya mengangguk. Tersenyum melihat Sana bergegas turun.


"Makanlah Ay. Lihat anakmu. Dia butuh kau sehat."
"Dia sehat. Sudah remaja, dan sangat mandiri. Aku selalu mengajarkan dia life is hard. Sejak kecil aku perlihatkan dia gambar hidup yang kita temui di swpanjang perjalanan berangkat maupun pulang sekolah. Si tukang sapu, penarik becak, pak sampah, atau seorang ibu yang sedang mengayuh sepeda, dengan dua orang anak di boncengan belakang, dan sebuah kantung plastik besar berisi kerupuk tergantung di setang kanannya. Dia selalu bergumam "Kasihan ya..."
Berharap dia mengerti semua jerih payah ibunya hanya untuk kehidupannya yang lebih layak. Dan aku tak akan pernah kuatir. Jika saatnya aku meninggalkan dia, Tuhan sudah menyiapkan orang-orang terbaik untuk menjaga Sana."
"Ay...Please. Ngomong apaan sih?"
"Iya kan. Kamu dan mama selalu maksa aku makan biar aku gak mati kan."
"Aya...Boleh aku tahu apa yang ada di pikiranmu sekarang?"
Aya diam. Menarik nafas panjang. Kemudian menghembuskannya perlahan.

"Jujur Ty, habis pikiranku untuk yang lain. Semua hanya terkuras olehnya. Saat dia berhenti menyapa dan bertanya, sejak itu pula nyawaku berasa berkurang. Kenapa dia tak pernah tahu bahwa caranya mengingatkan aku untuk tak terlambat makan, beribadah dan selalu berhati-hati di jalan adalah semangatku untuk tetap hidup."

Aya berdiam lagi sesaat
"Saat dia diam, aku selalu didera perasaan takut. Apa aku salah bicara? Bersikap? Dan itu semua membuatku berpikir, kalimatku tentang 'komunikasi itu harta kita yang paling berharga dan sangat penting untuk dijaga' gak pernah ada artinya. Kau pernah merasa yang sama?"
"Hmm...Dulu. Saat itu. Tapi tau kan aku seperti apa. Selalu meledak-ledak saat itu juga. Gak pernah menyimpannya lama-lama seperti kamu gini."
"Iya iya. Begitu emang orang Madura."

Lagi. Mereka terbahak. Dan piring di meja itu telah kosong. Tuty tersenyum puas melihat sahabatnya tanpa sadar melahap isinya.

"Lalu...Sampai kapan kau akan begini Ay?"
"Entahlah. Aku sepetti hanya bisa menghakimi diriku, tak mampu menunjukkan segala rasaku padanya saat dia selalu merasa mencinta sendiri."
"Ah, itu mungkin hanya perasaanmu saja Ay. Kau pernah sampaikan padanya?"
"Tentang apa?"
"Kau cinta."

Aya tersenyum sambil menggeleng
"Hah? Tak pernah kau katakan kau cinta dia?"
"Tak pernah sekali. Mungkin sudah ribuan kali."
"Ooh...Lalu kenapa bisa dia masih merasa mencinta sendiri."
"Itulah. Saat dia berkata 'aku masih di sini. Tengoklah sesekali, saat kau butuh nanti. Atau saat sekedar rindu' aku selalu lunglai. Berasa berkurang satu lagi nyawaku Ty. Seperti aku tak pernah mengucap 'aku butuh' dengan kata-kata."

Meraih cangkir di depannya. Terlihat tangannya sedikit gemetar. Tuty hanya menunggu. Sangat tahu Aya masih akan melanjutkan sesuatu

"Waktu dia bilang 'lanjutkan. Berbagilah sapa, tawa dan cerita dengannya. Berbahagialah dulu' Tahu? Tahu kan Ty? Berkurang lebih banyak lagi nyawaku. Aku tak pernah berhenti menyampaikan 'sudah tak ada lagi yang aku cari dan tunggu dalam hidup. Aku menolak untuk sehat sendiri, mengusir sedih sendiri, dan menciptakan bahagia sendiri' Aku ingin semuanya bersama dia Ty."

Tuty sedikit mengalihkan pandangannya jauh ke rerimbunan gelap di bawah sana. Berusaha menyembunyikan isaknya yang hampir tumpah. Sekuat tenaga dia menahannya. Dia ada untuk menguatkan sahabatnya.

"Ay...Hentikan kesedihanmu. Yakinlah kau dicinta."
"Iya. Itu yang membuatku bertahan sampai saat ini."

"Boleh kuambilkan teh panas lagi?. Cangkirmu sudah kosong."

Aya tersenyum. Menyaksikan sahabatnya memungut piring, cangkir yang telah kosong dan berjalan menjauhi tempat duduknya. Sebelum Tuty melangkah turun,

"Ty..."
Tuty hanya tersenyum. Seperti mengiyakan tatapan yang tanpa bahasapun telah bisa diterjemahkannya. Dalam hati Tuty berkata "Aku sangat tahu kau menyukai hening. Pasti aku segera menekan saklar. Agar kau menikmati sendirimu hanya dengan cahaya bulan"

Aya pun tersenyum. Sebagai ungkapan terima kasih tanpa terucap.

Selasa, 25 Desember 2018

Hey mendung,
Sampai kapan kau kuat menggantung?
Tak ingin tumpahkan saja air mata langitmu
Atau biarkan angin meniupmu jauh
Berpindah
Dan sekejap melenyap

Masih kau simpan bait cinta dan bait do'a itu?
Atau punah bersama masa
Enggan merangkaikannya lagi?
Atau
Masih setia tereja di hati
Di sudut-sudut hening saat sajadah menggelar senyap

Terimakasih mendung
Kau bentangkan muram
Hingga aku tak mampu lagi meratapi jarak
Karena hanya dia yang mengajarkan

'Tumpahkan tangismu bersama hujan
Hingga kau tak dapat membedakan bulir air mata dan rinainya
Biarkan jatuhannya menderas, meriuh
Mengalahkan segala penat hatimu menabung rindu'

Hey...
Kau tak lebih mendung dari aku kok






Cloudy Rhyme
Tuhan terimakasih
Kau bangunkan aku
Kau buka mataku kembali
Kau beri nyawa
Untuk bertemu pagi
Menyaksikan malaikat kecil itu bergelung dan mrndengkur di pembaringan kami

Terimakasih
Masih Kau beri waktu
Kesempatan untuk bersimpuh
Menguntai syukur tak terhingga
Untuk segala yang terbaik kemarin
Hal yang mengelilingi
Dan segala perasaan yang melengkapiku

Ijinkan aku hanya sibuk
Menghitung satu persatu berkahMu
Sampai lupa cara meratap
Merasa bersalah dan berduka

Tuhan
Terimakasih untuk setiap hari yang begini






Wake up Rhymes

Kamis, 20 Desember 2018

"Hey...Bangun?"
"Jam berapa ini?"
"Sembilan."
"Sudah isya'an?"
"Sudah. Aku setrika seragam dulu ya..."
"Biar aku saja. Kamu tunggu bakso lewat. Aku setrika sebentar. Terus isya'an. Sekalian aku buatkan teh panas. Lalu kita makan bakso di teras."
"Baiklah. Terima kasih."





Hanya bait tentang rasa aman dan nyaman yang ditawarkan malam

Kamis, 13 Desember 2018

"Assalamualaikum...Good morning cinta."
Menempelkan pipinya di ujung daun pintu kamar. Tersenyum Aya melihat lelaki yang dikasihinya sedang menggeliat.

"Jam berapa ini?"
"Jam enam lebih sedikit."
"Kok aku ngga dibangunin? Subuhku lewat dong."

Menghampiri tepian ranjang Aya berkata
"Sampun sayang. Kamu tidur lima belas menit sebelum subuh. Setengah jam lewat adzan aku bangunin. Tapi kamu tidak bergerak sama sekali."

"Hujan?"
"Dari subuh tadi deras. Sekarang tinggal gerimis."
"Raincoatmu?"
"Sudah siap. Tidurlah lagi, aku mau bikin sarapan sebentar."

Yoga menarik tangan Aya yang hendak beranjak
"Ay...Biar aku saja. Mandilah sana. Saat kamu kerja aku punya banyak waktu untuk tidur lagi."
"Baiklah. Terimakasih."






Hanya tentang kesederhanaan pagi
Dec13, 22.28


Selasa, 11 Desember 2018

'Lengang sekali kota ini. Jam berapa sih ini' pikirku. Melihat bangunan demi bangunan yang berjajar di sisi kiri kanan sepanjang jalan yang kulalui. Kulirik jam tangan menunjukkan pukul 21.26

'Ah masa iya semua orang sudah tertidur, sedang balita ini baru saja berteriak nyaring di seberang telepon "Mama di mana? Kerja malam tah? Aku mau dijemput"

Penjual gorengan di tepi jalan sedikit menarik perhatianku. Dengan etalase kecil, berukuran tak lebih 1mx50cmx50cm dengan kaki-kaki setinggi 50cm di atas trotoar. Sepasang suami istri di baliknya, terlihat duduk di pinggiran pagar rumah besar tepi jalan itu. Sang istri seperti sedang mengatakan sesuatu sambil melihat ke arah suaminya. Dan sang pria tampak membalas bicara, tanpa memandang balik, hanya melihat layar ponsel yang dipegangnya. Dengan penerang bohlam 5watt, tak banyak isi etalasenya. Tapi mungkin berusaha bersabar, siapa tahu masih ada pembeli yang datang.

Memasuki area perumahan, makin lengang saja jalan yang kulalui. Hanya lampu jalan dan teras rumah-rumah yang menyala, tapi tak tampak lebih terang bagiku. Atau mungkin karena penglihatanku yang makin berkurang. Mobil-mobil yang terparkir di sepanjang jalan, yang sudah tak kebagian tempat karena garasi telah terisi, juga kadang menghalangi pandanganku.

Mengamati sebuah rumah besar berlantai tiga, bercat warna coklat muda, terlihat begitu temaram. Hanya lampu teras depan dan teras lantai paling atas yang masih menyala. Bergumam 'apa penghuninya sedang terlelap sambil memeluk pasangan yang dikasihinya. Ataukah sedang bercanda dengan anak-anak sambil melihat tayangan televisi kegemarannya. Atau sedang berkumpul semua anggota keluarga menikmati makan malam yang sedikit larut'

Ah...Kedua mataku terasa menghangat. Berpikir 'rumah mana yang di luar dan dalamnya menjadi baiti jannati bagi penghuninya.

"Jangan ngantuk nak. Susah mama nyetirnya nanti."

Tak putus berdo'a dalam hati semoga Tuhan melindungi perjalanan kami. Sambil terus mencari lagu untuk dinyanyikan bersama. Menunjuk-nunjuk sesuatu untuk dijadikan objek perbincangan.

Tak lama isakpun tak mampu terbendung. Merasakan lengan kiri yang makin berat menahan kepala balita yang tak kuasa mengusir lelapnya. Dan lengan kanan yang mencoba fokus berkendara.

'Nak, kaulah kaulah harapan dari segala syukur dan sabar mama. Bila tak mampu menyiapkan baiti jannati untukmu, setidaknya ijinkan mama mendampingimu hingga kau menjadi pria dewasa yang kuat, rendah hati dan penuh kasih' bisikku lirih sambil mencium kening dan merebahkannya di pembaringan kami.

Good nite, love.


Minggu, 09 Desember 2018

When you try your best but you don't succeed 
When you get what you want but not what you need 
When you feel so tired but you can't sleep 
Stuck in reverse
When the tears come streaming down your face 
'Cause you lose something you can't replace 
When you love someone but it goes to waste 
What could it be worse?

Whisper me
'And I will try to fix you'

Then

Another day without your smile
Another day just passes by
But now i know how much it means
For you to stay right here with me
The time we spent apart will make our love grow stronger
But it hurts so bad i can't take it any longer
I want to grow old with you
I want to die lying in your arms
I want to grow old with you
I want to be looking in your eyes
I want to be there for you, sharing everything you do
I want to grow old with you


Songs of grieving silence


Jumat, 07 Desember 2018

Itu suara hujan kah?
Nyaring sekali dentingnya
Antara menimpuk tanah, bebatu, dedaun, pun genting kamarku
Mengalahkan dentum detak jarum jam dinding
Yang tadinya bersahutan dengan dengkur lirih lelaki yang meringkuk manja di sampingku

Adakah rindu di tiap titik rinaimu?
Sedang bait cinta itu tak sering lagi kubaca

Hujan...
Singgahlah di tiap-tiap hening begini
Saat senyap menyergapku membuka mata
Mengingat, merasa, dan memaknai segala yang pernah ada
Menikmati luruh demi luruh
Isak yang selalu tertahan dan meruah

Berjanjilah...
Untuk tetap singgah
Menemaniku menuliskan lagi cerita
Yang belum sama sekali sempat dia bacakan untukku

Hujan...
Aku mau kau tetap ada, selalu ada
Di setiap rasa
Di segala masa

Berlebihan kah?






Dec 8, 01.15

Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...