Selasa, 11 Desember 2018

'Lengang sekali kota ini. Jam berapa sih ini' pikirku. Melihat bangunan demi bangunan yang berjajar di sisi kiri kanan sepanjang jalan yang kulalui. Kulirik jam tangan menunjukkan pukul 21.26

'Ah masa iya semua orang sudah tertidur, sedang balita ini baru saja berteriak nyaring di seberang telepon "Mama di mana? Kerja malam tah? Aku mau dijemput"

Penjual gorengan di tepi jalan sedikit menarik perhatianku. Dengan etalase kecil, berukuran tak lebih 1mx50cmx50cm dengan kaki-kaki setinggi 50cm di atas trotoar. Sepasang suami istri di baliknya, terlihat duduk di pinggiran pagar rumah besar tepi jalan itu. Sang istri seperti sedang mengatakan sesuatu sambil melihat ke arah suaminya. Dan sang pria tampak membalas bicara, tanpa memandang balik, hanya melihat layar ponsel yang dipegangnya. Dengan penerang bohlam 5watt, tak banyak isi etalasenya. Tapi mungkin berusaha bersabar, siapa tahu masih ada pembeli yang datang.

Memasuki area perumahan, makin lengang saja jalan yang kulalui. Hanya lampu jalan dan teras rumah-rumah yang menyala, tapi tak tampak lebih terang bagiku. Atau mungkin karena penglihatanku yang makin berkurang. Mobil-mobil yang terparkir di sepanjang jalan, yang sudah tak kebagian tempat karena garasi telah terisi, juga kadang menghalangi pandanganku.

Mengamati sebuah rumah besar berlantai tiga, bercat warna coklat muda, terlihat begitu temaram. Hanya lampu teras depan dan teras lantai paling atas yang masih menyala. Bergumam 'apa penghuninya sedang terlelap sambil memeluk pasangan yang dikasihinya. Ataukah sedang bercanda dengan anak-anak sambil melihat tayangan televisi kegemarannya. Atau sedang berkumpul semua anggota keluarga menikmati makan malam yang sedikit larut'

Ah...Kedua mataku terasa menghangat. Berpikir 'rumah mana yang di luar dan dalamnya menjadi baiti jannati bagi penghuninya.

"Jangan ngantuk nak. Susah mama nyetirnya nanti."

Tak putus berdo'a dalam hati semoga Tuhan melindungi perjalanan kami. Sambil terus mencari lagu untuk dinyanyikan bersama. Menunjuk-nunjuk sesuatu untuk dijadikan objek perbincangan.

Tak lama isakpun tak mampu terbendung. Merasakan lengan kiri yang makin berat menahan kepala balita yang tak kuasa mengusir lelapnya. Dan lengan kanan yang mencoba fokus berkendara.

'Nak, kaulah kaulah harapan dari segala syukur dan sabar mama. Bila tak mampu menyiapkan baiti jannati untukmu, setidaknya ijinkan mama mendampingimu hingga kau menjadi pria dewasa yang kuat, rendah hati dan penuh kasih' bisikku lirih sambil mencium kening dan merebahkannya di pembaringan kami.

Good nite, love.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...