"Di hatimu
Di benakmu
Di pikiranmu..
Aku mengendap di sana sayang... "
"Tiap saat,
Tiap waktu..."
"Menyerbu ingatanmu..
Bersarang di tiap aliran darahmu.
Kamu terlalu ikhlas membiarkan semua rongga dan celahmu terbuka
Aku masuk dari pori mana saja yang aku suka. "
"Seperti menyulam benang menjadi sebuah sapu tangan...
Sulit bahkan tidak mungkin untuk mengurainya kembali...
Seperti itu perasaanku ke kamu..."
"Sulamlah saja sayang..
Sulamlah terus tanpa lelah
Sampai terhampar alas rebah kita
Tempat bercengkerama berbagi cerita
Tak perlu kau urai
Aku takan memintanya. "
Lalu dengan mudah menyerap milyaran rintik hujan, tak perlu hujan setahun...
Sebentar saja akan kembali liat tanahnya...
Seperti itu aku mengharap, dan mensyukuri hadirmu. "
"Akupun tak lagi bisa bermajas
Hadirmu tak terbandingkan serupa apapun
Kau menjelma mimpi
Yang membuaiku tetap terlelap
Tanpa ingin terjaga lagi... "
"Tak ingin melebihkan atau membandingkan rasa yang ada...
Pasti takkan ada yang serupa dengan rasa (ini)...
Berdiri, memandang pagi
Berharap besok bisa mengulang yang sama...
Sekedar mengingatmu saja..."
(catatan kita tentang mimpi dan pagi)