Rabu, 29 November 2017

"Aku pikir kamu dimana.. "

"Di hatimu
Di benakmu
Di pikiranmu..
Aku mengendap di sana sayang... "

"Tiap saat, 
Tiap waktu..."

"Menyerbu ingatanmu..
Bersarang di tiap aliran darahmu.
Kamu terlalu ikhlas membiarkan semua rongga dan celahmu terbuka
Aku masuk dari pori mana saja yang aku suka. "

"Seperti menyulam benang menjadi sebuah sapu tangan...
Sulit bahkan tidak mungkin untuk mengurainya kembali...
Seperti itu perasaanku ke kamu..."

"Sulamlah saja sayang..
Sulamlah terus tanpa lelah
Sampai terhampar alas rebah kita
Tempat bercengkerama berbagi cerita
Tak perlu kau urai
Aku takan memintanya. "

"Seperti tanah yang pecah karena kemarau menahun...
Lalu dengan mudah menyerap milyaran rintik hujan, tak perlu hujan setahun...
Sebentar saja akan kembali liat tanahnya...
Seperti itu aku mengharap, dan mensyukuri hadirmu. "

"Akupun tak lagi bisa bermajas
Hadirmu tak terbandingkan serupa apapun
Kau menjelma mimpi
Yang membuaiku tetap terlelap
Tanpa ingin terjaga lagi... "

"Tak ingin melebihkan atau membandingkan rasa yang ada...
Pasti takkan ada yang serupa dengan rasa (ini)...
Berdiri, memandang pagi
Berharap besok bisa mengulang yang sama...
Sekedar mengingatmu saja..."


(catatan kita tentang mimpi dan pagi)


Selasa, 14 November 2017

"Ada hujan sayang...
Gerimis sih....
Pelan sekali jatuhnya...
Angin pun tak ada, perciknya jelas di telinga...
Seperti gila ku bicara padanya, seadanya, sekenanya...
Kuceritakan betapa sakitnya merindu,
Jangan berhenti dulu gerimisku,
Biar kutuntaskan cerita rinduku..."


"Ada alasan untuk tidak merindunya?
Bahkan belum tiba rinainya pun senyum sudah merekah
Boleh kutulis cerita, tentang hujan 10 Juli atau hujan 29 Februari
Tak peduli kapan sudi kau tiba
Rinaimu sungguh kuminta. "

Sungguh, aku mengagumi caramu merindu hujan. Yang tiap bulir-bulirnya seperti mengeja namamu perlahan. Memecah hening, melelapkan semua hasrat. Mengganti denting tifa dan genderang. Menghadirkan sunyi. Hingga yang ada hanya nyanyian kasih.
Aku mengagumi caramu mencinta hujan. Yang mengajarkan tabah. Rela sakit menghantuk tanah dan bebatu. Menimpuk reranting dan dedaun. Tapi tak lelah untuk jatuh dan jatuh berkali-kali.
Ya, aku mengagumi caramu menyanjung hujan
Karena akupun demikian
Aku melihat aku pada dirimu
Kau.. Adalah aku

Minggu, 12 November 2017

"Jujur, kalau aku harus bilang benci untuk pagi ini, aku akan bilang sekeras-kerasnya "I HATE TODAY...!!!"
Teriak sambil nangis, marah, sedih, kenapa waktu tak berpihak untuk sekedar melepas rindu....
Beberapa hari ini waktu juga tak pernah ramah untukku.....

Apa maumu?
Ingin mengajari ku sabar?
Ya Tuhan....
Kenapa rindu ini begitu berat..
Dan pagi ini terlalu hebat, terlalu kuat untuk melewatinya tanpa harus sakit merindu...

Smoga ada celah di antara rapatnya waktu yang mencoba menutup rinduku,
Smoga ada waktu..."


* * *

"Harus pulang? Sudah waktunya? Seperti ini rasanya?
Terima kasih sudah datang pagi tadi menggantikan waktu
Ada banyak cerita tersampaikan
Pulanglah..
Akan kutuliskan sepagi tadi untuk dikenangkan malam nanti
Tengkyu sunshine.. "

* * *

"Sedikit cerita untuk hari kemarin....

Berangkat menggebu untuk menjemput mimpiku...
Ya masih tentang mimpi, tentang hujan dan balkon itu...
Bercengkerama menghabiskan kata-kata...
Memeluk nyata tanpa perantara do'a....

Tapi lalu...
Beberapa waktu yang lalu emosional mengalahkan nalar...
Seperti berhenti, tinggal dalam ruang sedih, lalu mati dengan begitu perih.....

Aku mencintamu kamu tahu?
Aku merindumu kamu ngerti?...
Lihat apa di mataku?...
Jangan pulang batinku saat itu.....

Maaf, emosi mengalahkan nalarku...

Terimakasih untuk tetap memintaku bermimpi
Tentang hujan dan balkon itu...
Tetaplah berdiri utk menjadi mimpi-mimpiku...
Tetaplah untuk menjadi bagian cerita pendekku. "


* * *

"Seperti itu rasanya sepagi tadi
Munculnya seperti pasti, menggantikan waktu
Meski tak terhitung berapa ratus atau ribu detik kemudian seperti dipecundangi waktu

Lalu hanya bisa menghitung angka dalam jam
Berharap berlalu kemudian
Pagi.. Jangan bosan munculkan harapanmu"



Catatanmu...
Takkan pernah berhenti mempuisikan bait di lembar puisi hidupku

Sabtu, 04 November 2017

"Aku titip perasaanku.. 
Tolong kamu simpan dan jaga baik-baik.. "

"Kenapa begitu? "

"Entahlah.. 
Seperti aku titipkan nyawaku padamu
Kapanpun kau bisa mengambilnya
Kapanpun kau bisa membunuhnya. "


Heningpun menyergap. Benderang purnama seakan turut menyaksikan. Dua hati bercerita tanpa aksara. Menahan degup, menekan aliran darah. Seperti berhenti tiba-tiba. Sejenak mati. Lalu terlahir kembali.


"Lihat bagaimana cara-Nya untukku menemukan rasa
Mungkin saat itu mulai berbeda
Atau bahkan mungkin jauh sebelumnya
Tapi detik pada waktu itu aku mulai meng-amin-inya
Kuceritakan pengakuanku pada-Nya
Dan makin meng-amin-inya. "

Malam menyapa. Mengirim angin dengan sepoi lirihnya. Membisikkan lembut puisi rindu. Bagi dua jiwa yang terpisah. Seperti mengingatkan, Tuhan tak pernah menciptakan segala dengan kebetulan. Tuhan selalu punya cara. Merangkul dua hati yang menguatkan cinta dalam do'a.


"Seperti mimpi.. 
Kamu datang saat itu, tahun lalu, atau entah berapa tepatnya waktu
Banyak hal tentangku, tentangmu yang menurutku tak terencana
Merasa berbeda.. Bernyawa
Ya.. Mencintamu tak pernah terencana.. "


Fajar tiba. Ujung dedaun mengulum bulir-bulir embun. Menggurat cahaya surya-Mu. Membias, berpendar. Ada haru terampai dalam sujud. Berharap pagi selalu menjelma. Setia menuntun kasih, menguatkan mimpi, dan menopang pengharapan.

Catatanmu di lembar kisah hidupku

Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...