"Ada hujan sayang...
Gerimis sih....
Pelan sekali jatuhnya...
Angin pun tak ada, perciknya jelas di telinga...
Seperti gila ku bicara padanya, seadanya, sekenanya...
Kuceritakan betapa sakitnya merindu,
Jangan berhenti dulu gerimisku,
Biar kutuntaskan cerita rinduku..."
"Ada alasan untuk tidak merindunya?
Bahkan belum tiba rinainya pun senyum sudah merekah
Boleh kutulis cerita, tentang hujan 10 Juli atau hujan 29 Februari
Tak peduli kapan sudi kau tiba
Rinaimu sungguh kuminta. "
Sungguh, aku mengagumi caramu merindu hujan. Yang tiap bulir-bulirnya seperti mengeja namamu perlahan. Memecah hening, melelapkan semua hasrat. Mengganti denting tifa dan genderang. Menghadirkan sunyi. Hingga yang ada hanya nyanyian kasih.
Aku mengagumi caramu mencinta hujan. Yang mengajarkan tabah. Rela sakit menghantuk tanah dan bebatu. Menimpuk reranting dan dedaun. Tapi tak lelah untuk jatuh dan jatuh berkali-kali.
Ya, aku mengagumi caramu menyanjung hujan
Karena akupun demikian
Aku melihat aku pada dirimu
Kau.. Adalah aku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar