"Nak Tuty, mau naik ke atas? Tolong sekalian bawakan ini untuk Aya."
"Baik tante."
Berhati-hati sekali dengan piring kecil putih berisi 3 buah kroket kentang dan 2 biji cabe rawit hijau di tangan kiri, tangan kanannya berpegangan pada pinggiran anak tangga.
"Hey, sudah lama?"
"Baru aja. Makanlah Ay. Ibumu bilang kemarin siang melihat kau terakhir makan."
Aya terkekeh "Ah, mama selalu lebay. Begitulah orang Jawa. Kalau belum nyentuh nasi dibilangnya belum makan."
"Hayuk sini kutemani. Ini kue kegemaranmu kan."
Mengambil sebuah kroket kentang, Tuty memperhatikan wajah Aya. Pandangannya yang jauh dan tampak kosong.
"Enak loh. Sumpah." Sambil menyodorkan piring ke arah muka Aya.
Aya hanya tersenyum,
"Aku belum lapar." ujarnya pelan.
"Ingat kesehatanmu Ay. Lambungmu."
Aya menoleh ke arah Tuty. Memandang wajah sahabatnya. Yang selalu sabar mendampinginya dalam kondisi apapun. Meski dia sendiri seringkali diterpa beban hidup yang tak pernah ringan.
"Kau makanlah yang banyak. Biar ga kurus terus."
"Hahaha. Aku mah selalu makan banyak. Emang bawaan lahir. Gak pernah bisa gemuk."
"Hehehe. Dasar cungkring."
"Biarin. Yang penting hidup."
Lalu mereka berdua terbahak.
"Ma, aku sudah belajar dan makan malam. Kata eyang uti aku boleh temani mama di balkon."
"Ini sudah malam nak. Pergilah tidur. Ada tante Tuty bersama mama."
"Sana mau bobo sama tante?" Tuty menawarkan
"Terima kasih tante. Temani mama saja. Aku bobonya sama eyang uti. Mama buruan makan terus istirahat ya."
Aya mengangguk. Tersenyum melihat Sana bergegas turun.
"Makanlah Ay. Lihat anakmu. Dia butuh kau sehat."
"Dia sehat. Sudah remaja, dan sangat mandiri. Aku selalu mengajarkan dia life is hard. Sejak kecil aku perlihatkan dia gambar hidup yang kita temui di swpanjang perjalanan berangkat maupun pulang sekolah. Si tukang sapu, penarik becak, pak sampah, atau seorang ibu yang sedang mengayuh sepeda, dengan dua orang anak di boncengan belakang, dan sebuah kantung plastik besar berisi kerupuk tergantung di setang kanannya. Dia selalu bergumam "Kasihan ya..."
Berharap dia mengerti semua jerih payah ibunya hanya untuk kehidupannya yang lebih layak. Dan aku tak akan pernah kuatir. Jika saatnya aku meninggalkan dia, Tuhan sudah menyiapkan orang-orang terbaik untuk menjaga Sana."
"Ay...Please. Ngomong apaan sih?"
"Iya kan. Kamu dan mama selalu maksa aku makan biar aku gak mati kan."
"Aya...Boleh aku tahu apa yang ada di pikiranmu sekarang?"
Aya diam. Menarik nafas panjang. Kemudian menghembuskannya perlahan.
"Jujur Ty, habis pikiranku untuk yang lain. Semua hanya terkuras olehnya. Saat dia berhenti menyapa dan bertanya, sejak itu pula nyawaku berasa berkurang. Kenapa dia tak pernah tahu bahwa caranya mengingatkan aku untuk tak terlambat makan, beribadah dan selalu berhati-hati di jalan adalah semangatku untuk tetap hidup."
Aya berdiam lagi sesaat
"Saat dia diam, aku selalu didera perasaan takut. Apa aku salah bicara? Bersikap? Dan itu semua membuatku berpikir, kalimatku tentang 'komunikasi itu harta kita yang paling berharga dan sangat penting untuk dijaga' gak pernah ada artinya. Kau pernah merasa yang sama?"
"Hmm...Dulu. Saat itu. Tapi tau kan aku seperti apa. Selalu meledak-ledak saat itu juga. Gak pernah menyimpannya lama-lama seperti kamu gini."
"Iya iya. Begitu emang orang Madura."
Lagi. Mereka terbahak. Dan piring di meja itu telah kosong. Tuty tersenyum puas melihat sahabatnya tanpa sadar melahap isinya.
"Lalu...Sampai kapan kau akan begini Ay?"
"Entahlah. Aku sepetti hanya bisa menghakimi diriku, tak mampu menunjukkan segala rasaku padanya saat dia selalu merasa mencinta sendiri."
"Ah, itu mungkin hanya perasaanmu saja Ay. Kau pernah sampaikan padanya?"
"Tentang apa?"
"Kau cinta."
Aya tersenyum sambil menggeleng
"Hah? Tak pernah kau katakan kau cinta dia?"
"Tak pernah sekali. Mungkin sudah ribuan kali."
"Ooh...Lalu kenapa bisa dia masih merasa mencinta sendiri."
"Itulah. Saat dia berkata 'aku masih di sini. Tengoklah sesekali, saat kau butuh nanti. Atau saat sekedar rindu' aku selalu lunglai. Berasa berkurang satu lagi nyawaku Ty. Seperti aku tak pernah mengucap 'aku butuh' dengan kata-kata."
Meraih cangkir di depannya. Terlihat tangannya sedikit gemetar. Tuty hanya menunggu. Sangat tahu Aya masih akan melanjutkan sesuatu
"Waktu dia bilang 'lanjutkan. Berbagilah sapa, tawa dan cerita dengannya. Berbahagialah dulu' Tahu? Tahu kan Ty? Berkurang lebih banyak lagi nyawaku. Aku tak pernah berhenti menyampaikan 'sudah tak ada lagi yang aku cari dan tunggu dalam hidup. Aku menolak untuk sehat sendiri, mengusir sedih sendiri, dan menciptakan bahagia sendiri' Aku ingin semuanya bersama dia Ty."
Tuty sedikit mengalihkan pandangannya jauh ke rerimbunan gelap di bawah sana. Berusaha menyembunyikan isaknya yang hampir tumpah. Sekuat tenaga dia menahannya. Dia ada untuk menguatkan sahabatnya.
"Ay...Hentikan kesedihanmu. Yakinlah kau dicinta."
"Iya. Itu yang membuatku bertahan sampai saat ini."
"Boleh kuambilkan teh panas lagi?. Cangkirmu sudah kosong."
Aya tersenyum. Menyaksikan sahabatnya memungut piring, cangkir yang telah kosong dan berjalan menjauhi tempat duduknya. Sebelum Tuty melangkah turun,
"Ty..."
Tuty hanya tersenyum. Seperti mengiyakan tatapan yang tanpa bahasapun telah bisa diterjemahkannya. Dalam hati Tuty berkata "Aku sangat tahu kau menyukai hening. Pasti aku segera menekan saklar. Agar kau menikmati sendirimu hanya dengan cahaya bulan"
Aya pun tersenyum. Sebagai ungkapan terima kasih tanpa terucap.
Describing me in the expressions of things, places n people around. In life, I might leave. In love, I might suffer. In line, I might disconnect. With this, I conquer all
Jumat, 28 Desember 2018
Selasa, 25 Desember 2018
Hey mendung,
Sampai kapan kau kuat menggantung?
Tak ingin tumpahkan saja air mata langitmu
Atau biarkan angin meniupmu jauh
Berpindah
Dan sekejap melenyap
Masih kau simpan bait cinta dan bait do'a itu?
Atau punah bersama masa
Enggan merangkaikannya lagi?
Atau
Masih setia tereja di hati
Di sudut-sudut hening saat sajadah menggelar senyap
Terimakasih mendung
Kau bentangkan muram
Hingga aku tak mampu lagi meratapi jarak
Karena hanya dia yang mengajarkan
'Tumpahkan tangismu bersama hujan
Hingga kau tak dapat membedakan bulir air mata dan rinainya
Biarkan jatuhannya menderas, meriuh
Mengalahkan segala penat hatimu menabung rindu'
Hey...
Kau tak lebih mendung dari aku kok
Cloudy Rhyme
Sampai kapan kau kuat menggantung?
Tak ingin tumpahkan saja air mata langitmu
Atau biarkan angin meniupmu jauh
Berpindah
Dan sekejap melenyap
Masih kau simpan bait cinta dan bait do'a itu?
Atau punah bersama masa
Enggan merangkaikannya lagi?
Atau
Masih setia tereja di hati
Di sudut-sudut hening saat sajadah menggelar senyap
Terimakasih mendung
Kau bentangkan muram
Hingga aku tak mampu lagi meratapi jarak
Karena hanya dia yang mengajarkan
'Tumpahkan tangismu bersama hujan
Hingga kau tak dapat membedakan bulir air mata dan rinainya
Biarkan jatuhannya menderas, meriuh
Mengalahkan segala penat hatimu menabung rindu'
Hey...
Kau tak lebih mendung dari aku kok
Cloudy Rhyme
Tuhan terimakasih
Kau bangunkan aku
Kau buka mataku kembali
Kau beri nyawa
Untuk bertemu pagi
Menyaksikan malaikat kecil itu bergelung dan mrndengkur di pembaringan kami
Terimakasih
Masih Kau beri waktu
Kesempatan untuk bersimpuh
Menguntai syukur tak terhingga
Untuk segala yang terbaik kemarin
Hal yang mengelilingi
Dan segala perasaan yang melengkapiku
Ijinkan aku hanya sibuk
Menghitung satu persatu berkahMu
Sampai lupa cara meratap
Merasa bersalah dan berduka
Tuhan
Terimakasih untuk setiap hari yang begini
Wake up Rhymes
Kau bangunkan aku
Kau buka mataku kembali
Kau beri nyawa
Untuk bertemu pagi
Menyaksikan malaikat kecil itu bergelung dan mrndengkur di pembaringan kami
Terimakasih
Masih Kau beri waktu
Kesempatan untuk bersimpuh
Menguntai syukur tak terhingga
Untuk segala yang terbaik kemarin
Hal yang mengelilingi
Dan segala perasaan yang melengkapiku
Ijinkan aku hanya sibuk
Menghitung satu persatu berkahMu
Sampai lupa cara meratap
Merasa bersalah dan berduka
Tuhan
Terimakasih untuk setiap hari yang begini
Wake up Rhymes
Kamis, 20 Desember 2018
"Hey...Bangun?"
"Jam berapa ini?"
"Sembilan."
"Sudah isya'an?"
"Sudah. Aku setrika seragam dulu ya..."
"Biar aku saja. Kamu tunggu bakso lewat. Aku setrika sebentar. Terus isya'an. Sekalian aku buatkan teh panas. Lalu kita makan bakso di teras."
"Baiklah. Terima kasih."
Hanya bait tentang rasa aman dan nyaman yang ditawarkan malam
"Jam berapa ini?"
"Sembilan."
"Sudah isya'an?"
"Sudah. Aku setrika seragam dulu ya..."
"Biar aku saja. Kamu tunggu bakso lewat. Aku setrika sebentar. Terus isya'an. Sekalian aku buatkan teh panas. Lalu kita makan bakso di teras."
"Baiklah. Terima kasih."
Hanya bait tentang rasa aman dan nyaman yang ditawarkan malam
Kamis, 13 Desember 2018
"Assalamualaikum...Good morning cinta."
Menempelkan pipinya di ujung daun pintu kamar. Tersenyum Aya melihat lelaki yang dikasihinya sedang menggeliat.
"Jam berapa ini?"
"Jam enam lebih sedikit."
"Kok aku ngga dibangunin? Subuhku lewat dong."
Menghampiri tepian ranjang Aya berkata
"Sampun sayang. Kamu tidur lima belas menit sebelum subuh. Setengah jam lewat adzan aku bangunin. Tapi kamu tidak bergerak sama sekali."
"Hujan?"
"Dari subuh tadi deras. Sekarang tinggal gerimis."
"Raincoatmu?"
"Sudah siap. Tidurlah lagi, aku mau bikin sarapan sebentar."
Yoga menarik tangan Aya yang hendak beranjak
"Ay...Biar aku saja. Mandilah sana. Saat kamu kerja aku punya banyak waktu untuk tidur lagi."
"Baiklah. Terimakasih."
Hanya tentang kesederhanaan pagi
Dec13, 22.28
Menempelkan pipinya di ujung daun pintu kamar. Tersenyum Aya melihat lelaki yang dikasihinya sedang menggeliat.
"Jam berapa ini?"
"Jam enam lebih sedikit."
"Kok aku ngga dibangunin? Subuhku lewat dong."
Menghampiri tepian ranjang Aya berkata
"Sampun sayang. Kamu tidur lima belas menit sebelum subuh. Setengah jam lewat adzan aku bangunin. Tapi kamu tidak bergerak sama sekali."
"Hujan?"
"Dari subuh tadi deras. Sekarang tinggal gerimis."
"Raincoatmu?"
"Sudah siap. Tidurlah lagi, aku mau bikin sarapan sebentar."
Yoga menarik tangan Aya yang hendak beranjak
"Ay...Biar aku saja. Mandilah sana. Saat kamu kerja aku punya banyak waktu untuk tidur lagi."
"Baiklah. Terimakasih."
Hanya tentang kesederhanaan pagi
Dec13, 22.28
Selasa, 11 Desember 2018
'Lengang sekali kota ini. Jam berapa sih ini' pikirku. Melihat bangunan demi bangunan yang berjajar di sisi kiri kanan sepanjang jalan yang kulalui. Kulirik jam tangan menunjukkan pukul 21.26
'Ah masa iya semua orang sudah tertidur, sedang balita ini baru saja berteriak nyaring di seberang telepon "Mama di mana? Kerja malam tah? Aku mau dijemput"
Penjual gorengan di tepi jalan sedikit menarik perhatianku. Dengan etalase kecil, berukuran tak lebih 1mx50cmx50cm dengan kaki-kaki setinggi 50cm di atas trotoar. Sepasang suami istri di baliknya, terlihat duduk di pinggiran pagar rumah besar tepi jalan itu. Sang istri seperti sedang mengatakan sesuatu sambil melihat ke arah suaminya. Dan sang pria tampak membalas bicara, tanpa memandang balik, hanya melihat layar ponsel yang dipegangnya. Dengan penerang bohlam 5watt, tak banyak isi etalasenya. Tapi mungkin berusaha bersabar, siapa tahu masih ada pembeli yang datang.
Memasuki area perumahan, makin lengang saja jalan yang kulalui. Hanya lampu jalan dan teras rumah-rumah yang menyala, tapi tak tampak lebih terang bagiku. Atau mungkin karena penglihatanku yang makin berkurang. Mobil-mobil yang terparkir di sepanjang jalan, yang sudah tak kebagian tempat karena garasi telah terisi, juga kadang menghalangi pandanganku.
Mengamati sebuah rumah besar berlantai tiga, bercat warna coklat muda, terlihat begitu temaram. Hanya lampu teras depan dan teras lantai paling atas yang masih menyala. Bergumam 'apa penghuninya sedang terlelap sambil memeluk pasangan yang dikasihinya. Ataukah sedang bercanda dengan anak-anak sambil melihat tayangan televisi kegemarannya. Atau sedang berkumpul semua anggota keluarga menikmati makan malam yang sedikit larut'
Ah...Kedua mataku terasa menghangat. Berpikir 'rumah mana yang di luar dan dalamnya menjadi baiti jannati bagi penghuninya.
"Jangan ngantuk nak. Susah mama nyetirnya nanti."
Tak putus berdo'a dalam hati semoga Tuhan melindungi perjalanan kami. Sambil terus mencari lagu untuk dinyanyikan bersama. Menunjuk-nunjuk sesuatu untuk dijadikan objek perbincangan.
Tak lama isakpun tak mampu terbendung. Merasakan lengan kiri yang makin berat menahan kepala balita yang tak kuasa mengusir lelapnya. Dan lengan kanan yang mencoba fokus berkendara.
'Nak, kaulah kaulah harapan dari segala syukur dan sabar mama. Bila tak mampu menyiapkan baiti jannati untukmu, setidaknya ijinkan mama mendampingimu hingga kau menjadi pria dewasa yang kuat, rendah hati dan penuh kasih' bisikku lirih sambil mencium kening dan merebahkannya di pembaringan kami.
Good nite, love.
'Ah masa iya semua orang sudah tertidur, sedang balita ini baru saja berteriak nyaring di seberang telepon "Mama di mana? Kerja malam tah? Aku mau dijemput"
Penjual gorengan di tepi jalan sedikit menarik perhatianku. Dengan etalase kecil, berukuran tak lebih 1mx50cmx50cm dengan kaki-kaki setinggi 50cm di atas trotoar. Sepasang suami istri di baliknya, terlihat duduk di pinggiran pagar rumah besar tepi jalan itu. Sang istri seperti sedang mengatakan sesuatu sambil melihat ke arah suaminya. Dan sang pria tampak membalas bicara, tanpa memandang balik, hanya melihat layar ponsel yang dipegangnya. Dengan penerang bohlam 5watt, tak banyak isi etalasenya. Tapi mungkin berusaha bersabar, siapa tahu masih ada pembeli yang datang.
Memasuki area perumahan, makin lengang saja jalan yang kulalui. Hanya lampu jalan dan teras rumah-rumah yang menyala, tapi tak tampak lebih terang bagiku. Atau mungkin karena penglihatanku yang makin berkurang. Mobil-mobil yang terparkir di sepanjang jalan, yang sudah tak kebagian tempat karena garasi telah terisi, juga kadang menghalangi pandanganku.
Mengamati sebuah rumah besar berlantai tiga, bercat warna coklat muda, terlihat begitu temaram. Hanya lampu teras depan dan teras lantai paling atas yang masih menyala. Bergumam 'apa penghuninya sedang terlelap sambil memeluk pasangan yang dikasihinya. Ataukah sedang bercanda dengan anak-anak sambil melihat tayangan televisi kegemarannya. Atau sedang berkumpul semua anggota keluarga menikmati makan malam yang sedikit larut'
Ah...Kedua mataku terasa menghangat. Berpikir 'rumah mana yang di luar dan dalamnya menjadi baiti jannati bagi penghuninya.
"Jangan ngantuk nak. Susah mama nyetirnya nanti."
Tak putus berdo'a dalam hati semoga Tuhan melindungi perjalanan kami. Sambil terus mencari lagu untuk dinyanyikan bersama. Menunjuk-nunjuk sesuatu untuk dijadikan objek perbincangan.
Tak lama isakpun tak mampu terbendung. Merasakan lengan kiri yang makin berat menahan kepala balita yang tak kuasa mengusir lelapnya. Dan lengan kanan yang mencoba fokus berkendara.
'Nak, kaulah kaulah harapan dari segala syukur dan sabar mama. Bila tak mampu menyiapkan baiti jannati untukmu, setidaknya ijinkan mama mendampingimu hingga kau menjadi pria dewasa yang kuat, rendah hati dan penuh kasih' bisikku lirih sambil mencium kening dan merebahkannya di pembaringan kami.
Good nite, love.
Minggu, 09 Desember 2018
When you try your best but you don't succeed
When you get what you want but not what you need
When you feel so tired but you can't sleep
Stuck in reverse
When you get what you want but not what you need
When you feel so tired but you can't sleep
Stuck in reverse
When the tears come streaming down your face
'Cause you lose something you can't replace
When you love someone but it goes to waste
What could it be worse?
'Cause you lose something you can't replace
When you love someone but it goes to waste
What could it be worse?
Whisper me
'And I will try to fix you'
Then
Another day without your smile
Another day just passes by
But now i know how much it means
For you to stay right here with me
The time we spent apart will make our love grow stronger
But it hurts so bad i can't take it any longer
Another day just passes by
But now i know how much it means
For you to stay right here with me
The time we spent apart will make our love grow stronger
But it hurts so bad i can't take it any longer
I want to grow old with you
I want to die lying in your arms
I want to grow old with you
I want to be looking in your eyes
I want to be there for you, sharing everything you do
I want to grow old with you
I want to die lying in your arms
I want to grow old with you
I want to be looking in your eyes
I want to be there for you, sharing everything you do
I want to grow old with you
Songs of grieving silence
Jumat, 07 Desember 2018
Itu suara hujan kah?
Nyaring sekali dentingnya
Antara menimpuk tanah, bebatu, dedaun, pun genting kamarku
Mengalahkan dentum detak jarum jam dinding
Yang tadinya bersahutan dengan dengkur lirih lelaki yang meringkuk manja di sampingku
Adakah rindu di tiap titik rinaimu?
Sedang bait cinta itu tak sering lagi kubaca
Hujan...
Singgahlah di tiap-tiap hening begini
Saat senyap menyergapku membuka mata
Mengingat, merasa, dan memaknai segala yang pernah ada
Menikmati luruh demi luruh
Isak yang selalu tertahan dan meruah
Berjanjilah...
Untuk tetap singgah
Menemaniku menuliskan lagi cerita
Yang belum sama sekali sempat dia bacakan untukku
Hujan...
Aku mau kau tetap ada, selalu ada
Di setiap rasa
Di segala masa
Berlebihan kah?
Dec 8, 01.15
Nyaring sekali dentingnya
Antara menimpuk tanah, bebatu, dedaun, pun genting kamarku
Mengalahkan dentum detak jarum jam dinding
Yang tadinya bersahutan dengan dengkur lirih lelaki yang meringkuk manja di sampingku
Adakah rindu di tiap titik rinaimu?
Sedang bait cinta itu tak sering lagi kubaca
Hujan...
Singgahlah di tiap-tiap hening begini
Saat senyap menyergapku membuka mata
Mengingat, merasa, dan memaknai segala yang pernah ada
Menikmati luruh demi luruh
Isak yang selalu tertahan dan meruah
Berjanjilah...
Untuk tetap singgah
Menemaniku menuliskan lagi cerita
Yang belum sama sekali sempat dia bacakan untukku
Hujan...
Aku mau kau tetap ada, selalu ada
Di setiap rasa
Di segala masa
Berlebihan kah?
Dec 8, 01.15
Minggu, 21 Oktober 2018
Aku pernah memiliki 14.600 pagi dan senja
Yang tak pernah kunanti
Pun tak pernah kumaknai
Hanya datang dan pergi tepat pada waktunya
Terbiasa
Lalu kamu ada
730 pagi berikutnya
Kumaknai sebagai kamu
Kunanti saat menggeliat
Membuka mata dari sejenak kematianku
Untuk sekedar mengingat
Kamu ada
Aku dicinta
730 senja berikutnya kumaknai sebagai kamu
Kunanti saat lelah harus kulepas
Dari jejal-jejal rindu yang tak pernah membekas
Dari jerit-jerit berat inginku menyentuh
Dan limbungnya langkah kaki tak berarah
Yang tak pernah meninggalkan jejak
Karena aku tak pernah ingin pergi, pun berhenti
Dan
730 hening malam kumaknai sebagai kamu
Selalu kunanti
Saat bait-bait kekaguman kau rangkai
Memeluk kasih dalam nyenyat semesta
Kau iring dengan bait-bait do'a
Yang separuh dan sepertiga atau seluruhnya
Hanyalah panjatan lara
Mencinta tanpa tahu cara Tuhan membersamakan umatNya
Bila senja yang ke sekian belas ribu kau menyebutnya
'Mau tinggal, tinggallah
Enggan, silahkan...'
Dan senja tadi kau ceritakan
'Tak perlu dimaknai, semua akan kembali terbiasa
Seperti dulu, tak perlu dinanti'
Maka aku kosong
Oct21, 21.11
Yang tak pernah kunanti
Pun tak pernah kumaknai
Hanya datang dan pergi tepat pada waktunya
Terbiasa
Lalu kamu ada
730 pagi berikutnya
Kumaknai sebagai kamu
Kunanti saat menggeliat
Membuka mata dari sejenak kematianku
Untuk sekedar mengingat
Kamu ada
Aku dicinta
730 senja berikutnya kumaknai sebagai kamu
Kunanti saat lelah harus kulepas
Dari jejal-jejal rindu yang tak pernah membekas
Dari jerit-jerit berat inginku menyentuh
Dan limbungnya langkah kaki tak berarah
Yang tak pernah meninggalkan jejak
Karena aku tak pernah ingin pergi, pun berhenti
Dan
730 hening malam kumaknai sebagai kamu
Selalu kunanti
Saat bait-bait kekaguman kau rangkai
Memeluk kasih dalam nyenyat semesta
Kau iring dengan bait-bait do'a
Yang separuh dan sepertiga atau seluruhnya
Hanyalah panjatan lara
Mencinta tanpa tahu cara Tuhan membersamakan umatNya
Bila senja yang ke sekian belas ribu kau menyebutnya
'Mau tinggal, tinggallah
Enggan, silahkan...'
Dan senja tadi kau ceritakan
'Tak perlu dimaknai, semua akan kembali terbiasa
Seperti dulu, tak perlu dinanti'
Maka aku kosong
Oct21, 21.11
Jumat, 07 September 2018
Pagi...
Selalu identik dengan kegairahan, kesejukan, kesegaran, semangat, harapan, dan cinta.
Rasulullah SAW saja tak pernah melewatkan do'a
'Ya Allah...Berkahilah umatku di pagi harinya.'
Mencari cermin, menatap
Wajah polos tanpa pulasan, hampir setengah baya di sana. Mencoba membuka matanya lebih lebar. Dan berkata
"Hey...Pagi
Terimakasih masih membuka mata. Meski terlihat makin tua, lelah, mudah memerah, dan tak mampu berbinar lagi.
Terimakasih masih berdiri tegak. Meski penat dan ngilu sering berasa di seluruh sendi.
Terimakasih masih tersenyum. Meski senymmu sudah sangat berbeda dengan setahun lalu. Meski tak sepandai dulu lagi menyembunyikan lelah, air mata, dan lara hati.
Kau masih muda, cantik. Meski kerut makin tampak di sekitar mata. Meski freckless dan flek hitam makin menebal dan menebar di seluruh wajah.
Kau kuat. Meski sering tak sanggup mengusir sedih dan pilu sendiri. Kadang hampir putus asa meredam beban hidup yang tak makin ringan.
Kau baik. Meski selalu ada saja cela dan salah yang dicari orang lain di dirimu.
Kau tangguh.
Tetaplah hidup. Tetaplah menjadi dirimu. Tetaplah berdiri dan melangkah.
Bila lelah, istirahatlah sejenak.
Jangan berhenti. Karena jika kau berhenti, maka semua akan selesai.
Terimakasih masih di sana. Terimakasih selalu ada.
Aku bangga padamu."
Morning mirror talking
Sept8, 08.46
Selalu identik dengan kegairahan, kesejukan, kesegaran, semangat, harapan, dan cinta.
Rasulullah SAW saja tak pernah melewatkan do'a
'Ya Allah...Berkahilah umatku di pagi harinya.'
Mencari cermin, menatap
Wajah polos tanpa pulasan, hampir setengah baya di sana. Mencoba membuka matanya lebih lebar. Dan berkata
"Hey...Pagi
Terimakasih masih membuka mata. Meski terlihat makin tua, lelah, mudah memerah, dan tak mampu berbinar lagi.
Terimakasih masih berdiri tegak. Meski penat dan ngilu sering berasa di seluruh sendi.
Terimakasih masih tersenyum. Meski senymmu sudah sangat berbeda dengan setahun lalu. Meski tak sepandai dulu lagi menyembunyikan lelah, air mata, dan lara hati.
Kau masih muda, cantik. Meski kerut makin tampak di sekitar mata. Meski freckless dan flek hitam makin menebal dan menebar di seluruh wajah.
Kau kuat. Meski sering tak sanggup mengusir sedih dan pilu sendiri. Kadang hampir putus asa meredam beban hidup yang tak makin ringan.
Kau baik. Meski selalu ada saja cela dan salah yang dicari orang lain di dirimu.
Kau tangguh.
Tetaplah hidup. Tetaplah menjadi dirimu. Tetaplah berdiri dan melangkah.
Bila lelah, istirahatlah sejenak.
Jangan berhenti. Karena jika kau berhenti, maka semua akan selesai.
Terimakasih masih di sana. Terimakasih selalu ada.
Aku bangga padamu."
Morning mirror talking
Sept8, 08.46
Kamis, 30 Agustus 2018
"Kemana Aisyah say?"
"Entah. Di rumah neneknya atau di penginapan."
Aya duduk saja di lantai ruang tengah yang tak seberapa luas itu. Televisi menyiarkan apa juga, dia tak sebegitu memperhatikan. Widya pun seperti hanya membiarkan dirinya tak menatap layar. Hanya bersila dengan santai melipat beberapa potong jemuran di depannya.
"Assalamualaikum..."
Berdiri di depan pintu kamar. Mengenakan sarung bermotif entah kotak atau bulat atau batik warna merah. Dengan kemeja lengan pendek yang bermotif, juga warna merah. Seperti baru pulang dari masjid atau surau. Melepas kopyah dan mengusap wajah dengan dua tangannya. Seperti gerakan menutup muka.
Aya duduk selonjor di sisi matras sebelah kiri, menyandarkan tubuhnya ke dinding. Melihat Yoga tanpa bicara. Yang langsung menerjunkan tubuhnya ke matras di sisi seberang kaki kanannya. Telungkup dan menangis.
"Kata berita di TV, Aisyah akan segera pulang say..." Suara Widya dari ruang tengah.
Aya hanya mendongak. Yoga pun segera beranjak. Mengusap air matanya dan berdiri.
"Barang-barangmu Ay, pakaianmu, apa sudah kau kemas semua?"
Aya melirik dua woman backpack warna hitam beda model di sisi meja tamu. Yang agak besar punya Widya. Yang sebelah pastilah miliknya.
"Kayaknya sudah semua kok." kata Aya
Yoga memastikan, sembari menghampiri baju-baju yang banyak bergantungan di belakang pintu kamar. Mengambil sebuah bra warna pink ukuran kecil.
"Ini. Punyamu Ay?"
"Bukan. Punyaku udah masuk ke tas kan say?"
"Sudah kok." jawab Widya sambil menjinjing tasnya. Dan menyerahkan satu lagi pada Aya.
August31, 08.25
"Entah. Di rumah neneknya atau di penginapan."
Aya duduk saja di lantai ruang tengah yang tak seberapa luas itu. Televisi menyiarkan apa juga, dia tak sebegitu memperhatikan. Widya pun seperti hanya membiarkan dirinya tak menatap layar. Hanya bersila dengan santai melipat beberapa potong jemuran di depannya.
"Assalamualaikum..."
Berdiri di depan pintu kamar. Mengenakan sarung bermotif entah kotak atau bulat atau batik warna merah. Dengan kemeja lengan pendek yang bermotif, juga warna merah. Seperti baru pulang dari masjid atau surau. Melepas kopyah dan mengusap wajah dengan dua tangannya. Seperti gerakan menutup muka.
Aya duduk selonjor di sisi matras sebelah kiri, menyandarkan tubuhnya ke dinding. Melihat Yoga tanpa bicara. Yang langsung menerjunkan tubuhnya ke matras di sisi seberang kaki kanannya. Telungkup dan menangis.
"Kata berita di TV, Aisyah akan segera pulang say..." Suara Widya dari ruang tengah.
Aya hanya mendongak. Yoga pun segera beranjak. Mengusap air matanya dan berdiri.
"Barang-barangmu Ay, pakaianmu, apa sudah kau kemas semua?"
Aya melirik dua woman backpack warna hitam beda model di sisi meja tamu. Yang agak besar punya Widya. Yang sebelah pastilah miliknya.
"Kayaknya sudah semua kok." kata Aya
Yoga memastikan, sembari menghampiri baju-baju yang banyak bergantungan di belakang pintu kamar. Mengambil sebuah bra warna pink ukuran kecil.
"Ini. Punyamu Ay?"
"Bukan. Punyaku udah masuk ke tas kan say?"
"Sudah kok." jawab Widya sambil menjinjing tasnya. Dan menyerahkan satu lagi pada Aya.
August31, 08.25
Senin, 27 Agustus 2018
"Tiga jam itu waktu toleransi wajar -setidaknya untuk orang-orang kita yang cenderung sabar ataukah suka molor- untuk menunggu sebuah berita. Lebih dari itu, ambang batas kewarasan sudah mulai bias." Katanya waktu itu.
Time heals dan time teaches itu ternyata benar adanya. Bisa karena biasa itu juga nyata. Tiga jam, enam jam, dua belas jam, enam belas jam, tiga hari, pun lima hari, berhasil terlewati. Tidak mudah tentunya. Segala rasa bermain di baliknya. Resah, kuatir, cemas luar biasa, bertanya-tanya, menduga-duga, bahkan sampai pada tahap menyimpulkan sendiri.
"Bagaimana bisa aku mengabaikan pesan seorang perempuan sebaik ini." Katamu waktu itu.
Dan kali ini, dia hanya mampu tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Bukan gesture tanda tak setuju. Lebih pada sulitnya memahami sebuah komunikasi yang tidak dua arah -mungkin ada ungkapan yang lebih baik dari ini- lagi.
"Apalah artinya mengabaikan seluruh percakapan semesta. Toh aku selalu punya Hening. Yang setia menemani saat berbalut pakaian ibadah, berlama-lama di atas sajadah. Sekedar duduk, tepekur, mengingat kembali sepenggal, sebaris, atau berhalaman-halaman kata dan cerita. Yang pernah ditulis, tapi belum satupun dibacakannya untukku. Dan Hening pun tak pernah bosan menyuguhkan fragmen hidup, percakapan antara hati dan pikiran." Begitu gumamnya pasrah.
Time heals dan time teaches itu ternyata benar adanya. Bisa karena biasa itu juga nyata. Tiga jam, enam jam, dua belas jam, enam belas jam, tiga hari, pun lima hari, berhasil terlewati. Tidak mudah tentunya. Segala rasa bermain di baliknya. Resah, kuatir, cemas luar biasa, bertanya-tanya, menduga-duga, bahkan sampai pada tahap menyimpulkan sendiri.
"Bagaimana bisa aku mengabaikan pesan seorang perempuan sebaik ini." Katamu waktu itu.
Dan kali ini, dia hanya mampu tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Bukan gesture tanda tak setuju. Lebih pada sulitnya memahami sebuah komunikasi yang tidak dua arah -mungkin ada ungkapan yang lebih baik dari ini- lagi.
"Apalah artinya mengabaikan seluruh percakapan semesta. Toh aku selalu punya Hening. Yang setia menemani saat berbalut pakaian ibadah, berlama-lama di atas sajadah. Sekedar duduk, tepekur, mengingat kembali sepenggal, sebaris, atau berhalaman-halaman kata dan cerita. Yang pernah ditulis, tapi belum satupun dibacakannya untukku. Dan Hening pun tak pernah bosan menyuguhkan fragmen hidup, percakapan antara hati dan pikiran." Begitu gumamnya pasrah.
^Tidak ada kabar adalah kabar, yaitu kabar tidak ada kabar. Tidak ada kepastian juga adalah kepastian, yaitu kepastian tidak ada kepastian. Hidup ini juga memang tentang menunggu. Menunggu kita untuk menyadari: kapan kita akan berhenti menunggu^
Butuh tingkat intelektual dan emosional tertentu untuk mampu memaknai ungkapan ini. Yang selalu juara kelas di sekolah, yang ujian thesisnya dengan nilai A+, bahkan yang wisuda dengan predikat cumlaude, belum tentu sepintar itu memahami nasihat bijak ini.
Dia hanya percaya bahwa kaupun percaya.
'Tak ada yang lebih berarti. Tak ada lagi yang aku cari dan tunggu dalam hidup.'
"Kenapa murung? Sudah hampir sejam ini kamu terlihat seperti itu"
"Entah..."
"Apa yang ada di otakmu kali ini?"
"Pagi pernah bercerita tentang ku kepadamu, kaktus?"
"Banyak, semua tentang syukur. Lalu kenapa kali ini kau sama sekali tak nampak seperti apa yang diceritakan pagi?"
"Entah, setelah membaca keinginannya to fly with someone"
"😄😄😄😄, hanya karena itu?"
"Tertawalah sesukamu, sepuasmu. Tapi ini yang kurasakan saat ini. Aku pernah beberapa waktu berhenti untuk membaca semua ceritanya, cerita mereka, sekedar untuk menghentikan segala yang melemahkan, menguatkan kembali rasa syukur dengan terus mengingat bahwa dia pernah ada dengan semua cintanya"
"Kamu tak sekuat namamu sebagai KESATRIA yang disematkan bapakmu. Jika kamu tulus mencintanya, berikan tanpa segala pinta. Berikan saja. Itu cinta...."
"🙂, I will.... "
"Jangan berjanji kepadaku, katakan pada hatimu..."
"😊, Terimakasih sudah menemani pagiku, kaktus..."
Kamis, 23 Agustus 2018
Selasa, 21 Agustus 2018
“Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhu bahwasanya dia berkata, “Saya menghadiri shalat idul-Adha bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di mushalla (tanah lapang). Setelah beliau berkhutbah, beliau turun dari mimbarnya dan didatangkan kepadanya seekor kambing. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelihnya dengan tangannya, sambil mengatakan: Dengan nama Allah. Allah Maha Besar. Kambing ini dariku dan dari orang-orang yang belum menyembelih di kalangan umatku”
Sungguh, ingin hari ini ada yang menyebut namaku saat penyembelihan hewan qurbannya. Di saat menahan nafas, degup jantung, dan air mata. Di antara rasa berserah diri, rindu, cinta, dan beratnya memaknai sebentuk kata 'ikhlas".. Dengan menyebut nama Allah, sebelum terputus jalan nafas sang hewan. Menggantung harap akan pahala mereka yang berqurban dan berhaji.
"Dan brahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. Ash-Shaaffaat)
Tak ada yang akan melebihi haru dan syukur. Menjadi dan disebut 'ibu'. Diberi kesempatan merasakan menjadi ibu. Pun telah puluhan tahun, dan sampai kapanpun, akan tetap menjadi seorang anak.
Mimpi, harap, do'a pun akan tetap sama. Merasakan mencinta, dicinta, sampai waktu berhenti. Dan semua rasa mati.
Aidil Adha 1439H
August22, 07.03
Sungguh, ingin hari ini ada yang menyebut namaku saat penyembelihan hewan qurbannya. Di saat menahan nafas, degup jantung, dan air mata. Di antara rasa berserah diri, rindu, cinta, dan beratnya memaknai sebentuk kata 'ikhlas".. Dengan menyebut nama Allah, sebelum terputus jalan nafas sang hewan. Menggantung harap akan pahala mereka yang berqurban dan berhaji.
"Dan brahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Rabbku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. Ash-Shaaffaat)
Tak ada yang akan melebihi haru dan syukur. Menjadi dan disebut 'ibu'. Diberi kesempatan merasakan menjadi ibu. Pun telah puluhan tahun, dan sampai kapanpun, akan tetap menjadi seorang anak.
Mimpi, harap, do'a pun akan tetap sama. Merasakan mencinta, dicinta, sampai waktu berhenti. Dan semua rasa mati.
Aidil Adha 1439H
August22, 07.03
"Lagu siapa lagi?"
There's so many times I've let you down
So many times I've played around
I'll tell you now, they don't mean a thing
So many times I've played around
I'll tell you now, they don't mean a thing
Every place I go, I think of you
Every song I sing, I sing for you
When I come back I'll wear your wedding ring
Every song I sing, I sing for you
When I come back I'll wear your wedding ring
So kiss me and smile for me
Tell me that you'll wait for me
Hold me like you'll never let me go
Tell me that you'll wait for me
Hold me like you'll never let me go
"Teruskanlah... "
So you stole my world,
Now I'm just a phony.
Remembering the girl
Leaves me down and lonely.
Sending in the weather
Make yourself feel better.
Now I'm just a phony.
Remembering the girl
Leaves me down and lonely.
Sending in the weather
Make yourself feel better.
But it's not so bad,
You're only the best
I ever had.
You don't need me back.
You're just the best
I ever had.
You're only the best
I ever had.
You don't need me back.
You're just the best
I ever had.
"When you're happy, you know all songs. When you're sad, you know the lyrics. Begitu kan? "
"He em... "
Tell me you love me
Come back and haunt me
Oh and I rush to the start
Running in circles, chasing our tails
Coming back as we are
Come back and haunt me
Oh and I rush to the start
Running in circles, chasing our tails
Coming back as we are
Nobody said it was easy
Oh it's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be so hard
I'm going back to the start
Oh it's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be so hard
I'm going back to the start
"Cukup?"
Menggeleng
"Apa lagi?"
"Aku sudah menyampaikan apa yang akan membuatku merasa cukup."
"Ashar. Sempatkan shalat."
"He em... "
August20. 20.20
"Belum berhenti?"
Menggeleng. Tanpa memalingkan wajah dari PC. Mengeja lirik dengan font miring warna kuning. Memenuhi seluruh kotak gambar Miley Cirus sedang duduk di depan piano. Mengikuti irama melantun lirih. Sesekali menarik nafas panjang. Tercekat. Isaknya menahan suaranya sejenak.
Menggeleng. Tanpa memalingkan wajah dari PC. Mengeja lirik dengan font miring warna kuning. Memenuhi seluruh kotak gambar Miley Cirus sedang duduk di depan piano. Mengikuti irama melantun lirih. Sesekali menarik nafas panjang. Tercekat. Isaknya menahan suaranya sejenak.
Everybody needs inspiration
Everybody needs a song
A beautiful melody
When the night's so long
Everybody needs a song
A beautiful melody
When the night's so long
'Cause there is no guarantee
That this life is easy
That this life is easy
Yeah, when my world is falling apart
When there's no light to break up the dark
That's when I, I
I look at you
When there's no light to break up the dark
That's when I, I
I look at you
"Ngena?"
Mengangguk
"Lagu siapa?"
Tetap tak memalingkan muka.
There's nothing here for me on this barren road
There's no one here while the city sleeps
And all the shops are closed
Can't help but think of the times I've had with you
Pictures and some memories will have to help me through, oh yeah
There's no one here while the city sleeps
And all the shops are closed
Can't help but think of the times I've had with you
Pictures and some memories will have to help me through, oh yeah
Dear God the only thing I ask of you is to hold her when I'm not around
When I'm much too far away
We all need that person who can be true to you
I left her when I found her
And now I wish I'd stayed
'Cause I'm lonely and I'm tired
I'm missing you again oh no
Once again
When I'm much too far away
We all need that person who can be true to you
I left her when I found her
And now I wish I'd stayed
'Cause I'm lonely and I'm tired
I'm missing you again oh no
Once again
"Nikmatilah... "
The love you keep inside
The love you keep for me
The love you keep for me
I stay to watch you fade away
I dream of you tonight
Tomorrow you`ll be gone
It gives me time to stay, to watch you fade away
I dream of you tonight
Tomorrow you`ll be gone
I wish by god you`ll stay
I dream of you tonight
Tomorrow you`ll be gone
It gives me time to stay, to watch you fade away
I dream of you tonight
Tomorrow you`ll be gone
I wish by god you`ll stay
I stay awake
I stay awake and watch you breathe
I stay awake and watch you fly, away into the night
Escaping through a dream
I stay awake and watch you breathe
I stay awake and watch you fly, away into the night
Escaping through a dream
"Adzan. Sempatkan shalat."
Melangkah. Berwudhu. Mengenakan baju ibadah. Takbiratul ihram, ruku', sujud, hingga salam. Merebahkan diri sejenak di atas alas shalat. Bergerak-gerak bibirnya bergetar. Menguntai syukur, pujian sekaligus pinta. Di antara linang yang tak jeda.
August21,19.54
Senin, 20 Agustus 2018
"Berat? "
Mencoba menatap ke depan. Tersenyum dengan mata sembabnya.
"Won't you make it easier?"
"I will... "
"Takdir Tuhan itu pasti. Hanya kekuatan do'a yang mampu mengubahnya. Masih yakin dengan itu?"
"He em... "
"Terimakasih Tuhan, masih Kau bentangkan langitmu yang maha luas. Untuk menampung do'a-do'aku, dan do'a-do'a mereka yang selalu menyebut namaku dalam tiap sujud di lima waktu dan sepertiga malamnya. Masih bersyukur dengan cara itu?"
"He em... "
"Sekarang tenangkan dirimu. Pergilah tidur. Masih ingin bertemu pagi kan?"
"He em... "
"Jangan lupa. Pandang dua pasang mata sipit itu. Dendangkan lirih lagu Yaa Habibal Qalbi dengan suara jelekmu. Ingatlah. Mereka membutuhkanmu. Seorang ibu yang sehat, pintar, dan kuat."
"He em... "
August20. 22.00
Mencoba menatap ke depan. Tersenyum dengan mata sembabnya.
"Won't you make it easier?"
"I will... "
"Takdir Tuhan itu pasti. Hanya kekuatan do'a yang mampu mengubahnya. Masih yakin dengan itu?"
"He em... "
"Terimakasih Tuhan, masih Kau bentangkan langitmu yang maha luas. Untuk menampung do'a-do'aku, dan do'a-do'a mereka yang selalu menyebut namaku dalam tiap sujud di lima waktu dan sepertiga malamnya. Masih bersyukur dengan cara itu?"
"He em... "
"Sekarang tenangkan dirimu. Pergilah tidur. Masih ingin bertemu pagi kan?"
"He em... "
"Jangan lupa. Pandang dua pasang mata sipit itu. Dendangkan lirih lagu Yaa Habibal Qalbi dengan suara jelekmu. Ingatlah. Mereka membutuhkanmu. Seorang ibu yang sehat, pintar, dan kuat."
"He em... "
August20. 22.00
"Menyesal? "
"Ada yang harus disesalkan? Apa?"
"Entahlah. Kau saja yang pasti bisa merasakannya."
"Aku hanya merasa kosong. Hilang. Bukan siapa-siapa.. "
"Masih ingat kalimat-kalimat penghibur dan penyemangat diri itu?"
"He em... "
"Bahagia itu bukan ditunggu, dicari. Tapi diciptakan. Masih mampu?"
Menggeleng
"Yang sedang bersedih. Ketahuilah. Kalian dicintai. Sepenuhnya. Yang itu?"
"He em.. "
"Paham? "
"Semoga... "
"Apa yang kamu putuskan, itulah yang akan terjadi. Kalau ingin bahagia, ya berbahagialah. Yang itu? "
"He em.. "
"Syukurlah kau masih mengingat semuanya. Masih mau menghibur dan menyemangati diri sendiri? "
"He em... "
"Berdo'alah. Apapun. Katamu tak ada yang sia-sia bagi Tuhan."
"He em... "
August20, 20.52
"Ada yang harus disesalkan? Apa?"
"Entahlah. Kau saja yang pasti bisa merasakannya."
"Aku hanya merasa kosong. Hilang. Bukan siapa-siapa.. "
"Masih ingat kalimat-kalimat penghibur dan penyemangat diri itu?"
"He em... "
"Bahagia itu bukan ditunggu, dicari. Tapi diciptakan. Masih mampu?"
Menggeleng
"Yang sedang bersedih. Ketahuilah. Kalian dicintai. Sepenuhnya. Yang itu?"
"He em.. "
"Paham? "
"Semoga... "
"Apa yang kamu putuskan, itulah yang akan terjadi. Kalau ingin bahagia, ya berbahagialah. Yang itu? "
"He em.. "
"Syukurlah kau masih mengingat semuanya. Masih mau menghibur dan menyemangati diri sendiri? "
"He em... "
"Berdo'alah. Apapun. Katamu tak ada yang sia-sia bagi Tuhan."
"He em... "
August20, 20.52
"Ada yang berubah... " Bertanya seraya tertawa. Seolah mengejek.
"He em... " Menunduk mengiyakan. Melihat kedua jempol kakinya yang dimainkan tak beraturan.
"Katamu roda berputar. Tak ada yang abadi. Hanya perubahan."
"He em... " Masih menunduk. Tak menemukan kata.
"Ini hidup kan? Katamu hidup itu belajar. Yang tak pernah lulus."
"He em.. " Jempol kakinya masih bergerak-gerak. Kali ini lebih lambat. Mengalahkan gerakan bulir-bulir bening yang berjatuhan dengan cepat, di ujung mata, pipi, dan berhamburan ke bawah. Membasahi ujung kerudung, celana, dan sendal di lantai.
"You used to say 'that's life' kan. Masih mau belajar? "
"He em... "
August20, 20. 26
"He em... " Menunduk mengiyakan. Melihat kedua jempol kakinya yang dimainkan tak beraturan.
"Katamu roda berputar. Tak ada yang abadi. Hanya perubahan."
"He em... " Masih menunduk. Tak menemukan kata.
"Ini hidup kan? Katamu hidup itu belajar. Yang tak pernah lulus."
"He em.. " Jempol kakinya masih bergerak-gerak. Kali ini lebih lambat. Mengalahkan gerakan bulir-bulir bening yang berjatuhan dengan cepat, di ujung mata, pipi, dan berhamburan ke bawah. Membasahi ujung kerudung, celana, dan sendal di lantai.
"You used to say 'that's life' kan. Masih mau belajar? "
"He em... "
August20, 20. 26
Minggu, 19 Agustus 2018
Ini gerah?
Baiknya keluar sebentar
Sebelum mencapai pagar
Mendongak
Bulan tanggal tujuh sudah bertengger anggun di lebih dari separuh putaran bumi
Tak sesempurna purnama memang
Tapi takjub selalu membuncah
Tak ada yang mampu melebihi ciptaanNya
Meski tak kutemukan rasi Kalajengking dan Gubuk Penceng
Yang selalu suka aku tunjuk-tunjuk saat main di halaman rumah ibu sewaktu kecil dulu
Tapi bintang-bintang besar bertebaran
Berebut pamer cahaya malam ini
Bersyukur masih diberi waktu
Menyaksikan keagungan Tuhan yang tiada habisnya
Bertanya sendiri
'Apa masih bisa memandanginya
Lagi
Bersama anak cucu
Atau hanya menceritakannya saja
Nanti?'
August19, 20.45
Baiknya keluar sebentar
Sebelum mencapai pagar
Mendongak
Bulan tanggal tujuh sudah bertengger anggun di lebih dari separuh putaran bumi
Tak sesempurna purnama memang
Tapi takjub selalu membuncah
Tak ada yang mampu melebihi ciptaanNya
Meski tak kutemukan rasi Kalajengking dan Gubuk Penceng
Yang selalu suka aku tunjuk-tunjuk saat main di halaman rumah ibu sewaktu kecil dulu
Tapi bintang-bintang besar bertebaran
Berebut pamer cahaya malam ini
Bersyukur masih diberi waktu
Menyaksikan keagungan Tuhan yang tiada habisnya
Bertanya sendiri
'Apa masih bisa memandanginya
Lagi
Bersama anak cucu
Atau hanya menceritakannya saja
Nanti?'
August19, 20.45
Rabu, 15 Agustus 2018
Kehabisan kata-kata? Tak apa.
Jadilah pagi saja
Yang selalu kunanti sapa hangatnya
Aroma dan terangnya
Yang senantiasa mengganti malam dan menghalau sisa mimpi buruk
Menggeliatkan syukur saat membuka mata dan bernafas
Menggelitik harap baru
Di setiap bait do'a dan bait cinta yang kubaca
Tak mampu bicara? Diamlah
Duduk sajalah di sampingku
Menuang teh hangat yang asapnya masih mengebul jelas
Biar kuminum perlahan dengan alas cangkir itu
Mengusir rasa pedas yang tersisa
Berdirilah di sana
Ijinkan aku menatap sebentar
Mata tua itu...
Kau sudah pasti tahu
Apa yang membuatku merasa cukup
August15, 21.32
Minggu, 12 Agustus 2018
Menikmati kemiringan di antara kelokan
Guncangan saat menanjak
Nafas yang tertahan kala menikung
Terasering itu memanjakan mata
Pun terik serupa memantulkan kilaunya
Di antara yang menghijau itu ada senyum
Berdiri
Di sela-sela dahan padi yang menguning
Terpejam menyimak suara alam
Paduan gemericik air sungai mengalir,
Gesekan dedaun kering oleh terpaan angin,
Dan suara binatang-binatang hutan yang bersahutan
Aroma basah tanah terguyur hujan berhari-hari,
Menikmati selimut saat siang bergelung kedinginan
Dan menyerah kalah sebelum berjuang menyentuh air
"Kalau Tuhan menyediakan rizki,
Would there be a home?
Not for me, but to build a dream
Bila tak ada waktuku untuk pulang kesana
Tinggalah bersama mimpiku
Untuk mengenangku... "
August12, 21.34
Guncangan saat menanjak
Nafas yang tertahan kala menikung
Terasering itu memanjakan mata
Pun terik serupa memantulkan kilaunya
Di antara yang menghijau itu ada senyum
Berdiri
Di sela-sela dahan padi yang menguning
Terpejam menyimak suara alam
Paduan gemericik air sungai mengalir,
Gesekan dedaun kering oleh terpaan angin,
Dan suara binatang-binatang hutan yang bersahutan
Aroma basah tanah terguyur hujan berhari-hari,
Menikmati selimut saat siang bergelung kedinginan
Dan menyerah kalah sebelum berjuang menyentuh air
"Kalau Tuhan menyediakan rizki,
Would there be a home?
Not for me, but to build a dream
Bila tak ada waktuku untuk pulang kesana
Tinggalah bersama mimpiku
Untuk mengenangku... "
August12, 21.34
Kamis, 09 Agustus 2018
Dari kecil saya cenderung menyukai warna-warna lembut; cream, soft pink, light grey, off white. Meski papa selalu mengatai mbulak (pudar), tapi setiap dapat jatah uang lebaran selalu warna-warna itu yang jadi pilihan saya untuk pakaian.
Sejak mengenal horoscope, saya mulai sedikit berpikir tentang hal 'warna anda mencerminkan pribadi anda'. Dalam hati berkata 'pantas saja orang selalu menyebutku kalem'.
Di fase-fase kehidupan berikutnya, dengan bertambahnya usia, lingkungan, bahan bacaan, dan tontonan, saya mulai sedikit bereksperimen. Baik dengan make up, warna-warna pakaian yang lebih tegas, model sepatu, aksesoris, semua menarik untuk teori 'mix n match'. Mencoba merapikan alis mata dan melukisnya dengan pensil alis, berkenalan dengan lipliner, dengan harapan tak melulu setia dengan warna lipstik matte.
Sayapun pernah sangat tergila-gila dengan warna hitam. Entah karena suka, atau lebih karena tips fashion 'hitam mengesankan lebih ramping'.
Apapun pilihan warna saya, almari pakaian serupa membias pelangi. Seluruh warna semesta memenuhi raknya.
PS: hanya tentang warna
Tulisan saya tak pernah selesai. Pun tak terbersit memberi judul yang sesuai.
August9, 23.21
Sejak mengenal horoscope, saya mulai sedikit berpikir tentang hal 'warna anda mencerminkan pribadi anda'. Dalam hati berkata 'pantas saja orang selalu menyebutku kalem'.
Di fase-fase kehidupan berikutnya, dengan bertambahnya usia, lingkungan, bahan bacaan, dan tontonan, saya mulai sedikit bereksperimen. Baik dengan make up, warna-warna pakaian yang lebih tegas, model sepatu, aksesoris, semua menarik untuk teori 'mix n match'. Mencoba merapikan alis mata dan melukisnya dengan pensil alis, berkenalan dengan lipliner, dengan harapan tak melulu setia dengan warna lipstik matte.
Sayapun pernah sangat tergila-gila dengan warna hitam. Entah karena suka, atau lebih karena tips fashion 'hitam mengesankan lebih ramping'.
Apapun pilihan warna saya, almari pakaian serupa membias pelangi. Seluruh warna semesta memenuhi raknya.
PS: hanya tentang warna
Tulisan saya tak pernah selesai. Pun tak terbersit memberi judul yang sesuai.
August9, 23.21
Selasa, 07 Agustus 2018
"Ay... "
"Dalem sayang... "
"Iya ma... "
"Alhamdulillah. Sini peluk mama."
Kedua bapak anak itu berhamburan mendekat. Masing-masing memilih tempat di samping kanan dan kirinya.
"Mama sih selalu manggilnya gitu. Kirain tadi butuh aku. Kan, ayah juga keluar. Padahal tadi pamit mandi."
Tersenyum lebar. Matanya berbinar
"Mama ngga salah kan? Sekali panggil untuk bisa dapat pelukan kalian berdua. Ay untuk ayah. Dan ay untuk Aisyah."
"Terimakasih sayang... "
Tersenyum dan tak kuasa menahan haru. Dipeluknya erat keduanya
"I love you ay... "
August7, 21.36
"Dalem sayang... "
"Iya ma... "
"Alhamdulillah. Sini peluk mama."
Kedua bapak anak itu berhamburan mendekat. Masing-masing memilih tempat di samping kanan dan kirinya.
"Mama sih selalu manggilnya gitu. Kirain tadi butuh aku. Kan, ayah juga keluar. Padahal tadi pamit mandi."
Tersenyum lebar. Matanya berbinar
"Mama ngga salah kan? Sekali panggil untuk bisa dapat pelukan kalian berdua. Ay untuk ayah. Dan ay untuk Aisyah."
"Terimakasih sayang... "
Tersenyum dan tak kuasa menahan haru. Dipeluknya erat keduanya
"I love you ay... "
August7, 21.36
Minggu, 05 Agustus 2018
"Katamu kau lelah berkata-kata."
"He em."
"Kenapa masih terus berkata?"
"Saat itu...
Aku merasa telah menemukan seseorang yang bisa membaca hatiku.
Aku suka caranya merangkai aksara. Sederhana. Kadang tanpa makna. Tapi aku membacanya tanpa jeda.
Berharap...
Dia hanya menggunakan koma. Akan ada, dan ada lagi kalimat berikutnya.
Aku suka caranya tiba. Menjadi pagi. Membawakanku matahari. Mencandai hariku dengan tinta warna-warni.
Aku selalu suka cara dia menyapa. Jarang kutemukan titik dan tanda seru. Yang akan membuat kalimatku seperti tak diinginkan.
Aku menunggu setiap tanda tanya di akhir kalimatnya. Karena hanya tanda itu yang membuat kalimatku mengalir tanpa pernah berakhir."
"Katamu kata-katamu sering tak diberi arti..."
"He em. Berkali merasa begitu."
"Kenapa tak biarkan kata-kata beristirahat?"
"Entahlah...
Selalu ada mimpi yang membuatku tak ingin berhenti. Menulis, mencatat, bercerita.
Membebaskan koma di setiap ujung frasaku. Seperti aku melihat mata itu, hidung itu, dan bibir itu mencoba meyakinkan 'aku cinta kamu, koma'
Saat begitu hatiku selalu berbunga-bunga. Menunggu frasa berikutnya dan berikutnya.
Menanti saat dia berjanji akan membacakan catatan-catatannya untukku."
"Kau akan terus berkata?"
"He em."
"Sampai kapan?"
"Sampai waktuku selesai...
Saat kata tak menemukan lagi jalan untuk keluar dari mulut yang menganga."
"Lalu kau akan berkata 'tidurlah kata-kata'?"
"Tidak."
"Apa lagi?"
"Selama Tuhan mau mempertemukan aku dengan pagi, kataku tak akan berhenti. Selalu berharap ada rindu yang tak berspasi, kasih yang berulang di setiap alinea, panjat do'a yang tak terpenjara kurung buka dan kurung tutup, ingin yang terdiri dari sepuluh dan dua puluh sembilan huruf i, dan cinta yang selalu mengabaikan titik."
Kutunggu kamu pada hari ketika tiada apa-apa yang ingin kulakukan, selain melihat dan menyentuhmu. Kau tahu hari apa itu. Hari yang diawali dengan kata setiap
August6, 01.33
"He em."
"Kenapa masih terus berkata?"
"Saat itu...
Aku merasa telah menemukan seseorang yang bisa membaca hatiku.
Aku suka caranya merangkai aksara. Sederhana. Kadang tanpa makna. Tapi aku membacanya tanpa jeda.
Berharap...
Dia hanya menggunakan koma. Akan ada, dan ada lagi kalimat berikutnya.
Aku suka caranya tiba. Menjadi pagi. Membawakanku matahari. Mencandai hariku dengan tinta warna-warni.
Aku selalu suka cara dia menyapa. Jarang kutemukan titik dan tanda seru. Yang akan membuat kalimatku seperti tak diinginkan.
Aku menunggu setiap tanda tanya di akhir kalimatnya. Karena hanya tanda itu yang membuat kalimatku mengalir tanpa pernah berakhir."
"Katamu kata-katamu sering tak diberi arti..."
"He em. Berkali merasa begitu."
"Kenapa tak biarkan kata-kata beristirahat?"
"Entahlah...
Selalu ada mimpi yang membuatku tak ingin berhenti. Menulis, mencatat, bercerita.
Membebaskan koma di setiap ujung frasaku. Seperti aku melihat mata itu, hidung itu, dan bibir itu mencoba meyakinkan 'aku cinta kamu, koma'
Saat begitu hatiku selalu berbunga-bunga. Menunggu frasa berikutnya dan berikutnya.
Menanti saat dia berjanji akan membacakan catatan-catatannya untukku."
"Kau akan terus berkata?"
"He em."
"Sampai kapan?"
"Sampai waktuku selesai...
Saat kata tak menemukan lagi jalan untuk keluar dari mulut yang menganga."
"Lalu kau akan berkata 'tidurlah kata-kata'?"
"Tidak."
"Apa lagi?"
"Selama Tuhan mau mempertemukan aku dengan pagi, kataku tak akan berhenti. Selalu berharap ada rindu yang tak berspasi, kasih yang berulang di setiap alinea, panjat do'a yang tak terpenjara kurung buka dan kurung tutup, ingin yang terdiri dari sepuluh dan dua puluh sembilan huruf i, dan cinta yang selalu mengabaikan titik."
Kutunggu kamu pada hari ketika tiada apa-apa yang ingin kulakukan, selain melihat dan menyentuhmu. Kau tahu hari apa itu. Hari yang diawali dengan kata setiap
August6, 01.33
Jumat, 03 Agustus 2018
Betapa bahagianya hatiku saat
Ku duduk berdua denganmu
Berjalan bersamamu
Menarilah denganku
Cantik, simple
T-shirt putih polos, jeans belel
Rambut diekor kuda bagian atas saja, dari sisi telinga ke tengkuk hampir botak
Berkacamata
Tak lupa gitar yang selalu menggantung elegan
Semua lirik dari segala jenis genre dimainkan apik oleh suara lembutnya yang kuat
Tak pernah mengenal karakter dia sebelumnya
Tapi dalam setiap jeda, dialog solonya menyapa pemirsa
Ada lara di sana
Pernah tersakiti berkali
Yang mengubahnya menjadi dirinya yang tangguh seperti sekarang
Bila nanti saatnya telah tiba
Kuingin kau menjadi milikku
Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan
Berlarian kesana-kemari dan tertawa
Namun bila saat berpisah telah tiba
Izinkanku menjaga dirimu
Berdua menikmati pelukan di ujung waktu
Sudilah kau temani diriku
Nyanyian Heningku
August4, 00.29
Rabu, 01 Agustus 2018
Hey Julie,
Apa kabarmu?
Masih moody,
Sensitif
Peduli (terlalu bahkan)
Sulit melepaskan
Rentan terhadap stress
Rapuh
Melakukan smua untuk orang lain, hingga melupakan diri sendiri
Kalau sudah cinta semua-muanya diberikan
Bila disakiti bertahan
Ketika kecewa menarik diri, bersembunyi di balik cangkangnya
Saat sedih menikmati sejenak, lalu bangkit lagi
Menyeka air mata, mengolah emosi, dan tersenyum kembali
Selalu berusaha tampak kuat?
Hanya tersenyum, tenang, menggumam
"Hehe... Ada yang salah?
Itu sebagian saja kata rasi bintang yang menaungiku
Beginilah adanya aku
Aku tak minta siapapun untuk memahami dan menerima
Raga, jiwa, rasa ini semua karunia
Yang membenci toh tak akan mau melihat sisi baikku
Pun yang mencinta, akan membiarkan ku tetap begitu
Bersyukur menjadi aku,
Dan semua yang melengkapiku
Purnama boleh pergi dan datang lagi
Toh matahari selalu setia mengantar pagi
Tuhan tak pernah bosan memberi harapan."
Hey Julie,
Never regret of what you have been
Just be grateful for and proud of a woman you are becoming
Keep being yourself
You're amazing just the way you are
August2, 00.17
Kamis, 26 Juli 2018
"Hallo, Teh."
"Hey, Neng. Sini sini masuk. Lagi istirahat ya kamu?"
"Iya. Sibuk kah, Teh?"
"Nooo... Santaai kayak di pantai. Hahaha..." Terbahak si teteh. Lugas tawanya, selugas sikap dan segala tuturnya. Tak pernah reseh. Tak sering nyinyir. Benci ngurusin orang. Lebih suka ngobrolin musik dan makanan. Terbuka sama siapa saja.
"Eh aku bawa koleksi DVD ku loh. Padahal channel TV nya udah banyak ya. Kadang kok masih ngerasa sepi aja. Suka mati gaya kalau seharian gak ada tamu."
"Yang ini kah?" album Santana aku sodorin, untuk diputar di player.
"Lihat nih. Tagihan ponselku bulan kemarin."
"Haah... !" melongo menyaksikan lembaran kertas di depanku. Rekening koran tagihan telpon bulanan si teteh. Beberapa baris berurutan ke bawah daftar bicara, lengkap dengan kolom tanggal, hari, jam dan nominalnya. Berikutnya daftar pesan pendek. Dan seterusnya berseling antara waktu bicara dan pesan pendek. Fantastis jumlah yang harus dibayar. Tak bersuara, hanya menggumam 'ini mah gajiku tiga bulan'.
"Aku tuh suka ngambek orangnya ya. Kadang gak jelas juga alasannya. Habis si Agung juga suka cemburuan gak jelas gitu. Habis telponan masih marahan. Sms-an juga masih masalah. Repot kan?"
"Hehe. Yang keras siapa coba? Teteh apa mas Agung?"
"Dua-duanya kayaknya sih."
"Kelamaan pacarannya kali."
"Gitu ya?"
"Kali aja. Hahaha..." terkekeh berdua kita.
And it's a hot one
Like seven inches from the midday sun
And if you said this life's ain't good enough
I would give my life to lift you up
Cause you're so smooth
Suara serak Rob Thomas mendayu, sedikit rancak, tapi tetap sendu bagiku.
"Kadang kalau udah ketemu gitu kita ketawa ya. Sama-sama mikir ngapain kita selalu pake acara berantem, marahan, tangis-tangisan gitu. Berikutnya kita juga becanda-becandaan lagi. Gak perlu kan sebenarnya ya."
"Heem. Fluktuasi kan, Teh. Gak nilai mata uang aja yang naik turun. Perasaan juga bisa begitu."
"Eh tahu engga. Yang terakhir dia bilang "Kita gak bisa kayak gini terus. Aku harus menikahi kamu."
* * *
Ruangan sempit di ujung kantor megah yang berkarpet hijau, dinding-dindingnyapun berbalut karpet hijau -lebih mirip studio musik menurutku- itu kini sering lengang. Tak ada lagi agen pengganti. Pilihan tempatku menghabiskan jam istirahat, setelah makan siang dan shalat. Tempat ngobrol dan berbagi banyak cerita dengan si teteh.
* * *
Lima tahun kemudian
"Hey kamu yang apa kabar. Aku mah selalu baik. Di sini diperlakukan seperti putri raja. Sejak sebelum menikah sampai lahir bayi pertamaku, setiap hari diupacarain. Dipingit, dilulurin, dimaskerin, gak boleh keluar rumah sampai upacara perkawinan. Hamil diupacarain. Lahiran diupacarain. Lepas pusar bayi diupacarain. Pokoknya tiada hari tanpa upacara. Tapi pesanku sih, cukup aku aja. Kamu dan yang lain, sebisa mungkin jangan deh, menikah beda suku, beda agama, dan beda adat. Mertuaku berkasta tinggi, dia tokoh agama dan ketua adat di sini. Suamiku gak pernah bisa gak nurut. Membantah sama dengan dikeluarkan dari kasta dan dibuang dari keluarga. Pilihannya cuma mengikuti aturan, atau pertumpahan darah."
Hmm...
Begitu mengagumkan cinta
Harus ditebus dengan duka lara
July27, 01.50
"Hey, Neng. Sini sini masuk. Lagi istirahat ya kamu?"
"Iya. Sibuk kah, Teh?"
"Nooo... Santaai kayak di pantai. Hahaha..." Terbahak si teteh. Lugas tawanya, selugas sikap dan segala tuturnya. Tak pernah reseh. Tak sering nyinyir. Benci ngurusin orang. Lebih suka ngobrolin musik dan makanan. Terbuka sama siapa saja.
"Eh aku bawa koleksi DVD ku loh. Padahal channel TV nya udah banyak ya. Kadang kok masih ngerasa sepi aja. Suka mati gaya kalau seharian gak ada tamu."
"Yang ini kah?" album Santana aku sodorin, untuk diputar di player.
"Lihat nih. Tagihan ponselku bulan kemarin."
"Haah... !" melongo menyaksikan lembaran kertas di depanku. Rekening koran tagihan telpon bulanan si teteh. Beberapa baris berurutan ke bawah daftar bicara, lengkap dengan kolom tanggal, hari, jam dan nominalnya. Berikutnya daftar pesan pendek. Dan seterusnya berseling antara waktu bicara dan pesan pendek. Fantastis jumlah yang harus dibayar. Tak bersuara, hanya menggumam 'ini mah gajiku tiga bulan'.
"Aku tuh suka ngambek orangnya ya. Kadang gak jelas juga alasannya. Habis si Agung juga suka cemburuan gak jelas gitu. Habis telponan masih marahan. Sms-an juga masih masalah. Repot kan?"
"Hehe. Yang keras siapa coba? Teteh apa mas Agung?"
"Dua-duanya kayaknya sih."
"Kelamaan pacarannya kali."
"Gitu ya?"
"Kali aja. Hahaha..." terkekeh berdua kita.
And it's a hot one
Like seven inches from the midday sun
And if you said this life's ain't good enough
I would give my life to lift you up
Cause you're so smooth
Suara serak Rob Thomas mendayu, sedikit rancak, tapi tetap sendu bagiku.
"Kadang kalau udah ketemu gitu kita ketawa ya. Sama-sama mikir ngapain kita selalu pake acara berantem, marahan, tangis-tangisan gitu. Berikutnya kita juga becanda-becandaan lagi. Gak perlu kan sebenarnya ya."
"Heem. Fluktuasi kan, Teh. Gak nilai mata uang aja yang naik turun. Perasaan juga bisa begitu."
"Eh tahu engga. Yang terakhir dia bilang "Kita gak bisa kayak gini terus. Aku harus menikahi kamu."
* * *
Ruangan sempit di ujung kantor megah yang berkarpet hijau, dinding-dindingnyapun berbalut karpet hijau -lebih mirip studio musik menurutku- itu kini sering lengang. Tak ada lagi agen pengganti. Pilihan tempatku menghabiskan jam istirahat, setelah makan siang dan shalat. Tempat ngobrol dan berbagi banyak cerita dengan si teteh.
* * *
Lima tahun kemudian
"Hey kamu yang apa kabar. Aku mah selalu baik. Di sini diperlakukan seperti putri raja. Sejak sebelum menikah sampai lahir bayi pertamaku, setiap hari diupacarain. Dipingit, dilulurin, dimaskerin, gak boleh keluar rumah sampai upacara perkawinan. Hamil diupacarain. Lahiran diupacarain. Lepas pusar bayi diupacarain. Pokoknya tiada hari tanpa upacara. Tapi pesanku sih, cukup aku aja. Kamu dan yang lain, sebisa mungkin jangan deh, menikah beda suku, beda agama, dan beda adat. Mertuaku berkasta tinggi, dia tokoh agama dan ketua adat di sini. Suamiku gak pernah bisa gak nurut. Membantah sama dengan dikeluarkan dari kasta dan dibuang dari keluarga. Pilihannya cuma mengikuti aturan, atau pertumpahan darah."
Hmm...
Begitu mengagumkan cinta
Harus ditebus dengan duka lara
July27, 01.50
Kamis, 19 Juli 2018
Mungkin aku akan lupa bagaimana rasanya -bila tak diingatkan kembali- sirloin, tenderloin steak, french fries, mie kuah, rujak cingur duapuluh ribu dan yang enam ribuan.
Pun tak ingat benar bedanya banana split yang disajikan dalam piring mika warna hijau berbentuk daun, lengkap dengan garis gurat-gurat menyerupai aslinya, dengan yang di cawan bening berkaki panjang.
Juga mini black forest berpita coklat yang kubelah pada tanggal satu maret, memaksakan taggal duapuluh sembilan pebruari yang hanya kutemui empat tahun sekali. Jus mentimun, plecing kangkung, dan sambal pencit yang bikin gobyos di warung tepi sawah.
Tapi aku tak pernah lupa saat kapan melihatnya, mengambil gambarnya beberapa jenak sebelum menikmati suapan demi suapan. Lalu merasakan sensasinya meleleh memenuhi lidahku. Semeleleh pandanganmu menyaksikan aku merahabinya pelan-pelan. Hingga tak bersisa, ataupun menyisakan potongan-potongan terakhir untuk kau habiskan, atau kupaksa menyuapimu demi menghabiskan.
Itu semua tentang apa? Hal makan?
Bukan merurutku. Itu tentang waktu, tentang kesempatan, dan tentang cinta. Cara cinta menghargai waktu.
Terimakasih waktu.
Terimakasih cinta.
July19, 20.52
Pun tak ingat benar bedanya banana split yang disajikan dalam piring mika warna hijau berbentuk daun, lengkap dengan garis gurat-gurat menyerupai aslinya, dengan yang di cawan bening berkaki panjang.
Juga mini black forest berpita coklat yang kubelah pada tanggal satu maret, memaksakan taggal duapuluh sembilan pebruari yang hanya kutemui empat tahun sekali. Jus mentimun, plecing kangkung, dan sambal pencit yang bikin gobyos di warung tepi sawah.
Tapi aku tak pernah lupa saat kapan melihatnya, mengambil gambarnya beberapa jenak sebelum menikmati suapan demi suapan. Lalu merasakan sensasinya meleleh memenuhi lidahku. Semeleleh pandanganmu menyaksikan aku merahabinya pelan-pelan. Hingga tak bersisa, ataupun menyisakan potongan-potongan terakhir untuk kau habiskan, atau kupaksa menyuapimu demi menghabiskan.
Itu semua tentang apa? Hal makan?
Bukan merurutku. Itu tentang waktu, tentang kesempatan, dan tentang cinta. Cara cinta menghargai waktu.
Terimakasih waktu.
Terimakasih cinta.
July19, 20.52
Rabu, 18 Juli 2018
Sedikit berdecit waktu kubuka. Melangkah tiga jengkal dari daun pintu. Kusandarkan tubuh bagian depanku pada pagar pembatas balkon yang sedikit lebih tinggi di atas perutku. Mendongak menyaksikan langit yang sedikit panas menurutku, meski matahari belum tepat di atas kepala waktu itu. Hamparan sawah yang mulai menguning sedikit mengalihkan kernyit dahiku karena menahan silau.
"Boleh ketemu?"
"Untuk apa? "
"Meminta maaf."
"Maafkanlah dirimu sendiri untuk pikiran-pikiranmu itu."
"Kalau tidak boleh, ijinkan aku melihatmu sebentar saja. Mungkin untuk terakhir kalinya. Setelah itu aku gak akan ganggu kamu lagi."
"Sudahlah. Mungkin kamu butuh waktu untuk berdamai dengan dirimu sendiri dulu."
"Ijinkan aku bertemu, sekali saja. Aku ingin mencium kakimu."
Sedikit menunduk. Suara air sungai yang mengitari pondok ini, menyerupai batas area persawahan di seberangnya. Terlihat dua orang di gubuk kecil di salah satu petak sawah sedang menarik-narik tali. Menggerak-gerakkan pita atau kertas berbentuk segitiga menyerupai bendera, yang dipasang di sela-sela sepanjang tali mengitari sekotak sawah miliknya. Rupanya untuk mengusir burung-burung yang ramai hinggap. Berharap berhenti mengenyangkan selera makan siangnya, agar saat panen tak berkurang hasil padinya.
Kutarik sebuah kursi rotan. Dengan sandaran agak tinggi tidak melebihi kepalaku. Dengan spons tipis berbalut oscar coklat tua bebentuk setengah lingkaran, mungkin bermaksud tidak menyakiti pantatku saat mendudukinya. Kusandarkan pada balkon tempatku berdiri tadi. Kali ini mataku disibukkan oleh segerombolan burung walet yang tiba-tiba muncul entah dari mana asalnya. Mungkin juga karena langit tiba-tiba saja mendung. Beterbangan di atas sungai, sawah dan sekitar balkon.
"Untung yang bicara ini kamu. Coba orang di jalanan, pasti sudah aku gampar."
Semendidih itu otakku malam sebelumnya. Seperti tak kuasa lagi menahan sakitnya hati, karena kepercayaan yang dirusak.
"Kau sudah mengenalku. Kenapa berusaha menciptakan aku yang lain di pikiranmu."
Kutarik kembali kursi rotan ke tempatnya semula. Menempel pada dinding pondok sekitar satu meter saja dari pembatas balkon. Dua buah kursi yang dipisahkan meja kecil bulat, dengan penutup kaca tebal di atasnya. Kucecap teh di cangkir putih polos agak tinggi, yang sudah mulai dingin, karen kuseduh dari pemanas air di dalam kamar pondok sejak aku tiba tadi.
"Aku pikir kamu akan lelah dengan semua ini. Tapi ternyata masih terjadi lagi. Dan lagi."
Kali ini aku mulai tertarik pada ponsel, yang sedari tadi aku abaikan. Aku buka file. Mini movie berisi gambarku, gambarnya, gambarku dan ibunya, serta beberapa percakapan kami dan sedikit catatanku. Menikmati semua gambar bermunculan bergantian, sambil beberapa kali bernafas panjang. Dan sesekali berhenti menahan sesak.
Bidadari tak bersayap datang padaku
Dikirim Tuhan dalam wujud wajah kamu
Dikirim Tuhan dalam wujud diri kamu
Sampai habis nyawaku
Sampai habis usia
Mukah dirimu jadi teman hidupku
Kuputar berulang-ulang sambil menyeka pipi dan hidung berkali-kali.
"Gak papa. Aku sehat kok. Dua botol bening cairan warna kuning sedikit membuatku lebih bugar. Setidaknya kembali merasakan infus setelah tujuh tahun lalu."
Kulepas mukena. Kulipat bersama sajadahnya. Lantai tampak bersih lagi. Tapi semua tertinggal di sana. Di bentangan langit Tuhan, tempat Dia menampung do'a-do'a, yang Dia ijabah, Dia tangguhkan, pun yang Dia gantung saja, untuk digantikanNya dengan hal baik menurutNya. Aku bangun. Tersenyum.
"Be healthy
Be happy "
July18, 14.46
"Boleh ketemu?"
"Untuk apa? "
"Meminta maaf."
"Maafkanlah dirimu sendiri untuk pikiran-pikiranmu itu."
"Kalau tidak boleh, ijinkan aku melihatmu sebentar saja. Mungkin untuk terakhir kalinya. Setelah itu aku gak akan ganggu kamu lagi."
"Sudahlah. Mungkin kamu butuh waktu untuk berdamai dengan dirimu sendiri dulu."
"Ijinkan aku bertemu, sekali saja. Aku ingin mencium kakimu."
Sedikit menunduk. Suara air sungai yang mengitari pondok ini, menyerupai batas area persawahan di seberangnya. Terlihat dua orang di gubuk kecil di salah satu petak sawah sedang menarik-narik tali. Menggerak-gerakkan pita atau kertas berbentuk segitiga menyerupai bendera, yang dipasang di sela-sela sepanjang tali mengitari sekotak sawah miliknya. Rupanya untuk mengusir burung-burung yang ramai hinggap. Berharap berhenti mengenyangkan selera makan siangnya, agar saat panen tak berkurang hasil padinya.
Kutarik sebuah kursi rotan. Dengan sandaran agak tinggi tidak melebihi kepalaku. Dengan spons tipis berbalut oscar coklat tua bebentuk setengah lingkaran, mungkin bermaksud tidak menyakiti pantatku saat mendudukinya. Kusandarkan pada balkon tempatku berdiri tadi. Kali ini mataku disibukkan oleh segerombolan burung walet yang tiba-tiba muncul entah dari mana asalnya. Mungkin juga karena langit tiba-tiba saja mendung. Beterbangan di atas sungai, sawah dan sekitar balkon.
"Untung yang bicara ini kamu. Coba orang di jalanan, pasti sudah aku gampar."
Semendidih itu otakku malam sebelumnya. Seperti tak kuasa lagi menahan sakitnya hati, karena kepercayaan yang dirusak.
"Kau sudah mengenalku. Kenapa berusaha menciptakan aku yang lain di pikiranmu."
Kutarik kembali kursi rotan ke tempatnya semula. Menempel pada dinding pondok sekitar satu meter saja dari pembatas balkon. Dua buah kursi yang dipisahkan meja kecil bulat, dengan penutup kaca tebal di atasnya. Kucecap teh di cangkir putih polos agak tinggi, yang sudah mulai dingin, karen kuseduh dari pemanas air di dalam kamar pondok sejak aku tiba tadi.
"Aku pikir kamu akan lelah dengan semua ini. Tapi ternyata masih terjadi lagi. Dan lagi."
Kali ini aku mulai tertarik pada ponsel, yang sedari tadi aku abaikan. Aku buka file. Mini movie berisi gambarku, gambarnya, gambarku dan ibunya, serta beberapa percakapan kami dan sedikit catatanku. Menikmati semua gambar bermunculan bergantian, sambil beberapa kali bernafas panjang. Dan sesekali berhenti menahan sesak.
Bidadari tak bersayap datang padaku
Dikirim Tuhan dalam wujud wajah kamu
Dikirim Tuhan dalam wujud diri kamu
Sampai habis nyawaku
Sampai habis usia
Mukah dirimu jadi teman hidupku
Kuputar berulang-ulang sambil menyeka pipi dan hidung berkali-kali.
"Gak papa. Aku sehat kok. Dua botol bening cairan warna kuning sedikit membuatku lebih bugar. Setidaknya kembali merasakan infus setelah tujuh tahun lalu."
Kulepas mukena. Kulipat bersama sajadahnya. Lantai tampak bersih lagi. Tapi semua tertinggal di sana. Di bentangan langit Tuhan, tempat Dia menampung do'a-do'a, yang Dia ijabah, Dia tangguhkan, pun yang Dia gantung saja, untuk digantikanNya dengan hal baik menurutNya. Aku bangun. Tersenyum.
"Be healthy
Be happy "
July18, 14.46
Senin, 16 Juli 2018
Libur telah usai.
Aktivitas back to school merutin kembali. Jalanan ramai. Mobil, motor, sepeda, becak, saling berebut mendahului.
Hmm... Kota kecil ini makin semrawut.
"Tutup hidung nak. "
Penebangan pohon sepanjang jalan menyisakan debu gergaji, , ranting dan dedaun berserakan hampir memakan separuh jalan. Panik selalu menyergap. Tapi selalu, membawa bekal bismillah sebanyak-banyaknya, dan sekarung upaya untuk tetap tenang dalam kehati-hatian.
Kuciumi ujung rambutnya sambil menjerit dalam hati 'maaf nak... Ibu tak mampu memberimu rasa aman dan nyaman yang lebih dari ini'
Melewati motor di sebelah kiriku, yang berjalan sedikit lambat.lambat. Berpenumpang dua orang dewasa dan dua anak-anak. Terlihat punggung si ibu,ibu,berpakainan seragam pegawai pemerintah yang wajib dikenakan setiap tanggal tujuhbelas. Sedikit pudar dan kedodoran. Sepatu hitam yang tak pernah sempat disemir, kaus kaki putih yang hampir menyerupai abu-abu atau coklat muda. Motor lama yang tak keluar lagi produk barunya. Knalpot aus dan mengeluarkan asap berlebih. Seperti terseok tak sanggup meaju cepat karena kelebihan muatan.
Menahan nafas. Bergumam lirih 'pantaskah merasa kurang? Ampuni aku Tuhan'
Kupelankan laju motorku. Kabur pandanganku.
July17, 08.09
Aktivitas back to school merutin kembali. Jalanan ramai. Mobil, motor, sepeda, becak, saling berebut mendahului.
Hmm... Kota kecil ini makin semrawut.
"Tutup hidung nak. "
Penebangan pohon sepanjang jalan menyisakan debu gergaji, , ranting dan dedaun berserakan hampir memakan separuh jalan. Panik selalu menyergap. Tapi selalu, membawa bekal bismillah sebanyak-banyaknya, dan sekarung upaya untuk tetap tenang dalam kehati-hatian.
Kuciumi ujung rambutnya sambil menjerit dalam hati 'maaf nak... Ibu tak mampu memberimu rasa aman dan nyaman yang lebih dari ini'
Melewati motor di sebelah kiriku, yang berjalan sedikit lambat.lambat. Berpenumpang dua orang dewasa dan dua anak-anak. Terlihat punggung si ibu,ibu,berpakainan seragam pegawai pemerintah yang wajib dikenakan setiap tanggal tujuhbelas. Sedikit pudar dan kedodoran. Sepatu hitam yang tak pernah sempat disemir, kaus kaki putih yang hampir menyerupai abu-abu atau coklat muda. Motor lama yang tak keluar lagi produk barunya. Knalpot aus dan mengeluarkan asap berlebih. Seperti terseok tak sanggup meaju cepat karena kelebihan muatan.
Menahan nafas. Bergumam lirih 'pantaskah merasa kurang? Ampuni aku Tuhan'
Kupelankan laju motorku. Kabur pandanganku.
July17, 08.09
Dear you,
Tahukah kau, Nak
Dia pernah berkata "Aku sayang sampeyan"
Saat itu pengakuannya yang pertama dia bilang 'memberanikan diri' oleh sebuah rasa yang disimpannya entah sejak berapa lama. Aku bahkan tak mengerti, atau harus mengerti, atau berpura-pura tak mengerti, atau mungkin lebih tepatnya tidak berusaha mengerti. Bahkan menepis anggapanku sendiri. Setiap sapanya di hari-hari kami 'sudah dahar bu', 'have a nice day', atau 'jangan lupa sarapan, jangan kayak aku nunggu jam 11'.
Kamipun tak pernah melewatkan saling berbalas lirik lagu, meski hanya di kolom status kami, bukan teks percakapan layaknya.
Ya... Aku tak pernah seberani dia mengartikan itu sebuah ungkapan cinta.
Aku pernah merasakan ketakutan yang sangat saat menjelang kau tiba. Aku cemas berkepanjangan. Seakan dia akan segera pergi menjemputmu, menemuimu, menikmati hari-hari bersamamu. Waktunya akan dia habiskan hanya dengan kamu. Dan dengan berjalannya waktu, cintanya padamu akan menguat. Mengalahkan cintanya -dulu hanya aku yang dia cinta- padaku.
Aku pernah bilang 'dia yang sudah kau idam-idamkan sejak lama'. Diapun selalu berusaha menenangkanku. 'Kamupun sudah aku harapkan sejak lama' sambil menyentuh ujung hidungku dengan ujung jari telunjuk kanannya.
Setiap saat dia tak memberi kabar, aku selalu membayangkan kalian sedang berdua. Dia menatapmu, mengagumi matamu, yang pasti mewarisi mata tuanya. Memelukmu sambil mengelusmu, menelurusuri tiap lekuk tangan dan kaki mungilmu, sampai kau terlelap, dan diapun pulas di sampingmu karena kelelahan bekerja. Saat kau bermain, dia akan mengambil gitar dan menyanyikan lagu cinta untukmu.
Aku pernah memungkiri kau ada, agar semua pertanyaan dan ketakutanku tak pernah terbukti terjadi.
Tapi, Nak
Aku tak akan pernah punya hati, untuk menyakitinya, lebih-lebih kamu.
Saat dia berkata "Aku juga sering mengabaikannya... "
Aku merasa seperti hilang, terbang tak bernyawa. Sedang selama itu dia selalu mengucap 'mboten repot', 'tak ada beban', atau 'ga ada yang lebih berat daripada jauh dari kamu'.
Dia berubah. Meski sekuat apa selalu menyanggah 'perasaanku... Kebiasaanku... Gak akan pernah berubah'. Tapi aku selalu tahu pembedanya. Tapi aku bisa apa?
Dia menganggapku menyalahkanmu. Tidak menerima keberadaanmu. Aku pernah mengatakan 'akan lebih tenang bila dia bersamamu' waktu itu. Mungkin dia lupa.
Melihat wajahmu aku berlinang berhari-hari.
Aku tak pandai berdo'a, Nak
Tapi sungguh, aku melakukannya tanpa henti. Berharap suatu saat nanti aku bisa menemuimu. Aku ingin memelukmu. Membisikkan lirih di telingamu
"Aku tak pernah merebut dia dari siapapun. Pun dari kamu. Dia datang tanpa aku undang. Dan itu jauh sebelum kamu ada. Dia cinta aku sebelum kamu mengenal dia sebagai ayahmu. "
Tersenyumlah, Nak
Aku akan memohon dan bersimpuh di depanmu
"Bolehkah kita berbagi ayah? "
Thank you for your kind attention. And I'm looking forward to a personal touch.
With love,
Sincerely yours
July16, 16.20
SuratKecilUntukAisyah
Tahukah kau, Nak
Dia pernah berkata "Aku sayang sampeyan"
Saat itu pengakuannya yang pertama dia bilang 'memberanikan diri' oleh sebuah rasa yang disimpannya entah sejak berapa lama. Aku bahkan tak mengerti, atau harus mengerti, atau berpura-pura tak mengerti, atau mungkin lebih tepatnya tidak berusaha mengerti. Bahkan menepis anggapanku sendiri. Setiap sapanya di hari-hari kami 'sudah dahar bu', 'have a nice day', atau 'jangan lupa sarapan, jangan kayak aku nunggu jam 11'.
Kamipun tak pernah melewatkan saling berbalas lirik lagu, meski hanya di kolom status kami, bukan teks percakapan layaknya.
Ya... Aku tak pernah seberani dia mengartikan itu sebuah ungkapan cinta.
Aku pernah merasakan ketakutan yang sangat saat menjelang kau tiba. Aku cemas berkepanjangan. Seakan dia akan segera pergi menjemputmu, menemuimu, menikmati hari-hari bersamamu. Waktunya akan dia habiskan hanya dengan kamu. Dan dengan berjalannya waktu, cintanya padamu akan menguat. Mengalahkan cintanya -dulu hanya aku yang dia cinta- padaku.
Aku pernah bilang 'dia yang sudah kau idam-idamkan sejak lama'. Diapun selalu berusaha menenangkanku. 'Kamupun sudah aku harapkan sejak lama' sambil menyentuh ujung hidungku dengan ujung jari telunjuk kanannya.
Setiap saat dia tak memberi kabar, aku selalu membayangkan kalian sedang berdua. Dia menatapmu, mengagumi matamu, yang pasti mewarisi mata tuanya. Memelukmu sambil mengelusmu, menelurusuri tiap lekuk tangan dan kaki mungilmu, sampai kau terlelap, dan diapun pulas di sampingmu karena kelelahan bekerja. Saat kau bermain, dia akan mengambil gitar dan menyanyikan lagu cinta untukmu.
Aku pernah memungkiri kau ada, agar semua pertanyaan dan ketakutanku tak pernah terbukti terjadi.
Tapi, Nak
Aku tak akan pernah punya hati, untuk menyakitinya, lebih-lebih kamu.
Saat dia berkata "Aku juga sering mengabaikannya... "
Aku merasa seperti hilang, terbang tak bernyawa. Sedang selama itu dia selalu mengucap 'mboten repot', 'tak ada beban', atau 'ga ada yang lebih berat daripada jauh dari kamu'.
Dia berubah. Meski sekuat apa selalu menyanggah 'perasaanku... Kebiasaanku... Gak akan pernah berubah'. Tapi aku selalu tahu pembedanya. Tapi aku bisa apa?
Dia menganggapku menyalahkanmu. Tidak menerima keberadaanmu. Aku pernah mengatakan 'akan lebih tenang bila dia bersamamu' waktu itu. Mungkin dia lupa.
Melihat wajahmu aku berlinang berhari-hari.
Aku tak pandai berdo'a, Nak
Tapi sungguh, aku melakukannya tanpa henti. Berharap suatu saat nanti aku bisa menemuimu. Aku ingin memelukmu. Membisikkan lirih di telingamu
"Aku tak pernah merebut dia dari siapapun. Pun dari kamu. Dia datang tanpa aku undang. Dan itu jauh sebelum kamu ada. Dia cinta aku sebelum kamu mengenal dia sebagai ayahmu. "
Tersenyumlah, Nak
Aku akan memohon dan bersimpuh di depanmu
"Bolehkah kita berbagi ayah? "
Thank you for your kind attention. And I'm looking forward to a personal touch.
With love,
Sincerely yours
July16, 16.20
SuratKecilUntukAisyah
Minggu, 15 Juli 2018
"Hmm... Lamanya. Kayak nunggu anggota dewan pas rapat paripurna."
"Hahaha... Mau photoshoot palingan. Prewedding. Itu kan keliatan bride's crown nya."
"Pake acara gontok-gontokkan kah. Si satpam sangar amat mukanya."
"Karena terlihat semua. Manten, kamera, tripod. Pasti kena charge khusus."
Hampir empatpuluh menit di loket pintu masuk wisata ini. Backpack, laptop, USB, kamera, sudah tetenteng di punggung, lengan dan tangan masing-masing. Berjalan beriringan melewati jalan setapak, sesekali berdebu dan menanjak.
"Jauh banget sih. Mau yang di sebelah mana emang?"
"Capek tah?"
"Dikit."
"Sebentar lagi kok mbak."
Batu-batu bepermukaan halus -tampak beda dengan sekitarnya- menarik perhatianku. Beberapa kali tersapu ombak. Lalu makin menyembunyikan diri di antara pasir basah.basah. Aku fokuskan lensa dua-tiga kali ke arahnya dan membidiknya.
Aaaaaaaaaaaaaaa...
Teriakan panjang entah dari mana asalnya. Kita berlima -yang mencari objek di tempat berbeda- saling pandang sejenak. Lalu menoleh ke kanan kiri berusaha mencari sumber suara.
polisiembali menikmati antrean. Kali ini di pintu keluar. Melewati kerumunan, garis polisi, dan para pemburu berita berlarian berebut hot line news .
Dengan kasihMu ya Rabbi
Berkahi hidup ini
Dengan cintaMu ya Rabbi
Damaikan mati ini
Hanya suara Nissa Sabyan yang meramaikan perjalanan pulang kami. Tak sebaris katapun keluar dari mulut kami. Entah membahas kejadian tadi, ataupun merencanakan destinasi berikutnya. Kami hening dalam pikiran masing-masing
Ah... Pantai. Kau telah menjadi saksi cinta mereka. Saatnya mereka ditenggelamkan rasa.
July16, 12.22
RuangRapatParipurnaDPRD
Langganan:
Postingan (Atom)
Rindu Sawah
" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...
-
"Aku hanya ga habis fikir mba. Aku sebenarnya salah apa. Apa aku pernah ga sengaja membuat dia tersinggung. Ato apa. Ah entahlah....



