"Nak Tuty, mau naik ke atas? Tolong sekalian bawakan ini untuk Aya."
"Baik tante."
Berhati-hati sekali dengan piring kecil putih berisi 3 buah kroket kentang dan 2 biji cabe rawit hijau di tangan kiri, tangan kanannya berpegangan pada pinggiran anak tangga.
"Hey, sudah lama?"
"Baru aja. Makanlah Ay. Ibumu bilang kemarin siang melihat kau terakhir makan."
Aya terkekeh "Ah, mama selalu lebay. Begitulah orang Jawa. Kalau belum nyentuh nasi dibilangnya belum makan."
"Hayuk sini kutemani. Ini kue kegemaranmu kan."
Mengambil sebuah kroket kentang, Tuty memperhatikan wajah Aya. Pandangannya yang jauh dan tampak kosong.
"Enak loh. Sumpah." Sambil menyodorkan piring ke arah muka Aya.
Aya hanya tersenyum,
"Aku belum lapar." ujarnya pelan.
"Ingat kesehatanmu Ay. Lambungmu."
Aya menoleh ke arah Tuty. Memandang wajah sahabatnya. Yang selalu sabar mendampinginya dalam kondisi apapun. Meski dia sendiri seringkali diterpa beban hidup yang tak pernah ringan.
"Kau makanlah yang banyak. Biar ga kurus terus."
"Hahaha. Aku mah selalu makan banyak. Emang bawaan lahir. Gak pernah bisa gemuk."
"Hehehe. Dasar cungkring."
"Biarin. Yang penting hidup."
Lalu mereka berdua terbahak.
"Ma, aku sudah belajar dan makan malam. Kata eyang uti aku boleh temani mama di balkon."
"Ini sudah malam nak. Pergilah tidur. Ada tante Tuty bersama mama."
"Sana mau bobo sama tante?" Tuty menawarkan
"Terima kasih tante. Temani mama saja. Aku bobonya sama eyang uti. Mama buruan makan terus istirahat ya."
Aya mengangguk. Tersenyum melihat Sana bergegas turun.
"Makanlah Ay. Lihat anakmu. Dia butuh kau sehat."
"Dia sehat. Sudah remaja, dan sangat mandiri. Aku selalu mengajarkan dia life is hard. Sejak kecil aku perlihatkan dia gambar hidup yang kita temui di swpanjang perjalanan berangkat maupun pulang sekolah. Si tukang sapu, penarik becak, pak sampah, atau seorang ibu yang sedang mengayuh sepeda, dengan dua orang anak di boncengan belakang, dan sebuah kantung plastik besar berisi kerupuk tergantung di setang kanannya. Dia selalu bergumam "Kasihan ya..."
Berharap dia mengerti semua jerih payah ibunya hanya untuk kehidupannya yang lebih layak. Dan aku tak akan pernah kuatir. Jika saatnya aku meninggalkan dia, Tuhan sudah menyiapkan orang-orang terbaik untuk menjaga Sana."
"Ay...Please. Ngomong apaan sih?"
"Iya kan. Kamu dan mama selalu maksa aku makan biar aku gak mati kan."
"Aya...Boleh aku tahu apa yang ada di pikiranmu sekarang?"
Aya diam. Menarik nafas panjang. Kemudian menghembuskannya perlahan.
"Jujur Ty, habis pikiranku untuk yang lain. Semua hanya terkuras olehnya. Saat dia berhenti menyapa dan bertanya, sejak itu pula nyawaku berasa berkurang. Kenapa dia tak pernah tahu bahwa caranya mengingatkan aku untuk tak terlambat makan, beribadah dan selalu berhati-hati di jalan adalah semangatku untuk tetap hidup."
Aya berdiam lagi sesaat
"Saat dia diam, aku selalu didera perasaan takut. Apa aku salah bicara? Bersikap? Dan itu semua membuatku berpikir, kalimatku tentang 'komunikasi itu harta kita yang paling berharga dan sangat penting untuk dijaga' gak pernah ada artinya. Kau pernah merasa yang sama?"
"Hmm...Dulu. Saat itu. Tapi tau kan aku seperti apa. Selalu meledak-ledak saat itu juga. Gak pernah menyimpannya lama-lama seperti kamu gini."
"Iya iya. Begitu emang orang Madura."
Lagi. Mereka terbahak. Dan piring di meja itu telah kosong. Tuty tersenyum puas melihat sahabatnya tanpa sadar melahap isinya.
"Lalu...Sampai kapan kau akan begini Ay?"
"Entahlah. Aku sepetti hanya bisa menghakimi diriku, tak mampu menunjukkan segala rasaku padanya saat dia selalu merasa mencinta sendiri."
"Ah, itu mungkin hanya perasaanmu saja Ay. Kau pernah sampaikan padanya?"
"Tentang apa?"
"Kau cinta."
Aya tersenyum sambil menggeleng
"Hah? Tak pernah kau katakan kau cinta dia?"
"Tak pernah sekali. Mungkin sudah ribuan kali."
"Ooh...Lalu kenapa bisa dia masih merasa mencinta sendiri."
"Itulah. Saat dia berkata 'aku masih di sini. Tengoklah sesekali, saat kau butuh nanti. Atau saat sekedar rindu' aku selalu lunglai. Berasa berkurang satu lagi nyawaku Ty. Seperti aku tak pernah mengucap 'aku butuh' dengan kata-kata."
Meraih cangkir di depannya. Terlihat tangannya sedikit gemetar. Tuty hanya menunggu. Sangat tahu Aya masih akan melanjutkan sesuatu
"Waktu dia bilang 'lanjutkan. Berbagilah sapa, tawa dan cerita dengannya. Berbahagialah dulu' Tahu? Tahu kan Ty? Berkurang lebih banyak lagi nyawaku. Aku tak pernah berhenti menyampaikan 'sudah tak ada lagi yang aku cari dan tunggu dalam hidup. Aku menolak untuk sehat sendiri, mengusir sedih sendiri, dan menciptakan bahagia sendiri' Aku ingin semuanya bersama dia Ty."
Tuty sedikit mengalihkan pandangannya jauh ke rerimbunan gelap di bawah sana. Berusaha menyembunyikan isaknya yang hampir tumpah. Sekuat tenaga dia menahannya. Dia ada untuk menguatkan sahabatnya.
"Ay...Hentikan kesedihanmu. Yakinlah kau dicinta."
"Iya. Itu yang membuatku bertahan sampai saat ini."
"Boleh kuambilkan teh panas lagi?. Cangkirmu sudah kosong."
Aya tersenyum. Menyaksikan sahabatnya memungut piring, cangkir yang telah kosong dan berjalan menjauhi tempat duduknya. Sebelum Tuty melangkah turun,
"Ty..."
Tuty hanya tersenyum. Seperti mengiyakan tatapan yang tanpa bahasapun telah bisa diterjemahkannya. Dalam hati Tuty berkata "Aku sangat tahu kau menyukai hening. Pasti aku segera menekan saklar. Agar kau menikmati sendirimu hanya dengan cahaya bulan"
Aya pun tersenyum. Sebagai ungkapan terima kasih tanpa terucap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar