"Ay, geserlah kursimu lebih mendekat ke dinding. Lengan bajumu mulai basah."
"Tak apa Ty, apa yang harus aku kuatirkan dari sekedar gerimis."
Aya tersenyum memandang cahaya bulan yang tadinya mulai menyembul di sela dedaunan. Dan akhirnya tinggal temaram, terkalahkan mendung yang mulai menyebar.
"Yoga selalu suka malam yang begini. Dia pasti akan mempuisikan segenap rindunya pada hening, hujan dan cahaya bulan."
Tuty mendengar suara sahabatnya diliputi sukacita, berbaur pedih yang selalu dipendamnya. Sengaja dia tak memalingkan sedetik pun wajahnya ke arah Aya. Menyibukkan diri mencari colokan mengisi baterai ponselnya yang tinggal 20%.
"Aku syukuri pertemuanku dengan hujan bulan Januari. Entah apa akan ada waktu untuk menyaksikan rinai hujan bulan Pebruari. Pun harapku untuk bersua hujan bulan Juli, atau sekedar sekelebat cahaya purnama di awal minggunya."
"Kau menulisnya?"
Aya menggeleng
"Dia?"
Aya mengangguk perlahan.
"Aku selalu suka catatannya. Tentang apapun. Lebih-lebih saat dia memadunya dengan latar gambarnya sendiri. Saat sedang berdiri menyandar hanya diterangi lampu jalan. Baitnya tentang lembutnya kasih, rindu yang kelu, dan pilunya haru selalu mendera hari-hariku dengan rasa yang sama. Aku merasa sangat dikagumi Ty. Dicintai."
Tuty berkali mengarahkan pandangannya pada layar ponsel. Tak kuasa menahan perasaannya saat itu. Terbawa suasana cara Aya, mencurah segala rasanya. Yang tak pernah terjelaskan pada siapapun.
"Kau selalu menjaga ponselmu tetap hidup Ty? sekalipun saat mengisi baterai?"
"Heem. Kuatir ada perintah si Bos sewaktu-waktu."
"Sama. Akupun selalu takut kehabisan baterai ponsel. Kuatir kehilangan kabarnya. Dan selalu menunggu, mencari-cari pesannya. Frasa singkat yang selalu membuatku terjaga dari mimpi, terbangun dari tidur yang kesorean, bangkit dari penat yang sangat, dan tetap hidup lagi meski aku dimatikan."
"Heem. Aku tahu frasa itu. Yang pernah kau hitung dalam seminggu ratusan kali kalian saling berbalas."
Aya tetap tersenyum. Meski sejak tadi linangnya tak berhenti. Menyerupai bulir gerimis malam ini. Pelan, dengan irama yang lambat, terus berjatuhan berhamburan. Menghampiri ujung mata, hidung, pipi dan bibirnya.
"Ay, semua telah berbeda. Berubah. Mustahil kau menginginkan semuanya kembali seperti dulu."
"Biarlah Ty. Setidaknya aku masih diberi waktu untuk mengingat semuanya. Mengenang."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar