Terimakasih Tuhan
Masih Kau beri kesempatan membuka mata. Melihat semuanya. Semuanya.
Hiruk pikuk di hadapanku, yang tak lebih hiruk dari hati dan pikiranku setiap waktu.
Di sebelah kiriku seorang ibu, yang usianya mungkin jauh lebih muda, dengan badan yang sedikit besar. Berpakaian yang terlalu melekat pada tubuhnya, hingga lipatan paha dan lengannya terlihat jelas. Wajahnya datar. Seorang anak perempuan berdiri di depannya. Agak susah kalu harus duduk, seperti hampir kegencet perut ibunya. Mungkin mereka sedang mencari warung makan apa yang cocok untuk sarapan hari ini. Menunya, harganya. Apa cukup uang di dompetnya untuk sekedar jajan yang diminta putrinya.
Lalu mendahului di sebelah kananku. Seorang bapak dengan juga anak perempuan di depannya. Melaju cepat. Hingga tas sekolah yang tergantung di setang kiri seperti hampir terbang. Apa yang dikejarnya? Mungkin takut gerbang sekolah anaknya segera digembok satpam.
Memasuki gang sebuah perumahan, mulai agak sedikit lengang. Seorang bapak tua mengayuh sepedanya dengan sangat pelan. Celananya terlipat sebelah. Mungkin dia terburu-buru tadi, sebelum meninggalkan rumah tak sempat merapikan. Dan wajah itu, aku melihat jelas rautnya, karena kami berpapasan. Rambutnya yang sedikit gondrong tak rapi, dan seluruh warnanya telah memutih. Pandangannya kosong. Aku pikir mungkin dia sedang olahraga pagi. Atau sekedar keluar mencari angin segar, karena di dapur istrinya sedang mengomel beras dan gula habis.
Ah, kenapa aku sibuk membaca raut muka dan pikiran orang-orang yang kutemui. Sedang aku? Sedang melotot, atau mengernyit, menyatuka alis, atau apa? Yang jelas bibirku sedang jauh dari bentukan senyum. Ya, aku sendiri tak mampu melihat, merasa mimik muka dan lalu lalang pikiranku sendiri.
Terimakasih Pagi
Masih menemaniku mengingat semuanya. Semuanya.
Saat membaca pesan bergambar sebuah produk iklan makanan ringan bergambar senyum lebar dengan gigi-gigi yang berbaris rapi. Lalu mendenngar pernyataan 'ngerti engga sih wong iki?'
Saat itu malam selalu cepat berlalu. Berganti pagi dengan cerita-cerita dan bunga-bunga baru. Wangi. Berwarna-warni.
Sesekali muncul cerita sedih, haru yang pilu, kelunya rindu, dan rasa takut kehilangan.
Semua kembali pada tempatnya, saat hasrat untuk hidup lebih lama, lebih bermanfaat, manjadi semangat untuk lebih baik melangkah.
Topik diskusi antara komunikasi, cara membaca dan membalas pesan, yang sering memunculkan salah pendapat pun sering mewarnai hari. Dan tak jarang tak pernah terselesaikan, bahkan meruncing berlama-lama.
Cerita tentang satu kali hujan bulan Pebruari, satu kali hujan bulan Juli, dan dua Ramadhan, tertulis, terbacakan, terlewati tanpa jeda.
Berharap semuanya tak hanya sekedar cerita.
Inginnya malam mengistirahatkan mata, hati, dan pikiran sejenak. Lalu terbangunkan lagi oleh pagi dengan semangat yang sama. Semua masih dan akan baik-baik saja.
Terimakasih Waktu
Terimakasih untuk semuanya. Semuanya.
Cermin di hadapanku berkata 'berhentilah menilai diri sendiri. Hanya orang lain yang berhak atas penilaian pada diri kita'
Ya. Seringkali merasa benar tentang sesuatu, ternyata tidak begitu bagi orang lain. Berniat baik, dengan tujuan baik, pun cara kita masih diterima salah oleh orang lain.
Banyak hal yang tak mampu dimengerti. Semakin ingin mengerti, semakin tak mengerti.
'Maka aku biarkan semua rasaku bersiklus. Terendapkan saat malam mengajak beristirahat sejenak. Terbangunkan oleh sergap-sergap mimpi yang mengaduk-aduk segala emosi. Lalu terjaga jelas saat pagi tiba kembali.
Di ruangan ini, kuhabiskan seluruh air mata saat malam hening, untuk tumpah di ujung sajadah dan sebagian pakaian ibadah. Untuk sekedar menyisakan senyum saat pagi nanti. Dan akan aku biarkan tubuh yang tak bernyawa ini, tetap melakukan tugasnya. Untuk diri, hari, orang-orang di sekitar, semata-mata menunaikan kewajiban dan tanggung jawabku kan hak-hak mereka. Selebihnya, Tuhan yang akan menopang langkahku dalam ketidakmengertian yang panjang'
DuhaNote
Tidak ada komentar:
Posting Komentar