Saat gelap merangkak hening terkoyak
Deras hujan menimpuk-nimpuk
Hamburan rindu berserak
Apa kau menyebutnya?
Sarapan yang kesorean atau makan siang yang kemalaman
Ah, biar saja batinnya
Raganya di sini
Wajahnya tepat menghadap semangkuk mie kuah panas pedas
Pikirannya bermil-mil jauh di entah mana
Mencari menyibak-nyibak rimbun perdu gelisah
Sumber kata 'makanlah. Jangan terlambat. Lalu minum air putih yang cukup'
Tak henyak dia tertunduk
Mendingin, menggumpal isi mangkuknya
Dia hanya acuh menghitung bulir
Yang pelan terburai di pipi, ujung bibir
Dan sesekali menetes lancang
Menempel di ujung potongan seledri menyerupai embun
Desahnya tertahan
Menarik nafas panjang dan mengembuskannya perlahan
Meraih sendok garpu, memaksa senyum
'Bismillah. Kenyang, sehat, berkah'

Tidak ada komentar:
Posting Komentar