Senin, 24 Agustus 2020

Sepagi Embun

 

"Apa yang kau pandang?"

"Mereka. Yang di taman."

"Kenapa?"

"Setertawa itu. Sebercanda itu. Saling peluk, pasangan, dan balitanya.  Bergandeng tangan. Bila benar ada cinta di antara mereka, kenapa mengucap cinta pada yang lain di luar sana?"

"Sejauh itu berpikir? Se under estimate itu?"

"Lihat! Yang di bangku panjang sebelah sana. Ceritanya dia sudah berkali meminta pisah. Tapi wedding ring nya masih menempel cantik di jari manisnya."

"Apa yang memenuhi benakmu?"

"Entah. Mungkin ketidakpahaman akan frasa 'cinta tak harus memiliki'. Bukankah cinta harus berjuang untuk bersama?"

"Apa yang kau inginkan?"

"Banyak hal. Bagaimana aku bisa bercengkerama dan meminum teh dari cangkir yang diseduhnya, sedang senja tak kunjung tiba. Bagaimana pula aku bisa mengagumi indahnya purnama, bila Tuhan tak menijinkanku menemuinya."

"Ah.. Kau masih saja bebal dengan keberadaanmu."

"Karena aku selalu percaya akan kekuatan do'a dan kekuatan mimpi."

"Apa dia mengerti?"

"Seharusnya."

"Apa dia memahami?"

"Entah. Bagaimana denganmu?"

"Aku? Aku hanya ingin hidup lebih lama. Tetap di sini dan meyakini aku cinta. Terus mendo'a dan memintanya."

"Meyakini bahwa dia juga cinta?"

"Aku tak peduli. Yang aku tahu aku cinta dia. Titik. Bila dia masih mengijinkan aku cinta, aku akan sangat bersyukur."

"Apa kau butuh tahu dia juga cinta?"

"Tak perlu. Aku tak memintanya untuk membalas rasa yang sama. Aku bisa mencinta sendiri."

"Egois."

"Begitukah?"

"Ya."

"Kenapa kita tak berbicara tentang angin, hujan, sungai, sawah?"

"Mereka ada. Tak perlu dibicarakan. Indah, angkuh, dan anggunnya cukup dipandang dan dirasai saja."

"Sambil berkaca-kaca?"

"Sesekali."

"Mengapa sampai sesedih itu?"

"Karena aku ingin melihatnya tidak hanya di satu waktu saja. Tidak hanya pada saat dia bisa ada. Tapi di segala waktu. Di setiap putaran bumi mengelilingi matahari."

"Kau masih saja bebal."

"Aku tahu. Di situlah letak pengharapan yang sesungguhnya."

"Kenapa tak kau jelaskan?"

"Lagi?"

"Ah.. "

"Aku akan terus menunggu. Sampai saatnya dia berhenti menilai."

"Menilaimu?"

"Saat kau dikatai lupa dan tidak setia, apa yang kau rasa?"

"Sakit."

"Saat tak ada niat untuk merendahkan, bahkan terbersit pikiran pun tidak sama sekali?"

"Bingung. Sedih."

"Bagaimana dia yang kau kasihi merasa kau rendahkan dengan menyebutnya benalu?"

"Apa yang ada di pikirannya?"

"Mana aku tahu. Sedang aku sendiri sudah lelah menjelaskan. Biarlah dia mengingat lagi bagaimana inginnya meminta maaf dengan mencium kaki, untuk tak lagi merendahkan. "

"Sampai kapan kau akan diam?"

"Sampai dia penuhi janjinya 'akan segera mentas dari kubangan pikiran sempitnya sendiri."

"Bila kau masih punya waktu, apa yang ingin kau sampaikan padanya?"

"Hanya mengingatkannya satu kalimat yang pernah diucapnya. Lalu kubiarkan dia bertanya pada dirinya sendiri 'untuk apa'?"

"Kalimat apa itu?"

"Aku akan bertanggung jawab."


Pagi melenguh. Matahari terasa makin terik. Embun pun mulai tersengal. Seakan nyawanya akan segera menghilang terseret pagi. Detik-detik yang selalu dinantinya. Mengenang 'Aku menitip nyawa padamu. Seperti kau bisa mengambilnya sewaktu-waktu kapanpun kau mau'. Dan dia akan selalu tersenyum di saat-saat terakhir yang demikian. 

"Kenapa masih menoleh ke sana?"

"Barangkali dia masih mau mengirimkan sesuatu untukku. Yang biasa dia gantung di pegangan pagar depan sana."

"Sudahlah. Mari pulang."

"Terima kasih, Pagi. Temui aku esok lagi."

"Tetaplah hidup, Embun."

Embun tersenyum. Menutup mata. Dan membiarkan tubuhnya menetes jatuh dan lenyap meresap tanah. Sadar dirinya bukanlah bintang. Tapi tubuh beningnya selalu membias terpantul cahaya matahari. Bila pun tak ada yang menyadari keberadaannya, dia akan tetap terus bersinar dengan sendirinya. Setidaknya untuk pagi saja. 


Image: Penggalan Sajak Embun dan Perasaan




Minggu, 16 Agustus 2020

"Apa Kau Takut Mati, Pra?"

 

Masih ada yang dicemasi? Dikuatirkan? Ditakuti? 

Mungkin sudah saatnya membangun tiang pancang yang lebih kokoh, pada diri, jiwa, dan hati. Untung berpegang, bertopang lebih kuat, saat rasa cemas, sedih, terpuruk, takut, makin melanda.

Memang tidak mudah untuk duduk, tersenyum, dan meyakini bahwa kita masih sangat dicintai sepenuh hati. 

Tapi siapa akan mampu menolong kita dari semua rasa yang demikian? 

Mari belajar. Mengurangi segala potensi yang menyebabkan ketakutan akut. Takut menyakiti dan tersakiti, kuatir tidak diinginkan, ditinggalkan dan meninggalkan. 

Toh sebaik apapun kita, yang tidak menyukai akan tetap punya alasan untuk membenci. Sebaik apapun menjaga, yang tak ingin dijaga tetap punya alasan untuk merasa diabaikan. Sekuat apapun meminta seseorang untuk tinggal, tetap saja ada alasan untuk pergi. 

Begitu juga sebaliknya. Sebaik apapun kita membuat cerita yang indah untuk dikenang, yang membenci kita tak akan pernah merasa kehilangan. Boleh jadi saat kita tiada, mereka malah menertawai dan menyukuri. 

Semua rasa yang ada dalam diri kita, adalah tanggung jawab kita sendiri untuk mengolahnya. 

Belajar terus dan tak pernah putus. Mengeja di depan mata, bahwa segala yang ada adalah karunia. Yang cinta akan datang tanpa diminta, akan mengabaikan hati yang lain demi menjaga hatimu saja, akan tinggal dan terus jatuh cinta padamu berkali-kali. 

Demikian pun saat kau harus pulang. Yang kau tinggalkan akan tetap dijaga, dilindungi, dikasihi, jauh lebih baik dari kau mampu menjaga, melindungi, dan mengasihi selama hidupmu. 

Jadi, tak ada yang perlu dicemasi, dikuatiri, dan ditakutkan lagi bukan? Toh kita hidup tanpa punya hak memiliki, dan mati juga sendiri. 

Tuhan menciptakan segala sesuatu bukan secara kebetulan. Tapi selalu dengan alasan. 




#CeritaBaik #IndependenceNote #MenulisMerdeka

Image by @drawanorange


Rabu, 12 Agustus 2020

Bed Time Sickness

 "Dipijit ya?"

"Iya."

"Ayo tengkurap dulu. Ini tempatnya batuk."

"Sakit. Sakit, Ma. Jangan ditarik-tarik."

"Bukan ditarik. Ini diurut namanya. Biar batuknya longgar."

"Aduh, sakit. Sakit. Sudah, Ma. Sudah. Tanganku aja dipijit."

"Ok."

"Kasar."

"Apanya?"

"Tangan mama."

"Iya. Maaf, Nak. Ibumu ini bukan seorang princess. Tangan dan kakinya kasar semua. Karena bekerja terlalu keras. Maka dari itu, ibu selalu memintamu membantu pekerjaan-pekerjaan ringan di rumah. Agar kau mulai belajar. Kelak saat kau menjadi lelaki dewasa, kau akan tahu bahwa perempuan itu harus dibela dan dilindungi."

"Mik obat."

"Iya. Pinter. Bobo yang enak, tenang. Besok sembuh, sehat ya. Good night. I love you."

Senin, 10 Agustus 2020

"Bukan Salahmu, Ta"

 

Bahwa cinta pernah hadir, mengendap, dan menguat. Diucapkan, disampaikan, ditunjukkan ratusan, ribuan kali dengan cara yang sederhana hingga yang paling rumit, dan hampir mustahil. 

 Berkali meminta, memohon untuk tetap tinggal. Bertahan untuk terus bergandeng tangan, berjuang, mencari jalan yang lebih baik untuk sebuah mimpi bersama. Namun berkali itu juga segala rasa dibawa pergi, menghilang, dan datang lagi. 

Terlalu banyak permintaan maaf, lalu keinginan memperbaiki keadaan. Tapi seterlalu banyak itu juga keinginan untuk diam, pergi, dan menghilang lagi. 

Rasa lelah dan putus asa tak henti-hentinya menyapa dan merayu. Seolah semua yang pernah dilihat, didengar, dibaca, diucap, dan diceritakan sudah menjadi bagian dari kenangan. 

Terlalu banyak pertanyaan yang tak menemui jawaban. Mengapa, bagaimana bisa, apa lagi salahku, harus seperti apa lagi meyakinkan. Dan seterlalu banyak itu hal yang belum tersampaikan. Yang akhirnya diputuskan untuk dibiarkan saja. 

Terlalu sulit menjelaskan yang sudah berkali dijelaskan. Dan seterlalu sulit itu memahami bahwa manusia tak pernah berhenti menilai, berprasangka, dan menyimpulkan hal yang hanya ada di isi kepalanya sendiri. 

Berkali ditampakkan Tuhan melalui mimpi. Selalu seperti nyata. Tapi sungguh, tak pernah mampu menerjemahkan semuanya. 

Mungkin Tuhan sedang mengingatkan, bahwa cinta; anugerah rasa yang dikaruniai-Nya, bukan hanya untuk diucap, disimpan, dirasai sendiri saja. Tapi untuk diperjuangkan. 

Berjuang butuh dua hati dengan keyakinan sama. Bila tidak, semua hanya omong kosong belaka. 

Manusia selalu punya keinginan untuk membolak-balik hati sebelum memutuskan sesuatu. Meski tak pernah tahu akhirnya akan seperti apa. Karena hanya Tuhan yang Maha Pembolak-balik hati sejati. Setidaknya jalan yang dipilih adalah bagian dari upaya memperbaiki diri. 

Tidak ada kebaikan yang sia-sia. Sebelum mencapai fase super lelah dan ingin berhenti. 

Kembali pada diri, pada hati. Memaafkan diri dan tak menyalahkan keadaan. Belajar pada masa lalu, dan pada kesalahan. Belajar membenahi diri dan mengurangi potensi melukai diri sendiri dan orang lain. Lalu berserah diri sedalam-dalamnya pada frasa "ini yang terbaik". 

Tak lupa, 

Selalu menyukuri datangnya pagi. Yang membawa serta hari baru, pengharapan baru. Dan meyakinkan diri, bahwa sebelum Tuhan memanggil pulang,  semua cerita belum selesai. 




Tulisan ini tidak mengutip teori dari pakar manapun. Dan tidak berdasar survey apapun. Ditulis untuk sebuah #CeritaBaik #MariMenulisCeritaBaik

Image by @Tsana


Jumat, 07 Agustus 2020

Belajar pada Kecewa


Pernah ngerasa kecewa? Berapa kali? Sekarang, masih ada rasa dikecewain? 

Bagian dari rasa sih ya. Rasa kan ga pernah salah. Rasa itu manusiawi. 

Kenapa kecewa? Kenapa ngerasa dikecewain? 

Ada kalanya kata-kata sudah tak bermakna. Pendapat tak didengar. Prestasi tak dihargai. Kerja keras hanya sebuah kelakar belaka. Ketulusan yang tak pernah tampak. Kesungguh-sungguhan hanya dianggap angin lalu. 

Sering merasa orang lain melukaimu, tapi mereka yang berusaha tampak terlukai olehmu? 

Lalu kau bisa apa? 

Mungkin manusia punya mata untuk melihat keindahan, tapi bukan kebaikan. 

Punya telinga untuk mendengar suara-suara, tapi bukan kebenaran.

Punya hati untuk merasai sedih, bahagia, kecewa, tapi tidak ketulusan.

Semudah itu manusia menilai apa yang tampak. Memunculkan karakter baru yang jauh berbeda dari yang sebenarnya, sesuai isi pikirannya sendiri. Dan sebaliknya, sesulit dan setakmautahu itu manusia akan arti sebuah kebaikan, kebenaran, dan ketulusan.

Hanya sebagian kecil yang mampu memaknai dedikasi dan kerja keras seseorang. Selebihnya menganggap itu sebagai hal yang biasa saja, bahkan mengernyit, dan memandang sebelah mata. 

Ah.. Seperti filsuf saja ya. Bahasan kali ini tentang hal-hal yang justru dihindari. Atau mungkin malah dipertentangkan tanpa pernah ada titik temu yang mendamaikan. 

Pertanyaan sebenarnya adalah;

Bagaimana kita merasa pantas untuk kecewa, kekurangan, kesulitan, bahkan kehilangan. Sedangkan Tuhan selalu memampukan, menguatkan, memberi, memudahkan, dan melimpahkan?

Jalani saja hidup seperti kau biasa menjalani hari-harimu sebelum sekarang. Hadapi saja masalah seperti kau telah melewati beberapa sebelumnya. Tetaplah bertumbuh, teruslah berproses.

Jangan tinggalkan mereka yang menilaimu buruk. Jangan benci mereka yang tak menyukaimu. Melangkahlah ke tempat terbaik yang telah Tuhan sediakan. Tak perlu meminta mereka menyukaimu. Tak perlu merubah diri untuk dapat diterima dan dicinta. Kamu bukanlah pekerjaanmu. Kamu bukanlah seseorang yang ada dalam pikiran dan prasangka orang lain. Bisalah di manapun berada. Tetaplah beneran baik, meski yang lain terus pura-pura baik. Teruslah berdo'a, berharap segala kebaikan, kebenaran, ketulusan, akan selalu mengelilingi. 







PS

Tulisan ini tidak mengutip satupun teori dari para ahli. Dan tidak berdasar pada survey apapun. Ditulis bebas untuk sebuah #CeritaBaik #MariMenulisCeritaBaik

Day 9 Self Quarantine



Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...