Masih ada yang dicemasi? Dikuatirkan? Ditakuti?
Mungkin sudah saatnya membangun tiang pancang yang lebih kokoh, pada diri, jiwa, dan hati. Untung berpegang, bertopang lebih kuat, saat rasa cemas, sedih, terpuruk, takut, makin melanda.
Memang tidak mudah untuk duduk, tersenyum, dan meyakini bahwa kita masih sangat dicintai sepenuh hati.
Tapi siapa akan mampu menolong kita dari semua rasa yang demikian?
Mari belajar. Mengurangi segala potensi yang menyebabkan ketakutan akut. Takut menyakiti dan tersakiti, kuatir tidak diinginkan, ditinggalkan dan meninggalkan.
Toh sebaik apapun kita, yang tidak menyukai akan tetap punya alasan untuk membenci. Sebaik apapun menjaga, yang tak ingin dijaga tetap punya alasan untuk merasa diabaikan. Sekuat apapun meminta seseorang untuk tinggal, tetap saja ada alasan untuk pergi.
Begitu juga sebaliknya. Sebaik apapun kita membuat cerita yang indah untuk dikenang, yang membenci kita tak akan pernah merasa kehilangan. Boleh jadi saat kita tiada, mereka malah menertawai dan menyukuri.
Semua rasa yang ada dalam diri kita, adalah tanggung jawab kita sendiri untuk mengolahnya.
Belajar terus dan tak pernah putus. Mengeja di depan mata, bahwa segala yang ada adalah karunia. Yang cinta akan datang tanpa diminta, akan mengabaikan hati yang lain demi menjaga hatimu saja, akan tinggal dan terus jatuh cinta padamu berkali-kali.
Demikian pun saat kau harus pulang. Yang kau tinggalkan akan tetap dijaga, dilindungi, dikasihi, jauh lebih baik dari kau mampu menjaga, melindungi, dan mengasihi selama hidupmu.
Jadi, tak ada yang perlu dicemasi, dikuatiri, dan ditakutkan lagi bukan? Toh kita hidup tanpa punya hak memiliki, dan mati juga sendiri.
Tuhan menciptakan segala sesuatu bukan secara kebetulan. Tapi selalu dengan alasan.
#CeritaBaik #IndependenceNote #MenulisMerdeka
Image by @drawanorange

Tidak ada komentar:
Posting Komentar