Bahwa cinta pernah hadir, mengendap, dan menguat. Diucapkan, disampaikan, ditunjukkan ratusan, ribuan kali dengan cara yang sederhana hingga yang paling rumit, dan hampir mustahil.
Berkali meminta, memohon untuk tetap tinggal. Bertahan untuk terus bergandeng tangan, berjuang, mencari jalan yang lebih baik untuk sebuah mimpi bersama. Namun berkali itu juga segala rasa dibawa pergi, menghilang, dan datang lagi.
Terlalu banyak permintaan maaf, lalu keinginan memperbaiki keadaan. Tapi seterlalu banyak itu juga keinginan untuk diam, pergi, dan menghilang lagi.
Rasa lelah dan putus asa tak henti-hentinya menyapa dan merayu. Seolah semua yang pernah dilihat, didengar, dibaca, diucap, dan diceritakan sudah menjadi bagian dari kenangan.
Terlalu banyak pertanyaan yang tak menemui jawaban. Mengapa, bagaimana bisa, apa lagi salahku, harus seperti apa lagi meyakinkan. Dan seterlalu banyak itu hal yang belum tersampaikan. Yang akhirnya diputuskan untuk dibiarkan saja.
Terlalu sulit menjelaskan yang sudah berkali dijelaskan. Dan seterlalu sulit itu memahami bahwa manusia tak pernah berhenti menilai, berprasangka, dan menyimpulkan hal yang hanya ada di isi kepalanya sendiri.
Berkali ditampakkan Tuhan melalui mimpi. Selalu seperti nyata. Tapi sungguh, tak pernah mampu menerjemahkan semuanya.
Mungkin Tuhan sedang mengingatkan, bahwa cinta; anugerah rasa yang dikaruniai-Nya, bukan hanya untuk diucap, disimpan, dirasai sendiri saja. Tapi untuk diperjuangkan.
Berjuang butuh dua hati dengan keyakinan sama. Bila tidak, semua hanya omong kosong belaka.
Manusia selalu punya keinginan untuk membolak-balik hati sebelum memutuskan sesuatu. Meski tak pernah tahu akhirnya akan seperti apa. Karena hanya Tuhan yang Maha Pembolak-balik hati sejati. Setidaknya jalan yang dipilih adalah bagian dari upaya memperbaiki diri.
Tidak ada kebaikan yang sia-sia. Sebelum mencapai fase super lelah dan ingin berhenti.
Kembali pada diri, pada hati. Memaafkan diri dan tak menyalahkan keadaan. Belajar pada masa lalu, dan pada kesalahan. Belajar membenahi diri dan mengurangi potensi melukai diri sendiri dan orang lain. Lalu berserah diri sedalam-dalamnya pada frasa "ini yang terbaik".
Tak lupa,
Selalu menyukuri datangnya pagi. Yang membawa serta hari baru, pengharapan baru. Dan meyakinkan diri, bahwa sebelum Tuhan memanggil pulang, semua cerita belum selesai.
Tulisan ini tidak mengutip teori dari pakar manapun. Dan tidak berdasar survey apapun. Ditulis untuk sebuah #CeritaBaik #MariMenulisCeritaBaik
Image by @Tsana

Tidak ada komentar:
Posting Komentar