"Apa yang kau pandang?"
"Mereka. Yang di taman."
"Kenapa?"
"Setertawa itu. Sebercanda itu. Saling peluk, pasangan, dan balitanya. Bergandeng tangan. Bila benar ada cinta di antara mereka, kenapa mengucap cinta pada yang lain di luar sana?"
"Sejauh itu berpikir? Se under estimate itu?"
"Lihat! Yang di bangku panjang sebelah sana. Ceritanya dia sudah berkali meminta pisah. Tapi wedding ring nya masih menempel cantik di jari manisnya."
"Apa yang memenuhi benakmu?"
"Entah. Mungkin ketidakpahaman akan frasa 'cinta tak harus memiliki'. Bukankah cinta harus berjuang untuk bersama?"
"Apa yang kau inginkan?"
"Banyak hal. Bagaimana aku bisa bercengkerama dan meminum teh dari cangkir yang diseduhnya, sedang senja tak kunjung tiba. Bagaimana pula aku bisa mengagumi indahnya purnama, bila Tuhan tak menijinkanku menemuinya."
"Ah.. Kau masih saja bebal dengan keberadaanmu."
"Karena aku selalu percaya akan kekuatan do'a dan kekuatan mimpi."
"Apa dia mengerti?"
"Seharusnya."
"Apa dia memahami?"
"Entah. Bagaimana denganmu?"
"Aku? Aku hanya ingin hidup lebih lama. Tetap di sini dan meyakini aku cinta. Terus mendo'a dan memintanya."
"Meyakini bahwa dia juga cinta?"
"Aku tak peduli. Yang aku tahu aku cinta dia. Titik. Bila dia masih mengijinkan aku cinta, aku akan sangat bersyukur."
"Apa kau butuh tahu dia juga cinta?"
"Tak perlu. Aku tak memintanya untuk membalas rasa yang sama. Aku bisa mencinta sendiri."
"Egois."
"Begitukah?"
"Ya."
"Kenapa kita tak berbicara tentang angin, hujan, sungai, sawah?"
"Mereka ada. Tak perlu dibicarakan. Indah, angkuh, dan anggunnya cukup dipandang dan dirasai saja."
"Sambil berkaca-kaca?"
"Sesekali."
"Mengapa sampai sesedih itu?"
"Karena aku ingin melihatnya tidak hanya di satu waktu saja. Tidak hanya pada saat dia bisa ada. Tapi di segala waktu. Di setiap putaran bumi mengelilingi matahari."
"Kau masih saja bebal."
"Aku tahu. Di situlah letak pengharapan yang sesungguhnya."
"Kenapa tak kau jelaskan?"
"Lagi?"
"Ah.. "
"Aku akan terus menunggu. Sampai saatnya dia berhenti menilai."
"Menilaimu?"
"Saat kau dikatai lupa dan tidak setia, apa yang kau rasa?"
"Sakit."
"Saat tak ada niat untuk merendahkan, bahkan terbersit pikiran pun tidak sama sekali?"
"Bingung. Sedih."
"Bagaimana dia yang kau kasihi merasa kau rendahkan dengan menyebutnya benalu?"
"Apa yang ada di pikirannya?"
"Mana aku tahu. Sedang aku sendiri sudah lelah menjelaskan. Biarlah dia mengingat lagi bagaimana inginnya meminta maaf dengan mencium kaki, untuk tak lagi merendahkan. "
"Sampai kapan kau akan diam?"
"Sampai dia penuhi janjinya 'akan segera mentas dari kubangan pikiran sempitnya sendiri."
"Bila kau masih punya waktu, apa yang ingin kau sampaikan padanya?"
"Hanya mengingatkannya satu kalimat yang pernah diucapnya. Lalu kubiarkan dia bertanya pada dirinya sendiri 'untuk apa'?"
"Kalimat apa itu?"
"Aku akan bertanggung jawab."
Pagi melenguh. Matahari terasa makin terik. Embun pun mulai tersengal. Seakan nyawanya akan segera menghilang terseret pagi. Detik-detik yang selalu dinantinya. Mengenang 'Aku menitip nyawa padamu. Seperti kau bisa mengambilnya sewaktu-waktu kapanpun kau mau'. Dan dia akan selalu tersenyum di saat-saat terakhir yang demikian.
"Kenapa masih menoleh ke sana?"
"Barangkali dia masih mau mengirimkan sesuatu untukku. Yang biasa dia gantung di pegangan pagar depan sana."
"Sudahlah. Mari pulang."
"Terima kasih, Pagi. Temui aku esok lagi."
"Tetaplah hidup, Embun."
Embun tersenyum. Menutup mata. Dan membiarkan tubuhnya menetes jatuh dan lenyap meresap tanah. Sadar dirinya bukanlah bintang. Tapi tubuh beningnya selalu membias terpantul cahaya matahari. Bila pun tak ada yang menyadari keberadaannya, dia akan tetap terus bersinar dengan sendirinya. Setidaknya untuk pagi saja.
Image: Penggalan Sajak Embun dan Perasaan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar