Selasa, 30 April 2024

Warna Warni Harimu

 



Sambil memijit-mijit tuts abjad dan angka di keyboard PC nya, sesekali Aya mengambil kerupuk seblak pedas di sebelah kirinya, lalu menyuapkan ke mulutnya. Dia memang suka sekali ngemil saat bekerja. Lebih-lebih saat mengerjakan laporan. Karena dia selalu berpikir bahwa tubuh tidak boleh tegang, terforsir hingga stress. Posisi duduk di kursi kerja yang lebih dominan daripada bergerak, akan membuat tulang, urat dan peredaran darah sering kaku. Jadi dia berupaya menoleh ke kanan ke kiri untuk menjaga kelenturan otot leher. Sesekali berdiri dan berjalan untuk menjada kelenturan otot kaki dan pinggang. Dan berkali-kali mengunyah, untuk senam muka, agar otot-otot di wajah tidak tegang. Karena bila otot dan syaraf sampai tegang, akan berpengaruh pula pada emosi dan mood dalam bekerja.

“Bu, ada paket.”

Wati, petugas  reception kantornya menyodorinya sebuah bungkusan berwarna hitam, segenggaman tangan dengan panjang kira-kira 15cm. Seperti penampakan paket-paket yang dikirim melalui jasa pengiriman barang, ada label nama alamat dan no HP penerima yang ditempel di kemasan pembungkus paling luar.

“Terimakasih mbak.”

Aya menerima paket itu dengan tersenyum. Dia memegang dan memencet-mencet bungkus nya sambil sesekali tersenyum gemas. Memencet agak keras dan merasa puas bisa menghancurkan tiga hingga tujuh biji bubble wrap pembungkus pengaman barang.

 

***

 

“Ada tiket kereta sekitar awal bulan Juni , Ay. Gimana? Yang itu aja kah?”

“Aku sih pengen nya akhir Mei say. Sudah sold out semua kah?”

“Hmm.. Sebentar ya.” Tuty kembali mantengin layar HP nya. Membuka aplikasi KAI Access nya. Untuk memeriksa ketersediaan tiket kereta.

“Ada Ay. Tanggal 31 Mei. Tapi itu kan hari Jum’at. Masih hari kerja kan.”

“Oh iya. Berarti Sabtu nya tanggal satu Juni ya. Iya deh itu aja.”

“Berangkat tanggal satu pulangnya tanggal dua kah? Apa bermalam sehari? Pulang tanggal tiga?”

“Kayaknya gitu lebih sip, Dhamay juga maunya nginep. Biar gak oyok-oyok an (Jawa: terburu-buru).”

“Kalau mau ga keburu ya memang harus berangkat Jum'at say. Minggu nya pulang kita. Senin kan sudah harus kerja lagi. Anak-anak juga harus sekolah.”

“Iya sih. Terserah kamu dah say. Atur gimana enaknya.”

Salah satu sahabat Aya yang di Kota Blitar beberapa hari lalu sedang dapat musibah. Ayahnya tiba-tiba drop kondisi kesehatannya. Dan tak lama kemudian berpulang. Aya dan Tuty serta Dhamay masih belum sempat berkunjung. Hanya saling mengirim ucapan bela sungkawa dan dukacita melalui chat saja.

Tiga perempuan ini memang bersahabat sejak mereka sama-sama duduk di bangku kuliah. Meski tinggal terpisah di beberapa daerah, menjaga komunikasi buat mereka seperti sebuah kewajiban. Saling bertegur sapa, berbagi cerita tetap terjalin hingga usia hampir separuh baya. Berita suka dan berita duka silih berganti mereka bagikan satu sama lain. Saling mendukung, memberi saran masukan, dan saling mendo’akan adalah juga esensi bagi mereka untuk menjaga keutuhan pertemanan.

 

***

 

“Bagus ngga ma?” Sambil memegang gagang frame dan bergaya di depan cermin, Narend bertanya.

“Bagus dong. Keren banget. Anak siapa sih ini?” Aya memeluk anak laki-laki sembilan tahun yang berdiri di depan cermin dan belum berhenti ganti-ganti gaya dengan kacamata barunya.

“Cocok kah?” Tanya Aya

“Pas. Sesuai gambar. Kan aku sendiri yang milih di toko online nya.”

“Sudah unboxing kan tadi?”

“Engga. Lupa. Hahaha.”

“Untungnya sesuai ya. Coba kalo ngga sesuai, tanpa foto atau video unboxing pasti susah retur nya sayang.”

Aya tersenyum lega. Bersyukur melihat buah hatinya gembira. Meski sekedar barang seharga belasan ribu rupiah saja. Ah, anak-anak memang selalu jujur dengan kesederhanaannya. Dan sederhana dengan segala kejujurannya. Hal-hal kecil pun membuat mereka bahagia luar biasa.

 

***

 

“Ay..’

“Woy..”

“Ke Blitar nya nginep kan? Cari penginepan yang di tengah kota gitu loh. Entar Icha kita ajakin nginep juga. Aku ga tega kalo bermalam di rumah dia. Kan sempit gitu. Ga ada ruang yang lega buat diinepin.”

“Iya boleh. Si Tuty masih belum reservasi gerbong. Dia masih ada schedule renov atap rumahnya.”

“Haah? Renov atap rumah? Kapan itu?”

“Entah. Katanya sih pertengahan Mei.”

“Waah butuh waktu berapa hari ya gitu itu. Aku sih ga begitu paham urusan tukang menukang.”

“Paham mu mah urusan bolang membolang.”

“Hahaha. Tau ajah.”

Aya sesekali tertawa membaca kalimat Dhamay, Sambil membayangkan saat bercakap-cakap langsung. Pasti ekspresi lucunya selalu bikin terbahak.

“Kemarin cerita aku, katanya sih sekitar dua  mingguan. Tapi masih liat kondisi cuaca juga. Kalo masih hujan-hujanan ga mungkin bongkar atap katanya.”

“Oh gitu. Semoga lancar deh ya. Setelah itu kita bisa segera berangkat ke Blitar. Ga enak loh sama Icha. Belum bisa ngucapin bela sungkawa secara langsung.”

 

***

 

“Say, anakku gejala DB.”

“Ya Allah..”

Aya berkaca-kaca melihat kiriman gambar anak Tuty terbaring di Rumah Sakit dengan tangan kiri diinfus. Wajahnya terlihat lemah. Meski berusaha tersenyum dan pose jempol diangkat karena harus difoto ibunya.

“Sudah tiga harian panas tinggi.”

“Yang sabar dan kuat ya say. Semoga Raissa segera pulih. Nurut sama ibu dan dokter ya nak.”

“Iya tante. Makasih.”

Membahasakan pesan untuk anaknya. Aya menulis di kolom chat dengan Tuty. Membayangkan betapa sahabatnya yang seorang ibu tunggal akan sangat kerepotan. Bekerja, mengurus rumah, sekaligus mengurus anak yang sedang dirawat di Rumah Sakit. Betapa ribetnya. Semoga Allah selalu melindungi dan memudahkan segala urusan Tuty. Begitu Aya bergumam dalam hati. Berharap semua beban sahabatnya segera berlalu. Segala sedih dan susah segera berganti ceria dan bahagia.

 

***

 

“Bu permisi. Ada tamu dari gedung sebelah.”

“Iya. Suruh masuk aja mbak.”

“Assalamualaikum..” Terlihat membuka pintu ruangan dua orang perempuan muda yang cantik. Yang satu perawakannya tinggi langsing. Berkulit putih, hidung mancung. Dengan stiletto berwarna hitam sekitar 9cm menambah anggun penampilannya. Satunya lagi agak sedikit pendek. Mungkin tinggi badan nya sekitar 158cm. Kulit sawo matang dan wajah mirip keturunan Timur Tengah, badannya agak sedikit berisi.

“Halah halaah. Kirain siapa. Tamu jauh rupanya. Ayo silakan duduk dek”

Lalu kita bertiga saling berjabat tangan. Bersalaman bermaaf-maaf an mengucap Selamat Idul Fitri, lalu berpelukan bergantian.

‘Darimana adek-adek ku ini?”

“Dari kantor aja mbak. Emang mau kesini. Mau berlebaran ke mbak.”

“Duh duh. Suguhan nya kalo di kantor ya cuman begini.”

Aku membuka beberapa kaleng berisi snack di meja ruang tunggu kantorku. Hanya ada kaleng berisi roti kering bagelen, kerupuk tengiri, dan satu kaleng lagi berisi permen.

“Sudah mbak. Cukup.”

“Keluar aja yuk. Cari rujak atau lontong kikil.”

“Hayuuk.”

 

***

 

Setiap hari selalu ada cerita yang bisa dicatat, disimpan, diceritakan kembali. Ataupun yang hanya bisa diingat dan dikenang. Yang jelas, segala cerita akan selalu mewarnai hari-hari kita. Ada cerita sedih, bahagia, kecewa, haru dan lainnya. Sungguh Tuhan Maha Adil. Menganugerahkan segala cerita untuk siapa saja.

 

 

 

 

Selasa, 16 April 2024

Halal Bil Halal



Siiaaaap Geraakk!

Lantang suara komandan apel memberi aba-aba untuk seluruh peserta. Yang berdiri berjajar di barisan depan sudah terlihat agak rapi. Tetapi yang di belakang masih banyak yang bergerombol. Bahkan terlihat masih banyak di kejauhan yang berlari-larian dari gedung kantor nya menuju halaman apel.

Aku mengambil sikap sempurna. Sambil membetulkan letak dan posisi masker, aku melirik ke arah jam tangan. Sudah menunjukkan pukul 07.49. Lalu sedikit mendongak ke atas. Masih sepagi ini. Tapi matahari begitu terasa terik dan panas. Keringat mulai terasa sedikit demi sedikit menetes dan mengalir di punggung belakang.

Pembina Apel Tiba di Tempat Apel!

Tak kalah nyaring dan lantang suara pembawa acara. Memberi tanda bahwa semua peserta harus lebih baik sikap sempurna nya. Spontan saja, aku berusaha membenarkan posisi badan, tangan, kaki, serta pandangan lurus ke depan ku. Berusaha tersenyum dan mengambil nafas panjang, agar tubuhku terasa lebih rileks dan tidak tegang. Karena apel bersama seperti ini pastinya akan jauh lebih lama daripada apel rutin yang digelar setiap Senin pagi.

Pengarahan oleh Pembina Apel!

Istirahaat di Tempaaaatt Geraakk!

Alhamdulillah. Ucapku dalam hati. Merasa sedikit lega bisa melonggarkan kaki dan menggerak-gerakkan badan. Mungkin peserta yang lain juga menggumam yang sama sepertiku.

“Saya, baik selaku pribadi dan keluarga maupun kedinasan mengucapkan Selamat Idul Fitri Syawal 1445 H kepada panjenengan semua. Minal Aidin wal Faidzin. Mohon segala kesalahan dan kekhilafan saya dimaafkan. Demikian juga sebaliknya panjenengan semua sudah saya maafkan. Mari kita kembali melangkah melaksanakan tugas-tugas kita dengan diri yang telah kembali fitri, dengan niatan dan kinerja yang lebih baik. Sebagai bentuk pengabdian kita kepada Pemerintah. Serta sebagai wujud ibadah kita kepada Allah SWT.”

Beberapa arahan terkait kedisiplinan, etos kerja, serta ketertiban administrasi perkantoran dan penyerapan anggaran juga disinggung oleh Pembina Apel.

“Yang terakhir, kepada bapak ibu yang masih mau melanjutkan berlebaran atau bersilaturahmi dengan rekan kerja dan sanak keluarga kami persilahkan. Senyampang tidak mengganggu kegiatan dan tugas-tugas di kantor.”

Aku menghela nafas panjang lagi dan tersenyum. Berharap beliau segera mengakhiri amanat nya dan mengucap salam penutup. Karena keringat yang makin deras di area wajahku yang tertutup masker. Huh.. rasanya sudah gerah sekali. Ingin segera membuka masker lalu mengelap wajahku dengan tisu.

Tanpa Penghormatan. Bubaarr Jalaan!

Akhirnya. pemimpin apel memberi aba-aba terakhirnya.

Sumpah. Gembira rasanya. Menapaki halaman berpaving yang semakin siang semakin menyilaukan mata. Ingin segera berlari memasuki ruang kerja yang sejuk. Duduk manis sambil menata nafas. Lalu mengelap wajah dan sekitar leher yang sudah penuh basah oleh keringat.

“Nanti jam 9 semua kumpul di ruang rapat ya.” Begitu Pimpinan memberikan instruksi.

Aku langsung menuju ke ruang rapat. Memanggil beberapa karyawan pria untuk membantu membersihkan ruangan dan menata meja kursi. Kunyalakan pendingin udara, merapikan posisi kursi pimpinan, dan memeriksa satu persatu pengeras suara. Mengecek baterai dan produksi suaranya.

“Dalam kesempatan yang sangat baik ini, saya mengucapkan terima kasih untuk seluruh karyawan yang bisa masuk kerja hampir seluruhnya setelah libur panjang dan cuti bersama lebaran. Meskipun ada beberapa yang masih ijin karena ada kepentingan keluarga maupun terkena musibah dan tidak dapat melaksanakan tugas seperti biasa. Saya juga berterimakasih kepada teman-teman yang telah melaksanakan tugas piket bergilir selama libur dan cuti bersama Idul Fitri tahun ini. Tidak lupa saya selaku pribadi dan keluarga maupun kedinasan mohon maaf lahir batin. Sudah biasa seorang Kepala Unit Kerja sering marah dan menggertak karyawan. Jangan diartikan bahwa saya tidak suka atau benci. Itu hanya semata-mata sebagai cara saya untuk mengingatkan dan memotivasi anda semua. Agar tugas-tugas kita dapat diselesaikan dengan benar, cepat dan tepat sasaran.”

Oh, jadi hari ini temanya adalah kembali ke pengabdian dan maaf-maaf an. Begitu kah?

 

Kamis, 04 April 2024

Write and Live


"Jeng, apa kabar? Ayo menulis bareng."

"Alhamdulillah baik sehat mba. Masih nulis kok. tapi ya nulis suka-suka aja. Ga terpattern. Ga terskenario kek di buku-buku mu gitu."

"Ah aku juga nulis suka-suka kok. kalo gitu pilih aja salah satu. Ayok kita bukukan bareng. Hahahaa.."

Maria Estiejarini. Lebih dikenal dengan nama Maria Syauta. Baginya menulis adalah menuangkan sedikit isi kepala ke dalam tulisan. Biar ga terlalu banyak yang tumpah di pikiran. Buatnya menulis juga menyembuhkan hati. Karena dengan menulis bisa mengalihkan sedikit perhatian hati yang cenderung fokus pada rasa sedih, kecewa, dan terluka.

Dia adalah salah satu sosok senior yang kukagumi sejak kita pernah bekerja pada satu instansi yang sama beberapa tahun lalu. Aku seringkali melihat dia kurang sehat secara fisik. Mudah terserang flu dan demam yang berkepanjangan. Beberapa kali dia memutuskan untuk istirahat di Rumah sakit. Karena menurutnya akan lebih maksimal pemulihannya saat total rest dengan cara opname.

Perempuan yang lebih suka dipanggil Miss Maria ini memiliki perawakan yang mungil, tinggi badannya mungkin tak sampai 150cm, dengan rambut ikal dan kulit sawo matang berkacamata. Dia berdarah campuran Jawa dan Ambon. Dengan usia yang sudah setengah baya, dia lebih konsen pada karier dan keluarga. Percintaan adalah hal kesekian yang tak pernah terbersit dalam kriteria target hidupnya. Karena itulah sampai hari ini dia masih santai menjomblo.

"Jeng, kalo hari Sabtu sedang longgar ayo belajar bersama.'

"Belajar dimana mba?

"Virtual kok. Belajar menulis tema ceria. Entar aku kirim link zoom nya ya."

"Okay mba."

Bagaimana menurut kalian menulis ceria itu? Cerita tentang kebahagiaan masa kanak-kanak, atau saat-saat mendebarkan menunggu kelulusan. Atau saat menanti pengumuman kejuaraan? Bukan. Bukan itu. Menulis ceria adalah ekspresi dan emosi kita saat sedang menulis. Lalu, apa hubungan emosimu dengan isi dan hasil tulisanmu? Apakah akan serelate itu?

Mood saat mengawali sebuah tulisan adalah awal yang baik untuk alur cerita yang baik. Meski dengan segala hal yang tak terduga, bisa saja kita tiba-tiba berhenti di tengah-tengah perjalanan, atau bahkan di baru seperempat langkah menulis. 

Dan sudah barang tentu, mood yang kita bangun dalam menulis itu hanya akan memotivasi semangat menulis kita saja. Sedangkan isi dan alur cerita yang ditulis tak akan pernah bisa ditebak. Penulis yang mengawali cerita genre pop, bisa saja beralur twist atau flashback, lalu berakhir dengan sad ending. Atau bisa sebaliknya.

Itulah kenapa aku sedikit tergelitik dengan tema zoom belajar bersama menulis ceria. Karena seperti kebanyakan orang berpikir bahwa patah hati adalah bekal yang paling baik untuk melahirkan puisi dan cerita yang paling memikat pembaca. Meski di luar sana banyak juga penggemar cerita horor, petualangan, dan misteri pembunuhan.

"Ayo nulis."

"Siap mba."




Write and Live

Menulislah untuk tetap hidup



Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...