Kamis, 04 April 2024

Write and Live


"Jeng, apa kabar? Ayo menulis bareng."

"Alhamdulillah baik sehat mba. Masih nulis kok. tapi ya nulis suka-suka aja. Ga terpattern. Ga terskenario kek di buku-buku mu gitu."

"Ah aku juga nulis suka-suka kok. kalo gitu pilih aja salah satu. Ayok kita bukukan bareng. Hahahaa.."

Maria Estiejarini. Lebih dikenal dengan nama Maria Syauta. Baginya menulis adalah menuangkan sedikit isi kepala ke dalam tulisan. Biar ga terlalu banyak yang tumpah di pikiran. Buatnya menulis juga menyembuhkan hati. Karena dengan menulis bisa mengalihkan sedikit perhatian hati yang cenderung fokus pada rasa sedih, kecewa, dan terluka.

Dia adalah salah satu sosok senior yang kukagumi sejak kita pernah bekerja pada satu instansi yang sama beberapa tahun lalu. Aku seringkali melihat dia kurang sehat secara fisik. Mudah terserang flu dan demam yang berkepanjangan. Beberapa kali dia memutuskan untuk istirahat di Rumah sakit. Karena menurutnya akan lebih maksimal pemulihannya saat total rest dengan cara opname.

Perempuan yang lebih suka dipanggil Miss Maria ini memiliki perawakan yang mungil, tinggi badannya mungkin tak sampai 150cm, dengan rambut ikal dan kulit sawo matang berkacamata. Dia berdarah campuran Jawa dan Ambon. Dengan usia yang sudah setengah baya, dia lebih konsen pada karier dan keluarga. Percintaan adalah hal kesekian yang tak pernah terbersit dalam kriteria target hidupnya. Karena itulah sampai hari ini dia masih santai menjomblo.

"Jeng, kalo hari Sabtu sedang longgar ayo belajar bersama.'

"Belajar dimana mba?

"Virtual kok. Belajar menulis tema ceria. Entar aku kirim link zoom nya ya."

"Okay mba."

Bagaimana menurut kalian menulis ceria itu? Cerita tentang kebahagiaan masa kanak-kanak, atau saat-saat mendebarkan menunggu kelulusan. Atau saat menanti pengumuman kejuaraan? Bukan. Bukan itu. Menulis ceria adalah ekspresi dan emosi kita saat sedang menulis. Lalu, apa hubungan emosimu dengan isi dan hasil tulisanmu? Apakah akan serelate itu?

Mood saat mengawali sebuah tulisan adalah awal yang baik untuk alur cerita yang baik. Meski dengan segala hal yang tak terduga, bisa saja kita tiba-tiba berhenti di tengah-tengah perjalanan, atau bahkan di baru seperempat langkah menulis. 

Dan sudah barang tentu, mood yang kita bangun dalam menulis itu hanya akan memotivasi semangat menulis kita saja. Sedangkan isi dan alur cerita yang ditulis tak akan pernah bisa ditebak. Penulis yang mengawali cerita genre pop, bisa saja beralur twist atau flashback, lalu berakhir dengan sad ending. Atau bisa sebaliknya.

Itulah kenapa aku sedikit tergelitik dengan tema zoom belajar bersama menulis ceria. Karena seperti kebanyakan orang berpikir bahwa patah hati adalah bekal yang paling baik untuk melahirkan puisi dan cerita yang paling memikat pembaca. Meski di luar sana banyak juga penggemar cerita horor, petualangan, dan misteri pembunuhan.

"Ayo nulis."

"Siap mba."




Write and Live

Menulislah untuk tetap hidup



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...