Siiaaaap Geraakk!
Lantang suara komandan apel memberi aba-aba untuk seluruh
peserta. Yang berdiri berjajar di barisan depan sudah terlihat agak rapi. Tetapi
yang di belakang masih banyak yang bergerombol. Bahkan terlihat masih banyak di
kejauhan yang berlari-larian dari gedung kantor nya menuju halaman apel.
Aku mengambil sikap sempurna. Sambil membetulkan letak dan
posisi masker, aku melirik ke arah jam tangan. Sudah menunjukkan pukul 07.49. Lalu
sedikit mendongak ke atas. Masih sepagi ini. Tapi matahari begitu terasa terik
dan panas. Keringat mulai terasa sedikit demi sedikit menetes dan mengalir di
punggung belakang.
Pembina Apel Tiba di Tempat Apel!
Tak kalah nyaring dan lantang suara pembawa acara. Memberi tanda
bahwa semua peserta harus lebih baik sikap sempurna nya. Spontan saja, aku
berusaha membenarkan posisi badan, tangan, kaki, serta pandangan lurus ke depan
ku. Berusaha tersenyum dan mengambil nafas panjang, agar tubuhku terasa lebih
rileks dan tidak tegang. Karena apel bersama seperti ini pastinya akan jauh
lebih lama daripada apel rutin yang digelar setiap Senin pagi.
Pengarahan oleh Pembina Apel!
Istirahaat di Tempaaaatt Geraakk!
Alhamdulillah. Ucapku dalam hati. Merasa sedikit lega bisa melonggarkan
kaki dan menggerak-gerakkan badan. Mungkin peserta yang lain juga menggumam
yang sama sepertiku.
“Saya, baik selaku pribadi dan keluarga maupun kedinasan
mengucapkan Selamat Idul Fitri Syawal 1445 H kepada panjenengan semua. Minal
Aidin wal Faidzin. Mohon segala kesalahan dan kekhilafan saya dimaafkan.
Demikian juga sebaliknya panjenengan semua sudah saya maafkan. Mari kita kembali melangkah
melaksanakan tugas-tugas kita dengan diri yang telah kembali fitri, dengan niatan dan kinerja yang lebih baik. Sebagai bentuk pengabdian kita kepada Pemerintah. Serta sebagai wujud ibadah kita kepada Allah SWT.”
Beberapa arahan terkait kedisiplinan, etos kerja, serta
ketertiban administrasi perkantoran dan penyerapan anggaran juga disinggung
oleh Pembina Apel.
“Yang terakhir, kepada bapak ibu yang masih mau melanjutkan
berlebaran atau bersilaturahmi dengan rekan kerja dan sanak keluarga kami
persilahkan. Senyampang tidak mengganggu kegiatan dan tugas-tugas di kantor.”
Aku menghela nafas panjang lagi dan tersenyum. Berharap
beliau segera mengakhiri amanat nya dan mengucap salam penutup. Karena keringat
yang makin deras di area wajahku yang tertutup masker. Huh.. rasanya sudah
gerah sekali. Ingin segera membuka masker lalu mengelap wajahku dengan tisu.
Tanpa Penghormatan. Bubaarr Jalaan!
Akhirnya. pemimpin apel memberi aba-aba terakhirnya.
Sumpah. Gembira rasanya. Menapaki halaman berpaving yang
semakin siang semakin menyilaukan mata. Ingin segera berlari memasuki ruang
kerja yang sejuk. Duduk manis sambil menata nafas. Lalu mengelap wajah dan
sekitar leher yang sudah penuh basah oleh keringat.
“Nanti jam 9 semua kumpul di ruang rapat ya.” Begitu Pimpinan
memberikan instruksi.
Aku langsung menuju ke ruang rapat. Memanggil beberapa karyawan
pria untuk membantu membersihkan ruangan dan menata meja kursi. Kunyalakan
pendingin udara, merapikan posisi kursi pimpinan, dan memeriksa satu persatu pengeras
suara. Mengecek baterai dan produksi suaranya.
“Dalam kesempatan yang sangat baik ini, saya mengucapkan
terima kasih untuk seluruh karyawan yang bisa masuk kerja hampir seluruhnya
setelah libur panjang dan cuti bersama lebaran. Meskipun ada beberapa yang
masih ijin karena ada kepentingan keluarga maupun terkena musibah dan tidak
dapat melaksanakan tugas seperti biasa. Saya juga berterimakasih kepada
teman-teman yang telah melaksanakan tugas piket bergilir selama libur dan cuti
bersama Idul Fitri tahun ini. Tidak lupa saya selaku pribadi dan keluarga
maupun kedinasan mohon maaf lahir batin. Sudah biasa seorang Kepala Unit Kerja
sering marah dan menggertak karyawan. Jangan diartikan bahwa saya tidak suka
atau benci. Itu hanya semata-mata sebagai cara saya untuk mengingatkan dan
memotivasi anda semua. Agar tugas-tugas kita dapat diselesaikan dengan benar,
cepat dan tepat sasaran.”
Oh, jadi hari ini temanya adalah kembali ke pengabdian dan
maaf-maaf an. Begitu kah?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar