Berpuluh menit lalu berpacu dengan senja
Mengerut, menyatu alisnya
Merengut, menegang, dan tersenyum
Memandang bundaran surya yang kuning tuanya tepat berada di tengah awan putih
Persis menyerupai ceplok mata sapi buatanmu, yang belum pernah kau janjikan untukku sarapan
Hamparan sawah di kanan kiri, menghijau, menguning
Langit di atasnya jingga merona
'Awannya ngikutin kita ya ma' celoteh pria 3tahun di samping kirinya
Ah... Tak perlu meniadakanmu
Kau selalu mengiringi di tiap jejakku
Di tiap embus napas
Di tiap pejam dan membuka mataku
Lalu terangkai panjat untuk kepulihanmu
Senja...
Terimakasih indahmu
Segeralah menjemput malam
Saatku, saatmu menguntai semoga dan alhamdulillah di ujung hening sajadah basah kita
Singgahlah esok lagi
Bawakan ku matahari
APril29, 19.16
Describing me in the expressions of things, places n people around. In life, I might leave. In love, I might suffer. In line, I might disconnect. With this, I conquer all
Minggu, 29 April 2018
Sabtu, 28 April 2018
"Membuka mata. Kamu. Lalu alhamdulillah.
Aku hanya butuh itu di setiap lima waktu dan sepertiga malamku
Memintakan kesehatan dan keselamatanmu."
Tuhan selalu Tahu cara yang baik dan bersungguh-sungguh dalam berdo'a. Tuhan mengabulkan segala do'a sesuai dengan yang kita butuhkan. Tuhan menahan do'a, karena Dia suka cara kita melakukannya.
"Jaga dia, lindungi dia, kasihi dia
Seperti dia selalu ingin menjaga, melindungi dan mengasihiku
Peluk dia, karena dekapku tak pernah sampai padanya."
Dan Tuhan tidak mengabulkan do'a kita, karena Dia menggantinya dengan hal baik lainnya. Karena Dia Maha Mengetahui. Sedang kita tak mengetahui apapun. Tuhan selalu memberi yang terbaik
"Terimakasih untuknya, cintanya, tulusnya. Kabulkan do'a-do'anya, seperti Kau kabulkan do'a hamba-hambaMu yang shalih."
Hanya Dia sang Pembuat Skenario
"Namamu Embun. Namaku Pagi
Bukan aku yang menyebutnya. Tapi semesta menciptanya
Nama kita; Kasih
Tuhan yang menyematkannya
Itulah mengapa aku abadi
Meski waktu memintaku 'pergi' pada Dia yang menyematkanNya"
Tetaplah menjadi pagi
Pagimu... Pagiku
You are my immortal
April28, 23.16
Jumat, 27 April 2018
@StorialCo
#NulisKilat
IBU RATU
"Nunggu apa nih bang?"
"Kworum lah."
"Kok pada belum naik. Masih ngapain sih mereka?"
"Tauu... "
"Mati gaya dong kita. Ada kacang?"
"Nih, tinggal bungkusnya."
"Kopi?"
"Di luar masih nangkring jumbo jar nya. Tapi cangkir udah kepakai semua."
"Terus ngapain kita?"
"Nunggu aja... "
Hmm... Sabar bener sih lu bang
Ada langkah yang berderap. Saat para penjaga, pengaman menyiagakan dirinya untuk upacara. Briefing pengamanan lebih tepatnya. Satu jam menjelang upacara pelantikan pimpinan tertinggi di gedung ini. Lantai tiga, dengan anak tangga lebar tepat di gerbang utama lantai satu, di tengahnya berdiri sebuah patung lambang negara ukuran besar, dengan pot-pot bunga besar di samping kanan dan kirinya. Orang-orang menyebut gedung ini istana. Semua gerbang, pintu, pagar, dan akses memasuki gedung dijaga ketat. Lelaki perempuan berseragam gelap itu -lebih mirip pengawal pribadi atau security menurutku- berbaris rapi berjajar dan berbanjar. Dengan wajah sangat tegang menerima pengarahan untuk tugasnya masing-masing. Para tamu dan undangan yang masuk harus bersabar mengantre menunggu saat pemeriksaan. Seluruh isi tas harus dikeluarkan, ditunjukkan, untuk menghindari metal detector yang dibawa petugas.
Hitam, mengkilat, dengan ujung agak runcing, hak setinggi 12cm menapak tangga. Suara tik tok nya teratur. Temponya menyerupai bunyi jarum jam di tiap detiknya. Anggun, tegas. Memasuki sebuah ruangan, yang di sisi kiri bergantung sebuah papan kayu persegi, menempel di ujung kiri atas kusen pintu, bertuliskan logam warna emas 'pimpinan'.
Seorang pria muda berbadan tegap, berpakaian resmi, stelan jas warna biru gelap, dengan kemeja warna kuning muda di dalamnya, berdasi hitam garis-garis kuning kecil bertanya
"Ibu siap menerima tamu?"
"Siapa yang sudah menunggu?"
"Petani apel dari daerah tinggi wilayah Timur?"
"Ambilkan saya teh panas dulu. Setelah itu suruh dia masuk."
"Siap."
"Sudah sarapan tadi bang?"
"Sudah. Kamu?"
"Cuman roti sama coklat panas."
"Lapar lagi?"
"Iya lah. Apalagi nunggu gini. Mati gaya beneran kalau tak ada cemilan."
"Saya hanya menyampaikan keluhan teman-teman bu. Para petani. Kami sudah mengajukan proposal. Untuk permohonan bantuan pupuk daun dan fasilitas pemasaran hasil panen kami. Tapi belum dapat tanggapan."
Sederhana. Rapi. Berpakaian batik lengan panjang, warna dasar coklat muda, dengan motif bunga-bunga besar warna hitam, celana hitam dan berpeci hitam. Indonesia dan Jawa sekali penampilannya. Tutur bahasanya pun halus, pelan. Kesan daerah yang tak bisa ditinggalkan.
"Saya sudah membaca proposal bapak 2 tahun lalu. Sudah kita bicarakan di rapat fraksi, rapat komisi dan rapat badan anggaran. Tapi kita masih menunggu kucuran dana dari pusat. Mohon bersabar lagi ya pak."
Si ibu tak melepas senyum sedikitpun saat berbicara. Tak hanya langkahnya yang anggun. Lipstik marun yang tampak dominan di seluruh wajahnya. Eye shadow dan blush on warna baby pink nya memoles wajahnya terlihat lebih natural. Eye liner dan mascara saja yang tampak tegas. Memperlihatkan pandangannya lebih berbinar. Menunjukkan ketegasan sikapnya.
"Para tamu kehormatan memasuki ruangan. Hadirin dimohon berdiri.
Menyanyikan bersama Lagu Kebangsaan Indonesia Raya."
Suara sang pembawa acara menggema di seluruh gedung. Seluruh undangan berdiri dengan sikap sempurna. Ujung sepatu terbuka 45 derajat, tumit mengatup, tangan terkepal santai di sisi paha.
"Ibu ini lagi bang?"
"Iya. Beliau yang terpilih. Dari sekian kandidat dinilai tak memenuhi syarat."
"Asik sih orangnya. Keren, anggun, tegas."
"Kejam."
"Hah?"
"Heem. Desas desusnya, keluarga terdahulunya pada tersangkut gerakan organisasi terlarang."
"30 September 1965?"
"Begitu sih. Katanya."
"Orde Baru sih ya. Bebas cekalan."
"Demokrasi."
*Percakapan Sepatu
Rabu, 25 April 2018
Kesendirian itu terobek senyap. Ada riang, riuh dan hingar yang tak mampu merayu. Memilih duduk, tepekur, merunduk dan tersungkur.
Bulir-bulir embun di luar sana mungkin mulai berhamburan. Meniti pangkal batang hingga pucuk daun pohon penitian. Berhenti, menggelantung, berpose. Elok. Terbias remang perpaduan lampu jalan dan cahaya bebintang. Mengerling. Bertanya 'sedang apa sehening ini?'
Menggerakkan senyumnya perlahan. Sedikit bergetar, antara menahan sekaligus ingin menumpahkan isak. Tak mampu berucap. Diendapnya segala malu, pilu, haru yang gemar sekali menyapa belakangan hari.
Tak perlu bicara. Dia Tahu. Tak hanya goresan pena yang bersih oleh penghapus. Bulu ketiak yang ujungnya mulai memutih, pun tahi lalat dan tanda lahir di tiap lekuk tubuh, Dia melihat. Setelanjang itu apa lagi yang harus ditutupi?
Ada do'a, ada pinta yang menggoda. Mencoba berdesah
"Tuhan... Terimakasih
Terimakasih masih Kau bangunkan aku
Ya aku tahu, ada tugas yang belum tertunaikan
Terimakasih masih memberiku kesempatan
Terimakasih masih beri waktu
Pagi... Terimakasih
Masih menghampiri"
Selasa, 24 April 2018
Aku
Tak pernah menciptakan ruang untuk siapapun
Tak pernah meminta tinggal
Bahkan menetap
Pun sekedar singgah
Aku
Hanya menciptakannya untuk diriku sendiri
Membangun raga, mengolah jiwa, mencipta rasa, asa, cinta dan suasana
Menebar aroma kebaikan, membentang jala kemurahhatian
Melipat luka dan lara, menutup rapat keluh, menyimpan penat, menekan hasrat keinginmenangan
Bila selanjutnya ada kau
Bukan aku yang menyilahkan masuk dan duduk
Tapi kau bawa sendiri kuncimu
Selebihnya, tangan Tuhanlah yang paling pasti menuntunmu
Aku
Tak pernah meminta siapapun berbelas kasih
Kuapit semua sisi lemahku, kujumput sendiri puing rapuhku
Dan kubangun tembok tegar
Untuk Tuhan membantuku hidup lebih lama
Jika berikutnya ada kau
Yang menyaksikan air mataku berderai
Mungkin mata hatimu yang bicara
Hatimu menyentuh hatiku
Turut membaca dan merasakan
Aku
Dengan segala yang melingkupiku
Bila aku percaya itu cinta
Aku tak memintamu untuk juga percaya
Aku hanya tak bisa mungkir
Tulus itu, jujur itu, dan kekuatannya
Hanya kau yang mampu membangunnya
Untukku
Aku
Tak pernah meminta siapapun untuk menjaga
Diri, hati, cinta dan kehormatanku
Aku melakukannya melebihi orang lain ingin menjagaku
Bila sejauh ini ada ragu
Mungkin itu bagian dari kerapuhan yang tak mampu lagi kau samarkan di balik mata tuamu
Dan jika apa yang kau bangun mulai terkoyak
Kupastikan bukan aku yang menghancurkannya
Karena
Aku
Adalah seorang penjaga
April25, 01.12
Tak pernah menciptakan ruang untuk siapapun
Tak pernah meminta tinggal
Bahkan menetap
Pun sekedar singgah
Aku
Hanya menciptakannya untuk diriku sendiri
Membangun raga, mengolah jiwa, mencipta rasa, asa, cinta dan suasana
Menebar aroma kebaikan, membentang jala kemurahhatian
Melipat luka dan lara, menutup rapat keluh, menyimpan penat, menekan hasrat keinginmenangan
Bila selanjutnya ada kau
Bukan aku yang menyilahkan masuk dan duduk
Tapi kau bawa sendiri kuncimu
Selebihnya, tangan Tuhanlah yang paling pasti menuntunmu
Aku
Tak pernah meminta siapapun berbelas kasih
Kuapit semua sisi lemahku, kujumput sendiri puing rapuhku
Dan kubangun tembok tegar
Untuk Tuhan membantuku hidup lebih lama
Jika berikutnya ada kau
Yang menyaksikan air mataku berderai
Mungkin mata hatimu yang bicara
Hatimu menyentuh hatiku
Turut membaca dan merasakan
Aku
Dengan segala yang melingkupiku
Bila aku percaya itu cinta
Aku tak memintamu untuk juga percaya
Aku hanya tak bisa mungkir
Tulus itu, jujur itu, dan kekuatannya
Hanya kau yang mampu membangunnya
Untukku
Aku
Tak pernah meminta siapapun untuk menjaga
Diri, hati, cinta dan kehormatanku
Aku melakukannya melebihi orang lain ingin menjagaku
Bila sejauh ini ada ragu
Mungkin itu bagian dari kerapuhan yang tak mampu lagi kau samarkan di balik mata tuamu
Dan jika apa yang kau bangun mulai terkoyak
Kupastikan bukan aku yang menghancurkannya
Karena
Aku
Adalah seorang penjaga
April25, 01.12
Jumat, 20 April 2018
@StorialCo
#NulisKilat
"Yang ini kan?"
Agung membuka lipatannya dan membentangkan kain tipis persegi warna jingga itu.
"Bukan. Itu punya mama. Yang satunya."
"Yang ini?" Kembali dibentangkan benda dari bahan yang sama, sewarna, dengan ukuran lebih kecil.
"Iya." Gadis 5 tahun itu mengangguk sambil tersenyum.
Menikmati sebuah perjalanan hidup ak ada lelahnya. Bagi Agung seperti merahabi hidangan kesukaannya. Yang setiap hari tersedia di atas meja makan. Menu yang sama tak menjadi masalah baginya. Yang penting mengenyangkan, menyehatkan, dan penuh berkah rizki dari peluhnya. Apalagi dimasak dengan cinta. Yang terakhir itu yang tak bisa dia abaikan begitu saja. Dan inipun selalu menjadi bagian ketidaksadarannya. Meleleh lalu memburai air matanya.
"Jangan sakit Ay... "
Agung membelai wajah perempuan yang dikasihinya itu. Yang selama tiga bulan terakhir ini selalu pucat. Lemah terkulai di pembaringan. Hanya obat, suntikan, dan vitamin penguat janin dari dokter yang menemani hari-harinya.
Aya tersenyum menatapnya. Mengangguk dan berbicara perlahan, sangat pelan
"Aku akan sehat. Aku akan hidup. Untukmu, untuk bayi kita."
"Sudah dicuci kan ini Yah?"
"Perasaan kemarin sudah nak."
"Tapi kan semalam aku pakai untuk latihan menari."
"Oh iya. Maaf ayah lupa."
Bergegas Agung menuju mesin cuci. Menyabun, mengeringkan, dan menjemurnya. Berharap punya waktu sebelum berangkat dinas, untuk menyeterikanya. Dan menyiapkan segala kebutuhan pentas anak gadisnya.
Dan lagi-lagi kerapuhannya muncul begitu saja. Dia bergumam "Aku tak akan memintamu melayaniku. Aku bisa melakukan ini semua sendiri. Saat begini, aku hanya ingin melihatmu duduk. Duduk saja di sana. Kursi makan warna biru, yang kau bilang tempat paling favoritmu di ruangan ini. Melihatku membereskan isi rumah, sambil tersenyum, dan sesekali mendendangkan lagu 'I Wanna Grow Old With You'
"Aku sudah cantik kan Yah?"
"Kau selalu cantik nak."
"Seperti mama kan?"
Agung mengangguk. Ada yang ditahan di balik senyum yang dipaksanya itu. Diciumnya kening anak gadisnya
"Semangat sayang. Ayah tak memintamu jadi juara. Tampillah. Berikan yang terbaik. Kau akan selalu menjadi pemenang di hati ayah."
"Tunggu. Satu lagi. Jangan lepas senyummu dari bidikan kamera abangmu. Narend, jaga adikmu nak."
"Siap ayah."
Haru itu makin menyeruak. Memandang punggung kedua anaknya melangkah memasuki gedung. Sampai menghilang di antara kerumunan bocah para peserta lomba hari itu.
Batin Agung "Andai Hari Ibu, Mother's Day, Woman Independence's Day, dan Hari Kartini terjadi bersamaan hari ini. Aku akan memelukmu erat Ay. Kaulah yang paling pantas aku rayakan hari ini."
April 20, 21.02
#NulisKilat
Selendang Aisyah
"Yang ini kan?"
Agung membuka lipatannya dan membentangkan kain tipis persegi warna jingga itu.
"Bukan. Itu punya mama. Yang satunya."
"Yang ini?" Kembali dibentangkan benda dari bahan yang sama, sewarna, dengan ukuran lebih kecil.
"Iya." Gadis 5 tahun itu mengangguk sambil tersenyum.
Menikmati sebuah perjalanan hidup ak ada lelahnya. Bagi Agung seperti merahabi hidangan kesukaannya. Yang setiap hari tersedia di atas meja makan. Menu yang sama tak menjadi masalah baginya. Yang penting mengenyangkan, menyehatkan, dan penuh berkah rizki dari peluhnya. Apalagi dimasak dengan cinta. Yang terakhir itu yang tak bisa dia abaikan begitu saja. Dan inipun selalu menjadi bagian ketidaksadarannya. Meleleh lalu memburai air matanya.
"Jangan sakit Ay... "
Agung membelai wajah perempuan yang dikasihinya itu. Yang selama tiga bulan terakhir ini selalu pucat. Lemah terkulai di pembaringan. Hanya obat, suntikan, dan vitamin penguat janin dari dokter yang menemani hari-harinya.
Aya tersenyum menatapnya. Mengangguk dan berbicara perlahan, sangat pelan
"Aku akan sehat. Aku akan hidup. Untukmu, untuk bayi kita."
"Sudah dicuci kan ini Yah?"
"Perasaan kemarin sudah nak."
"Tapi kan semalam aku pakai untuk latihan menari."
"Oh iya. Maaf ayah lupa."
Bergegas Agung menuju mesin cuci. Menyabun, mengeringkan, dan menjemurnya. Berharap punya waktu sebelum berangkat dinas, untuk menyeterikanya. Dan menyiapkan segala kebutuhan pentas anak gadisnya.
Dan lagi-lagi kerapuhannya muncul begitu saja. Dia bergumam "Aku tak akan memintamu melayaniku. Aku bisa melakukan ini semua sendiri. Saat begini, aku hanya ingin melihatmu duduk. Duduk saja di sana. Kursi makan warna biru, yang kau bilang tempat paling favoritmu di ruangan ini. Melihatku membereskan isi rumah, sambil tersenyum, dan sesekali mendendangkan lagu 'I Wanna Grow Old With You'
"Aku sudah cantik kan Yah?"
"Kau selalu cantik nak."
"Seperti mama kan?"
Agung mengangguk. Ada yang ditahan di balik senyum yang dipaksanya itu. Diciumnya kening anak gadisnya
"Semangat sayang. Ayah tak memintamu jadi juara. Tampillah. Berikan yang terbaik. Kau akan selalu menjadi pemenang di hati ayah."
"Tunggu. Satu lagi. Jangan lepas senyummu dari bidikan kamera abangmu. Narend, jaga adikmu nak."
"Siap ayah."
Haru itu makin menyeruak. Memandang punggung kedua anaknya melangkah memasuki gedung. Sampai menghilang di antara kerumunan bocah para peserta lomba hari itu.
Batin Agung "Andai Hari Ibu, Mother's Day, Woman Independence's Day, dan Hari Kartini terjadi bersamaan hari ini. Aku akan memelukmu erat Ay. Kaulah yang paling pantas aku rayakan hari ini."
April 20, 21.02
Jumat, 13 April 2018
Waktu begini yang dia suka. Saat nyenyat meneyergap. Denting jam saja yang iramanya menyentuh pikiran dan perasaannya. Tak ada ragu. Tak seorangpun akan merasa terganggu akan hadirnya. Tak satupun yang akan peduli apa yang dilakukannya. Bahkan tembok-tembok di sekelilingnya pun acuh. Seakan hanya menyeringai dan memandang sebelah mata 'kau bukan siapa-siapa. Mau tertawa berguling, teriak keras, menangis sampai habis air matamu. Lakukan saja. Kami tak peduli. Sedih dan bahagiamu hanya milikmu sendiri'
Dia pernah belajar 'bahagia dan sedih itu bukan tentang waktu, seseorang, tempat, atau hal yang ditemui. Tapi itu tentang rasa. Diciptakan oleh hati. Jangan pernah menunggu dan meminta diberi bahagia. Ciptakan sendiri. Begitupun bersedih. Semakin kau katakan dirimu begitu, makan kau akan makin menikmatinya. Dan sedihmu akan menjadi-jadi. Kau akan larut sendiri di dalamnya. Tak ada yang mampu menolong, selain dirimu sendiri'
Digenggamnya tangan mungil lelaki tiga tahun itu. Dielusnya kepala dan rambutnya. Merasakan kedua pipinya basah, dia berbisik
"Terima kasih nak. Tak ada syukur yang melebihi pinta yang pernah terkabul. Do'a ku, pun do'a-do'a mereka yang mengasihi ku. Diberi waktu, dilimpahi kesempatan untuk merasakan menjadi perempuan yang kau panggil 'ibu'. Hanya kau yang selalu percaya dan tak pernah ragu. Hanya kau yang tak pernah membenci, seburuk apapun aku memperlakukanmu. Hanya kau yang tak pernah menuntut, aku harus menjadi siapa dan menjadi apa. Dan cuma kamu, yang tak pernah mempertaruhkan kejujuranku. Jangan pernah malu memiliku. Aku tak akan lelah berupaya, menjadi apapun seperti yang kau mau. Karena aku cinta. "
Terbersit rasa harus apa dan harus bagaimana. Benci? Pergi?
Tak satupun yang diinginkannya
Diam?
Tetap tak mampu.
Dia memandang langit-langit beranda, yang makin lusuh dan dipenuhi debu. Berusaha menggantung harap di sana. 'Tuhan saja tak pernah putus asa pada manusia. "
Gumamnya lirih 'biar kunikmati dulu sedih ini'
April14, 00.43
Dia pernah belajar 'bahagia dan sedih itu bukan tentang waktu, seseorang, tempat, atau hal yang ditemui. Tapi itu tentang rasa. Diciptakan oleh hati. Jangan pernah menunggu dan meminta diberi bahagia. Ciptakan sendiri. Begitupun bersedih. Semakin kau katakan dirimu begitu, makan kau akan makin menikmatinya. Dan sedihmu akan menjadi-jadi. Kau akan larut sendiri di dalamnya. Tak ada yang mampu menolong, selain dirimu sendiri'
Digenggamnya tangan mungil lelaki tiga tahun itu. Dielusnya kepala dan rambutnya. Merasakan kedua pipinya basah, dia berbisik
"Terima kasih nak. Tak ada syukur yang melebihi pinta yang pernah terkabul. Do'a ku, pun do'a-do'a mereka yang mengasihi ku. Diberi waktu, dilimpahi kesempatan untuk merasakan menjadi perempuan yang kau panggil 'ibu'. Hanya kau yang selalu percaya dan tak pernah ragu. Hanya kau yang tak pernah membenci, seburuk apapun aku memperlakukanmu. Hanya kau yang tak pernah menuntut, aku harus menjadi siapa dan menjadi apa. Dan cuma kamu, yang tak pernah mempertaruhkan kejujuranku. Jangan pernah malu memiliku. Aku tak akan lelah berupaya, menjadi apapun seperti yang kau mau. Karena aku cinta. "
Terbersit rasa harus apa dan harus bagaimana. Benci? Pergi?
Tak satupun yang diinginkannya
Diam?
Tetap tak mampu.
Dia memandang langit-langit beranda, yang makin lusuh dan dipenuhi debu. Berusaha menggantung harap di sana. 'Tuhan saja tak pernah putus asa pada manusia. "
Gumamnya lirih 'biar kunikmati dulu sedih ini'
April14, 00.43
Kamis, 12 April 2018
Dia di sini. Meja bulat kecil di ujung ruangan. Bersebelahan dengan big screen dan audio set. Mungkin kamu masih mengingatnya. Kali ini dia memilih seblak dan teh panas. Sekedar memenuhi hasrat mulut akan taste pedas dan menemani tenggorakannya yang sedikit mulai berasa serik dan gatal sejak kemarin.
Berlimpah makanan, minuman di sini. Dan tentu saja cerita. Sesekali dia terbahak, sekedar menimpali joke yang ada, meski kadang tak tahu letak lucunya di mana. Berkali dia menatap serius, berusaha menjiwai perannya sebagai good listener. Menyiapkan diri mendengar curcolan sahabatnya. Matanya melotot menyipit dengan susah payah. Sembap nya dari semalam masih terbawa. Bahkan beberapa jam lalu, dia melajukan kendaraan nya dengan berkali-kali menyeka derai. Harus diseka, untuk tidak menghalangi pandangannya saat harus saling mendahului dengan kendaraan-kendaraan besar dan panjang yang seakan tak memberinya jalan.
Dia melihat sosokmu saat itu. Menyempatkan berhenti memang, sekedar mencari teh dingin less sugar, dan susu coklat dingin kemasan kotak kecil. Minuman yang selalu menemani kemanapun perjalanan kalian berdua. Baju takwa putih itu, dipandangnya sampai hilang bayanganmu, karena dia harus menatap ke depan. Dia bertanya 'kok ga bawa jaket? ' Dan kamu akan menjawab 'ada kok. Tapi retsletingnya rusak. '
Ya, dia berderai sepanjang jalan tadi. Berpikir apa yang terjadi semalam, kemarin, dan sebelum-sebelumnya. Banyak kenapa, ada apa, mengapa bisa.
Sebelum semalam dia sudah berencana -berharap lebih tepatnya-. Jadwal ke pesantren adalah saat yang paling ditunggunya. Saat itulah dia bisa melihatmu, melihat mata tua yang banyak menyimpan cerita yang sulit sekali tersampaikan. Kado-kado kecil untuk keponakan-keponakanmu juga sudah 2 minggu yang lalu teronggok di laci meja kerjanya, sejatinya tadi waktu yang tepat untuk menitipkannya padamu.
Dia masih merindukan segala waktu yang tidak enggan berpihak pada kalian. Dia selalu menyimpan semoga yang bisa diaminkan berdua.
Mungkin kali ini dia harus menahannya sendiri. Belum tahu apa yang harus dikata dan diperbuat.
Sedihnya membumi.
Sda, April 13, 12.57
'I wish my words made of dust
Just disappear after spoken'
But Dear,
It comes within your heart
It reflects you
It determines you
'I wish my words made of ashes
Just gone as the wind's blowing
No hurts, pain, neglect nor regrets remaining'
But Sweetheart,
That's the way you care, you love, and how you treat people
'What if I choose silence? '
Oh my Darling,
You're not Buddha
Look at the mirror
She is a good woman
The world always needs her sweet words
April13, 08.19
Just disappear after spoken'
But Dear,
It comes within your heart
It reflects you
It determines you
'I wish my words made of ashes
Just gone as the wind's blowing
No hurts, pain, neglect nor regrets remaining'
But Sweetheart,
That's the way you care, you love, and how you treat people
'What if I choose silence? '
Oh my Darling,
You're not Buddha
Look at the mirror
She is a good woman
The world always needs her sweet words
April13, 08.19
Senin, 09 April 2018
Mendarah menjiwa dia mengklaim dirinya kuat. Semua lelah, luka, pedih, rasa terpuruk dia sembunyikan sendiri. Merasa tak perlu dibagi keluar. Baginya orang lain hanya akan melihat, berdecak, mengasihani, menatap sinis, atau menertawai. Senyum itu dibangunnya dengan tak pernah mudah. Boleh dikata membohongi khalayak. Tapi hanya itu yang dia bisa. Membangun mood nya sendiri, membahak tawanya yang sering dipaksa. Hatinya?
Lalu kau muncul dengan kesahajaanmu. Sederhana dan tulusmu membuatnya berpikir 'boleh aku menjadi diriku sendiri di depanmu? Menunjukkan semua sisi rapuhku. Menumpang sandar yang sudah terlalu lama hampir patah. Dan lelah untuk selalu tampak kuat. Bisa kau sisihkan satu lenganmu untuk ku bergantung? '
Terlalu banyak mungkin yang diinginkannya darimu
23.20
Lalu kau muncul dengan kesahajaanmu. Sederhana dan tulusmu membuatnya berpikir 'boleh aku menjadi diriku sendiri di depanmu? Menunjukkan semua sisi rapuhku. Menumpang sandar yang sudah terlalu lama hampir patah. Dan lelah untuk selalu tampak kuat. Bisa kau sisihkan satu lenganmu untuk ku bergantung? '
Terlalu banyak mungkin yang diinginkannya darimu
23.20
Langganan:
Postingan (Atom)
Rindu Sawah
" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...
-
"Aku hanya ga habis fikir mba. Aku sebenarnya salah apa. Apa aku pernah ga sengaja membuat dia tersinggung. Ato apa. Ah entahlah....





