#NulisKilat
Selendang Aisyah
"Yang ini kan?"
Agung membuka lipatannya dan membentangkan kain tipis persegi warna jingga itu.
"Bukan. Itu punya mama. Yang satunya."
"Yang ini?" Kembali dibentangkan benda dari bahan yang sama, sewarna, dengan ukuran lebih kecil.
"Iya." Gadis 5 tahun itu mengangguk sambil tersenyum.
Menikmati sebuah perjalanan hidup ak ada lelahnya. Bagi Agung seperti merahabi hidangan kesukaannya. Yang setiap hari tersedia di atas meja makan. Menu yang sama tak menjadi masalah baginya. Yang penting mengenyangkan, menyehatkan, dan penuh berkah rizki dari peluhnya. Apalagi dimasak dengan cinta. Yang terakhir itu yang tak bisa dia abaikan begitu saja. Dan inipun selalu menjadi bagian ketidaksadarannya. Meleleh lalu memburai air matanya.
"Jangan sakit Ay... "
Agung membelai wajah perempuan yang dikasihinya itu. Yang selama tiga bulan terakhir ini selalu pucat. Lemah terkulai di pembaringan. Hanya obat, suntikan, dan vitamin penguat janin dari dokter yang menemani hari-harinya.
Aya tersenyum menatapnya. Mengangguk dan berbicara perlahan, sangat pelan
"Aku akan sehat. Aku akan hidup. Untukmu, untuk bayi kita."
"Sudah dicuci kan ini Yah?"
"Perasaan kemarin sudah nak."
"Tapi kan semalam aku pakai untuk latihan menari."
"Oh iya. Maaf ayah lupa."
Bergegas Agung menuju mesin cuci. Menyabun, mengeringkan, dan menjemurnya. Berharap punya waktu sebelum berangkat dinas, untuk menyeterikanya. Dan menyiapkan segala kebutuhan pentas anak gadisnya.
Dan lagi-lagi kerapuhannya muncul begitu saja. Dia bergumam "Aku tak akan memintamu melayaniku. Aku bisa melakukan ini semua sendiri. Saat begini, aku hanya ingin melihatmu duduk. Duduk saja di sana. Kursi makan warna biru, yang kau bilang tempat paling favoritmu di ruangan ini. Melihatku membereskan isi rumah, sambil tersenyum, dan sesekali mendendangkan lagu 'I Wanna Grow Old With You'
"Aku sudah cantik kan Yah?"
"Kau selalu cantik nak."
"Seperti mama kan?"
Agung mengangguk. Ada yang ditahan di balik senyum yang dipaksanya itu. Diciumnya kening anak gadisnya
"Semangat sayang. Ayah tak memintamu jadi juara. Tampillah. Berikan yang terbaik. Kau akan selalu menjadi pemenang di hati ayah."
"Tunggu. Satu lagi. Jangan lepas senyummu dari bidikan kamera abangmu. Narend, jaga adikmu nak."
"Siap ayah."
Haru itu makin menyeruak. Memandang punggung kedua anaknya melangkah memasuki gedung. Sampai menghilang di antara kerumunan bocah para peserta lomba hari itu.
Batin Agung "Andai Hari Ibu, Mother's Day, Woman Independence's Day, dan Hari Kartini terjadi bersamaan hari ini. Aku akan memelukmu erat Ay. Kaulah yang paling pantas aku rayakan hari ini."
April 20, 21.02
Tidak ada komentar:
Posting Komentar