Rabu, 25 April 2018



Kesendirian itu terobek senyap. Ada riang, riuh dan hingar yang tak mampu merayu. Memilih duduk, tepekur, merunduk dan tersungkur.

Bulir-bulir embun di luar sana mungkin mulai berhamburan. Meniti pangkal batang hingga pucuk daun pohon penitian. Berhenti, menggelantung, berpose. Elok. Terbias remang perpaduan lampu jalan dan cahaya bebintang. Mengerling. Bertanya 'sedang apa sehening ini?'

Menggerakkan senyumnya perlahan. Sedikit bergetar, antara menahan sekaligus ingin menumpahkan isak. Tak mampu berucap. Diendapnya segala malu, pilu, haru yang gemar sekali menyapa belakangan hari.

Tak perlu bicara. Dia Tahu. Tak hanya goresan pena yang bersih oleh penghapus. Bulu ketiak yang ujungnya mulai memutih, pun tahi lalat dan tanda lahir di tiap lekuk tubuh, Dia melihat. Setelanjang itu apa lagi yang harus ditutupi?

Ada do'a, ada pinta yang menggoda. Mencoba berdesah
"Tuhan... Terimakasih
Terimakasih masih Kau bangunkan aku
Ya aku tahu, ada tugas yang belum tertunaikan
Terimakasih masih memberiku kesempatan
Terimakasih masih beri waktu

Pagi... Terimakasih
Masih menghampiri"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...