Waktu begini yang dia suka. Saat nyenyat meneyergap. Denting jam saja yang iramanya menyentuh pikiran dan perasaannya. Tak ada ragu. Tak seorangpun akan merasa terganggu akan hadirnya. Tak satupun yang akan peduli apa yang dilakukannya. Bahkan tembok-tembok di sekelilingnya pun acuh. Seakan hanya menyeringai dan memandang sebelah mata 'kau bukan siapa-siapa. Mau tertawa berguling, teriak keras, menangis sampai habis air matamu. Lakukan saja. Kami tak peduli. Sedih dan bahagiamu hanya milikmu sendiri'
Dia pernah belajar 'bahagia dan sedih itu bukan tentang waktu, seseorang, tempat, atau hal yang ditemui. Tapi itu tentang rasa. Diciptakan oleh hati. Jangan pernah menunggu dan meminta diberi bahagia. Ciptakan sendiri. Begitupun bersedih. Semakin kau katakan dirimu begitu, makan kau akan makin menikmatinya. Dan sedihmu akan menjadi-jadi. Kau akan larut sendiri di dalamnya. Tak ada yang mampu menolong, selain dirimu sendiri'
Digenggamnya tangan mungil lelaki tiga tahun itu. Dielusnya kepala dan rambutnya. Merasakan kedua pipinya basah, dia berbisik
"Terima kasih nak. Tak ada syukur yang melebihi pinta yang pernah terkabul. Do'a ku, pun do'a-do'a mereka yang mengasihi ku. Diberi waktu, dilimpahi kesempatan untuk merasakan menjadi perempuan yang kau panggil 'ibu'. Hanya kau yang selalu percaya dan tak pernah ragu. Hanya kau yang tak pernah membenci, seburuk apapun aku memperlakukanmu. Hanya kau yang tak pernah menuntut, aku harus menjadi siapa dan menjadi apa. Dan cuma kamu, yang tak pernah mempertaruhkan kejujuranku. Jangan pernah malu memiliku. Aku tak akan lelah berupaya, menjadi apapun seperti yang kau mau. Karena aku cinta. "
Terbersit rasa harus apa dan harus bagaimana. Benci? Pergi?
Tak satupun yang diinginkannya
Diam?
Tetap tak mampu.
Dia memandang langit-langit beranda, yang makin lusuh dan dipenuhi debu. Berusaha menggantung harap di sana. 'Tuhan saja tak pernah putus asa pada manusia. "
Gumamnya lirih 'biar kunikmati dulu sedih ini'
April14, 00.43
Tidak ada komentar:
Posting Komentar