@StorialCo
#NulisKilat
IBU RATU
"Nunggu apa nih bang?"
"Kworum lah."
"Kok pada belum naik. Masih ngapain sih mereka?"
"Tauu... "
"Mati gaya dong kita. Ada kacang?"
"Nih, tinggal bungkusnya."
"Kopi?"
"Di luar masih nangkring jumbo jar nya. Tapi cangkir udah kepakai semua."
"Terus ngapain kita?"
"Nunggu aja... "
Hmm... Sabar bener sih lu bang
Ada langkah yang berderap. Saat para penjaga, pengaman menyiagakan dirinya untuk upacara. Briefing pengamanan lebih tepatnya. Satu jam menjelang upacara pelantikan pimpinan tertinggi di gedung ini. Lantai tiga, dengan anak tangga lebar tepat di gerbang utama lantai satu, di tengahnya berdiri sebuah patung lambang negara ukuran besar, dengan pot-pot bunga besar di samping kanan dan kirinya. Orang-orang menyebut gedung ini istana. Semua gerbang, pintu, pagar, dan akses memasuki gedung dijaga ketat. Lelaki perempuan berseragam gelap itu -lebih mirip pengawal pribadi atau security menurutku- berbaris rapi berjajar dan berbanjar. Dengan wajah sangat tegang menerima pengarahan untuk tugasnya masing-masing. Para tamu dan undangan yang masuk harus bersabar mengantre menunggu saat pemeriksaan. Seluruh isi tas harus dikeluarkan, ditunjukkan, untuk menghindari metal detector yang dibawa petugas.
Hitam, mengkilat, dengan ujung agak runcing, hak setinggi 12cm menapak tangga. Suara tik tok nya teratur. Temponya menyerupai bunyi jarum jam di tiap detiknya. Anggun, tegas. Memasuki sebuah ruangan, yang di sisi kiri bergantung sebuah papan kayu persegi, menempel di ujung kiri atas kusen pintu, bertuliskan logam warna emas 'pimpinan'.
Seorang pria muda berbadan tegap, berpakaian resmi, stelan jas warna biru gelap, dengan kemeja warna kuning muda di dalamnya, berdasi hitam garis-garis kuning kecil bertanya
"Ibu siap menerima tamu?"
"Siapa yang sudah menunggu?"
"Petani apel dari daerah tinggi wilayah Timur?"
"Ambilkan saya teh panas dulu. Setelah itu suruh dia masuk."
"Siap."
"Sudah sarapan tadi bang?"
"Sudah. Kamu?"
"Cuman roti sama coklat panas."
"Lapar lagi?"
"Iya lah. Apalagi nunggu gini. Mati gaya beneran kalau tak ada cemilan."
"Saya hanya menyampaikan keluhan teman-teman bu. Para petani. Kami sudah mengajukan proposal. Untuk permohonan bantuan pupuk daun dan fasilitas pemasaran hasil panen kami. Tapi belum dapat tanggapan."
Sederhana. Rapi. Berpakaian batik lengan panjang, warna dasar coklat muda, dengan motif bunga-bunga besar warna hitam, celana hitam dan berpeci hitam. Indonesia dan Jawa sekali penampilannya. Tutur bahasanya pun halus, pelan. Kesan daerah yang tak bisa ditinggalkan.
"Saya sudah membaca proposal bapak 2 tahun lalu. Sudah kita bicarakan di rapat fraksi, rapat komisi dan rapat badan anggaran. Tapi kita masih menunggu kucuran dana dari pusat. Mohon bersabar lagi ya pak."
Si ibu tak melepas senyum sedikitpun saat berbicara. Tak hanya langkahnya yang anggun. Lipstik marun yang tampak dominan di seluruh wajahnya. Eye shadow dan blush on warna baby pink nya memoles wajahnya terlihat lebih natural. Eye liner dan mascara saja yang tampak tegas. Memperlihatkan pandangannya lebih berbinar. Menunjukkan ketegasan sikapnya.
"Para tamu kehormatan memasuki ruangan. Hadirin dimohon berdiri.
Menyanyikan bersama Lagu Kebangsaan Indonesia Raya."
Suara sang pembawa acara menggema di seluruh gedung. Seluruh undangan berdiri dengan sikap sempurna. Ujung sepatu terbuka 45 derajat, tumit mengatup, tangan terkepal santai di sisi paha.
"Ibu ini lagi bang?"
"Iya. Beliau yang terpilih. Dari sekian kandidat dinilai tak memenuhi syarat."
"Asik sih orangnya. Keren, anggun, tegas."
"Kejam."
"Hah?"
"Heem. Desas desusnya, keluarga terdahulunya pada tersangkut gerakan organisasi terlarang."
"30 September 1965?"
"Begitu sih. Katanya."
"Orde Baru sih ya. Bebas cekalan."
"Demokrasi."
*Percakapan Sepatu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar