Kamis, 12 April 2018


Dia di sini. Meja bulat kecil di ujung ruangan. Bersebelahan dengan big screen dan audio set. Mungkin kamu masih mengingatnya. Kali ini dia memilih seblak dan teh panas. Sekedar memenuhi hasrat mulut akan taste pedas dan menemani tenggorakannya yang sedikit mulai berasa serik dan gatal sejak kemarin.

Berlimpah makanan, minuman di sini. Dan tentu saja cerita. Sesekali dia terbahak, sekedar menimpali joke yang ada, meski kadang tak tahu letak lucunya di mana. Berkali dia menatap serius, berusaha menjiwai perannya sebagai good listener. Menyiapkan diri mendengar curcolan sahabatnya. Matanya melotot menyipit dengan susah payah. Sembap nya dari semalam masih terbawa. Bahkan beberapa jam lalu, dia melajukan kendaraan nya dengan berkali-kali menyeka derai. Harus diseka, untuk tidak menghalangi pandangannya saat harus saling mendahului dengan kendaraan-kendaraan besar dan panjang yang seakan tak memberinya jalan.

Dia melihat sosokmu saat itu. Menyempatkan berhenti memang, sekedar mencari teh dingin less sugar, dan susu coklat dingin kemasan kotak kecil. Minuman yang selalu menemani kemanapun perjalanan kalian berdua. Baju takwa putih itu, dipandangnya sampai hilang bayanganmu, karena dia harus menatap ke depan. Dia bertanya 'kok ga bawa jaket? ' Dan kamu akan menjawab 'ada kok. Tapi retsletingnya rusak. '
Ya, dia berderai sepanjang jalan tadi. Berpikir apa yang terjadi semalam, kemarin, dan sebelum-sebelumnya. Banyak kenapa, ada apa, mengapa bisa.

Sebelum semalam dia sudah berencana -berharap lebih tepatnya-. Jadwal ke pesantren adalah saat yang paling ditunggunya. Saat itulah dia bisa melihatmu, melihat mata tua yang banyak menyimpan cerita yang sulit sekali tersampaikan. Kado-kado kecil untuk keponakan-keponakanmu juga sudah 2 minggu yang lalu teronggok di laci meja kerjanya, sejatinya tadi waktu yang tepat untuk menitipkannya padamu.

Dia masih merindukan segala waktu yang tidak enggan berpihak pada kalian. Dia selalu menyimpan semoga yang bisa diaminkan berdua.

Mungkin kali ini dia harus menahannya sendiri. Belum tahu apa yang harus dikata dan diperbuat.

Sedihnya membumi.





Sda, April 13, 12.57



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...