Rabu, 01 Mei 2024

Menarilah dan Terus Tertawa

 



“Ma, coba cek kan di toko online. Bantengan.”

“Kayak apa itu nak?”

“Coba wes lihat dulu.”

“Ini tah?” Aya menyodorkan HP yang di layarnya memperlihatkan daftar barang di toko online warna orens, Ada beberapa gambar kepala banteng lengkap dengan nama toko dan harga nya.

“Nah iya itu ma.”

“Untuk apa?”

“Ya buat maen lah.”

“Emang kamu bisa?”

“Kan bisa lihat di youtube, Ini lihaten (lihatlah) ya.”

Lalu Narend memilih channel youtube Satria Mbois, Satriya Arema, Putra Mandala Wisanggeni, dan beberapa konten yang bisa dipilih saat dia meng-klik kata kunci “bantengan”.

Terlihat di sana sekelompok pegiat seni dan budaya daerah, kebanyakan dari Malang dan sekitarnya,  yang menciptakan bentuk binatang banteng. Badan nya terbuat dari rangka kayu atau bambu. Lalu di dalam nya ada dua orang yang mengangkat dan menggerakkan. Satu orang yang di depan bertugas selaku kepala, sambil membawa kepala banteng,yang juga terbuat dari bahan kayu. Dilengkapi dengan hidung, mata, telinga, tanduk, serta bulu rambut  yang menyerupai aslinya. Sedang  satu orang lagi bertugas di belakang sebagai pembawa badan dan menggerakkan badan banteng.

Ada beberapa ekor banteng yang berdiri berjajar. Lalu satu orang sepertinya bertugas sebagai pemimpin, sambil membawa cambuk besar dan panjang. Lucunya di pertunjukan ini ada panggung besar yang dilengkapi dengan sound system dan lighting layaknya panggung konser. Akan tetapi hanya diisi oleh peralatan sound system besar yang suaranya sangat menggelegar. Sedangkan para pemain seni nya, ya para penggerak banteng itu, bermain di lapangan di depan panggung.

Saat musik dibunyikan keras-keras, maka sang pemimpin akan melecutkan cambuk, dan bergoyanglah para banteng menggerakkan tangan kaki, ke depan, ke belakang, samping kanan dan kiri, berdiri, merunduk bahkan maju mundur sambil jongkok. Bantenga jadi-jadian ini seperti para penari yang telah dilatih berkali-kali oleh seorang koreografer handal. Kenapa begitu? Karena menurutku mereka sungguh luar biasa. Menari dan bergoyang tanpa melihat. Bayangkan saja, para pembawa kerangka banteng ini adalah dua orang yang masing-masing bertugas di dalam ruangan yang ditutup selembar kain hitam lebar. Menutup seluruh rangka badan banteng dari bagian leher hingga ekor. Dan tentu saja menjuntai hingga bagian kaki. Jadi mereka bergerak dan bergoyang hanya dengan menirukan suara music dan menyesuaikan dengan tempo dan irama lagu yang sedang diputar. Yang membuat mereka makin luar biasa, segitu banyak banteng bergoyang dengan seragam dan seirama.

 

 “Gendhuk dhenok. Santri lulusan pondok

Isih perawan, durung tau kedemok

Tak rewangi. Sarungan gawe songkok

Assalamualaikum. Lha kok no bapake mlerok…”


Menurutku lirik lagunya sedikit menggelikan. Tabu untuk diucapkan. Tapi faktanya, seluruh penonton baik pria, wanita, dewasa, dan anak-anak, semua fasih melafalkan nya. Sambil ikut bergoyang menirukan gerakan para banteng jadi-jadian.



***

 

“Ma, boleh belikan barongan. Pliiss.” rajuk Narend

“Apa itu barongan?”

“Ini.” Sambil memutar channel youtube Garuda Wisnu Satria Muda. Sekelompok pemuda dari Jawa Tengan yang menggiatkan seni barongan. Selain menerima tawaran manggung di daerah-daerah, juga mengelola aset dan perlengkapan kegiatan barongan dalam sebuah gallery yang lumayan besar dan lengkap. Beberapa set gamelan, topeng barongan dari berbagai daerah, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali, dengan bentuk dan ciri khas masing-masing. Pakaian tari dan baju khas pebarong juga lengkap, mulai dari pengikat kepala (udeng, blangkon), jarit, pengikat perut (angkin, udet, korset), gelang lengan, kalung dan gelang kaki (gongseng) semua terawat bersih dan terrtata rapi.

“Ma, aku mau gongseng. Biar bisa gedruk pindho.”

Aya terkekeh. Aduh apa lagi itu nak batin nya dalam hati. Dia tersenyum melihat anak semata wayang nya yang menyukai kesenian daerah. Belajar sendiri tanpa harus berlatih pada pakar atau instruktur. Alat olahraga pun dikoleksi lengkap. Segala macam bola, mulai bola sepak, volley, dan basket. Raket dan shuttlecock untuk badminton pun punya. Alat dan bola pingpong pun ada. Beberapa alat musik berupa ukulele, keyboard, bahkan darbuka (alat musik religi Islami untuk kesenian hadrah dan albanjari) pun Narend punya. Semua dimainkan nya secara bergantian, tergantung mood ingin main yang mana. Sungguh, tanpa instruktur, tanpa pelatih. Dia bermain secara autodidak. Di rumah pun bermain sendiri dengan semangat dan bahagia.

Aya kadang juga merasa  sedih, melihat anak laki-laki nya tidak ada teman bermain. Tidak punya kakak ataupun adik. Pun anak tetangga yang sebaya. Sedang dirinya sendiri juga hanya bisa menjadi penonton. Karena tidak bisa menjadi teman bermain yang asik bagi anak nya. Tapi lebih dari itu, Aya sangat bersyukur. Melihat setiap saat nak nya selalu sehat, semangat dan bergembira.

 

 

 

 


Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...