“Ma, coba cek kan di toko online. Bantengan.”
“Kayak apa itu nak?”
“Coba wes lihat dulu.”
“Ini tah?” Aya menyodorkan HP yang di layarnya memperlihatkan
daftar barang di toko online warna
orens, Ada beberapa gambar kepala banteng lengkap dengan nama toko dan harga
nya.
“Nah iya itu ma.”
“Untuk apa?”
“Ya buat maen lah.”
“Emang kamu bisa?”
“Kan bisa lihat di youtube,
Ini lihaten (lihatlah) ya.”
Lalu Narend memilih channel
youtube Satria Mbois, Satriya Arema, Putra Mandala Wisanggeni, dan beberapa
konten yang bisa dipilih saat dia meng-klik kata kunci “bantengan”.
Terlihat di sana sekelompok pegiat seni dan budaya daerah,
kebanyakan dari Malang dan sekitarnya, yang menciptakan bentuk binatang banteng.
Badan nya terbuat dari rangka kayu atau bambu. Lalu di dalam nya ada dua orang
yang mengangkat dan menggerakkan. Satu orang yang di depan bertugas selaku
kepala, sambil membawa kepala banteng,yang juga terbuat dari bahan kayu.
Dilengkapi dengan hidung, mata, telinga, tanduk, serta bulu rambut yang menyerupai aslinya. Sedang satu orang lagi bertugas di belakang sebagai
pembawa badan dan menggerakkan badan banteng.
Ada beberapa ekor banteng yang berdiri berjajar. Lalu satu
orang sepertinya bertugas sebagai pemimpin, sambil membawa cambuk besar dan panjang.
Lucunya di pertunjukan ini ada panggung besar yang dilengkapi dengan sound system dan lighting layaknya panggung konser. Akan tetapi hanya diisi oleh
peralatan sound system besar yang suaranya sangat menggelegar. Sedangkan para
pemain seni nya, ya para penggerak banteng itu, bermain di lapangan di depan panggung.
Saat musik dibunyikan keras-keras, maka sang pemimpin akan
melecutkan cambuk, dan bergoyanglah para banteng menggerakkan tangan kaki, ke
depan, ke belakang, samping kanan dan kiri, berdiri, merunduk bahkan maju
mundur sambil jongkok. Bantenga jadi-jadian ini seperti para penari yang telah
dilatih berkali-kali oleh seorang koreografer handal. Kenapa begitu? Karena
menurutku mereka sungguh luar biasa. Menari dan bergoyang tanpa melihat.
Bayangkan saja, para pembawa kerangka banteng ini adalah dua orang yang
masing-masing bertugas di dalam ruangan yang ditutup selembar kain hitam lebar.
Menutup seluruh rangka badan banteng dari bagian leher hingga ekor. Dan tentu
saja menjuntai hingga bagian kaki. Jadi mereka bergerak dan bergoyang hanya dengan
menirukan suara music dan menyesuaikan dengan tempo dan irama lagu yang sedang
diputar. Yang membuat mereka makin luar biasa, segitu banyak banteng bergoyang
dengan seragam dan seirama.
Isih
perawan, durung tau kedemok
Tak
rewangi. Sarungan gawe songkok
Assalamualaikum.
Lha kok no bapake mlerok…”
Menurutku lirik lagunya sedikit menggelikan. Tabu untuk
diucapkan. Tapi faktanya, seluruh penonton baik pria, wanita, dewasa, dan
anak-anak, semua fasih melafalkan nya. Sambil ikut bergoyang menirukan gerakan
para banteng jadi-jadian.
***
“Ma, boleh belikan barongan. Pliiss.” rajuk Narend
“Apa itu barongan?”
“Ini.” Sambil memutar channel
youtube Garuda Wisnu Satria Muda. Sekelompok pemuda dari Jawa Tengan yang
menggiatkan seni barongan. Selain menerima tawaran manggung di daerah-daerah,
juga mengelola aset dan perlengkapan kegiatan barongan dalam sebuah gallery
yang lumayan besar dan lengkap. Beberapa set gamelan, topeng barongan dari
berbagai daerah, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali, dengan bentuk dan
ciri khas masing-masing. Pakaian tari dan baju khas pebarong juga lengkap,
mulai dari pengikat kepala (udeng, blangkon), jarit, pengikat perut (angkin,
udet, korset), gelang lengan, kalung dan gelang kaki (gongseng) semua terawat bersih
dan terrtata rapi.
“Ma, aku mau gongseng. Biar bisa gedruk pindho.”
Aya terkekeh. Aduh apa lagi itu nak batin nya dalam hati. Dia
tersenyum melihat anak semata wayang nya yang menyukai kesenian daerah. Belajar
sendiri tanpa harus berlatih pada pakar atau instruktur. Alat olahraga pun
dikoleksi lengkap. Segala macam bola, mulai bola sepak, volley, dan basket. Raket dan shuttlecock
untuk badminton pun punya. Alat dan bola pingpong pun ada. Beberapa alat musik berupa
ukulele, keyboard, bahkan darbuka (alat
musik religi Islami untuk kesenian hadrah dan albanjari) pun Narend punya. Semua
dimainkan nya secara bergantian, tergantung mood
ingin main yang mana. Sungguh, tanpa instruktur, tanpa pelatih. Dia bermain
secara autodidak. Di rumah pun bermain sendiri dengan semangat dan bahagia.
Aya kadang juga merasa sedih, melihat anak laki-laki nya tidak ada
teman bermain. Tidak punya kakak ataupun adik. Pun anak tetangga yang sebaya.
Sedang dirinya sendiri juga hanya bisa menjadi penonton. Karena tidak bisa
menjadi teman bermain yang asik bagi anak nya. Tapi lebih dari itu, Aya sangat
bersyukur. Melihat setiap saat nak nya selalu sehat, semangat dan bergembira.
