Gerimis
Terimakasih Tuhan
Aku masih bisa mendengar semuanya
Melihat semuanya
Mengingat semuanya
Dan merindukan semuanya
Terimakasih untuk sisa nafasku sampai sesore ini
AsharTears
Describing me in the expressions of things, places n people around. In life, I might leave. In love, I might suffer. In line, I might disconnect. With this, I conquer all
Rabu, 23 Januari 2019
Senin, 21 Januari 2019
Terimakasih Tuhan
Masih Kau beri kesempatan membuka mata. Melihat semuanya. Semuanya.
Hiruk pikuk di hadapanku, yang tak lebih hiruk dari hati dan pikiranku setiap waktu.
Di sebelah kiriku seorang ibu, yang usianya mungkin jauh lebih muda, dengan badan yang sedikit besar. Berpakaian yang terlalu melekat pada tubuhnya, hingga lipatan paha dan lengannya terlihat jelas. Wajahnya datar. Seorang anak perempuan berdiri di depannya. Agak susah kalu harus duduk, seperti hampir kegencet perut ibunya. Mungkin mereka sedang mencari warung makan apa yang cocok untuk sarapan hari ini. Menunya, harganya. Apa cukup uang di dompetnya untuk sekedar jajan yang diminta putrinya.
Lalu mendahului di sebelah kananku. Seorang bapak dengan juga anak perempuan di depannya. Melaju cepat. Hingga tas sekolah yang tergantung di setang kiri seperti hampir terbang. Apa yang dikejarnya? Mungkin takut gerbang sekolah anaknya segera digembok satpam.
Memasuki gang sebuah perumahan, mulai agak sedikit lengang. Seorang bapak tua mengayuh sepedanya dengan sangat pelan. Celananya terlipat sebelah. Mungkin dia terburu-buru tadi, sebelum meninggalkan rumah tak sempat merapikan. Dan wajah itu, aku melihat jelas rautnya, karena kami berpapasan. Rambutnya yang sedikit gondrong tak rapi, dan seluruh warnanya telah memutih. Pandangannya kosong. Aku pikir mungkin dia sedang olahraga pagi. Atau sekedar keluar mencari angin segar, karena di dapur istrinya sedang mengomel beras dan gula habis.
Ah, kenapa aku sibuk membaca raut muka dan pikiran orang-orang yang kutemui. Sedang aku? Sedang melotot, atau mengernyit, menyatuka alis, atau apa? Yang jelas bibirku sedang jauh dari bentukan senyum. Ya, aku sendiri tak mampu melihat, merasa mimik muka dan lalu lalang pikiranku sendiri.
Terimakasih Pagi
Masih menemaniku mengingat semuanya. Semuanya.
Saat membaca pesan bergambar sebuah produk iklan makanan ringan bergambar senyum lebar dengan gigi-gigi yang berbaris rapi. Lalu mendenngar pernyataan 'ngerti engga sih wong iki?'
Saat itu malam selalu cepat berlalu. Berganti pagi dengan cerita-cerita dan bunga-bunga baru. Wangi. Berwarna-warni.
Sesekali muncul cerita sedih, haru yang pilu, kelunya rindu, dan rasa takut kehilangan.
Semua kembali pada tempatnya, saat hasrat untuk hidup lebih lama, lebih bermanfaat, manjadi semangat untuk lebih baik melangkah.
Topik diskusi antara komunikasi, cara membaca dan membalas pesan, yang sering memunculkan salah pendapat pun sering mewarnai hari. Dan tak jarang tak pernah terselesaikan, bahkan meruncing berlama-lama.
Cerita tentang satu kali hujan bulan Pebruari, satu kali hujan bulan Juli, dan dua Ramadhan, tertulis, terbacakan, terlewati tanpa jeda.
Berharap semuanya tak hanya sekedar cerita.
Inginnya malam mengistirahatkan mata, hati, dan pikiran sejenak. Lalu terbangunkan lagi oleh pagi dengan semangat yang sama. Semua masih dan akan baik-baik saja.
Terimakasih Waktu
Terimakasih untuk semuanya. Semuanya.
Cermin di hadapanku berkata 'berhentilah menilai diri sendiri. Hanya orang lain yang berhak atas penilaian pada diri kita'
Ya. Seringkali merasa benar tentang sesuatu, ternyata tidak begitu bagi orang lain. Berniat baik, dengan tujuan baik, pun cara kita masih diterima salah oleh orang lain.
Banyak hal yang tak mampu dimengerti. Semakin ingin mengerti, semakin tak mengerti.
'Maka aku biarkan semua rasaku bersiklus. Terendapkan saat malam mengajak beristirahat sejenak. Terbangunkan oleh sergap-sergap mimpi yang mengaduk-aduk segala emosi. Lalu terjaga jelas saat pagi tiba kembali.
Di ruangan ini, kuhabiskan seluruh air mata saat malam hening, untuk tumpah di ujung sajadah dan sebagian pakaian ibadah. Untuk sekedar menyisakan senyum saat pagi nanti. Dan akan aku biarkan tubuh yang tak bernyawa ini, tetap melakukan tugasnya. Untuk diri, hari, orang-orang di sekitar, semata-mata menunaikan kewajiban dan tanggung jawabku kan hak-hak mereka. Selebihnya, Tuhan yang akan menopang langkahku dalam ketidakmengertian yang panjang'
DuhaNote
Masih Kau beri kesempatan membuka mata. Melihat semuanya. Semuanya.
Hiruk pikuk di hadapanku, yang tak lebih hiruk dari hati dan pikiranku setiap waktu.
Di sebelah kiriku seorang ibu, yang usianya mungkin jauh lebih muda, dengan badan yang sedikit besar. Berpakaian yang terlalu melekat pada tubuhnya, hingga lipatan paha dan lengannya terlihat jelas. Wajahnya datar. Seorang anak perempuan berdiri di depannya. Agak susah kalu harus duduk, seperti hampir kegencet perut ibunya. Mungkin mereka sedang mencari warung makan apa yang cocok untuk sarapan hari ini. Menunya, harganya. Apa cukup uang di dompetnya untuk sekedar jajan yang diminta putrinya.
Lalu mendahului di sebelah kananku. Seorang bapak dengan juga anak perempuan di depannya. Melaju cepat. Hingga tas sekolah yang tergantung di setang kiri seperti hampir terbang. Apa yang dikejarnya? Mungkin takut gerbang sekolah anaknya segera digembok satpam.
Memasuki gang sebuah perumahan, mulai agak sedikit lengang. Seorang bapak tua mengayuh sepedanya dengan sangat pelan. Celananya terlipat sebelah. Mungkin dia terburu-buru tadi, sebelum meninggalkan rumah tak sempat merapikan. Dan wajah itu, aku melihat jelas rautnya, karena kami berpapasan. Rambutnya yang sedikit gondrong tak rapi, dan seluruh warnanya telah memutih. Pandangannya kosong. Aku pikir mungkin dia sedang olahraga pagi. Atau sekedar keluar mencari angin segar, karena di dapur istrinya sedang mengomel beras dan gula habis.
Ah, kenapa aku sibuk membaca raut muka dan pikiran orang-orang yang kutemui. Sedang aku? Sedang melotot, atau mengernyit, menyatuka alis, atau apa? Yang jelas bibirku sedang jauh dari bentukan senyum. Ya, aku sendiri tak mampu melihat, merasa mimik muka dan lalu lalang pikiranku sendiri.
Terimakasih Pagi
Masih menemaniku mengingat semuanya. Semuanya.
Saat membaca pesan bergambar sebuah produk iklan makanan ringan bergambar senyum lebar dengan gigi-gigi yang berbaris rapi. Lalu mendenngar pernyataan 'ngerti engga sih wong iki?'
Saat itu malam selalu cepat berlalu. Berganti pagi dengan cerita-cerita dan bunga-bunga baru. Wangi. Berwarna-warni.
Sesekali muncul cerita sedih, haru yang pilu, kelunya rindu, dan rasa takut kehilangan.
Semua kembali pada tempatnya, saat hasrat untuk hidup lebih lama, lebih bermanfaat, manjadi semangat untuk lebih baik melangkah.
Topik diskusi antara komunikasi, cara membaca dan membalas pesan, yang sering memunculkan salah pendapat pun sering mewarnai hari. Dan tak jarang tak pernah terselesaikan, bahkan meruncing berlama-lama.
Cerita tentang satu kali hujan bulan Pebruari, satu kali hujan bulan Juli, dan dua Ramadhan, tertulis, terbacakan, terlewati tanpa jeda.
Berharap semuanya tak hanya sekedar cerita.
Inginnya malam mengistirahatkan mata, hati, dan pikiran sejenak. Lalu terbangunkan lagi oleh pagi dengan semangat yang sama. Semua masih dan akan baik-baik saja.
Terimakasih Waktu
Terimakasih untuk semuanya. Semuanya.
Cermin di hadapanku berkata 'berhentilah menilai diri sendiri. Hanya orang lain yang berhak atas penilaian pada diri kita'
Ya. Seringkali merasa benar tentang sesuatu, ternyata tidak begitu bagi orang lain. Berniat baik, dengan tujuan baik, pun cara kita masih diterima salah oleh orang lain.
Banyak hal yang tak mampu dimengerti. Semakin ingin mengerti, semakin tak mengerti.
'Maka aku biarkan semua rasaku bersiklus. Terendapkan saat malam mengajak beristirahat sejenak. Terbangunkan oleh sergap-sergap mimpi yang mengaduk-aduk segala emosi. Lalu terjaga jelas saat pagi tiba kembali.
Di ruangan ini, kuhabiskan seluruh air mata saat malam hening, untuk tumpah di ujung sajadah dan sebagian pakaian ibadah. Untuk sekedar menyisakan senyum saat pagi nanti. Dan akan aku biarkan tubuh yang tak bernyawa ini, tetap melakukan tugasnya. Untuk diri, hari, orang-orang di sekitar, semata-mata menunaikan kewajiban dan tanggung jawabku kan hak-hak mereka. Selebihnya, Tuhan yang akan menopang langkahku dalam ketidakmengertian yang panjang'
DuhaNote
Minggu, 20 Januari 2019
Saat gelap merangkak hening terkoyak
Deras hujan menimpuk-nimpuk
Hamburan rindu berserak
Apa kau menyebutnya?
Sarapan yang kesorean atau makan siang yang kemalaman
Ah, biar saja batinnya
Raganya di sini
Wajahnya tepat menghadap semangkuk mie kuah panas pedas
Pikirannya bermil-mil jauh di entah mana
Mencari menyibak-nyibak rimbun perdu gelisah
Sumber kata 'makanlah. Jangan terlambat. Lalu minum air putih yang cukup'
Tak henyak dia tertunduk
Mendingin, menggumpal isi mangkuknya
Dia hanya acuh menghitung bulir
Yang pelan terburai di pipi, ujung bibir
Dan sesekali menetes lancang
Menempel di ujung potongan seledri menyerupai embun
Desahnya tertahan
Menarik nafas panjang dan mengembuskannya perlahan
Meraih sendok garpu, memaksa senyum
'Bismillah. Kenyang, sehat, berkah'
Jumat, 18 Januari 2019
Selasa, 15 Januari 2019
Kamis, 03 Januari 2019
Rabu, 02 Januari 2019
"Ay, geserlah kursimu lebih mendekat ke dinding. Lengan bajumu mulai basah."
"Tak apa Ty, apa yang harus aku kuatirkan dari sekedar gerimis."
Aya tersenyum memandang cahaya bulan yang tadinya mulai menyembul di sela dedaunan. Dan akhirnya tinggal temaram, terkalahkan mendung yang mulai menyebar.
"Yoga selalu suka malam yang begini. Dia pasti akan mempuisikan segenap rindunya pada hening, hujan dan cahaya bulan."
Tuty mendengar suara sahabatnya diliputi sukacita, berbaur pedih yang selalu dipendamnya. Sengaja dia tak memalingkan sedetik pun wajahnya ke arah Aya. Menyibukkan diri mencari colokan mengisi baterai ponselnya yang tinggal 20%.
"Aku syukuri pertemuanku dengan hujan bulan Januari. Entah apa akan ada waktu untuk menyaksikan rinai hujan bulan Pebruari. Pun harapku untuk bersua hujan bulan Juli, atau sekedar sekelebat cahaya purnama di awal minggunya."
"Kau menulisnya?"
Aya menggeleng
"Dia?"
Aya mengangguk perlahan.
"Aku selalu suka catatannya. Tentang apapun. Lebih-lebih saat dia memadunya dengan latar gambarnya sendiri. Saat sedang berdiri menyandar hanya diterangi lampu jalan. Baitnya tentang lembutnya kasih, rindu yang kelu, dan pilunya haru selalu mendera hari-hariku dengan rasa yang sama. Aku merasa sangat dikagumi Ty. Dicintai."
Tuty berkali mengarahkan pandangannya pada layar ponsel. Tak kuasa menahan perasaannya saat itu. Terbawa suasana cara Aya, mencurah segala rasanya. Yang tak pernah terjelaskan pada siapapun.
"Kau selalu menjaga ponselmu tetap hidup Ty? sekalipun saat mengisi baterai?"
"Heem. Kuatir ada perintah si Bos sewaktu-waktu."
"Sama. Akupun selalu takut kehabisan baterai ponsel. Kuatir kehilangan kabarnya. Dan selalu menunggu, mencari-cari pesannya. Frasa singkat yang selalu membuatku terjaga dari mimpi, terbangun dari tidur yang kesorean, bangkit dari penat yang sangat, dan tetap hidup lagi meski aku dimatikan."
"Heem. Aku tahu frasa itu. Yang pernah kau hitung dalam seminggu ratusan kali kalian saling berbalas."
Aya tetap tersenyum. Meski sejak tadi linangnya tak berhenti. Menyerupai bulir gerimis malam ini. Pelan, dengan irama yang lambat, terus berjatuhan berhamburan. Menghampiri ujung mata, hidung, pipi dan bibirnya.
"Ay, semua telah berbeda. Berubah. Mustahil kau menginginkan semuanya kembali seperti dulu."
"Biarlah Ty. Setidaknya aku masih diberi waktu untuk mengingat semuanya. Mengenang."
"Tak apa Ty, apa yang harus aku kuatirkan dari sekedar gerimis."
Aya tersenyum memandang cahaya bulan yang tadinya mulai menyembul di sela dedaunan. Dan akhirnya tinggal temaram, terkalahkan mendung yang mulai menyebar.
"Yoga selalu suka malam yang begini. Dia pasti akan mempuisikan segenap rindunya pada hening, hujan dan cahaya bulan."
Tuty mendengar suara sahabatnya diliputi sukacita, berbaur pedih yang selalu dipendamnya. Sengaja dia tak memalingkan sedetik pun wajahnya ke arah Aya. Menyibukkan diri mencari colokan mengisi baterai ponselnya yang tinggal 20%.
"Aku syukuri pertemuanku dengan hujan bulan Januari. Entah apa akan ada waktu untuk menyaksikan rinai hujan bulan Pebruari. Pun harapku untuk bersua hujan bulan Juli, atau sekedar sekelebat cahaya purnama di awal minggunya."
"Kau menulisnya?"
Aya menggeleng
"Dia?"
Aya mengangguk perlahan.
"Aku selalu suka catatannya. Tentang apapun. Lebih-lebih saat dia memadunya dengan latar gambarnya sendiri. Saat sedang berdiri menyandar hanya diterangi lampu jalan. Baitnya tentang lembutnya kasih, rindu yang kelu, dan pilunya haru selalu mendera hari-hariku dengan rasa yang sama. Aku merasa sangat dikagumi Ty. Dicintai."
Tuty berkali mengarahkan pandangannya pada layar ponsel. Tak kuasa menahan perasaannya saat itu. Terbawa suasana cara Aya, mencurah segala rasanya. Yang tak pernah terjelaskan pada siapapun.
"Kau selalu menjaga ponselmu tetap hidup Ty? sekalipun saat mengisi baterai?"
"Heem. Kuatir ada perintah si Bos sewaktu-waktu."
"Sama. Akupun selalu takut kehabisan baterai ponsel. Kuatir kehilangan kabarnya. Dan selalu menunggu, mencari-cari pesannya. Frasa singkat yang selalu membuatku terjaga dari mimpi, terbangun dari tidur yang kesorean, bangkit dari penat yang sangat, dan tetap hidup lagi meski aku dimatikan."
"Heem. Aku tahu frasa itu. Yang pernah kau hitung dalam seminggu ratusan kali kalian saling berbalas."
Aya tetap tersenyum. Meski sejak tadi linangnya tak berhenti. Menyerupai bulir gerimis malam ini. Pelan, dengan irama yang lambat, terus berjatuhan berhamburan. Menghampiri ujung mata, hidung, pipi dan bibirnya.
"Ay, semua telah berbeda. Berubah. Mustahil kau menginginkan semuanya kembali seperti dulu."
"Biarlah Ty. Setidaknya aku masih diberi waktu untuk mengingat semuanya. Mengenang."
Langganan:
Postingan (Atom)
Rindu Sawah
" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...
-
"Aku hanya ga habis fikir mba. Aku sebenarnya salah apa. Apa aku pernah ga sengaja membuat dia tersinggung. Ato apa. Ah entahlah....
