Jumat, 29 September 2017

                                           I Love Malang

23 tahun lalu, seorang gadis desa berniat melanjutkan pendidikannya. Lulus dari sekolah menengah atas, besar harapan bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Berangkat dari keluarga sederhana, seorang ayah petani, dan ibu, seorang guru sekolah dasar. Tak ada hal yang pernah menyurutkan semangatnya. Sekolah adalah passion buatnya. Tak pernah punya alasan untuk bermalas-malasan, keinginan untuk bolos atau nakal, seperti remaja sebayanya pada umumnya. Dan tak ada istilah 'asal' untuk selalu berangkat ke sekolah tepat waktu, dan selalu takut terlambat. Terlambat masuk kelas ataupun terlambat mengikuti jam pelajaran. Saat harus ijin, sakit ataupun ada kegiatan luar sekolah seperti berlatih paskibra, paduan suara dll, selau ada rasa cemas ketinggalan mata pelajaran. Dan secepat itu mencari bahan contekan, menulis ulang atau mengkopi dari teman. Masa-masa sekolah yang benar-benar penuh semangat.


Di tempat ini dia menjatuhkan pilihan, berpikir keras menikmati bagaimana rasanya sebuah pengalaman 'bangku kuliah'. Menjalani fase remaja hingga dewasanya di sini. Banyak hal, orang baru, lingkungan baru ditemuinya. Berbekal pesan sang ibu 'ojo ndelok menduwur, tetep ndingkluk, ben tetep eling lan waspada' (jangan suka melihat yang lebih tinggi, tetaplah menunduk, agar selalu rendah hati dan berhati-hati). Serta pesan sang ayah 'ojo melu jor-joran' (jangan berlebihan dan bersaing dalam penampilan, tetaplah sederhana). Langkahnya tak pernah gontai, menatap, tersenyum, berkawan, dan hanya satu niat di hatinya, menimba ilmu. Banyak cita-cita yang sering dituliskannya di buku diary teman-sekolahnya, mulai ahli hukum, banker, diplomat. Ya..Cita-cita mulia yang diimpikan, yang belum pernah terbayang akan bagaimana dan seperti apa.

Empat tahun sejatinya sudah cukup baginya untuk menyandang gelar sarjana, menyelesaikan seluruh study nya, dan lulus dengan predikat cumlaude. Tetapi dia selalu dan selalu, berangan-angan lulus dari sekolah tinggi untuk langsung mengenal dunia kerja. Berkaca dari kakak kelas dan juga anak tetangga, yang kebetulan selepas wisuda lalu diam di rumah. Dia tak ingin mengecewakan orang tuanya, yang bersusah payah sekian tahun mengupayakan biaya untuk pendidikannya. Thesis nya ditunda, untuk berburu lowongan pekerjaan. Entah kenapa, keberuntungan selalu berpihak padanya. Bersaing dengan banyak lulusan fakultas ilmu keguruan, dia terpilih seleksi untuk menjadi instruktur bahasa asing di sebuah lembaga pendidikan teknik diploma. Tanpa berpikir 'money oriented' dia menandatangani sebuah perjanjian kontrak kerja, dengan jam dan hari kerja serta bahan ajar yang sudah ditentukan dalam pasal.


Jalan ini menjadi saksi, perjuangan dan sukacitanya dalam episode hidup berantaunya. Betapa tidak, saat harus mengikuti materi Listening ataupun Ear and Speech Training, dia harus menuju laboratorium bahasa. Yang dari rumah kos berjarak sekitar 15km, ditempuh dengan angkutan umum yang tempat penurunan terakhirnya di jl. Kawi. Lab. Bahasa di jl. Semeru ditempuhnya dengan jalan kaki melewati separuh dari panjangnya seluruh jl. Ijen ini. Konon di sini adalah rumah-rumah elite milik pejabat pemerintah, konglomerat ataupun ekspatriat. Tertata rapi bangunan besar, luas dan kuno jaman Belanda orang-orang menyebutnya. Tak ada rasa lelah menghabiskan tenaga menyusuri jalan ini. Meski sesampainya di tujuan banyak peluh yang harus diusap. Hijaunya taman di samping kanan dan kiri serta median jalan, hanya menambah semangat yang muda untuk berkarya. Coba pada masa itu sudah ada gadget, pastilah tempat ini jadi photo spot asik untul berselfie dan wefie ria. 


*
Banyak cerita haru, sedih, bahagia, lucu bahkan konyol mewarnai seluruh hidupnya di masa itu. Ya.. Dia mengklaim 'masa yang paling indah adalah masa kuliah'. Meski orang kebanyakan menyebut masa SMA. 


Saat itu melihat tempat ini seperti mimpi. Berpikir tak akan cukup isi kantongnya untuk melunasi bill makanan n minuman yang dipesan. Sebuah bakery sekaligus resto berkonsep rumah. Ya, ini memang sebuah rumah kediaman, yang ruang nya tidak banyak dirubah. Masih terlihat jelas bentuk ruang tamu, ruang tengah, dapur bahkan toilet dan carport samping. Hanya interior dan furnitur saja yang diatur sedemikian rupa sebagai tempat makan. Ada beberapa meja yang tersebar di seluruh ruangan, dengan kursi memgelilinginya. Bermacam bentuk dan bahan kursi, menjadi pilihan pengunjung, di mana ingin membangkitkan selera makan atau nongkrongnya. Ada beberapa set sofa besar memenuhi sudut ruangan, ada kursi kayu bentuk bulat ataupun persegi, ada juga mini bar dengan kursi berkaki tinggi. Dan di samping, ruang yang mestinya carport, dipenuhi 2 set meja dan kursi rotan bulat rendah, masing-masing dikelilingi 4 kursi. Di sana swlalu terlihat mobil mewah, pengunjung yang berpakain rapi, tak jarang para turis mancanegara. Dalam benaknya "pasti daftar menunya berlabel dolar, bukan rupiah". Iya.. Sesederhana itu cara berpikir seseorang yang belum punya pengalaman menerima gaji setelah sebulan penuh bekerja. 


 Lima tahun terakhir, ruas jalan ini berubah begini. Tidak merubah jalannya, hanya di salah satu ujungnya dibangun minipark dan monumen tajuk jalan. Sebagai penanda dan icon kota untuk lebih mudah diingat dan diabadikan. Rumah-rumah di sepanjang jaan inipun sudah banyak berubah tampak depan bahkan keselurahan bangunannya, begitu pula pemiliknya. Pernah terdengar juga selentingan,  salah satu dan dua menjadi milik artis dan pemain bola terkenal. 

Malang
Orang selalu menyebutnya kota dingin dan kota bunga. Sebelum berdirinya pemerintahan baru, Kota Batu, seluruh tempat wisata dan potensinya masih dikenal sebagai malang. Apel Malang, payung Malang dan banyak lagi yang sampai saat ini identik dengan Malang. 

Di sana masa dewasa sang gadis desa ditempa. Pengalaman dan kenangan juga banyak yang disimpan, diceritakan pun dituliskannya. Banyak mimpi yang masih belum tergapai di sana. Dia pernah bercita-cita menjadi bagian dari Malang. Menjadi warga, menetap dan mencintai kota itu sampai akhir hayat. 



Senin, 25 September 2017


Ada yang luruh bersama bulir-bulir yang meleleh di ujung mata
Menitip aksara yang tak mampu diungkap semesta
Sekeras ombak yang berupaya menghantam
Tah runtuh juga tebing di tepian samudera
Selemah angin menyapu pasir pantai
Tak kuasa menghilang
Makin menyebar
Menebar tabah
Menunggu gulungan ombak
Mengombang-ambingkan nya
Terbawa
Dan menepikannya kembali

Ada jejak yang ingin kuabadikan
Kulukis lalu kubingkai
Untuk cerita anak cucu saat menua kelak
'ibu pernah di sini nak..'

Cinta selalu pandai mengukir waktu
Menembus ruang
Mengabaikan jarak
Melara dan meradang sendiri bersama mimpi

Saat gelap menjelang
Lagu rindu makin nyaring
Bait puisiku seringkali tak berrima 
Bila kau tanya untuk siapa? 
'untuk.. Ayah nak.. '

Senin, 18 September 2017

Bila tak ingat lelah
Ingin rasanya menangis saja
Berhari-hari tanpa henti

Pun saat tak ingat dosa
Ingin rasanya pergi saja
Ke sudut ruang yang jauh
Yang hanya ada angin dan suara gemericik air di ladang
Yang tak seorangpun kuijinkan meramaikan sepiku
Meninggalkan hingar bingar bumi
Dan hiruk pikuk nya hari

Aku perempuan biasa..
Yang dalam lemah tak berdayaku
Memimpikan uluran lembut
Lengan yang memelukku hangat
Bahu tempatku bersandar
Pangkuan tempatku menumpahkan isak

Lalu hening mengingatkanku
Tak perlu menunggu
Kekuatan itu adalah dirimu sendiri
Gulita ini akan segera menepi
Berganti benderang di ujung fajar
Begitulah pagi tak pernah ingkar
Selalu hadir tepat pada saatnya

Belajar pada pagi
Yang selalu setia menawarkan harapan baru

Aku beranjak
Memapah hati
Bergumam lirih
'Never ask people to stay and care
Count on yourself. '


Minggu, 17 September 2017

Ngelangut...
Nakokake sepi
Apa ana janji kang bakal cidra
Kekarepan kang adoh saka nyata

Semiliring angin angumbara
Ananing rasa
Tuwuh tresna
Mekar ing asmara

Wengi sejatine andarbeni
Ati kang nandang lara lapa

Gegayuhanku mung sliramu
Tak impi rina lan wengi
Katembang ing panyuwun lan kidung wuyungku
Mugi kapireng dumateng Gusti Kang Murbeng Dumadi

Jumat, 08 September 2017


Sepagi hutan.. Bersama rimbun dedaun 
Hijau, kuning dan kecoklatan
Yang meliuk gemulai diterpa angin
Yang tegak menjulang menantang matahari
Pun yang tergeletak tak berdaya
Bahkan bebatuan pun enggan mengajak bercanda

Begitu rinduku pada alam
Menghirup aroma basah tanah
Mengernyit menghitung tiap gemericik riak
Pun derasnya air terjun yang memukul permukaan sungai
Dan sesekali mendesah pelan
Bersama suara burung dan pengerat bersahutan

Begitu rinduku pada alam
Yang tak cukup kubingkai dengan kamera cinta
Tak pula cukup kulukis dengan crayon kasih

Alam mengajarkanku bermimpi
Mengurai peristiwa kemarin
Dan merenda kembali perca-perca kasih yang bertebaran

Alam mengajarkanku percaya
Setelah gelap menggelayut
Menguras peluh dan penat tiada henti
Pagi akan selalu singgah
Menyapa

Alam mengajarkanku menangis
Sedih lara yang diratapi
Pun seisak-isaknya haru penuh bahagia

Hanya alam yang paling sederhana kejujurannya
Selalu menjanjikan angin sang sahabat bagi jiwa yang sepi
Menjanjikan hujan, bagi hati yang kerontang
Menjanjikan tenang bagi mereka yang patah

Alam.. Boleh kubingkai kau sekali lagi? 



Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...