I Love Malang
Empat tahun sejatinya sudah cukup baginya untuk menyandang gelar sarjana, menyelesaikan seluruh study nya, dan lulus dengan predikat cumlaude. Tetapi dia selalu dan selalu, berangan-angan lulus dari sekolah tinggi untuk langsung mengenal dunia kerja. Berkaca dari kakak kelas dan juga anak tetangga, yang kebetulan selepas wisuda lalu diam di rumah. Dia tak ingin mengecewakan orang tuanya, yang bersusah payah sekian tahun mengupayakan biaya untuk pendidikannya. Thesis nya ditunda, untuk berburu lowongan pekerjaan. Entah kenapa, keberuntungan selalu berpihak padanya. Bersaing dengan banyak lulusan fakultas ilmu keguruan, dia terpilih seleksi untuk menjadi instruktur bahasa asing di sebuah lembaga pendidikan teknik diploma. Tanpa berpikir 'money oriented' dia menandatangani sebuah perjanjian kontrak kerja, dengan jam dan hari kerja serta bahan ajar yang sudah ditentukan dalam pasal.
Jalan ini menjadi saksi, perjuangan dan sukacitanya dalam episode hidup berantaunya. Betapa tidak, saat harus mengikuti materi Listening ataupun Ear and Speech Training, dia harus menuju laboratorium bahasa. Yang dari rumah kos berjarak sekitar 15km, ditempuh dengan angkutan umum yang tempat penurunan terakhirnya di jl. Kawi. Lab. Bahasa di jl. Semeru ditempuhnya dengan jalan kaki melewati separuh dari panjangnya seluruh jl. Ijen ini. Konon di sini adalah rumah-rumah elite milik pejabat pemerintah, konglomerat ataupun ekspatriat. Tertata rapi bangunan besar, luas dan kuno jaman Belanda orang-orang menyebutnya. Tak ada rasa lelah menghabiskan tenaga menyusuri jalan ini. Meski sesampainya di tujuan banyak peluh yang harus diusap. Hijaunya taman di samping kanan dan kiri serta median jalan, hanya menambah semangat yang muda untuk berkarya. Coba pada masa itu sudah ada gadget, pastilah tempat ini jadi photo spot asik untul berselfie dan wefie ria.
*
Banyak cerita haru, sedih, bahagia, lucu bahkan konyol mewarnai seluruh hidupnya di masa itu. Ya.. Dia mengklaim 'masa yang paling indah adalah masa kuliah'. Meski orang kebanyakan menyebut masa SMA.
Saat itu melihat tempat ini seperti mimpi. Berpikir tak akan cukup isi kantongnya untuk melunasi bill makanan n minuman yang dipesan. Sebuah bakery sekaligus resto berkonsep rumah. Ya, ini memang sebuah rumah kediaman, yang ruang nya tidak banyak dirubah. Masih terlihat jelas bentuk ruang tamu, ruang tengah, dapur bahkan toilet dan carport samping. Hanya interior dan furnitur saja yang diatur sedemikian rupa sebagai tempat makan. Ada beberapa meja yang tersebar di seluruh ruangan, dengan kursi memgelilinginya. Bermacam bentuk dan bahan kursi, menjadi pilihan pengunjung, di mana ingin membangkitkan selera makan atau nongkrongnya. Ada beberapa set sofa besar memenuhi sudut ruangan, ada kursi kayu bentuk bulat ataupun persegi, ada juga mini bar dengan kursi berkaki tinggi. Dan di samping, ruang yang mestinya carport, dipenuhi 2 set meja dan kursi rotan bulat rendah, masing-masing dikelilingi 4 kursi. Di sana swlalu terlihat mobil mewah, pengunjung yang berpakain rapi, tak jarang para turis mancanegara. Dalam benaknya "pasti daftar menunya berlabel dolar, bukan rupiah". Iya.. Sesederhana itu cara berpikir seseorang yang belum punya pengalaman menerima gaji setelah sebulan penuh bekerja.
Lima tahun terakhir, ruas jalan ini berubah begini. Tidak merubah jalannya, hanya di salah satu ujungnya dibangun minipark dan monumen tajuk jalan. Sebagai penanda dan icon kota untuk lebih mudah diingat dan diabadikan. Rumah-rumah di sepanjang jaan inipun sudah banyak berubah tampak depan bahkan keselurahan bangunannya, begitu pula pemiliknya. Pernah terdengar juga selentingan, salah satu dan dua menjadi milik artis dan pemain bola terkenal.
Malang
Orang selalu menyebutnya kota dingin dan kota bunga. Sebelum berdirinya pemerintahan baru, Kota Batu, seluruh tempat wisata dan potensinya masih dikenal sebagai malang. Apel Malang, payung Malang dan banyak lagi yang sampai saat ini identik dengan Malang.
Di sana masa dewasa sang gadis desa ditempa. Pengalaman dan kenangan juga banyak yang disimpan, diceritakan pun dituliskannya. Banyak mimpi yang masih belum tergapai di sana. Dia pernah bercita-cita menjadi bagian dari Malang. Menjadi warga, menetap dan mencintai kota itu sampai akhir hayat.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar