Mungkin aku akan lupa bagaimana rasanya -bila tak diingatkan kembali- sirloin, tenderloin steak, french fries, mie kuah, rujak cingur duapuluh ribu dan yang enam ribuan.
Pun tak ingat benar bedanya banana split yang disajikan dalam piring mika warna hijau berbentuk daun, lengkap dengan garis gurat-gurat menyerupai aslinya, dengan yang di cawan bening berkaki panjang.
Juga mini black forest berpita coklat yang kubelah pada tanggal satu maret, memaksakan taggal duapuluh sembilan pebruari yang hanya kutemui empat tahun sekali. Jus mentimun, plecing kangkung, dan sambal pencit yang bikin gobyos di warung tepi sawah.
Tapi aku tak pernah lupa saat kapan melihatnya, mengambil gambarnya beberapa jenak sebelum menikmati suapan demi suapan. Lalu merasakan sensasinya meleleh memenuhi lidahku. Semeleleh pandanganmu menyaksikan aku merahabinya pelan-pelan. Hingga tak bersisa, ataupun menyisakan potongan-potongan terakhir untuk kau habiskan, atau kupaksa menyuapimu demi menghabiskan.
Itu semua tentang apa? Hal makan?
Bukan merurutku. Itu tentang waktu, tentang kesempatan, dan tentang cinta. Cara cinta menghargai waktu.
Terimakasih waktu.
Terimakasih cinta.
July19, 20.52
Tidak ada komentar:
Posting Komentar