Rabu, 18 Juli 2018

Sedikit berdecit waktu kubuka. Melangkah tiga jengkal dari daun pintu. Kusandarkan tubuh bagian depanku pada pagar pembatas balkon yang sedikit lebih tinggi di atas perutku. Mendongak menyaksikan langit yang sedikit panas menurutku, meski matahari belum tepat di atas kepala waktu itu. Hamparan sawah yang mulai menguning sedikit mengalihkan kernyit dahiku karena menahan silau.

"Boleh ketemu?"

"Untuk apa? "

"Meminta maaf."

"Maafkanlah dirimu sendiri untuk pikiran-pikiranmu itu."

"Kalau tidak boleh, ijinkan aku melihatmu sebentar saja. Mungkin untuk terakhir kalinya. Setelah itu aku gak akan ganggu kamu lagi."

"Sudahlah. Mungkin kamu butuh waktu untuk berdamai dengan dirimu sendiri dulu."

"Ijinkan aku bertemu, sekali saja. Aku ingin mencium kakimu."


Sedikit menunduk. Suara air sungai yang mengitari pondok ini, menyerupai batas area persawahan di seberangnya. Terlihat dua orang di gubuk kecil di salah satu petak sawah sedang menarik-narik tali. Menggerak-gerakkan pita atau kertas berbentuk segitiga menyerupai bendera, yang dipasang di sela-sela sepanjang tali mengitari sekotak sawah miliknya. Rupanya untuk mengusir burung-burung yang ramai hinggap. Berharap berhenti mengenyangkan selera makan siangnya, agar saat panen tak berkurang hasil padinya.

Kutarik sebuah kursi rotan. Dengan sandaran agak tinggi tidak melebihi kepalaku. Dengan spons tipis berbalut oscar coklat tua bebentuk setengah lingkaran, mungkin bermaksud tidak menyakiti pantatku saat mendudukinya. Kusandarkan pada balkon tempatku berdiri tadi. Kali ini mataku disibukkan oleh segerombolan burung walet yang tiba-tiba muncul entah dari mana asalnya. Mungkin juga karena langit tiba-tiba saja mendung. Beterbangan di atas sungai, sawah dan sekitar balkon.


"Untung yang bicara ini kamu. Coba orang di jalanan, pasti sudah aku gampar."

Semendidih itu otakku malam sebelumnya. Seperti tak kuasa lagi menahan sakitnya hati, karena kepercayaan yang dirusak.

"Kau sudah mengenalku. Kenapa berusaha menciptakan aku yang lain di pikiranmu."


Kutarik kembali kursi rotan ke tempatnya semula. Menempel pada dinding pondok sekitar satu meter saja dari pembatas balkon. Dua buah kursi yang dipisahkan meja kecil bulat, dengan penutup kaca tebal di atasnya. Kucecap teh di cangkir putih polos agak tinggi, yang sudah mulai dingin, karen kuseduh dari pemanas air di dalam kamar pondok sejak aku tiba tadi.

"Aku pikir kamu akan lelah dengan semua ini. Tapi ternyata masih terjadi lagi. Dan lagi."

Kali ini aku mulai tertarik pada ponsel, yang sedari tadi aku abaikan. Aku buka file. Mini movie berisi gambarku, gambarnya, gambarku dan ibunya, serta beberapa percakapan kami dan sedikit catatanku. Menikmati semua gambar bermunculan bergantian, sambil beberapa kali bernafas panjang. Dan sesekali berhenti menahan sesak.

Bidadari tak bersayap datang padaku
Dikirim Tuhan dalam wujud wajah kamu
Dikirim Tuhan dalam wujud diri kamu
Sampai habis nyawaku
Sampai habis usia
Mukah dirimu jadi teman hidupku



Kuputar berulang-ulang sambil menyeka pipi dan hidung berkali-kali.


"Gak papa. Aku sehat kok. Dua botol bening cairan warna kuning sedikit membuatku lebih bugar. Setidaknya kembali merasakan infus setelah tujuh tahun lalu."

Kulepas mukena. Kulipat bersama sajadahnya. Lantai tampak bersih lagi. Tapi semua tertinggal di sana. Di bentangan langit Tuhan, tempat Dia menampung do'a-do'a, yang Dia ijabah, Dia tangguhkan, pun yang Dia gantung saja, untuk digantikanNya dengan hal baik menurutNya. Aku bangun. Tersenyum.

"Be healthy
Be happy "









July18, 14.46



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...