Rabu, 11 Juli 2018

Kau tidak tahu apa itu tampak kuat. Bagaimana rasanya tidak kuat, tapi bertahan untuk tetap kuat. Karena menjadi kuat adalah satu-satunya pilihan yang ada. Begitu orang berkata. Seperti pingsan lalu siuman. Mati suri bernafas kembali. Sekarat berkali-kali, tetapi terus bangun untuk melanjutkan hidup.

Duduk saja aku sekenanya. Tak kuhiraukan pasir dan rumput mengotori celana pendekku. Bahkan sesekali membuat pahaku gatal. Botol air mineral kututup lagi, setelah tinggal separuh isinya. Kuletakkan di sebelah sendal jepit yang kupakai alas duduk.


Kedewasaan tidak identik dengan usia. Itu juga kata orang-orang. Bahkan setelah fase learning life in a hard way sebentar reda dan kembali ke sana, benar adanya yang dikata 'hidup berputar'. Roller coaster egois sekali membawa penumpangnya. Sesukanya naik turun, miring, sambil bebas menebar ekspresi yang dibawa suasana hati. Tertawa, ketakutan, histeris, pucat, menahan nafas. Setelah berhenti pun menyisakan mimik. Sesak nafas, melongo, tertawa puas, atau diam saja. Selanjutnya melangkah lagi. Menuruti hasrat hati kemana mau mambawa diri. Duduk saja menikmati kopi, berjalan menghampiri gerai es krim, berlari mengejar kereta kelinci, atau memilih bersantai di area rumput melanjutkan halaman novel yang belum usai. Pun ada yang beranjak pulang untuk segera tidur, karena jadwal kerja harus jaga dari malam sampai pagi.  Hidup tak behenti.

Ya anginnya kencang. Sengaja kulepas karet rambutku. Kubiarkan tergerai bebas di bahu dan sesekali mengibas tengkuk. Aku ingin merasakan gesekan helai-helainya mengusik telinga. Tak biasanya kacamata yang aku tancapkan di kepala menyerupai bando. Kali ini kugeletakkan saja di sebelah pecahan batu bata di tanah sisi kiri tempatku duduk.

Ramai suara daun-daun jatuh, tapi tak mengosongkan pikiranku. Keset kamar mandi yang miring dan sesekali benangnya menjerat ujung jariku, ceret yang dipenuhi semut, roti basi yang kubeli tiga hari lalu tak termakan, dompet sobek yang bikin isinya berhamburan di jalan. Belum lagi tali jemuran yang putus, TV rusak, tangan harus diplester karena terkena pisau saat mengupas kentang. Ah... Seperti aku saja yang penuh masalah. Merasa paling menderita di dunia.

"Life... Oh life... Oh life... Oh life... Oh life"
By Desree

Kuhirup kuat-kuat kau angin. Kali ini aku hanya akan bercumbu denganmu. Aku tak merasa lelah. Hanya butuh beberapa menit untuk begini. Karena aku tak mungkin lari. Semua ini milikku, dihadiahkan padaku. Untuk kujalani dan kusyukuri.

Kutahan nafasku sedikit lama. Terpejam dan mencoba tersenyum. Dan kubiarkan air mata yang mendadak meleleh di pipi kanan kiriku. Basah dan dinginnya membuatku tertawa. Batinku "ini Tuhan yang Mau. Kenapa aku harus menahannya. "

"Masih di sini? "
Aku mengangguk masih enggan membuka mata.
"Ayo pergi. "
Akupun masih diam, tersenyum dan terpejam.

Merasakan tubuhku makin ringan. Ingatanku saja yang tetap sibuk memaksaku untuk segera menyusulmu. Menggandeng tanganmu dan menyeretmu duduk di depanku. Membawakan semangkuk kecil sup kacang merah dan secangkir coklat panas.

"Sudah hampir gelap. Ayo pulang. "

Hanya tersenyum.
Aku sudah sejauh ini untuk menjadi sedekat ini. Sudah sepanjang ini untuk menjadi sekuat ini. Kalau ada yang memintaku pergi, adakah tempat yang lebih layak, bila bukan di sini seharusnya aku ingin tinggal.













July12, 03.53

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...