Senin, 16 Juli 2018

Dear you,

Tahukah kau, Nak
Dia pernah berkata "Aku sayang sampeyan"
Saat itu pengakuannya yang pertama dia bilang 'memberanikan diri' oleh sebuah rasa yang disimpannya entah sejak berapa lama. Aku bahkan tak mengerti, atau harus mengerti, atau berpura-pura tak mengerti, atau mungkin lebih tepatnya tidak berusaha mengerti. Bahkan menepis anggapanku sendiri.  Setiap sapanya di hari-hari kami 'sudah dahar bu', 'have a nice day', atau 'jangan lupa sarapan, jangan kayak aku nunggu jam 11'.
Kamipun tak pernah melewatkan saling berbalas lirik lagu, meski hanya di kolom status kami, bukan teks percakapan layaknya.
Ya... Aku tak pernah seberani dia mengartikan itu sebuah ungkapan cinta.

Aku pernah merasakan ketakutan yang sangat saat menjelang kau tiba. Aku cemas berkepanjangan. Seakan dia akan segera pergi menjemputmu, menemuimu, menikmati hari-hari bersamamu. Waktunya akan dia habiskan hanya dengan kamu. Dan dengan berjalannya waktu, cintanya padamu akan menguat. Mengalahkan cintanya -dulu hanya aku yang dia cinta- padaku.

Aku pernah bilang 'dia yang sudah kau idam-idamkan sejak lama'. Diapun selalu berusaha menenangkanku. 'Kamupun sudah aku harapkan sejak lama' sambil menyentuh ujung hidungku dengan ujung jari telunjuk kanannya.

Setiap saat dia tak memberi kabar, aku selalu membayangkan kalian sedang berdua. Dia menatapmu, mengagumi matamu, yang pasti mewarisi mata tuanya. Memelukmu sambil mengelusmu, menelurusuri tiap lekuk tangan dan kaki mungilmu, sampai kau terlelap, dan diapun pulas di sampingmu karena kelelahan bekerja. Saat kau bermain, dia akan mengambil gitar dan menyanyikan lagu cinta untukmu.

Aku pernah memungkiri kau ada, agar semua pertanyaan dan ketakutanku tak pernah terbukti terjadi.

Tapi, Nak
Aku tak akan pernah punya hati, untuk menyakitinya, lebih-lebih kamu.

Saat dia berkata "Aku juga sering mengabaikannya... "
Aku merasa seperti hilang, terbang tak bernyawa. Sedang selama itu dia selalu mengucap 'mboten repot', 'tak ada beban', atau 'ga ada yang lebih berat daripada jauh dari kamu'.

Dia berubah. Meski sekuat apa selalu menyanggah 'perasaanku... Kebiasaanku... Gak akan pernah berubah'. Tapi aku selalu tahu pembedanya. Tapi aku bisa apa?

Dia menganggapku menyalahkanmu. Tidak menerima keberadaanmu. Aku pernah mengatakan 'akan lebih tenang bila dia bersamamu' waktu itu. Mungkin dia lupa.

Melihat wajahmu aku berlinang berhari-hari.

Aku tak pandai berdo'a, Nak
Tapi sungguh, aku melakukannya tanpa henti. Berharap suatu saat nanti aku bisa menemuimu. Aku ingin memelukmu. Membisikkan lirih di telingamu

"Aku tak pernah merebut dia dari siapapun. Pun dari kamu. Dia datang tanpa aku undang. Dan itu jauh sebelum kamu ada. Dia cinta aku sebelum kamu mengenal dia sebagai ayahmu. "

Tersenyumlah, Nak
Aku akan memohon dan bersimpuh di depanmu
"Bolehkah kita berbagi ayah? "

Thank you for your kind attention. And I'm looking forward to a personal touch.

With love,
Sincerely yours







July16, 16.20
SuratKecilUntukAisyah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...