"Katamu kau lelah berkata-kata."
"He em."
"Kenapa masih terus berkata?"
"Saat itu...
Aku merasa telah menemukan seseorang yang bisa membaca hatiku.
Aku suka caranya merangkai aksara. Sederhana. Kadang tanpa makna. Tapi aku membacanya tanpa jeda.
Berharap...
Dia hanya menggunakan koma. Akan ada, dan ada lagi kalimat berikutnya.
Aku suka caranya tiba. Menjadi pagi. Membawakanku matahari. Mencandai hariku dengan tinta warna-warni.
Aku selalu suka cara dia menyapa. Jarang kutemukan titik dan tanda seru. Yang akan membuat kalimatku seperti tak diinginkan.
Aku menunggu setiap tanda tanya di akhir kalimatnya. Karena hanya tanda itu yang membuat kalimatku mengalir tanpa pernah berakhir."
"Katamu kata-katamu sering tak diberi arti..."
"He em. Berkali merasa begitu."
"Kenapa tak biarkan kata-kata beristirahat?"
"Entahlah...
Selalu ada mimpi yang membuatku tak ingin berhenti. Menulis, mencatat, bercerita.
Membebaskan koma di setiap ujung frasaku. Seperti aku melihat mata itu, hidung itu, dan bibir itu mencoba meyakinkan 'aku cinta kamu, koma'
Saat begitu hatiku selalu berbunga-bunga. Menunggu frasa berikutnya dan berikutnya.
Menanti saat dia berjanji akan membacakan catatan-catatannya untukku."
"Kau akan terus berkata?"
"He em."
"Sampai kapan?"
"Sampai waktuku selesai...
Saat kata tak menemukan lagi jalan untuk keluar dari mulut yang menganga."
"Lalu kau akan berkata 'tidurlah kata-kata'?"
"Tidak."
"Apa lagi?"
"Selama Tuhan mau mempertemukan aku dengan pagi, kataku tak akan berhenti. Selalu berharap ada rindu yang tak berspasi, kasih yang berulang di setiap alinea, panjat do'a yang tak terpenjara kurung buka dan kurung tutup, ingin yang terdiri dari sepuluh dan dua puluh sembilan huruf i, dan cinta yang selalu mengabaikan titik."
Kutunggu kamu pada hari ketika tiada apa-apa yang ingin kulakukan, selain melihat dan menyentuhmu. Kau tahu hari apa itu. Hari yang diawali dengan kata setiap
August6, 01.33
Tidak ada komentar:
Posting Komentar