Time heals dan time teaches itu ternyata benar adanya. Bisa karena biasa itu juga nyata. Tiga jam, enam jam, dua belas jam, enam belas jam, tiga hari, pun lima hari, berhasil terlewati. Tidak mudah tentunya. Segala rasa bermain di baliknya. Resah, kuatir, cemas luar biasa, bertanya-tanya, menduga-duga, bahkan sampai pada tahap menyimpulkan sendiri.
"Bagaimana bisa aku mengabaikan pesan seorang perempuan sebaik ini." Katamu waktu itu.
Dan kali ini, dia hanya mampu tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Bukan gesture tanda tak setuju. Lebih pada sulitnya memahami sebuah komunikasi yang tidak dua arah -mungkin ada ungkapan yang lebih baik dari ini- lagi.
"Apalah artinya mengabaikan seluruh percakapan semesta. Toh aku selalu punya Hening. Yang setia menemani saat berbalut pakaian ibadah, berlama-lama di atas sajadah. Sekedar duduk, tepekur, mengingat kembali sepenggal, sebaris, atau berhalaman-halaman kata dan cerita. Yang pernah ditulis, tapi belum satupun dibacakannya untukku. Dan Hening pun tak pernah bosan menyuguhkan fragmen hidup, percakapan antara hati dan pikiran." Begitu gumamnya pasrah.
^Tidak ada kabar adalah kabar, yaitu kabar tidak ada kabar. Tidak ada kepastian juga adalah kepastian, yaitu kepastian tidak ada kepastian. Hidup ini juga memang tentang menunggu. Menunggu kita untuk menyadari: kapan kita akan berhenti menunggu^
Butuh tingkat intelektual dan emosional tertentu untuk mampu memaknai ungkapan ini. Yang selalu juara kelas di sekolah, yang ujian thesisnya dengan nilai A+, bahkan yang wisuda dengan predikat cumlaude, belum tentu sepintar itu memahami nasihat bijak ini.
Dia hanya percaya bahwa kaupun percaya.
'Tak ada yang lebih berarti. Tak ada lagi yang aku cari dan tunggu dalam hidup.'
Tidak ada komentar:
Posting Komentar