"Aku titip perasaanku..
Tolong kamu simpan dan jaga baik-baik.. "
"Kenapa begitu? "
"Entahlah..
Seperti aku titipkan nyawaku padamu
Kapanpun kau bisa mengambilnya
Kapanpun kau bisa membunuhnya. "
Heningpun menyergap. Benderang purnama seakan turut menyaksikan. Dua hati bercerita tanpa aksara. Menahan degup, menekan aliran darah. Seperti berhenti tiba-tiba. Sejenak mati. Lalu terlahir kembali.
"Lihat bagaimana cara-Nya untukku menemukan rasa
Mungkin saat itu mulai berbeda
Atau bahkan mungkin jauh sebelumnya
Tapi detik pada waktu itu aku mulai meng-amin-inya
Kuceritakan pengakuanku pada-Nya
Dan makin meng-amin-inya. "
Malam menyapa. Mengirim angin dengan sepoi lirihnya. Membisikkan lembut puisi rindu. Bagi dua jiwa yang terpisah. Seperti mengingatkan, Tuhan tak pernah menciptakan segala dengan kebetulan. Tuhan selalu punya cara. Merangkul dua hati yang menguatkan cinta dalam do'a.
"Seperti mimpi..
Kamu datang saat itu, tahun lalu, atau entah berapa tepatnya waktu
Banyak hal tentangku, tentangmu yang menurutku tak terencana
Merasa berbeda.. Bernyawa
Ya.. Mencintamu tak pernah terencana.. "
Fajar tiba. Ujung dedaun mengulum bulir-bulir embun. Menggurat cahaya surya-Mu. Membias, berpendar. Ada haru terampai dalam sujud. Berharap pagi selalu menjelma. Setia menuntun kasih, menguatkan mimpi, dan menopang pengharapan.
Catatanmu di lembar kisah hidupku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar