Kamis, 07 Mei 2020


"Kenapa aku tak boleh bertemu senja?"
"Karena kau tak bisa."

Anak-anak sedang berlarian di pematang. Batang padi belum menguning benar. Tapi capung dan belalang sudah sangat berhasrat mengerumuni. Tawa anak-anak memecah sunyi. Gembira mereka mengalahkan seluruh rindu yang terpendam untuk segera bersekolah lagi. Mungkin mereka tak mengerti, atau iya mengerti dengan batas pemikiran kanak-kanaknya, bahwa Bumi sedang berduka. Berebut saling mendahului, saling kejar. Seolah agenda hari ini adalah outclass, pelajaran menjelajah alam. Tugas menangkap capung dan belalang. Siapa cepat, dia juara.

Sinar matahari mulai terasa hangat.
"Aku harus pulang."
"Ya. Beristirahatlah. Kutemui kau esok lagi."

Burung-burung sawah mulai berdatangan. Hampir bersamaan dengan para buruh tani. Membagi kavling, membersihkan gulma dan tanaman pengganggu sesuai bagiannya masing-masing. Dan tentu saja, sambil mengusir kawanan burung. Agar hasil panen nanti sempurna.

Anak-anak masih hingar berlarian. Kini menuju gubug tengah pematang. Mungkin sedikit lelah. Sebagian menaiki gubug, duduk meluruskan kaki, mengatur nafas. Sisanya membungkuk di ujung selang besar, menadah air dr sumur bor yang telah dinyalakan buruh tani untuk mengairi sawah. Dengan menengadahkan dua telapak tangannya, mengisi penuh-penuh air, lalu ditumpahkan ke wajah membasahi mukanya. Lalu kepalanya, dan diminumnya. Begitu mereka melakukannya bergantian.
Sungguh, bahagia anak-anak ternyata sesederhana itu.

"Ini pertengahan bulan kan?"
"Iya. Kenapa?"
"Apa aku bisa melihat purnama?"
"Kau tidak diijinkan."

Langit masih sedikit temaram. Sang surya terlihat menggeliat di peraduan. Masih enggan beranjak. Sepertinya ingin meneruskan mimpi yang belum usai. Tapi para pedagang sudah mulai berlalu lalang memenuhi pasar rakyat. Penjual tempe, sayur-sayuran, dan ikan segar, yang bahkan sejak dini hari telah berdatangan menurunkan dagangan nya dari gerobak, becak, ataupun truk pengangkutnya. 

Para gadis dan pemuda yang sedang bersedih, patah hati, seharusnya menyaksikan pemandangan yang demikian. Karena bagaimanapun kalian terluka, hidup harus terus berjalan. Bersabar untuk di rumah saja. Biarkan para orang tua tetap menunaikan tugasnya. Untuk bekerja, mencari nafkah, menjemput rizki yang telah disediakanNya. Karena hidup bukan hanya tentang cinta. Tapi menjalaninya dengan lapang hati.

Saat pasar mulai sepi pembeli,
"Aku masih ingin di sini."
"Tapi kita harus pulang."

Penjual ayam mulai mengibas-ngibaskan beberapa buah lidi yang diikatnya menyerupai sapu kecil, untuk mengusir lalat. Berharap dagangannya yang tinggal sedikit segera terjual habis. Maka rasa syukur akan memenuhi hati mereka. Untuk bisa menghitung laba. Sebagian untuk membeli bahan makanan. Dan sisanya untuk berdagang lagi esok hari. Pulang dengan kegembiraan, membawakan bahan untuk dimasak saat berbuka di rumah sore nanti.

"Kenapa kita hanya bisa bersama pada satu waktu saja?"
"Karena kita ditakdirkan begitu."

Jalanan lengang. Gedung-gedung sekolah kosong. Beberapa memang dialihfungsikan sementara untuk ruang isolasi dan karantina. Tapi epidemi memang merubah segalanya. Jauh berbeda bila anak sekolah sedang libur. Setelah ujian semester, atau minggu tenang saat menunggu hasil kenaikan kelas dan kelulusan. Sejak matahari terbit sampai terbenam,  terlihat ramai mereka di jalan. Di pusat keramaian, arena bermain, gelanggang olahraga, tempat wisata, bioskop, kafe, bahkan pasar ikan dan pasar burung. Kali ini semua sepi. Entah dengan pengertian, paksaan orang tua, kesadaran pribadi, ataupun rasa putus asa. Harus mengabaikan segala rasa bosan untuk tetap di rumah saja. Menekan seluruh hasrat dan keinginan untuk keluar, dengan alasan apapun. Lalu berteman lebih dekat dengan gawai. Televisi, komputer, ponsel, telah menggantikan aktivitas membaca, berhitung, menulis, berenang, bersepeda. Ya, mereka kini harus belajar dan bermain dalam dunia virtual.

"Kau sangat ingin melihat purnama?"
"Satu dari sekian yang kuimpikan."
"Beberapa hari ke depan, saatnya dia muncul agak larut. Semoga di keesokan harinya aku bisa mengantarmu menemuinya."
"Semoga."

Langit mulai kemerahan di ufuk timur. Daun-daun bergoyang bergesekan karena hembus angin. Di langit sebelah barat bulan masih bundar. Meski tak seterang malam sebelumnya.

"Hey, bukankah itu purnama?"
"Kau suka?"
"Lebih dari segala yang kurindukan."
"Pandanglah berlama-lama. Karena waktumu tinggal beberapa saja"

Ya. Bumi mungkin sedang berduka. Dan manusia-manusia sedang berpuasa. Tak hanya menahan lapar, dahaga, dan amarah. Juga bersabar untuk hidup berdamai dengan keadaan. 

Dan di balik ini semua, alam seperti terlahir kembali. Matahari muncul disambut udara bersih tanpa polusi. Awan putih berarak pelan seperti berpawai, menjelajah bebas tanpa kemacetan lalu lintas langit. Puncak-puncak gunung yang berpasir kini terlihat lebih jelas, dengan kabut cincin yang mengelilingi lembahnya. 

Sungguh, Tuhan menegur sekaligus menunjukkan mujizat dalam waktu yang bersamaan.

"Hallo."
"Hey."
"Apa kau belum lupa?"
"Hanya ingatanku yang akan mengabadikanmu."

Berlarian bergandeng tangan mengejar fajar. Tersenyum mengintip cahaya yang menerobos sela-sela ranting dan pepohonan. Berlomba dengan bulir sisa hujan semalam menggapai pucuk bunga soka. Lalu saling unjuk kemilau di tubuhnya yang terbias cahaya surya.

"Terima kasih masih di sini. Jangan pergi"
"Aku tak akan pernah kemana-mana. Masih mau menemaniku?"
"Tak perlu meminta."
"Terimakasih, Pagi."
"Aku menyayangimu, Embun."




Supermoon 2020



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...