Minggu, 22 Maret 2020


Jauh sebelum sekarang, saya mengenal diri sebagai tipe 'orang rumahan'. Kamar adalah ruang paling favorit bagi saya. Berasa bebas beraktivitas, tak berbatas gerak dan suara. Membaca, menyanyi, berpuisi, menari, bercermin, menangis, tertawa, berbicara sendiri, apa saja saya lakukan tanpa ada rasa takut ditegur atau diteriaki gila. Buku, lagu, film, bantal, kacang kulit, biskuit, teh hangat, soft drinks, maka segala waktu menjadi homy bagi saya.

Jauh sebelum saat ini, saya selalu tahu jarak adalah jeda saat lelah. Bukan untuk berhenti, sekedar beristirahat untuk melanjutkan segala yang belum selesai. Butuh sejenak -atau selama apa mau dan bisa- menarik diri dari kerumunan. Karena hening yang bermakna, sejatinya lebih riuh dari kenyamanan itu sendiri.

Dan kita? Sudah sejauh itu untuk menjadi sedekat ini. Dan jarak? Lagi-lagi menjadi cara bekerjanya hati. Kadang merupa bilah pedang menusuk diri, menumpah darah, hampir mati menginginkan sesuatu terlalu. Dan bilah sisinya, adalah ladang sabar yang tak berbatas, untuk belajar menunggu sampai apa waktu menebas menguji sebuah rasa dan harap.

Bila kini semesta meminta #StayAtHome dan #SocialDistancing, maka saya menghela nafas berat dan panjang. Berharap hidup masih menyisakan kesempatan. Untuk menyeduh teh saat senja, merenda benang kasih yang kusut belum terpintal, mengucap cinta dengan lebih baik dan benar, menjaga rasa yang sering teraduk oleh emosi dan ego, menulis cerita dan membacakan lagi saat tua, dan melanjutkan mimpi untuk menua bersama. Berharap semesta masih mengaminkan segala yang disemogakan.





PrayForUs

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...