Kamis, 19 Maret 2020

Aku meneriakimu pada bulan sabit yang kepagian
Menatap awan putih menggumpal berarak mengantar fajar
Memandang pematang, menapaki tangga demi tangga
Sawah padi yang belum menguning
Tak peduli kaki berlumur lumpur

Aku memanggilmu di antara riak sungai mengalir
Menyibak anak rambut yang terburai dari jepit tudung hitamku
Menahan isak agar tak lepas
Meski tangis terjeda oleh nafas

Aku merintih di rerimbun gubuk tua
Bertanya apakah pagi masih hendak membawa harap

Aku bersenandung di antara ilalang
Mengejar belalang hinggap dan capung yang terbang
Sekedar ingin membisik
Tak ingin kah kau sapa lagi aku dengan cumbu sesejuk pagi
Masih bolehkah kutawarkan secangkir teh sehangat senja

Lalu aku tertunduk
Di sesela bulir embun di pucuk perdu
Kusingkap jubah berkabungku
Untuk bisa menyentuh dan bercengkerama
Tak kau simpankah semili saja rindu
Yang dulu kau bilang tak kan pernah habis
Meski kau tumpah hamburkan selama apa

Aku melenguh
Pagi beranjak
Dan cinta, merupa mimpi yang kesiangan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rindu Sawah

" Diresiki sik yo pah. Terus dioles obat." " Iyo wes ayo. Nang njobo ae ben terang." Aya bergegas mengambil spray pe...