Aku meneriakimu pada bulan sabit yang kepagian
Menatap awan putih menggumpal berarak mengantar fajar
Memandang pematang, menapaki tangga demi tangga
Sawah padi yang belum menguning
Tak peduli kaki berlumur lumpur
Aku memanggilmu di antara riak sungai mengalir
Menyibak anak rambut yang terburai dari jepit tudung hitamku
Menahan isak agar tak lepas
Meski tangis terjeda oleh nafas
Aku merintih di rerimbun gubuk tua
Bertanya apakah pagi masih hendak membawa harap
Aku bersenandung di antara ilalang
Mengejar belalang hinggap dan capung yang terbang
Sekedar ingin membisik
Tak ingin kah kau sapa lagi aku dengan cumbu sesejuk pagi
Masih bolehkah kutawarkan secangkir teh sehangat senja
Lalu aku tertunduk
Di sesela bulir embun di pucuk perdu
Kusingkap jubah berkabungku
Untuk bisa menyentuh dan bercengkerama
Tak kau simpankah semili saja rindu
Yang dulu kau bilang tak kan pernah habis
Meski kau tumpah hamburkan selama apa
Aku melenguh
Pagi beranjak
Dan cinta, merupa mimpi yang kesiangan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar